Brian sudah menyelesaikan semua keperluan pemakaman Arvin, mulai dari pembersihan jenazah sampai dipindahkan ke rumah duka. Tidak banyak yang hadir, hanya rekan-rekan Brian di kantor dan segelintir rekan Arvin. Sebab dalam dua tahun belakangan, Arvin tidak lagi banyak beraktifitas di luar rumah, jadi dirinya tidak punya cukup banyak relasi.
Sudah hampir tengah malam. Brian, Aksa dan Nevan masih berada di rumah duka. Ketiganya terduduk lesu di hadapan bingkai foto Arvin berukuran besar, lengkap dengan setelan jas serba hitam. Ternyata juga ada arwah Mirza yang sejak tadi berada di sana. Namun, Mirza tak lagi bisa melihat arwah Arvin berkeliaran seperti sebelumnya. Mungkin dia sudah benar-benar berpulang.
"Kita harus pulang." Ujar Brian.
"Biar aku tetap di sini." Balas Nevan dengan nada yang dingin. Ia memandang lurus ke arah bingkai foto Arvin yang menampilkan potret lelaki itu dengan wajah yang tersenyum lebar.
"Kau pulang saja duluan, aku juga akan tetap di sini menemani Nevan." Kata Aksa.
"Kalau begitu aku akan menemani Darel di rumah sakit." Celetuk Mirza, yang tentunya tidak bisa didengar oleh rekannya yang lain.
***
Brian kembali ke kediaman, setelah berhasil membuka pintu lelaki itu lekas menghidupkan lampu. Sebelum kembali melanjutkan langkahnya yang gontai, Brian menghela napas berat. Dirinya menuju ke kamar Arvin, membereskan kekacauan yang ada di sana. Pil-pil obat serta bantal guling bahkan juga selimut yang berserakan di lantai.
Sementara di rumah duka, Nevan masih duduk bersimpuh tak bergerak barang sama sekali. Memandangi potret wajah Arvin pada bingkai besar itu. Sementara Aksa, lelaki apatis itu dengan ragu-ragu hendak menyentuh bahu Nevan. Adalah gengsi yang menjadikan dirinya mengurungkan niatnya itu.
"Ekhem," dehemnya. "Nevan, bukankah belum ada satu makanan pun yang masuk ke pencernaan mu?" Tanya Aksa. Sejujurnya ia merasa khawatir sebab rekannya itu sejak siang tadi belum menyentuh makanan sedikit pun.
Aksa merasa canggung, sebab Nevan sama sekali tak menggubris tanya yang dilemparnya.
"Apa kau tidak lapar?" Tanya Aksa lagi. Namun Nevan masih tetap bungkam.
"Sepertinya kau lapar, akan ku carikan makanan untukmu." Ujarnya, sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan Nevan untuk menuju ke supermarket terdekat. Membeli beberapa pengganjal perut untuk rekannya itu.
Setelah Aksa benar-benar meninggalkannya, Nevan menghela napas seraya menundukkan kepalanya. Ekspresinya benar-benar menujukkan kesedihan serta rasa sakit yang amat mendalam. Air mata kembali jatuh, isaknya terdengar menyakitkan.
"Kenapa kau harus melakukan ini, Kak…" lirihnya. "Kenapa kau malah meninggalkan aku bahkan tanpa kata pamit."
Semakin lama, tangisnya semakin tersedu. Nevan memukul-mukul dadanya sendiri dengan tangan kanan yang dikepalkan.
"Ini sangat menyakitkan, Kak! Ini benar-benar sakit!" Erangnya.
Di sisi lain, Mirza baru saja memasuki kamar Darel. Lelaki itu ternyata suda tertidur pulas. Lantas Mirza melangkah mendekati ranjang tempat Darel tertidur. Tanpa disadari, dua ujung garis bibirnya tergerak menyimpulkan senyum.
"Selamat istirahat, Darel. Lekas pulih. Terima kasih sudah menyelamatkanku." Ucapnya sambil membuat gerakan seolah dirinya tengah mengusap rambut Darel.
***
"Selamat datang!" Sapa seorang pramuniaga kala Aksa melintasi pintu masuk supermarket. Tentu Aksa tak mengindahkannya, ia berjalan menyusuri rak demi rak mencari jajaran roti dan camilan lainnya yang sekira bisa membungkam sedikit ocehan cacing yang ada di perutnya dan juga Nevan. Namun, ketika dirinya hendak mengambil sepotong roti, ponsel dalam sakunya bergetar. Mau tidak mau Aksa mesti mengurungkan niatnya terlebih dahulu dan beralih meraih ponsel. Ditatapnya layar ponsel yang menampilkan nomor tanpa nama pada layar, agaknya Aksa juga mengetahui siapa yang ada di balik nomor itu. Dapat dilihat dari perubahan ekspresi Aksa yang jadi terlihat kesal sekaligus malas untuk menjawab panggilan itu.
Tanpa pikir panjang Aksa menyentuh simbol telepon berwarna merah pada salah satu sisi layar ponselnya. Kemudian melanjutkan aktifitasnya membeli beberapa makanan pengganjal perut. Sialnya, ponselnya itu malah kembali bergetar dan terus bergetar sampai beberapa kali. Setelah menyelesaikan pembayaran dan keluar dari supermarket, akhirnya Aksa memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
Aksa mendekatkan layar ponsel tanpa mengatakan apa pun. Ia terlihat seperti mendengarkan penuturan seseorang dari seberang sana dengan ekspresi jengkel.
"Apa kau tahu? Dua orang rekanku masih terbaring di rumah sakit dan satu orang lainnya baru saja meninggal dunia, apa kau tak bisa memberiku waktu?" Ujar Aksa.
Ketika mendengar tanggapan dari sang lawan bicara, wajah Aksa terlihat semakin masam. Bahkan buku-buku tangan sebelahnya yang memegang kantung belanja terlihat memerah sebab ia menggenggamnya dengan amat kuat, terpancing emosi oleh seseorang yang berbicara dengannya melalui telepon itu.
"Ck! Baiklah baiklah! Aku akan segera menghubungimu lagi." Decak Aksa seraya mengakhiri panggilannya secara sepihak. Kemudian Aksa memilih untuk mematikan ponselnya, karena ia yakin betul orang gila itu akan mengganggunya lagi.
Aksa pun kembali melanjutkan langkahnya untuk menyerahkan makanan yang ia beli barusan kepada Nevan yang masih berada di rumah duka. Namun, saat dirinya sudah tiba di ambang pintu. Aksa dibuat tidak berkutik kala dirinya mendapati Nevan yang begitu tersedu sampai menunduk. Seakan ada yang menahan kaki Aksa, mencegahnya untuk melangkah menghampiri Nevan.
"N-Nevan." Panggil Aksa ragu-ragu. Akhirnya ia memaksakan langkahnya, memberanikan diri untuk menghampiri rekannya yang masih sangat diselimuti kesedihan. Bagaimana tidak, Aksa tahu betul kalau Nevan dan Arvin memang dua tahun belakangan ini begitu akrab.
"Ini aku belikan beberapa potong roti dan camilan. Aku juga membelikan s**u pisang kesukaanmu." Kata Aksa sembari meletakkan kantung berisi makanan itu di sebelah Nevan.
Perlahan Nevan mendongakkan wajahnya, dengan mata bengkak berwarna merah serta air mata yang membanjiri wajahnya, Nevan menatap tepat pada kedua mata Aksa. Membuat lelaki itu segera memalingkan pandangannya, sebab ia sangat benci jika harus bertemu tatap dengan orang lain.
"Terima kasih…" lirih Nevan.
"Hm," Aksa menanggapinya dengan berdehem. "Apa tidak apa jika kau di sini sendirian? Aku harus segera pergi, ada urusan mendesak." Ujarnya.
Pun Nevan membalas dengan anggukan kepala, "eum, tidak apa. Aku memang sedang ingin berdua dengan Kak Arvin."
"Nevan…" tegur Aksa. Mendengar penuturan Nevan barusan yang terdengar seolah Arvin masih ada di sini membuat Aksa merasa sedikit geram. Aksa tahu ini bukan hal mudah, bahkan jujur baginya semua ini terasa sulit dipercaya. Namun bukankah kita mesti belajar mengikhlaskan dan tidak meratapi apa yang sudah pergi?
"Habiskan makananmu. Jangan terlalu lama berada di sini, tubuhmu butuh istirahat." Ucap Aksa sebelum dirinya melangkah meninggalkan Nevan.
"Kak," panggil Nevan, ketika baru saja Aksa hendak melangkahkan kakinya ke luar. Lantas lelaki itu menghentikan langkahnya seraya membalikkan tubuh.
"Yang suka s**u pisang itu Darel, bukan aku." Ucap Nevan.
Seketika Aksa kikuk, selama ini Aksa pikir ia benar-benar mengenal semua rekannya, tapi detik ini ia rasa tidak.
"Ah, begitukah?" Balas Aksa seraya menundukkan kepala juga menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal. Pun cepat-cepat bergegas meninggalkan tempat itu.
Aksa mencegat taksi yang melintas tak jauh dari rumah duka. Tanpa buang waktu ia langsung menempati kursi bagian belakang taksi dan membuka jas hitam yang semula ia kenakan. Membuka kancing lengan kemeja putihnya dan menggulung sampai batas siku. Kancing bagian atas kemejanya pun dibuka, membiarkan sedikit dari bagian dadanya tersapu angin malam.
Jalan sudah lengang, tak banyak kendaraan yang beradu saling salip di jalanan. Hingga Aksa bisa tiba di tempat tujuannya dalam waktu singkat.
"Terima kasih!" Ucap Aksa pada sang supir yang telah membawanya kemari setelah menyerahkan beberapa lembar uang kertas. Seiring dengan taksi yang mulai bertolak pergi, Aksa pun melangkahkan kakinya memasuki sebuah bangunan bertingkat dengan lampu remang-remang di depannya. Jas hitamnya ia tenteng di lengan kanan.
Dalam perjalanannya menyusuri lorong, Aksa berpapasan dengan kucing-kucing liar dengan pakaian kurang bahan keluar masuk pada tiap pintu kamar yang ia lalui. Namun Aksa sama sekali tak mengindahkannya, meski tak sedikit yang mencoba menggoda Aksa dengan mengedipkan mata atau menyentuh tubuhnya. Lelaki itu tetap berjalan menuju ke sebuah pintu yang berada di ujung.