Aksa memasuki sebuah kamar motel, yang mana terdapat sebuah piano pada bagian tengahnya. Ya, itu kamar motel tempat Aksa mengasingkan diri. Setelah melempar jas hitamnya asal ke atas ranjang. Aksa mulai berjalan menuju piano itu, mendudukkan diri di kursi kecil piano. Pun jemari lentiknya dengan lincah mulai menari di atas tuts-tuts piano itu, menautkan nada demi nada menjadi melodi yang indah. Mata Aksa mulai terpejam, terlarut dalam alunan musik yang ia ciptakan sendiri.
"Ini dia!" Serunya. Mata yang semula terpejam itu seketika terbuka. Dengan buru-buru ia meraih ponsel yang berada di dalam saku serta menghidupkannya kembali. Aksa segera mencari fitur perekam suara pada ponselnya. Setelah menekan tombol merah yang ada di tengah, ia meletakkan ponsel di meja piano sebelum dirinya memulai kembali mendentingkan nada-nada yang sama.
***
Malam sudah tiba di penghujung, sebentar lagi pagi mulai menyapa. Wajah Nevan sudah benar-benar terlihat bengap akibat menangis tanpa henti semalaman. Lelaki itu akhirnya memilih untuk kembali ke rumah dengan menggunakan jasa taksi, beruntung ia bisa dapat taksi dalam waktu yang terbilang sebentar pada situasi yang sepagi ini. Nevan terduduk di tepian jendela, olehnya jendela sengaja dibuka sedikit agar angin pagi bisa menyapanya dengan lembut. Sepanjang perjalanan, Nevan melemparkan pandangannya ke luar jendela. Menikmati suasana pagi dengan suasana hati yang buruk.
Mata kecilnya yang bengkak itu seketika terbelalak kala dirinya menangkap sosok yang tidak asing lagi. Seorang lelaki dengan kemeja putih yang digulung sebatas siku baru saja keluar dari salah satu motel dengan menenteng jas hitamnya. Bukan hanya sosok lelaki itu seorang yang baru saja keluar dari motel itu. Ada beberapa wanita yang berpakaian tidak senonoh dan segelintir lelaki yang juga hendak meninggalkan motel itu.
"Kak Aksa?!" Pekik Nevan.
"Jadi… ini yang dia sebut dengan urusan mendesak semalam? Keterlaluan!" Umpatnya.
Taksi yang ditumpangi Nevan terus melaju menuju ke tempat tujuan. Sementara Aksa, lelaki itu harus menunggu taksi yang agak sedikit mustahil didapat. Sebab pagi-pagi begini biasanya belum banyak taksi yang beroperasi di daerahnya itu. Sekalipun ada, pasti sibuk mengantar orang-orang yang akan pergi ke kantor atau ke sekolah.
Aksa bukan tipe orang yang gemar menunggu, alhasil lelaki itu memilih untuk menyusuri jalanan yang masih sepi itu dengan kedua kakinya saja. Sembari menendang-nendang daun kering yang berguguran, Aksa melangkah dengan perlahan tapi pasti. Sebelum tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk yang mendarat di ponselnya. Aksa sudah berdecak malas duluan kala melihat nomor yang tertera pada layar ponselnya. Orang itu lagi.
Seperti sebelumnya, Aksa hanya mendekatkan layar ponsel pada pendengarannya tanpa mengatakan sepatah kata pun lebih dulu.
"Ya, siang ini akan ku selesaikan." Kata Aksa setelah mendengar apa yang diucapkan seseorang yang ada di seberang sana.
"Hm,"
"Ya,"
"Baiklah,"
"BISAKAH KAU BERHENTI BERKICAU?! AKU SEDANG DI JALAN, b******k!"
Aksa yang mulanya hanya merespon seadanya pun jadi geram dibuatnya. Setelah melontarkan dampratan barusan, Aksa langsung memutus panggilan tersebut secara sepihak dan kembali melanjutkan perjalanannya.
***
Nevan baru saja membuka pintu rumahnya. Dirinya baru menyadari kalau ternyata rumah ini cukup luas dan besar. Pun Nevan tersenyum kecut sambil menyapu seluruh penjuru rumah dengan pandangannya dari ambang pintu. Di lihatnya bayangan dirinya, Darel dan juga Mirza yang berebut untuk bermain video game. Juga ada Deon yang hampir selalu sibuk di dapur kalau dirinya sedang ada di rumah. Aksa yang terbiasa tidur tanpa kenal tempat, tak lupa dengan Brian yang tangannya seakan dikutuk oleh dewa hingga apa pun yang disentuhnya pasti akan rusak, dan saat itulah Deon akan mengoceh seharian penuh. Terakhir, Arvin. Lelaki yang satu itu selalu menebarkan aura positif dengan senyumannya yang sehangat mentari. Selalu ceria, seperti tak pernah berkawan akrab dengan kesedihan.
Dahulu rumah ini rasanya tidak pernah menemui sepi, bahkan dingin juga tak pernah sudi untuk menyambangi rumah ini saat itu.
"Semua telah berubah…" lirih Nevan.
"Nevan? Kau sudah kembali?" Suara Brian yang sedang menuruni anak tangga berhasil membuat lamunan Nevan pecah.
"Eum, iya." Jawab Nevan dengan sedikit kikuk.
"Apa kau lapar? Mau ku buatkan sarapan?" Tanya Brian.
Dengan cepat Nevan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak. Sepertinya aku mau tidur saja. Aku sangat lelah."
Belum sempat Nevan melangkahkan kakinya menuju kamar, sebuah taksi kembali berhenti di depan rumah mereka. Sontak Nevan dan Brian pun melongok ke arah luar.
"Apa itu Aksa? Kenapa kalian tidak pulang bersama?"
Alih-alih menjawab, Nevan hanya memilih bungkam.
"Pak! Tunggu sebentar! Jangan dulu pergi!" Teriak Brian, memanggil supir taksi agar tidak dulu berlalu dari sana.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Aku mesti kembali ke rumah duka lalu ke rumah sakit mengurus Darel sekaligus melihat perkembangan Mirza." Pamit Brian.
"Oh, Aksa. Kalian beristirahatlah! Maaf aku tidak sempat buatkan sarapan." Kata Brian sambil menepuk pundak Aksa ketika lelaki itu hampir sampai di ambang pintu. Kemudian Brian segera berlari kecil ke arah taksi agar sang supir tidak terlalu menunggu lama.
"Kak Brian!" Panggil Nevan sesaat sebelum Brian memasuki taksi.
"Jangan lewatkan makan siang!" Katanya. Pun Brian menyunggingkan senyumannya, perhatian kecil Nevan membuat Brian merasa ada setitik kehangatan yang menelusup ke dalam relungnya yang sedang kacau. Bahkan sampai dirinya sudah menempati kursi belakang taksi, pun taksi juga sudah mulai melaju perlahan, senyum Brian belum juga luntur dari wajahnya.
"Ke rumah duka, ya, Pak." Kata Brian.
"Baik, Tuan," Jawab sang supir. "Lelaki yang barusan juga baru kembali dari sana." Ucapnya basa-basi.
"Ah, iya Pak. Salah satu rekan kami baru saja berpulang kemarin." Balas Brian.
"Aku turut berduka cita. Pasti sangat sulit, dia juga terlihat begitu sedih tadi sampai aku tidak berani untuk membuka pembicaraan dengannya," katanya lagi. "Tapi ternyata dia masih bisa memberimu sedikit perhatian. Itu sangat menyentuh, andai aku memiliki seorang sahabat yang seperti itu juga."
"Oh, sebentar. Apa yang sedang kau bicarakan ini… lelaki yang satunya?" Brian nampak kebingungan, terlihat jelas dengan dahinya yang mengerut begitu ia mendengar penuturan terakhir dari sang supir.
"Ya, lelaki yang mengingatkanmu makan siang. Kalau lelaki yang baru saja aku antar, lelaki dengan kemeja putih itu dia mencegatku di tepi jalan."
Dahi Brian nampak semakin mengerut, pun ia mengusap dagunya dengan tangan kanan yang disanggahkan ke jendela.
"Di tepi jalan?"
***
"Kak," panggil Nevan, yang sukses menghentikan langkah Aksa kala lelaki itu hendak menapaki anak tangga.
"Apa yang kau maksud dengan urusan mendesak itu adalah… bermalam di motel?"
Deg.
Seketika Aksa membelalakan matanya, dari mana Nevan tahu kalau dirinya memang baru saja kembali motel.
"Aku melihatmu, Kak. Aku melihatmu, di depan motel."
Nevan terus memerhatikan ekspresi wajah Aksa. Menelisik ke dalam kedua matanya. Bola mata Aksa nampak bergerak kesana kemari tak keruan. Nevan yakin betul, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh rekannya itu.
"Kak," panggilnya lagi.
"Nevan, bukankah sebaiknya kau beristirahat? Aku sangat lelah, aku duluan, ya."
Aksa kembali melanjutkan langkahnya, sementara Nevan masih tetap geming pada tempatnya semula. Meratapi kepergian Aksa yang kemudian menghilang dari balik pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan dengan para jalang itu sampai kau merasa sangat lelah, Kak?"