Musim semi 2018
"Wahh aku sangat merindukan kamarku!" Seru Arvin dan bergegas menuju ke kamarnya. Begitu pun dengan yang lainnya, terutama Aksa yang sudah sangat ingin merebahkan tubuh di atas ranjang ternyamannya.
Ketujuh lelaki itu sudah kembali ke kediamannya. Bersiap dihadapkan dengan aktifitas rutin mereka esok hari. Deon menuju ke kamarnya, menata kembali barang-barang yang dibawanya selama berlibur. Pun ia mendapati buku bersampul merah itu ada di dalam ranselnya. Deon meraih buku tersebut dan melangkahkan kaki ke tepian jendela.
Napasnya terhela, "apa yang dikatakan buku ini benar adanya?" Tanya Deon pada dirinya sendiri. Pun sesaat Deon mengucapkan hal itu, entah dari mana angin tiba-tiba menyapanya dengan sedikit gusar, bahkan sampai mengibarkan gorden kamar Deon.
***
Mentari mulai mengetuk mata, tujuh lelaki yang baru kembali setelah berlibur itu tengah bersiap untuk menjalankan aktifitas mereka masing-masing tak terkecuali Deon. Dengan setelan kemeja formalnya Deon sudah disibukkan dengan urusan dapur sejak beberapa waktu lalu. Dengan celemek berwarna merah muda dia menyulap beragam bahan masakan yang ada di dapurnya menjadi santapan sarapan untuk para rekannya.
"Oh, Nevan kau sudah siap?" Sapa Deon kepada Nevan yang baru saja menarik salah satu kursi di meja makan. Lelaki itu menyimpulkan senyumannya, rambutnya sudah tersisir rapi dengan setelan casual celana jeans, kaus serta tas kecil yang diselempangkan. Disusul oleh Mirza dan Brian yang juga sudah rapi berbalut setelan casual mereka. Kemudian muncul lah Aksa, berbeda dengan yang lainnya lelaki itu mengenakan setelan kemeja yang cukup formal tapi tak se-formal Deon.
"Kemana Darel dan Arvin?" Tanya Deon seraya menyajikan beberapa piring hidangan buatannya.
"Darel masih tidur, tadi sudah aku bangunkan tapi tetap tak mau bangun." Balas Brian.
Kemudian terdengar suara pintu yang baru saja terbuka lalu kembali tertutup. Itu Arvin, dengan tubuh yang masih berbalut baju tidur lelaki itu meregangkan otot-otot tubuhnya sembari membuka mulut lebar-lebar sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki menuruni anak tangga.
"Morning!!" Sapanya dengan ceria kepada rekan-rekannya yang berada di meja makan.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Aksa.
"Aku baru ada jam nanti siang. Jadi sekarang aku bisa bersantai dulu di rumah." Jawabnya seraya menarik kursi tepat dihadapan Aksa.
"Ah kalau begitu sebaiknya kau yang cuci semua piring ini nanti, bagaimana?" Saran Deon.
"Eyyy! Baiklah…" ujar Arvin yang mulanya terdengar seperti akan protes namun pada akhirnya ia tetap menuruti apa yang Deon katakan.
***
"Arvin, jangan lupa cuci semua, ya!" Ujar Deon sembari mengenakan jas abu-abunya yang ia letakkan di sofa ruang tamu, beserta tas kerjanya yang semula juga ia letakkan di sana.
"Siap, Tuan!" Jawab Arvin sambil membuat gerakan hormat dengan tangannya, sebelum Deon berlalu pergi.
Kini di rumah itu hanya ada Arvin dan Darel yang masih tertidur. Sarapan untuk Darel sebelumnya sudah Deon pisahkan dan disimpannya di lemari makanan. Pun seperti yang sudah dikatakan Deon barusan, Arvin segera melaksanakan tugasnya. Berjalan kembali ke arah dapur untuk mengenakan sarung tangan mencuci semua piring kotor yang telah mereka gunakan itu.
***
"Selamat pagi!" Mirza menyapa pelanggannya dari balik meja. Barista tampan itu selalu ditunggu oleh para gadis yang sengaja mampir ke kedai kopi tempatnya bekerja.
"Caramel Macchiato satu!" Ucap salah seorang gadis yang berdiri di antrean paling depan, pandangannya tak terlepas dari Mirza yang sedang melaksanakan pekerjaannya.
"Ini dia, Caramel Macchiato untuk nona pemilik wajah semanis caramel. Semoga harimu menyenangkan!" Kata Mirza sambil mengedipkan sebelah matanya yang langsung membuat hati para gadis meleleh.
Sementara di tempat lain, alunan musik klasik mengisi seluruh ruang di toko kue ini. Seorang lelaki dengan senyum manisnya berdiri di balik etalase dengan mengenakan kemeja putih serta topi dan apron sepinggang berwarna merah muda, pada bagian d**a sebelah kanannya melekat sebuah name tag bertuliskan "Nevan."
"Aku pesan kue yang ini saja!" Tunjuk seorang pelanggan pada salah satu kue tart cokelat yang ada di dalam etalase.
"Baik, kalau begitu. Silakan tulis ucapan yang ingin ditorehkan di atas kue di sini." Kata Nevan ramah. Sebelum mengeluarkan kue tart cokelat yang dipesan pelanggannya itu dari etalase, dan membawanya ke dapur yang ada di toko tersebut.
Nevan segera menutupi bagian hidung sampai dagunya dengan masker, kemudian membalut tangannya dengan sarung tangan plastik sebelum mulai menorehkan sesuatu di atas kue sesuai pesanan dengan krim berwarna putih.
***
Dentingan piano terdengar menggema ke seluruh penjuru ruang, beberapa orang yang duduk dengan jarak teratur di balik pianonya masing-masing nampak memerhatikan dan mendengarkan dengan saksama alunan nada yang dimainkan oleh seorang lelaki di depan sana.
"Begitulah kira-kira. Dalam bermusik, kalian bukan saja sekadar merangkai nada demi nada, tapi kalian juga mesti mengikut sertakan rasa ke dalamnya." Jelas lelaki itu.
Salah seorang yang berada di sana mengangkat tangan sebelah kanannya. Lantas lelaki yang berada di depan itu mempersilakannya untuk bicara.
"Bagaimana caranya mengikut sertakan rasa? Semisal kita harus memainkan lagu yang sedih, tapi perasaan kita sebenarnya sedang bahagia. Apa yang mesti dilakukan, Pak Aksa?"
Aksa, membenarkan letak kacamata yang ia gunakan selama mengajar yang sedikit merosot dari hidungnya. Kemudian bibir tipisnya itu menyunggingkan sebuah senyum.
***
Sementara di rumah. Darel baru saja membuka matanya, cacing-cacing dalam perutnya sudah meraung meminta asupan. Lantas lelaki itu melangkahkan kakinya ke luar kamar, berjalan menuju dapur untuk mencari apa yang bisa ia makan.
"Kau sudah bangun, Darel?" Tanya Arvin yang baru keluar dari kamarnya dengan setelan sporty serta rambut yang masih basah belum disisir.
"Ah, iya, Kak. Kau baru mau berangkat?" Tanya Darel, pun Arvin mengangguk sebagai tanggapan.
"Aku kebagian jadwal mengajar siang. Kau mau ikut? Kemampuan menari mu itu tidak bisa diragukan, Darel. Ku rasa kau bisa membantuku mengajar tari sambil menunggu ujian masuk perguruan tinggi." Tutur Arvin.
Darel terkekeh, lelaki itu mengusap tengkuknya malu-malu. "Eum… mungkin aku akan berkunjung sesekali ke sana, kalau ikut mengajar… kurasa aku belum semahir dirimu. Lagi pula sepertinya lebih baik aku belajar saja di rumah."
"Hm, baiklah. Sarapan mu sudah disiapkan oleh Kak Deon di lemari makanan. Apa kau mau aku hangatkan dulu makanannya? Sepertinya jauh lebih enak kalau kau menyantapnya dalam kondisi hangat."
"Ah, tidak perlu, Kak. Nanti kau terlambat." Balas Darel.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Jangan terlalu memforsir belajarmu! Aku tahu kau sudah belajar semalaman! Biar ku belikan s**u strawberry sepulang kerja nanti, kau mau?"
Seketika mata bulat Darel langsung berbinar kala mendengar penuturan Arvin, pun ia mengangguk dengan sangat antusias. "Mau Kak! Aku mau!"
Arvin menyunggingkan senyumannya yang hangat dan mengacak lembut rambut Darel sebelum ia meninggalkan lelaki itu sendirian di rumah untuk berangkat bekerja sebagai guru tari, atau bahasa kerennya, coach dancer.
Sedang Darel, tentunya ia melanjutkan langkah menuju dapur. Ke tempat lemari makanan seperti yang tadi Arvin katakan kalau sarapannya ada berada di sana. Sebelum menyantapnya, Darel memilih untuk menghangatkan terlebih dahulu sebab memang sekarang ini sudah menjelang siang, bahkan satu jam lagi sudah masuk makan siang, jadi sarapan untuk Darel yang sengaja Deon pisahkan itu pasti sudah dingin.
Meski terkesan selalu dimanjakan karena dirinya yang paling muda, dalam urusan memasak atau hal-hal dasar lainnya, tentu Darel bisa. Deon sudah menanamkannya sebab katanya, itu adalah life-skill yang mesti dimiliki oleh setiap orang. Jadi, sekadar menghangatkan makanan bukanlah hal sulit bagi Darel.
Ponselnya berdering, kala Darel baru saja menyalakan kompor dan mengaturnya dalam api sedang. Lantas lelaki itu merogoh saku celana pendeknya tempat di mana ponselnya tersimpan.
"Iya, Kak?" Jawab Darel.
"Oh, kau sudah bangun? Mau makan siang apa? Biar nanti aku kirimkan." Kata lelaki yang panggilan teleponnya baru saja diterima oleh Darel. Lelaki yang menahan ponselnya mengenakan bahu sebab kedua tangannya sibuk memeriksa tumpukan berkas.
"Tidak perlu, Kak. Biar aku buat makanan yang ada di rumah saja." Jawab Darel.
Tok tok
"Pak Deon, ada berkas lagi yang mesti Anda tanda tangani." Ucap seseorang yang baru saja muncul dari pintu.
"Oh, ya silakan bawa kemari." Balas Deon.
"Kak?" Panggil Darel, panggilan mereka masih tersambung jadi Darel dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan Deon di sana.
"Ya? Darel bagaimana?" Sahut Deon.
"Sepertinya kau sangat sibuk, jangan mengkhawatirkan ku, Kak. Aku bisa melakukannya sendiri." Tutur Darel.
"Baiklah, kalau begitu. Tapi kau tidak boleh melewatkan makan siang, mengerti?"
Darel malah tertawa renyah seraya memindahkan makanannya ke dalam piring. Kali ini Darel juga menahan ponsel dengan bahunya.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau sangat sibuk, tapi kau tidak boleh melewatkan makan siang."