Jemari mungil Nevan meraih gagang pintu kamarnya sendiri, dengan masih mengenakan setelan jas hitam lengkap Nevan mengurung diri di kamarnya. Dirinya seperti mengeluarkan sesuatu dari dalam laci nakas. Setumpuk berkas mengenai detail penyakit serta hasil pemeriksaan Arvin selama dua tahun belakangan.
Air matanya kembali meluncur untuk yang kesekian kali. Bahkan mata Nevan kini sudah benar-benar bengkak dan merah, kepalanya pun sedari tadi terasa begitu pening.
"Sampai dirinya berpulang pun aku sama sekali belum sempat mengungkap ini…" lirihnya. "Kak Arvin, maafkan aku. Sampai mati kau tak pernah mengetahui penyakit apa yang sebenarnya kau derita selama ini," gumam Nevan. Pun berkas-berkas itu diletakkannya di atas ranjang begitu saja. Kemudian kali ini kakinya melangkah ke arah jendela, menyibakkan gorden dan membukanya lebar-lebar sampai sapuan angin dapat membelai lembut wajahnya.
Nevan menengadah, menatap langit biru dengan taburan awan putih di atas sana. Dalam pandangannya, seolah awan-awan tersebut bergerak membentuk lukisan wajah Arvin yang tengah melempar senyum ke arahnya. Sampai-sampai tanpa sadar Nevan pun turut menyimpulkan senyum membalasnya.
"Beristirahatlah di sana, Kak. Kau sudah tak akan merasakan sakit lagi." Gumamnya.
***
Darel menoleh ke arah pintu kamarnya yang baru saja dibuka. Menampilkan seorang lelaki yang langsung melempar senyum dengan lesung pipinya ke arah Darel. Di tangan kanannya ia menenteng sebuah kantung yang entah apa isinya.
"Bagaimana keadaannya Sus?" Tanyanya kepada seorang suster yang sedang memeriksa kondisi Darel. Memang saat ini Darel masih terus diperiksa secara berkala untuk memantau perkembangannya.
"Sudah cukup membaik dari yang sebelumnya." Jawab seorang wanita yang mengenakan seragam perawat.
"Apa kau sudah sarapan?" Tanyanya kini kepada Darel, pun Darel yang masih terbaring di ranjang itu menggeleng.
"Suster, apa dia boleh mengonsumsi makanan luar selain makanan rumah sakit?" Tanyanya lagi, yang disambut anggukan serta simpulan senyum dari sang suster.
"Boleh, asalkan masih dalam bentuk bubur. Tapi lebih baik jangan terlalu sering." Jelasnya.
"Baik, terima kasih, Sus." Ucap lelaki itu. "Darel, aku buatkan bubur untukmu!" Serunya sembari menunjukkan tentengan yang dibawanya.
"Wah, kau yang membuatnya?" Balas Darel antusias, matanya nampak berbinar. Pun lelaki itu mengangguk mantap.
Namun, pada detik berikutnya Darel malah memajukan bibirnya seolah merajuk. "Aku meragukan rasanya…."
"Ey! Cobalah dulu!" Serunya sambil mengeluarkan kotak makan dari dalam kantung yang ia bawa, meletakkannya di atas nakas untuk kemudian membuka bagian penutup dan bubur siap disajikan untuk Darel. Adapun dirinya menempati kursi kecil yang ada di sebelah ranjang.
"Tuan Darel, saya permisi dulu, ya!" Kata sang suster setelah selesai melakukan pekerjaannya.
"Ah, iya. Terima kasih Suster cantik!" Balas Darel yang berhasil membuat suster itu bersemu merah.
"Siapa yang mengajarkanmu mengatakan kalimat barusan?" Selidik lelaki yang sedang mengaduk bubur itu.
"Eum…" Darel nampak berpikir, jari telunjuknya diketuk-ketukkan ke dagu. "Aku kan sudah dewasa, Kak Brian. Tidak perlu ada yang mengajarkan untuk mengatakan kalimat seperti itu!" Protesnya.
"Hmm jadi kau merasa kalau kau ini sudah dewasa?" Tanya Brian seraya bangkit dari duduknya, dirinya mengatur ranjang Darel terlebih dahulu agar lelaki itu dapat berada di posisi setengah terduduk, khawatir kalau tetap sambil merebah nanti ia tersedak.
"Lelaki dewasa mana yang menggilai s**u strawberry?" Kini Brian kembali menempati kursi tempatnya semula. Kotak makan berisi bubur buatannya itu sudah berada di genggaman.
"Sekarang s**u pisang, Kak!" Komplain Darel.
"Ya, sama saja. Dimana ada lelaki dewasa yang sangat suka minum s**u?" Ledek Brian sambil menyendok buburnya. "Sepertinya hanya lelaki yang sedang menyantap bubur sambil disuapi ini!" Tambahnya lagi.
Tak ada satu pun dari mereka yang menyadarinya, kalau ternyata di sudut ruang yang mereka tempati sekarang, ada Mirza yang tengah tersenyum memandangi mereka.
"Kak, maaf aku tidak bisa menghadiri…."
"Sstt! Kau bisa mengunjunginya saat sudah pulih nanti." Sela Brian yang sudah mengetahui maksud dari penuturan Darel.
"Kak Nevan dan Kak Aksa… mereka ada di rumah?" Tanya Darel.
Brian mengangguk, "mereka baru saja kembali setelah semalaman di rumah duka."
Helaan napas Darel pun terdengar, rautnya seketika menjadi sendu. "Pasti sangat sulit untuk Kak Nevan…" lirihnya.
Pun Brian meletakkan kotak makan itu ke atas nakas. Dirinya meraih jemari Darel perlahan dan menggenggamnya erat. "Tidak pernah ada yang tidak sulit dalam tiap perpisahan, apalagi perpisahan yang untuk selamanya,"
"Tapi ada satu kunci untuk mengatasi itu semua, kau mau tahu kuncinya ada di mana?"
Darel mengangguk lemah, dengan sorot mata yang menyiratkan keingintahuan.
"Di sini," Brian meletakkan jari telunjuknya tepat di d**a Darel. "Kuncinya mengikhlaskan."
Detik berikutnya, Darel berusaha mengubah raut sendunya dengan sebuah simpul senyuman.
"Sekarang, habiskan dulu bubur ini. Rasanya tidak terlalu buruk, bukan?" Kata Brian untuk mengalihkan pembicaraan, sambil mengambil kembali kotak makan yang diletakkannya di atas nakas.
"Yaa setidaknya rasanya masih bisa diterima di lidah." Celetuk Darel dengan cengiran tanpa dosa.
"Aku melihat resepnya di internet."
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi dapur sekarang. Wah, pasti seperti kapal pecah!"
***
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
Lelaki paruh baya berbalut jas putih itu menghela napas, "tidak ada perubahan yang signifikan. Malah kemarin sistim imunnya sempat mengalami penurunan."
Seketika Brian menundukkan kepalanya, "a-apa yang bisa dilakukan?" Tanyanya, sorot matanya menyiratkan sebuah kekhawatiran sekaligus rasa bingung. Kali ini mungkin akan ditambah dengan sedikit rasa kecewa setelah dokter menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. Kita hanya bisa menunggu, biarkan Mirza yang berjuang dengan sendirinya."
Benar saja, Brian menghela napasnya berat, mengembuskan kekecewaannya. "Baiklah kalau begitu terima kasih, aku permisi." Pamit Brian seiring dengan bangkit dari duduk kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum berlalu keluar dari ruangan itu.
Kali ini tujuannya adalah ruangan tempat di mana tubuh Mirza terbaring tak sadarkan diri. Sedang arwahnya sedari tadi berada di belakang Brian. Bahkan ia turut mendengarkan pembicaraan Brian dengan dokter barusan.
"Maafkan aku, Kak. Energi ku terlalu terkuras akibat kejadian kemarin. Aku terlalu sibuk ke sana ke mari bahkan turut serta dalam prosesi pemakaman Kak Arvin sampai-sampai aku lupa kalau tubuhku masih terbaring koma." Jelas Mirza, meskipun ia tahu Brian tidak mungkin mendengarnya. Brian tidak masuk ke dalam ruangan, ia hanya memandanginya dari jendela kecil sebatas pinggang yang ada di sebelah pintu.
Lagi, helaan napas kembali terdengar, sebelum Brian mengerutkan keningnya kala teringat akan sesuatu hal.
"Aksa…" gumamnya.
Arwah Mirza yang juga ada di sana pun ikut menoleh begitu mendengar Brian menyebut nama Aksa.
"Ada apa dengan Kak Aksa?" Tanya Mirza yang juga penasaran.
***
"Aarghhh!!" Teriaknya frustasi, kemudian melepas headphone yang semula menyumpal indera pendengarannya, dan melemparnya asal ke meja yang ada di hadapannya ini. Kemudian ia memijit bagian tengah keningnya. Matanya yang kecil itu nampak benar-benar lelah. Lingkar hitam terukir jelas di wajahnya yang terlalu bersih.
"Kopi, aku butuh kopi!" Serunya dan beranjak bangkit dari duduk serta melangkah keluar dari sarangnya. Menuju dapur yang ada di lantai bawah untuk menyeduh secangkir kopi hitam pahit. Ya, itulah kebiasaannya. Kalau otaknya kesulitan atau mengalami kemacetan dalam bekerja, ia membutuhkan kopi hitam pahit sebagai pelumasnya. Apalagi kalau dirinya diserang kantuk tapi masih harus terjaga, maka kopi hitam pahit juga lah solusinya.
Pun lelaki itu kembali dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap, memasuki kamar yang bertuliskan "go away!" Dengan gambar kucing mengacungkan jari tengah pada pintunya.
Kembali mendaratkan b****g di kursinya yang empuk, menatap layar komputer dan mengenakan headphone. Setelah menghirup aroma kopi yang baru saja dibuatnya itu, dengan perlahan ia menyeruputnya dari pinggiran cangkir, menimbulkan bunyi "slurrpp".
"Ahhh, nikmat sekali." Ujarnya seraya meletakkan cangkir pada sisi mejanya yang kosong.
"Seorang Aksa pasti bisa menyelesaikan ini!" Katanya lagi.