Penyewa Tetap

1334 Words
"Nevan, bukankah sebaiknya kau beristirahat? Aku sangat lelah, aku duluan, ya." Ucap Aksa kala Nevan sempat mengutarakan kalau dirinya melihat Aksa keluar dari motel. Tak ingin terlibat pembicaraan lebih jauh sebab masih ada yang mesti Aksa kerjakan, pun akhirnya lelaki itu memutuskan untuk meninggalkan Nevan dan segera beranjak menuju kamar. Aksa mengurung dirinya di kamar. Jas hitam yang ditentengnya dilempar asal ke atas ranjang. Pun mengeluarkan kaus putih serta celana pendek hitam dari dalam lemari kayunya. Perlahan jemarinya mulai melepaskan kancing kemeja putih yang masih membalut tubuhnya satu persatu. Lagi, kemeja itu di lemparnya asal ke atas ranjang, kemudian ia meraih kaus putih yang semula diambilnya dari dalam lemari, dikenakannya untuk membalut tubuh. Setelahnya, Aksa melepas kancing celana panjang hitamnya. Lagi, ia menggantinya dengan celana pendek yang semula diambil dari lemari. Setelah selesai berganti pakaian, Aksa membiarkan setelan kotornya berserakan begitu saja di atas ranjang. Kemudian dirinya bergegas menuju meja kerjanya. Terduduk di depan komputer yang sudah dilengkapi dengan FL Studio, aplikasi yang kerap Aksa gunakan untuk menyusun, mengedit, merekam dan membuat audio musik berkualitas profesional. Setelah mendaratkan tubuh di kursi yang lebih mirip degan kursi gaming, Aksa mulai mengenakan headphone-nya, menghidupkan komputer dan mulai mengeluarkan keahliannya. Aksa jelas menyadari lingkar hitam di matanya, pun rasa tubuh begitu ingin merebah dan menenggelamkan diri di kasur. Namun apa daya, sosok dibalik nomor tidak bernama itu terus menerrornya. Aksa diudak-udak seperti orang yang punya hutang. *** "Aarghhh!!" Teriaknya frustasi setelah berjam-jam bergelut di depan komputer, kemudian Aksa melepas headphone yang semula menyumpal indera pendengarannya, dan melemparnya asal ke meja yang ada di hadapannya ini. Kemudian ia memijit bagian tengah keningnya. Matanya yang kecil itu nampak benar-benar lelah. Lingkar hitam terukir semakin jelas pada wajahnya yang terlalu bersih. "Kopi, aku butuh kopi!" Seru Aksa, bangkit dari duduk serta melangkah keluar dari sarangnya. Menuju dapur yang ada di lantai bawah untuk menyeduh secangkir kopi hitam pahit. Ya, itulah kebiasaannya. Kalau otaknya kesulitan atau mengalami kemacetan dalam bekerja, ia membutuhkan kopi hitam pahit sebagai pelumasnya. Apalagi kalau dirinya diserang kantuk tapi masih harus terjaga, maka kopi hitam pahit juga lah solusinya. Pun Aksa kembali dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap, memasuki kamar yang bertuliskan "go away!" Dengan gambar kucing mengacungkan jari tengah di tempel pada pintunya. Kembali mendaratkan b****g di kursinya yang empuk, menatap layar komputer dan mengenakan headphone. Setelah menghirup aroma kopi yang baru saja dibuatnya itu, dengan perlahan ia menyeruputnya dari pinggiran cangkir, menimbulkan bunyi "slurrpp". "Ahhh, nikmat sekali." Ujarnya seraya meletakkan cangkir pada sisi mejanya yang kosong. "Seorang Aksa pasti bisa menyelesaikan ini!" Katanya lagi. Namun, ketika baru saja Aksa hendak menekan salah satu tombol yang ada pada keyboardnya, ponsel yang ia letakkan di atas meja itu menyala. Pada layarnya tertera nomor yang sama yang belakangan ini kerap kali menghubungi Aksa. Pun ia meliriknya sekilas, berusaha mengabaikannya dan melanjutkan aktifitasnya sampai layar ponsel itu kembali mati, menandakan panggilan tersebut sudah berakhir. Tak berselang lama, ponsel itu kembali menyala. Kali ini Aksa merasa tak bisa mengabaikannya lagi. Sambil berdecak kesal akhirnya Aksa melepaskan headphone dan mengalungkannya di leher. Kemudian meraih ponselnya serta menggeser simbol telepon berwarna hijau sekaligus mendekatkan layarnya pada indera pendengaran. "Apa lagi?" Kata Aksa. Rautnya semakin dibuat muram kala ia mendengarkan apa yang dituturkan orang itu dari seberang sana. "Ya, siang ini. Kalau kau meneleponku terus terusan maka aku tak bisa menyelesaikannya dengan cepat." Balas Aksa yang langsung mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak. *** Nevan berusaha membuka matanya, kepalanya masih terasa berat akibat tangisnya yang tak henti-henti semalaman. Dengan masih berbalut setelan jas hitam Nevan tertidur di atas ranjangnya. Pun perlahan ia berusaha beranjak sembari meringis dan memegangi kepalanya yang terasa berat. "Jam berapa sekarang…" desis Nevan. Diliriknya jam dinding yang terus berdetik itu. Sudah Lewat dari jam makan siang, pantas saja cacing-cacing dalam perutnya sudah menjerit seperti menggelar aksi di depan gedung para dewan yang tuli. Namun Nevan lebih mulia dari mereka, lelaki itu mendengar keluhan cacing-cacingnya dengan baik, sehingga ia segera melangkahkan kaki menuju dapur untuk mencari apa yang kira-kira bisa dijadikan santapan makan siangnya kali ini. Saat melintasi pintu kamar Aksa, Nevan tiba-tiba mengingat suatu hal. Pasal dirinya yang melihat Aksa keluar dari sebuah motel pagi tadi. Niat Nevan untuk menuju ke dapur jadi terhenti sejenak, perlahan kakinya malah mendekat ke arah pintu kamar Aksa dan menempelkan daun telinganya di sana. "Apa dia ada di dalam?" Tanya Nevan pelan kepada dirinya sendiri. "Apa dia tertidur?" Tanyanya lagi. "Biasanya kalau dia tidur pasti tidak ingat waktu, sepertinya lebih baik aku memanfaatkan kesempatan ini untuk memeriksa motel yang semalam ia kunjungi sekarang!" Pun akhirnya rasa lapar diabaikannya, Nevan tidak jadi pergi ke dapur. Ia malah kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan dompet dan segera bergegas meninggalkan rumah menuju ke sebuah motel yang dikunjungi Aksa. Sementara Aksa sendiri, yang Nevan pikir sedang tertidur, nyatanya masih berkutat di depan komputer. "Akhirnya selesai!" Seru lelaki itu sambil mengangkat kedua tangannya demi meregangkan otot-otot tubuh. Krukkk Bunyi perutnya tak tertahankan. Seketika ia memegangi perutnya yang sudah keroncongan sebab belum terisi apapun sejak semalam. "Baiklah, aku berhak istirahat. Aku akan makan siang terlebih dahulu sebelum tidur." Katanya sembari bangkit dari duduk dan beranjak meninggalkan kamar. Ketika Aksa baru saja sampai di pertengahan anak tangga, ia teringat kalau di rumah ini bukan saja hanya ada dirinya seorang melainkan juga ada Nevan. Mungkin anak itu masih tertidur dan pasti belum makan, pikr Aksa. Hingga akhirnya Aksa putar arah kembali menapaki anak tangga dan menuju kamar Nevan. "Ekhem," dehamnya yang sedikit gerogi sebelum mengetuk pintu kamar Nevan. Tok tokk "Nevan, apa kau masih tidur?" Satu detik, Dua detik, Belum ada tanggapan. Tok tokk "Nevan? Aku akan membeli makanan untuk makan siang, apa kau mau titip sesuatu?" Hening. Sama sekali tak ada balasan dari dalam kamar. Jemari Aksa meraih gagang pintu, kemudian membuka pintu kamar rekannya itu. Betapa terkejutnya Aksa kala mendapati kamar Nevan yang sudah kosong. "Kemana dia?" Tanya Aksa pada dirinya sendiri. "Ah, mungkin dia kembali ke rumah duka." Tak ambil pusing, Aksa memilih untuk menutup kembali pintu kamar dan beranjak dari sana. *** "Berhenti di depan, ya, Pak." Ucap Nevan. Sang supir pun segera menepikan taksinya persis di tempat yang Nevan tunjukkan tadi. Di depan sebuah motel, di mana sebelumnya Nevan melihat Aksa keluar dari sana. "Terima kasih, ya, Pak!" Ujar Nevan yang baru saja keluar dari taksi. Nevan menatap bangunan bertingkat itu dari luar. Nampak begitu usang, dirinya tak bisa menerka bagaimana keadaan di dalamnya sebab melihatnya dari luar saja sudah menimbulkan banyak prasangka buruk sekaligus tanda tanya besar dalam benak Nevan. "Ahh, aku sungguh tak percaya Kak Aksa benar-benar mengunjungi tempat ini," Ujarnya. Sesaat sebelum kakinya melangkah masuk, Nevan seketika terhenti. "Sebentar, saat ini 'kan aku berada di sini. Itu artinya aku mengunjungi tempat ini juga. Ah aku benar-benar gila!" Rutuknya pada diri sendiri. "Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang resepsionis dengan riasan tebal. Nevan sempat mengernyit melihat penampilannya, mini dress ungu yang dikenakan wanita itu tidak layak disebut sebagai pakaian jika ditunjang dari fungsinya yang mana pakaian berguna untuk menutupi tubuh. Ada pun bercak merah keunguan pada bagian leher dan d**a wanita itu membuat Nevan bersusah payah menelan saliva-nya. "Tuan?" Panggilnya lagi, berhasil membuyarkan lamunan Nevan. "Ah, y-ya?" Jawab Nevan gelagapan. "Ada yang bisa saya bantu?" Ulangnya. "Eum, begini. Apa seseorang yang bernama Aksa pernah berkunjung ke sini?" "Aksa?" Resepsionis itu nampak berpikir sejenak. "Sebelumnya, boleh aku tahu apa kalian memiliki hubungan?" Katanya lagi. "Aku adiknya." Balas Nevan. "Sebentar biar aku periksa datanya dulu, ya." Pun Nevan mengangguk, jemarinya diketuk-ketuk ke meja resepsionis. Pandangannya mengedar, menyapu ke seluruh penjuru tempat itu yang terlihat begitu sepi. "Eum, Tuan. Tuan Aksa memang penyewa tetap salah satu kamar di sini." "Apa?!" Pekik Nevan, detik berikutnya ia tersadar kalau suaranya terlalu keras sampai dirinya celingak-celinguk dan berdeham untuk menetralkan suara. "Penyewa tetap? Itu artinya… dia sering kemari?" Pertanyaan yang dilempar Nevan pun ditanggapi dengan anggukan oleh sang resepsionis. Nevan tak lagi bisa berkata-kata, ia mengacak rambutnya sendiri. "Baik kalau begitu terima kasih, aku permisi." Ujar Nevan, yang tanpa menunggu jawaban dari resepsionis langsung cabut meninggalkan tempat tersebut. Di luar, sembari melangkah ke tepian jalan untuk menunggu taksi, Nevan kembali mengacak rambutnya sendiri dan berdecis. "Ck! Penyewa tetap? Jadi itu yang dia lakukan belakangan ini? Benar-benar sudah tidak waras!" Umpatnya seraya menendang asal batu kecil yang ada di depan kakinya. Tinnnn Sebuah taksi menepi di depannya sambil membunyikan klakson agak panjang. "Nevan, sedang apa kau di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD