Lunch

1129 Words
"Darel, istirahatlah. Orang bengkel baru saja menghubungiku katanya mobilku sudah selesai." Ujarnya. Pun Darel yang masih terbaring itu menganggukkan kepalanya sembari menampilkan senyum manis gigi kelincinya. "Iya, Kak. Sebentar lagi juga suster akan datang membawakan obat untukku. Setelah minum obat aku harus tidur, hati-hati di jalan." Balasnya. Brian segera melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit. Di luar, taksi yang sebelumnya sudah ia telepon sudah menanti. "Jalan, Pak." Kata Brian kala dirinya sudah memposisikan diri di kursi belakang, dan tak lupa mengaitkan sabuk pengamannya. Perjalanan Brian diwarnai hening, dirinya tak terlibat pembicaraan dengan pak supir yang fokus mengemudi. Sampai pada detik kedua mata Brian menangkap sosok yang dikenalinya berdiri di tepi jalan. "Pak, berhenti di depan sebentar!" Seru Brian tiba-tiba. Adapun jari telunjuknya yang segera menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil. "Nevan, kau sedang apa di sini?" Tanya Brian keheranan. Diselidiknya Nevan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Lelaki itu belum berganti pakaian sejak semalam. Kemudian Brian melirik ke arah bangunan yang berjarak tak terlalu jauh di belakang Nevan. Motel. Untuk apa dia kemari? "Kau baru kembali dari rumah sakit?" Alih-alih menjawab tanya yang lebih dulu dilempar Brian, Nevan malah menimpanya dengan pertanyaan lain seakan menghindari topik pembicaraan yang sebelumnya. Brian paham itu, ia tak akan mencecar rekannya di mari. Sebab itu hanya menganggukkan kepalanya dan meminta Nevan untuk masuk ke dalam taksi yang ia tumpangi. "Masuklah! Pulang bersamaku." Nevan sempat diliputi ragu, terlihat jelas dari ekspresinya yang sambil menggaruk kepala bagian belakang. Lagi-lagi Brian paham akan itu. "Ey, cepatlah. Ayo masuk!" Perintah Brian lagi. Pun akhirnya Nevan berjalan mengitari taksi menuju ke pintu yang satunya. Menempatkan diri di sebelah Brian. "Sudah?" Tanya Brian saat dirinya melihat Nevan baru saja selesai mengaitkan sabuk pengamannya. "Eum." Balas Nevan mengangguk. "Jalan lagi, Pak." Taksi pun kembali melaju, melanjutkan perjalanan mereka ke tempat tujuan. Nevan sama sekali tidak berani buka suara. Dalam duduknya ia begitu gelisah, sesekali melirik ke arah Brian yang nampak tenang memandangi jalanan. Padahal sebenarnya, Brian tahu kalau rekannya itu sedang gelisah sebab ada yang ia sembunyikan. Namun bukan Brian namanya kalau tidak mampu untuk nampak tetap tenang. "Mobilmu di bengkel, Kak?" Tanya Nevan basa-basi. Kepala Brian mengangguk, "ya. Aku perlu memeriksa mesin-mesinnya dengan rutin." Balas Brian. "Kapan kau membawanya ke bengkel? Bukankah kemarin kau masih menggunakannya?" "Aku membawanya setelah kembali dari rumah duka. Ini sekarang aku akan mengambilnya, tadi mereka telepon katanya sudah bisa diambil." "Ah, begitu." Seperti yang dikatakannya barusan, taksi yang ditumpangi mereka berhenti di depan sebuah bengkel yang cukup besar. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang kertas dengan memberi sedikit tip dari tarif yang dipatok, Brian mulai melangkahkan kakinya memasuki area bengkel dengan Nevan yang mengekor di belakang. "Nevan kau tunggu di sini sebentar, aku harus menyelesaikan administrasinya dulu." Kata Brian yang memintanya untuk menunggu di kursi tunggu yang ada pada bagian depan bengkel. Pun Nevan menurutinya, ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Sementara Brian menyelesaikan urusannya dengan petugas di balik meja sana. "Ini kuncinya." Kata seorang lelaki yang baru saja menerima beberapa lembar uang kertas dari Brian. Kemudian ia nampak mencatatnya di sebuah kertas yang memiliki salinan. Setelahnya salinan itu diberikan kepada Brian, barulah Brian dapat membawa pulang mobilnya yang telah diberi perawatan itu. "Sudah?" Tanya Nevan yang melihat Brian berjalan ke arahnya. "Sudah. Ayo, Nevan!" Ajaknya. Dua lelaki itu lantas memasuki mobil berwarna hitam metalic itu. Brian memegang kemudi, Nevan menempati kursi penumpang di sebelahnya. Perjalanan pulang kembali dilanjutkan. "Apa kau sudah makan?" Tanya Brian. Ah, benar. Sebelum Nevan memutuskan untuk menyambangi motel itu, awalnya Nevan berniat untuk makan siang. Namun sampai detik ini nyatanya ia malah melupakan hal tersebut. Adapun Nevan yang berakhir memegangi perutnya yang berbunyi cukup kerasa sampai terdengar oleh Brian. Lelaki yang tengah mengemudi itu pun menoleh. "Perutmu sudah menjelaskan semuanya." Kekeh Brian. Sedang Nevan hanya tertunduk malu. "Baiklah kalau begitu kita beli makanan dulu. Apa Aksa juga belum makan?" Sambungnya. "Tadi saat aku pergi sepertinya dia masih tidur." Balas Nevan. *** Aksa yang semula berniat mencari kudapan untuk makan siang, akhirnya malah meminum s**u kotak milik Darel yang kebetulan masih ada di lemari pendingin. Lelaki itu terlalu malas membuang lebih banyak energinya untuk memasak atau membeli suatu makanan. Alhasil setelah menghabiskan dua kotak s**u rasa pisang milik Darel, Aksa merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Tempat biasa mereka berkumpul untuk bermain video game atau sekadar saling melempar canda. "Maafkan aku Darel, nanti aku ganti s**u pisang mu itu. Ternyata enak juga." Ucapnya seraya melempar asal kotak s**u yang sudah kosong tak bersisa. Bersamaan dengan itu, Aksa mendengar suara pintu yang baru saja dibuka. Pikirnya itu pasti Nevan atau Brian, atau mungkin keduanya. "Aksa, apa kau sudah makan? Aku bawakan makanan untukmu." Benar saja. Itu Brian, yang membawa sekantung belanjaan yang berisi makanan pastinya. "Oh, apa kau meminum s**u milik Darel?" Tanya Brian, begitu dirinya melihat sampah dua kotak s**u di sekitaran Aksa. "Ah, itu? Iya. Nanti aku ganti." Balas Aksa seraya bangkit dari rebahnya. "Sejak kapan kau menyukai s**u?" Cetus Nevan. "Sejak aku lapar dan malas untuk memasak atau pun beli makanan." Balasnya. "Dasar pemalas!" Ledek Brian. Lelaki itu sibuk menyiapkan makanan yang dibelinya dan menyajikannya di atas meja. Ketiganya makan dengan hening. Nevan duduk berhadapan dengan Aksa sedang Brian menempati satu kursi yang ada di ujung meja makan. Sedari tadi Brian memerhatikan gerak-gerik kedua rekannya. Terutama Nevan yang diam-diam melirik ke arah Aksa, rautnya menyiratkan ada sesuatu hal yang ingin ia selidiki dari rekan di hadapannya itu. "Ekhem," deham-an Brian berhasil membuat keduanya menoleh. "Aksa, itu…" Brian menunjuk bagian matanya dengan telunjuk dan membuat gerakan memutar, sebagai isyarat mempertanyakan tentang lingkar mata panda Aksa. "Aku belum tertidur dari semalam." Jawabnya singkat, tentu jawaban Aksa berhasil membuat Nevan tersentak dan seketika menatapnya dengan dahi mengerut. "Kenapa kau menatapku begitu?" Ujar Aksa yang menyadari kalau Nevan tengah menatapnya. "Kupikir tadi kau tidur." Aksa menggeleng, "ada yang mesti ku kerjakan," "Kau sendiri, kenapa kau belum ganti pakaian dan kenapa-kenapa tiba meninggalkan rumah? Apa kau kembali ke rumah duka?" Nyaris saja Nevan tersedak mendengar tanya yang dilempar Aksa. Dirinya diam seribu bahasa, tak tahu harus memberi jawaban apa. Brian yang sedari terus memerhatikan dan paham akan kondisi Nevan pun segera menjawab. "Ya, aku bertemu dengannya tadi di sana." Lantas Nevan menoleh seketika ke arah Brian. Bagaimana bisa dia mengatakan itu? Sedang Brian sendiri tadi bertemu Nevan di pinggir jalan depan motel. "Aku juga berencana akan ke sana lagi, kenapa kalian tidak mengajakku?" Ujar Aksa sambil asik menyantap makanannya. "Bukankah kau sudah semalaman di sana bersama Nevan?" Kini giliran Aksa yang nyaris tersedak. Nevan tahu betul lelaki itu pasti gelagapan mencari alasan sebab semalam Aksa tidak berada di sana bersama dengan dirinya. "Apa tidak boleh kalau semalam sudah di sana lalu ingin ke sana lagi?" Jawab Nevan. Lagi-lagi kini giliran Aksa yang menoleh ke arah Nevan sebab lelaki itu telah beralibi demi Aksa. Padahal jelas-jelas Nevan tahu kalau Aksa meninggalkannya semalam. Pun Brian. Dirinya juga ternyata menyadari kecanggungan yang ada di sana. Ia tahu kalau Nevan berusaha menutupi kebenaran bahwa semalam Aksa tidak berada di sana bersamanya. Lantas lelaki itu menghela napasnya dalam, menyandarkan tubuh pada sangaan kursi dan menyimpulkan sebuah senyum yang entah apa maknanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD