"Sudah selesai. Langsung ku kirimkan melalui surel atau bagaimana?" Tanya Aksa pada seseorang yang menjadi lawan bicaranya di seberang sana. Dengan layar ponsel yang di dekatkan pada telinga serta satu tangan disembunyikan di balik saku celananya, Aksa berbincang melalui panggilan telepon.
"Apa?! Kenapa harus aku yang transfer lebih dulu? Bukankah seharusnya kau yang membayar ku?!"
Pintu kamar yang tidak benar-benar tertutup itu berhasil membuat seruan Aksa barusan terdengar oleh Nevan. Pantas saja lelaki itu nampak begitu terkejut sekaligus penasaran sampai-sampai langkahnya terhenti di depan kamar Aksa.
"Transfer? Membayarnya?" Gumam Nevan dengan suara yang begitu pelan.
Pun tepat ketika Aksa membalikkan tubuhnya, matanya beradu tatap dengan Nevan yang tentu membuat keduanya sama-sama terkejut. Nevan lantas memalingkan pandangannya, sedang Aksa mengambil tindakan untuk segera menutup pintu kamarnya. Namun, sebelum pintu ditutup dengan rapat. Mata keduanya kembali bertemu melalui celah pintu, Aksa melempat sorot yang begitu tajam dan tak terdefinisi dari matanya yang kecil itu.
"Baiklah, aku akan segera mengirimkannya." Ucap Aksa dari balik pintu dan segera memutus panggilan teleponnya. Kemudian ia kembali melirik ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat.
"Mendengarkan pembicaraan orang lain, bukanlah perilaku yang baik." Katanya.
***
Nevan juga bersembunyi di balik pintu kamarnya sendiri. Dengan tanya yang terus bergelayut, keningnya mulai mengerut.
"Apa yang harus dibayarkan? Siapa yang membayar? Dan kenapa harus ada transaksi?" Ujar Nevan bermonolog.
"Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan, Kak Aksa?"
Di tengah rasa bingung serta penasaran yang menyelimutinya, tiba-tiba arah pandang Nevan tertuju pada sebuah figura yang ada di atas nakasnya. Sebuah figura yang menampilkan potret kebersamaan tujuh lelaki dengan raut yang memancarkan kebahagiaan. Senyuman Arvin seakan menyiratkan secercah sinar dari sana. Membuat Nevan tanpa sadar turut menyimpulkan senyum juga di wajahnya. Kembali melihat potret wajah Arvin, membuat Nevan diserang rindu sekaligus rasa sakit mengingat masih ada yang ia sembunyikan bahkan dari Arvin sendiri sampai sosoknya benar-benar berpulang.
Kakinya perlahan melangkah menuju nakas. Namun bukan figura yang menjadi incarannya, melainkan sesuatu yang ada di dalam laci nakas tersebut. Sebuah berkas mengenai penyakit Arvin yang selama ini Nevan tutup rapat-rapat.
"Aku harus memberitahu ini semua kepada yang lainnya, sebelum aku bisa menyusul Kak Arvin…" lirih Nevan.
***
"Brian, dimana kunci mobil?" Tanya Aksa pada Brian yang tengah berada di sofa depan. Kemudian dirinya menunjuk ke arah nakas samping tv dengan dagunya.
Tanpa buang waktu, Aksa segera meraih kunci mobil tersebut dan melangkah keluar rumah. Lelaki itu sudah mengganti celana pendek hitamnya dengan jeans panjang, lengkap dengan jaket yang membalut kaus putihnya.
Deru mesin mulai menyala, Nevan yang tengah meratapi berkas-berkas tentang penyakit Arvin pun seketika beranjak dengan terburu ke tepian jendela. Di lihatnya mobil yang biasa dipakai Brian itu melaju mulai meninggalkan pekarangan rumah. Namun, kali ini yang mengemudi bukanlah Brian, melainkan Aksa.
"Dia mau kemana?"
Untuk sesaat keningnya mengernyit, sebelum akhirnya ia teringat akan sesuatu. Bayaran. Ya, benar. Pasti ini tentang bayaran.
Lantas cepat-cepat Nevan lari keluar kamar, menuruni anak tangga dengan tergesa untuk menemui Brian yang ada di lantai bawah. Meninggalkan berkas-berkasnya masih berserak di atas ranjang.
"Kak!" Panggilnya dengan napas yang sedikit terengah. Ada pun Brian sedikit kebingungan melihat sikap Nevan.
"Kak Aksa pergi kemana?" Tanyanya.
Dengan kening yang mengerut, Brian mengangkat kedua bahunya menandakan kalau dirinya tidak tahu Aksa pergi kemana.
"Dia tidak mengatakannya."Jawab Brian.
Tidak salah lagi Aksa pasti pergi untuk menyelesaikan pembayaran yang dibicarakannya tadi melalui telepon. Apa Nevan harus membuntutinya sekarang? Menyelesaikan pembayaran tanpa tatap muka sudah pasti ia pergi ke bank, tapi bank mana persisnya itu Nevan sama sekali tidak tahu. Pun tanpa disadarinya, Brian terus memerhatikan dirinya yang nampak memikirkan sesuatu. Rupanya Nevan tak dapat menyembunyikan rasa curiganya pada Aksa. Tentu ini semakin membuat Brian penasaran sebenarnya ada apa di antara kedua rekannya itu?
***
Setelah berhasil menekan enam digit angka yang menjadi kode rahasia rekeningnya. Aksa segera melakukan transaksi kirim uang dengan nominal yang tak terbilang sedikit. Bahkan angka nol yang berjajar di belakangnya itu benar-benar membuat pusing yang melihat.
Transaksi pun selesai ketika kartu milik Aksa sudah keluar dari mesin ATM. Aksa langsung meraih ponselnya dan menghubungi nomor tanpa nama yang belakangan ini sering berkomunikasi dengannya.
"Sudah ku kirim sejumlah yang kau pinta. Apa kau bisa menjamin ini?" Ucap Aksa. Kemudian sosok di seberang sana segera menimpali ucapannya sebelum Aksa memutus panggilan tersebut.
Aksa kembali ke mobil. Tak berlama-lama lagi sebab urusannya di sana sudah selesai, Aksa segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah sebab masih ada satu hal lagi yang mesti ia kerjakan. Lelaki itu menginjak gas tak tanggung-tanggung, membelah jalanan di tengah ramainya lalu lintas dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang pelan.
Deru mesin kembali terdengar oleh Nevan. Lelaki itu sudah berada di kamarnya lagi setelah sempat menanyakan kemana Aksa pergi pada Brian. Pun ia mengintip dari jendela, Aksa baru saja turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
"Oh, kau sudah kembali?" Tanya Brian, kala dirinya mengembalikan kunci mobil.
"Kalau aku belum kembali aku tidak mungkin mengembalikan kunci ini padamu." Sahut Aksa.
Brian malah terkekeh mendengar jawaban Aksa yang mungkin bagi orang lain terdengar tidak mengenakan, apalagi dengan wajah Aksa yang memasang ekspresi datar.
"Kau pergi sangat sebentar, memangnya habis dari mana?"
Aksa yang hendak melangkah ke kamar pun mengurungkan niatnya sejenak, sambil menghela napas ia kembali menoleh ke arah Brian.
"Sejak kapan kau ingin tahu urusan orang lain?"
Detik itu juga Brian seperti kehabisan kata, lelaki itu hanya mampu melemparkan senyum pada Aksa yang tengah memicingkan mata ke arahnya.
"Aku... Hanya bertanya." Jawabnya.
"Brian yang ku kenal tidak akan melemparkan pertanyaan semacam itu." Cetus Aksa yang lantas meninggalkan Brian.
Lelaki itu kembali ke kamarnya untuk menuntaskan pekerjaannya. Kembali menghidupkan komputer untuk mengirimkan file yang bertajuk 'Aksa Music.' melalui surel. Seperti sebelumnya, setelah menyelesaikan pengiriman, Aksa kembali menghubungi nomor tak bernama itu lagi.
"Periksa surel mu." Kata Aksa.
"Berapa lama aku harus menunggu?" Tanyanya.
"Begitukah?"
"Baik. Akan aku tunggu."
Setelah percakapan singkatnya selesai dan panggilan telepon terputus, Aksa langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Akhirnya, punggung Aksa bertemu dengan soulmatenya, kasur. Rasanya nyaman sekali, sudah seharian dirinya tidak rebahan begini. Saking senangnya, Aksa menggulingkan tubuh kesana kemari sambil cekikikan sendiri, bahkan mata kecilnya yang sudah dilengkapi lingkaran hitam itu nampak menghilang.
"Ahh akhirnya aku bisa tidur selama 24 jam..." Kata Aksa.
"Semoga ini tidak sia-sia, aku menghabiskan seluruh uang yang ku tabung selama bertahun-tahun untuk itu." Tambahnya.
***
Nevan melirik ke arah berkas yang ada di ranjangnya. Kemudian pemikirannya kembali teralih pada Arvin dari Aksa.
"Aku harus mengungkapkan ini!" Ucapnya mantap. Segera ia membereskan kertas demi kertasnya, menyatukannya menjadi satu bundel.
"Apa aku harus mengungkapnya sekarang? Ataukah nanti saat semuanya sudah kembali berkumpul di rumah ini?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Tidak, tidak. Ku rasa Kak Brian lebih berhak tahu tantang hal ini!"
"Tapi saat ini Kak Aksa juga ada di rumah, apa tidak sekalian saja agar tak mesti memberitahunya dua kali?"
Terus saja begitu. Nevan kembali bermonolog dengan dirinya dan kelabilannya. Lelaki itu sempat termangu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk mantap sambil mendekap berkas tersebut.
***
"Kak Brian." Merasa ada yang memanggil, lelaki itu menoleh.
"Oh, Nevan. Ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan."