Jam Pulang

1133 Words
Musim semi 2018. "Mirza, jam kerjamu sudah berakhir bukan? Tinggalkan saja biar aku yang mengerjakan." Kata salah satu rekan kerja Mirza. Pun Mirza nampak berpikir sambil terus melayani pelanggan. Padahal, kalau dirinya bekerja melebihi waktu yang telah ditentukan, Mirza tidak akan dibayar, tapi dirinya tetap terus melakukan pekerjaannya dengan baik. Kemudian Mirza melirik arloji di tangan kirinya. "Tapi Reno belum datang. Aku menunggu dia datang dulu, nanti kau harus melakukan semuanya sendirian." Balas Mirza. "Tidak apa, Mirza. Pulanglah. Lagi pula ini memang sudah masuk jam kerjaku. Kalau rekanku terlambat, sudah menjadi tanggungjawab ku untuk mengatasi semuanya sendirian." Mirza menyunggingkan senyum ke arah rekannya setelah menyerahkan satu cup ice americano kepada pelanggan. "Keterlambatannya itu bukanlah jadi tanggungjawab mu." "Lantas apa ini menjadi tanggungjawab mu sehingga kau harus berada di sini padahal jam kerjamu sudah habis?" "Eyy, anggap saja aku sedang membantumu!" Kata Mirza sembari menyenggol lengan rekannya. "Terima kasih, kawan!" "Apa kalian tidak akan melayaniku?" Ucap seorang pelanggan menengahi pembicaraan antara Mirza dan rekan kerjanya. "Ah, maafkan kami! Mau pesan apa?" Ujar Mirza sambil sedikit terkekeh segera melayani pelanggan tersebut, rekan kerja yang satunya pun ikut terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. *** Pintu rumah terbuka. Darel yang sibuk belajar di ruang tengah sebenarnya menyadari kalau ada seseorang yang baru saja membuka pintu kediamannya. Namun, karena saking terlalu fokusnya, Darel jadi tak terlalu mengindahkan dan terus menorehkan pensil di atas lembaran bukunya yang tebal. "Untuk teman belajarmu." Ucap Aksa, sembari meletakkan sekantung plastik hitam yang dibawanya. "Ini apa, Kak?" Tanya Darel yang langsung beralih menatap Aksa. Lelaki itu tengah berjalan ke arah dapur. "Aku tahu otakmu akan lebih mudah mencerna sesuatu kalau sambil ngemil." Jawabnya sambil menuangkan air bening dari dalam lemari pendingin ke dalam gelas kosongnya yang baru saja diambilnya. Darel lantas melepas pensil yang digenggamnya. Segera meraih kantung plastik yang diletakkan Aksa di sebelahnya. "Wah!" Seru Darel, matanya begitu berbinar melihat isi yang ada di dalam plastik itu. Dua kotak s**u rasa strawberry, tiga potong roti dan beberapa bungkus snack yang lain. "Terima kasih, Kak Aksa!" Ucap Darel dengan sedikit berteriak sebab Aksa sudah melangkah menapaki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Pun lelaki itu hanya menanggapinya dengan berdehem. *** "Selamat sore!" "Selamat sore! Tolong isi full, ya, Tuan!" Kata Deon dari dalam mobilnya, kepada petugas pom yang mengenakan topi sampai menutupi matanya. Deon sedikit tersenyum menahan tawa kala sang petugas mulai membuka tanki bensin mobilnya. Nampaknya ia masih belum juga sadar, bahkan sampai pengisian selesai, pun ketika Deon hendak menyerahkan beberapa lembar uang kertas, si petugas itu sama sekali tidak melihat wajah pelanggannya. "Hey!" Seru Deon sambil menepis topi si petugas sampai lelaki itu sempat tersentak dan nyaris emosi. Namun, begitu melihat kalau ternyata yang melalukan hal itu adalah Deon, dia malah tertawa dan memukul lengan Deon. "Ah, Kau, Kak. Kukira siapa!" Ujarnya. "Kenapa pakai topi sampai menutupi mata begitu, Brian?" Tanya Deon. "Tidak, hanya senang saja melakukannya. Kau mau pulang?" Belum sempat Deon menjawab, Brian ternyata sadar akan sesuatu. "Oh, kemana mobilmu?" "Aku masih harus meeting, mobilku ada di kantor. Ini aku pakai mobil kantor." Mendengar jawaban dari Deon, kening Brian nampak sedikit mengernyit. "Mobilmu, ditinggal di kantor. Dan kau, pakai mobil kantor?" Ujar Brian dengan gestur kebingungan. Tin Tin! Mobil yang ada di belakang Deon membunyikan klakson, entah sejak kapan mobil itu berada di sana, Deon bahkan Brian pun selaku petugas pom tak menyadari hal itu. "Oh, maafkan aku!" Kata Brian kepada pengemudi mobil tersebut. "Cepatlah pergi! Kau menghalangi mobil yang lain." Kini Brian meminta Deon untuk segera meninggalkan area pom agar mobil yang berada di belakangnya itu bisa mendapat giliran untuk isi bensin. "Ah, iya iya. Maaf. Sampai jumpa!" Deon langsung tancap gas dengan sebelah tangannya di keluarkan sedikit melalui jendela sambil melambai ke arah Brian. "Sekali lagi aku minta maaf. Selamat datang! Selamat sore!" Sapa Brian kepada seorang pengemudi yang sempat terhalangi lajurnya oleh Deon. "Tidak apa, tolong isi full, ya!" "Baik!" Sahut Brian dengan penuh semangat, pun langsung bergegas membuka tanki bensin dan melaksanakan tugasnya. *** "Nevan! Nevan tunggu!" Panggil seseorang kala Nevan baru saja keluar dari tempat kerjanya, toko kue. "Nevan!" Lantas langkah Nevan pun terhenti, dengan tangan yang menggenggam tali tas selempang hitamnya dan menoleh ke arah seseorang yang dari tadi menyerukan namanya. "Ah, iya, Bu. Ada apa?" Tanya Nevan dengan sangat sopan. Seorang wanita dengan usia yang berkisar 40 tahunan itu menyunggingkan senyumannya yang sangat keibuan. "Ini, aku ada kue kering. Bawalah untuk rekan-rekanmu di rumah. Mereka pasti suka." Ujarnya sambil menyodorkan sebuah kantung kain dengan ukuran sedang kepada Nevan. "Wah! Apa ini tidak berlebihan?" Kata Nevan dengan senyumannya yang malu-malu. "Anggap saja ini ucapan selamat dari ku untuk kelulusan Darel." Jawab wanita tersebut. "Ah, Anda terlalu baik. Saya jadi merasa tidak enak hati." Kata Nevan lagi. "Ey! Jangan begitu! Kau ini termasuk karyawan toko kue ku yang paling teladan. Bahkan pemberianku ini benar-benar tak sebanding dengan kerja kerasmu selama ini, Nevan." Nevan menundukkan kepalanya, lelaki itu tersipu malu sekaligus haru. Rasanya begitu angkuh kalau Nevan tak mengucap syukur pada semesta sebab diberikan kesempatan bekerja dengan pemilik toko yang amat baik. "Eum, apa tidak apa kalau Saya terima?" Tanya Nevan basa-basi. "Apa maksudmu? Justru harus kau terima!" Pun dengan sedikit membungkukkan badan, Nevan meraih bingkisan tersebut, mengulurkan kedua tangannya. "Terima kasih banyak, Bu! Sekali lagi terima kasih banyak!" Ucap Nevan yang membungkukkan badannya berkali-kali. "Ah sudah! Sudah! Sebaiknya kau segera pulang sebelum ketinggalan bus!" Nevan terkekeh, "benar juga. Kalau begitu, saya permisi, ya, Bu!" Pamit Nevan. Dan langsung membalikkan badannya dan melanjutkan langkah untuk menuju ke halte. Sementara sang pemilik toko, tentunya kembali masuk ke toko untuk memantau pegawai yang jam kerjanya baru saja dimulai. Dari kejauhan, Nevan melihat bus dengan rute yang ia lewati sudah terhenti di depan halte. Lantas ia segera berlari sebelum bus itu kembali melaju, Nevan tak mau jika harus menunggu keberangkatan bus yang selanjutnya. Karena pasti ia harus menunggu lebih lama lagi. "Tunggu!!" Teriak Nevan. Sialnya, pintu bus sudah mulai tertutup. "Tidak!! Tunggu!!!" Mesin mobil sudah mulai dinyalakan, Pak Supir sepertinya sudah siap untuk membuat bus-nya kembali melaju. "TUNGGU!!!!" *** Tok tok! "Kak Aksa? Apa kau tertidur?" Tak membutuhkan waktu lama, pintu kamar yang Darel ketuk pun akhirnya terbuka. Menampilkan seorang lelaki dengan kaus hitam polos dan celana olahraga panjang abu-abu muncul di baliknya. Dengan mata kecilnya yang tajam serta wajahnya yang datar, Aksa sedikit mendongak untuk menatap wajah Darel sebab lelaki yang satu itu meski umurnya lebih muda dari Aksa, tapi ternyata tingginya sangat melampui Aksa. Pun detik itu juga Aksa baru menyadari kalau rekan termudanya sudah tumbuh besar. "Bisa kau bantu aku mengerjakan soal?" Pinta Darel. "Soal apa?" "Matematika." Aksa tersentak seketika, "Apa tidak bisa tunggu Brian saja?" Bukan apa, matematika itu pelajaran yang sangat amat menyusahkan. Sebenarnya Aksa bisa, tapi ia benci karena untuk menyelesaikan satu soal saja cara pengerjaannya itu pasti sangat panjang. Baginya itu adalah buang-buang waktu. "Eum, baiklah aku akan menunggu Kak Brian pulang." Kata Darel. "Darel, tunggu!" Cegat Aksa. Ketika Darel baru saja membalikkan badannya untuk kembali ke tempatnya belajar semula. Pun lelaki itu menoleh, menatap Aksa dengan sorot matanya yang begitu polos. "Sejak kapan tinggi badanmu melebihi aku?" "Entahlah. Tapi yang kutahu pasti itu karena pertumbuhan ku itu baik, tidak seperti kau dan Kak Nevan." "Sialan anak ini. Menyesal aku bertanya padamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD