Telling Something

1092 Words
Brian memasuki kamarnya, ada pekerjaan yang mesti ia selesaikan meskipun sedang cuti. Kata rekan kerjanya yang berbicara melalui panggilan telepon barusan, draft pekerjaannya sudah dikirimkan melalui surel. "Kak Brian." Panggil seseorang dari ambang pintu kamar Brian yang dibiarkan terbuka. Lantas Brian yang baru saja hendak mendaratkan bokongnya di kursi kerja pun menoleh. "Oh, Nevan. Ada apa?" Pun Nevan melangkahkan kakinya memasuki kamar Brian, dengan mendekap setumpuk berkas yang sempat membuat Brian sedikit mengernyitkan kening. "Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Nevan. Brian dapat menangkap ada suatu hal yang serius dari balik sorot mata Nevan. Lantas ia melangkahkan kakinya untuk menutup pintu kamar. "Katakanlah." Kata Brian mempersilakan, kemudian ia beranjak menuju ke tepian ranjang, mendaratkan bokongnya di sana. "Eum…" Nevan terlihat sedikit gugup dan meragu. "Duduk saja." "Ah, terima kasih." Pun Nevan segera menarik kursi kerja Brian, menempatkan dirinya di sana. "A-aku ingin kau baca ini," Kening Brian lagi-lagi mengerut kala Nevan menyodorkan berkas yang dibawanya. "Itu berkas mengenai penyakit Kak Arvin yang ingin kau ketahui selama ini." Jelas Nevan, seakan bisa membaca pikiran Brian tentang apa yang ingin ia tanyakan. "Kenapa kau baru memberikan ini sekarang?" Kata Brian menyayangkan. Dengan matanya yang sibuk menyapu tulisan-tulisan pada lembaran berkas yang Nevan berikan. "Karena aku tahu kalian sudah cukup terbebani dengan permasalahan masing-masing, terutama kau. Jadi aku tidak ingin hal ini menambah beban kalian." Mendengar penuturan Nevan, Brian lantas memalingkan sejenak pandangannya dari berkas yang digenggam pada Nevan, kemudian menyimpulkan senyum yang membuat lesung pipinya terlihat. Nevan tak memahami maksud senyuman Brian, ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. "M-maafkan aku, ini terlalu terlambat untuk ku beritahu...." "Tidak apa. Sekarang biar berkas ini aku yang simpan, nanti akan ku beritahu pada yang lain." *** "Apa?!" Pekik Aksa. "Munchausen Syndrome? Aku baru mendengarnya." Kata Darel yang tengah terduduk di atas ranjangnya. Kini Brian, Nevan dan Aksa berada di kamar rumah sakit Darel. Mereka sengaja menyambangi Darel untuk memberitahukan hal yang baru diungkap oleh Nevan itu. "Itu merupakan gangguan kecemasan, yang mana orang yang mengidap penyakit tersebut sengaja berpura-pura sakit atau menyakiti dirinya sendiri untuk menarik perhatian orang lain." Jelas Nevan. "Jadi maksudmu, Kak Arvin itu mengidap penyakit yang gejalanya berpura-pura sakit padahal tidak sakit? Eh apa benar begitu? Ini sulit dipahami, otak ku menolak pemahaman ini." Celetuk arwah Mirza yang masih belum juga bisa kembali ke tubuhnya, dan ternyata Mirza malah ikut bersama rekan-rekannya membahas penyakit Arvin meski ia sadar, suaranya tak terdengar, juga wujudnya tak terlihat. "Aku membaca sedikit tentang sindrom tersebut. Penyebabnya boleh jadi kompleks, tapi beberapa survei menyatakan kalau penyebab utamanya adalah trauma masa kanak-kanak seperti penelantaran orang tua atau pengabaian. Namun sepertinya, untuk kasus Arvin, penyebab utamanya bukan lah itu. Sebab kita sudah tinggal bersama Arvin sejak kecil dan ia tak pernah menunjukkan hal yang aneh." Papar Brian. "Kalian ingat hari dimana Kak Arvin dilarikan ke rumah sakit akibat serangan asma? Tapi dokter bilang… sebenarnya ia baik-baik saja," ucap Nevan. "Ya, aku ingat!" Sahut Mirza. "Dan hari itu tidak hanya terjadi sekali duakali, melainkan semakin sering. Aku yang curiga pun akhirnya memilih untuk berkonsultasi pada dokter yang merawatnya, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut tanpa sepengetahuan Kak Arvin," "Tunggu, apa sampai detik ini Kak Arvin juga tak pernah tahu tentang penyakitnya?" Sela Darel. Nevan yang penuturannya harus terhenti itu menganggukkan kepalanya lemah. "Itu yang sangat aku sesali, Kak Arvin harus pergi tanpa mengetahui hal ini terlebih dulu," "Itulah sebabnya penyesalan selalu ada di akhir." Cetus Aksa. "Benar! Kalau di awal namanya pendaftaran." Timpal Mirza. Aku berani bersumpah kalau saja suara Mirza bisa terdengar oleh para rekannya sudah pasti Aksa akan menghajarnya habis-habisan dengan selang infus Darel akibat celetukannya itu. "Kak Arvin pernah bilang, ia begitu terpukul akan kepergian Kak Deon. Itu mengingatkannya tentang rasa sakit dan betapa pahitnya kejadian saat ibunya harus pergi tanpa kata pamit," "Lalu kenapa dia harus berpura-pura sakit?" Kali ini Brian yang memotong penjelasan Arvin. "Diam dulu, Kak Brian! Biarkan Nevan menceritakan semuanya sampai habis!" Celetuk Mirza lagi. "Kak Arvin menginginkan perhatian kita, ia menyadari ada tembok-tembok penyekat di antara kita semenjak kepergian Kak Deon. Kak Arvin ingin kita tetap memberinya perhatian, tapi ia juga benci jika harus melihat keadaan rumah yang sepi tanpa kehadiran Kak Deon. Sebab itulah Kak Arvin berpura-pura sakit agar kita rutin menyambanginya di kamar." Mendengar hal itu, Brian langsung mengusap wajah dengan telapak tangannya sendiri, sementara Darel menghela napas berat sebab merasa bersalah tidak bisa memahami keinginan rekannya itu. "Ini semua salahmu!" Ketus Aksa tiba-tiba, membuat ketiga rekannya seketika menoleh ke arahnya. Bahkan Mirza yang tak terlihat pun ikut melempar pandangannya. "A-aku?" Tanya Nevan bingung. Pun Aksa yang semula menunduk langsung memicingkan matanya pada Nevan. Begitu tajam dan menakutkan. "Kalau kau mengatakan ini dari awal, mungkin hal ini tidak akan terjadi." Tegasnya. "J-jadi maksudmu… kematian Kak Arvin itu salahku??" Seloroh Nevan, air matanya sudah bergerumul di pelupuk. "Kau pandai menyimpulkan." Sahut Aksa. "Apa maksudmu?! Kenapa kau menyalahkanku?! Kau tahu tidak bagaimana perasaanku saat tahu Kak Arvin telah berpulang? Hancur Kak, hancur!! Rasa sesak ini terus-terusan menyerang ku sampai-sampai untuk beranjak dari tempat peristirahatan terakhirnya saja aku tak mampu! Aku sadar aku salah! Aku merasa amat berdosa sebab menyembunyikan semuanya sendirian, hingga tak tahu lagi bagaimana cara menebusnya! Itulah sebabnya aku berada di sana semalaman! Tidak seperti kau!" Mendengar akhir dari makian Nevan tersebut lantas Aksa menatap lelaki itu lebih tajam lagi. "Dimana kau malam itu? Hah?! Bermalam bersama para jalang di motel? Iya?" Sindir Nevan. Sontak membuat Brian dan Darel melempar pandangannya serentak ke arah Aksa yang terlihat agak terkejut. "Kak Aksa apa itu benar?" Selidik Brian. "Ya. Aku di motel, tapi bukan berarti aku bersama para jalang." Tukasnya. "Lantas apa lagi?!" Hardik Nevan. "Kak Aksa… tidak apa, katakan saja." Aksa langsung menatap jengah pada Darel. Merasa sedikit geram sebab bocah itu tidak tahu apa-apa tapi ikut menghakiminya. "Kau bisa mengatakan semuanya padaku jika sudah agak tenang." Brian meletakan lengannya di pundak Aksa. Namun lelaki itu segera menepisnya, menyingkirkan lengan Brian dari sana. Aksa merasa tersudut, rasanya jika ia menjelaskan apa yang terjadi pun mereka akan tetap mendesak Aksa untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Sebab Aksa tahu, mereka bukanlah menginginkan kejujuran, melainkan hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Tak ada pilihan lain. Daripada semakin dicecar dan disudutkan, Aksa memilih meninggalkan ruangan tersebut. Berlalu dengan menutup pintu sampai menimbulkan bunyi cukup keras, Aksa berlari menuju lift yang ternyata sudah lebih dulu tertutup. Tak ingin menunggu, lantas dirinya beralih menuju tangga. Kaki mungilnya menaiki anak tangga satu persatu dengan berlari, dari lantai satu sampai ke atap. *** Brakkk Pintu menuju atap dibukanya dengan keras. Napasnya terengah sebab menaiki anak tangga sampai sepuluh lantai. Langkahnya mulai melemah kala Aksa menuju ke tepian atap gedung. Dapat dilihatnya beragam kendaraan berlalu lalang di bawah sana, juga atap-atap gedung lain dengan tinggi yang beragam menghampar di hadapannya. "AAAAAAARRGGGHHHHHHH!!!" Sekencang-kencangnya ia berteriak, meluapkan semua emosi yang sedari tadi di tahannya. "Tak apa, Kak. Luapkan semuanya. Aku di sini akan mendengarkan mu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD