Secret Room

1132 Words
Musim semi 2018 "Ya, Pa?" Ucap Deon kepada sang Papa melalui panggilan telepon. Lelaki itu terus melangkahkan kakinya untuk keluar dari gedung kantor koleganya itu. Ya, Deon memang sedang tidak rapat di kantornya sendiri melainkan di kantor koleganya untuk membahas kelanjutan kerjasama mereka. "Baiklah, aku akan mampir sebentar. Aku takut terlalu larut sampai ke rumah nantinya, hari ini aku sangat lelah." Kata Deon lagi. "Pak Deon, hati-hati di jalan." Ujar salah seorang pegawai setempat yang memang mengenal Deon, kala Deon hendak masuk ke mobilnya. "Oh, ya terima kasih. Kau juga hati-hati," balas Deon. "Pa, sudah dulu, ya. Aku harus menyetir." Ucap Deon kepada sang papa yang panggilannya masih terhubung. Setelah terputus, Deon lantas mengenakan sabuk pengamannya dan menghidupkan mesin mobil. *** "Wah! Kalian sedang berkumpul rupanya!" Ujar Arvin yang baru saja memasuki rumah, membuat ketiga rekannya yang tengah berkumpul di ruang tengah pun seketika menoleh serentak. "Oh, kau sudah pulang?" Tanya Nevan. "Tidak, Nevan. Aku belum pulang. Yang sekarang berbicara denganmu ini hantu." Sarkas Arvin. "Pertanyaan bodoh yang hanya dilontarkan oleh orang bodoh di dunia." Timpal Aksa. Arvin terkekeh mendengar itu. Pun ia melempar ranselnya asal ke lantai, dan langsung bergabung dengan tiga rekannya yang tengah asyik menyantap camilan kue kering. "Kalian berdua sudah meledekku, jadi kalian tidak boleh makan ini!" Nevan merajuk. "Kak, bukankah tadi kau bilang ibu pemilik toko memberikan kue ini untukku? Kalau begitu, ini milikku, dan aku yang berhak menentukan siapa yang boleh memakan ini." Kata Darel. "Ya, kau benar juga." Jawab Nevan. "Kalau begitu, Kak Arvin dan Kak Aksa boleh memakan ini. Yang tidak boleh makan adalah kau, Kak Nevan!" Ledek Darel yang membuat tawa para rekannya pecah sebab berhasil menyerang telak Nevan. "Yaaa Darel, kau baru adikku!" Puji Mirza dengan begitu bangga dan puasnya melihat Nevan ter-bully. "Awas kau ya Darel!" Ancam Nevan sambil terkekeh. Tidak, Nevan tidak betulan marah, itu hanya gurauan dalam lingkup mereka saja. Tiba-tiba, Arvin nampak menyadari sesuatu. Lelaki itu celingukan menyapu pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Rekannya yang lain pun ikut kebingungan. "Ada apa, Kak?" Tanya Mirza sebelum melemparkan sepotong kue kering ke dalam mulutnya. "Brian dan Kak Deon, belum pulang?" Tanyanya. Nevan menanggapinya dengan gelengan. "Apa Brian bekerja lembur? Bukankah dia itu masuk pagi, ya? Seharusnya dia sudah pulang," Kata Arvin seraya meraih kembali ransel yang semula dilemparnya asal ke lantai. Lelaki itu nampak merogoh ransel tersebut, meraih sesuatu dari dalam sana. "Aku akan coba menghubunginya!" Ujar Arvin seraya mengutik ponselnya kemudian menempelkan layar pada indera pendengaran. Nada sambung pun mulai terdengar, dahi Arvin mulai agak mengernyit sebab panggilannya tak segera disambut oleh Brian. "Untuk apa telepon? Aku sudah sampai!" Seru Brian sambil melambaikan ponselnya, menunjukkan panggilan masuk dari Arvi. Ternyata lelaki itu baru saja tiba. "Itu dia!" Pekik Nevan. "Kau terlambat!" Ucap Aksa. "Kenapa sore sekali?" Kini giliran Mirza yang menyuarakan tanyanya. "Bisakah aku minum dulu? Aku baru saja pulang dan cukup lelah." Kata Brian yang segera melangkah ke arah dapur. Mengambil sebuah gelas bening dan mengisinya dengan air mineral yang ada di dalam lemari pendingin. Kemudian kakinya melangkah menuju ruang tengah untuk bergabung bersama para rekannya. "Wah! Ada kue!" Serunya seraya mengambil sepotong kue kering itu. "Ambil, Kak. Ini dari ibu pemilik toko kue tempat Nevan bekerja." Jelas Darel. "Waw ini enak! Sampaikan terima kasihku padanya, ya, Nevan. Bilang tak perlu repot-repot memberi sampai tiga toples begini, seharusnya dia memberi empat toples lagi karena kita kan ada tujuh orang." Ujarnya tak tahu diri. Sudah dikasih, malah minta tambah. "Kau tidak pulang bersama Kak Deon?" Tanya Mirza. *** Tin tin Deon membunyikan klakson mobilnya begitu ia tiba di depan sebuah hunian dengan pagar menjulang tinggi. Tak lama kemudian, pagar tersebut dibukakan oleh lelaki berbadan kekar yang berbalut pakaian petugas keamanan. Pun Deon langsung melajukan kembali mobilnya memasuki area rumah mewah tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya, kaki Deon melangkah menuju pintu utama, yang mana sudah berjajar dua orang wanita yang mengenakan seragam pelayan. Yang dengan sigap segera mengambil alih tas kerja Deon untuk membawakannya. Ketika salah satu hendak membukakan pintu, Deon mencegahnya. "Biar aku saja." Ucapnya seraya menyunggingkan senyum manis di bibirnya yang sedikit tebal. "Dimana Papa?" Tanya Deon ketika dirinya mulai menyusuri kediaman orangtuanya yang begitu mewah nan megah itu, diikuti oleh dua pelayan yang menyambut kedatangannya tadi. "Masih di ruang kerjanya, Tuan." Jawab salah seorang pelayan yang membawakan tas kerja Deon kemudian meletakkannya di atas sofa. "Tuan mau mandi dulu? Biar aku siapkan air hangatnya." Ucap yang lainnya lagi. "Ah, tidak perlu. Aku tidak akan lama di sini. Tolong buatkan teh hangat saja." Ujar Deon. "Baik, Tuan." Pun semua pelayan itu beranjak meninggalkan Deon di ruang tamu, untuk kembali pada tugasnya masing-masing. Deon yang semula sudah mendaratkan tubuhnya di sofa pun kembali bangkit untuk menyusuri kediaman orangtuanya yang sudah lama tak ia sambangi. Barang-barang antik terpajang di sudut ruang. Pun beragam lukisan menghiasi dinding bercat putih itu. "Tuan, ini minumnya." Sontak Darel menoleh, "letakkan saja di meja. Terima kasih, ya!" Katanya, lagi-lagi senyuman kembali tersimpul. Papa Deon belum juga menemuinya, padahal tadi ia sendiri yang meminta Deon untuk datang kemari. Sambil menunggu sang papa muncul, Deon memutuskan untuk berkeliling sekadar melihat-lihat rumah yang pernah ia tinggali semasa kecil. Kakinya mulai menapaki anak tangga. Di lantai dua, ada beberapa pintu kamar, salah satunya pintu kamar Deon sendiri. Namun, yang menelisik rasa penasaran Deon adalah sebuah pintu yang berada di ujung. Pintu yang sedari dulu selalu tertutup, pun papa Deon selalu mewanti-wanti Deon untuk tidak membuka pintu tersebut. Jangankan membuka, mendekatinya saja pasti Deon sudah dimarahi habis-habisan. Melihat pintu itu kembali setelah sekian lamanya, rasa penasaran Deon kembali bangkit. Pun ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling. Tak ada siapa-siapa, hanya ada Deon seorang di sana. Kemudian Deon mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu tersebut. Jemarinya perlahan terulur meraih gagang pintu, dengan sedikit perasaan takut yang menyelusup, Deon menarik napasnya dalam dan mengembuskannya lagi. Ceklek. "Tidak terkunci?" Desis Deon. Lagi-lagi Deon kembali mengedarkan pandangannya, masih tidak ada siapa-siapa. Baiklah, ini kesempatan bagi Deon untuk menebus rasa penasarannya selama ini. Kaki Deon mulai melangkah, membuat tubuhnya hilang di balik pintu ditelan ruangan gelap itu. Deon meraba dinding sekitaran pintu, mencari dimana letak stopkontak agar bisa menyalakan lampu sebagai penerangan. Cetrek Cetrek Cetrek Sial, ternyata tak berfungsi. Alhasil Deon merogoh saku celananya, mencari ponsel agar bisa menyalakan fitur flash yang akan digunakannya sebagai alat penerang. Deon mengarahkan ponselnya ke seluruh penjuru. "Tempat apa ini?" Gumamnya. Gerakannya terhenti kala Deon mendapati sebuah lukisan besar yang terasa tak asing baginya. Dengan mata yang menyipit, memori Deon bekerja untuk mengingat dimana kiranya ia melihat lukisan yang serupa itu. Beberapa detik kemudian, "Ah! Aku ingat! Lukisan itu… yang berada di bangunan Omelas." Ujarnya pada diri sendiri. Adapun di bawah lukisan tersebut terdapat sebuah meja kecil dengan berlapis kain merah. Yang membuat Deon terkejut bukan main sampai membelalakan matanya ialah, di atas meja berlapis kain merah itu terdapat foto dirinya juga rekan-rekannya yang berjajar di sana. Pun di atas meja juga terdapat sebuah wadah berwarna emas yang berisikan beragam jenis bunga, serta secawan air. Namun, pada wadah yang berisi beragam jenis bunga itu, ada setangkai lily putih yang tergeletak di atasnya. "Sedang apa kau di sini?" Suara dari ambang pintu itu sontak membuat Deon seketika terlonjak. "Papa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD