Rencana Misterius

1044 Words
Azzam terlihat tengah duduk di dalam UKS sembari perlahan mengobati luka cambuk yang di alami salah satu muridnya itu. Sesuatu yang sangat mencengangkan buat Azzam, dia baru tahu kalau ada seorang ayah yang tega melakukan hal itu pada anaknya sendiri tanpa ada rasa belas kasih sedikitpun. Pemuda itu menghela pelan saat mendengar Gio sesekali meringis kecil saat ia menempelkan obat pada bahu lukanya. "Sejak kapan papa kamu ngelakuin ini ?" Ujarnya sembari menutup obat yang ia pakai untuk mengobati muridnya itu, Gio terlihat merunduk sembari menutup tubuhnya dengan seragamnya. "Sejak Smp," jawabnya membuat Azzam kembali menggigit bibir kesal, "Kamu tahu kenapa papa kamu ngelakuin ini ?" Gio mendongak kecil pada sang guru sembari menggerakan manik matanya cemas. "Tidak usah takut, kalau kamu cerita sama bapak rahasia kamu aman. Bapak janji bakalan bantuin kamu," Gio mengerjap cepat masih cemas, "Papa ngelakuin itu kalau papa lagi banyak masalah, lagi kesal atau apapun. Dia akan jadiin saya pelampiasan pak," ceritanya dengan wajah ketakutan, Azzam mengangguk paham sembari memukul pelan bahu pemuda itu. "Mulai sekarang bapak yang akan jagain kamu," Gio mendongak sembari menatap Azzam yang kini tersenyum lembut padanya. Deritan pada pintu UKS membuat keduanya terlonjak kaget, Azzam menjatuhkan pandangannya pada gadis yang kini menyelonong masuk sembari menatap keduanya dengan kening mengkerut. Gio refleks memakai seragamnya dengan cepat. "Kakak yang anak baru itu kan ?" Ujarnya pada Azzam, Gio masih mengancing seragamnya sembari melirik gadis yang kini sudah mendudukan diri pada kursi bekas tempat duduk Azzam. "Saya guru baru disini, penggantinya ustadz Juna." Gadis itu beroh ria sembari mengangguk paham, "Lo anak kelas berbeda kan ?" Tunjuknya pada Gio yang terlihat menganggukan kepalanya lemah. "Lo sakit ?" Gio menggeleng pelan membuat gadis itu mendesah keras. Azzam hanya melirik keduanya bergantian sembari memasukan obat dalam kotak dan menaruhnya pada lemari di sampingnya. "Lo bisanya cuma ngangguk sama geleng-geleng doang yah ?" ujarnya dengan mendelik kecil, Gio tak menjawab hanya membuang muka ke samping. Azzam sendiri sudah terkekeh sembari menatap kedua muridnya itu. "Gue curiga kalau ni anak saudaraan sama boneka dasbor, atau lo jelmaannya yah ?" Tuduhnya merasa curiga, "Kenapa kamu di UKS ? Bukannya sekarang masih proses jam belajar ?" Gadis itu menganga kecil sembari mengerjap lalu bergerak kecil memegang perutnya. "Aduh pak perut saya lagi gak enak pak, saya salah makan makanya dari tadi bolak-balik kamar mandi. Intinya saya kritis pak, saya sakit." Ujarnya mendadak lemah sembari berjalan lesu menuju tempat tidur lainnya. Gio tak sadar tersenyum samar melihat kelakuan absurd gadis berambut panjang itu. "Kamu cuma sakit pura-pura kan ?" Kata Azzam membuat ia mendengkus kasar, "Saya lagi kritis pak, gak lihat apa pori-pori saya mengecil gini ? Ini karena saya kurang asupan pak," tunjuknya pada pipi mulusnya, Azzam ingin sekali menggetok kepala gadis itu, namun ia mengurungkan niatnya. Pemuda itu jadi teringat akan sang adik yang jauh disana, rasanya sudah lama Azzam tidak bertemu Azura. "Gio, kamu mau istrahat dulu atau mau langsung ke kelas ?" Gio sekilas melirik gadis yang tengah memicing kearah keduanya. "Istrahat," jawabnya membuat Azzam mengangguk pelan, "Yaudah bapak ke kelas dulu yah, kalau ada apa-apa langsung hubungi bapak saja." Gio mengangguk sembari tersenyum samar. Azzam pun terlihat melangkah keluar sembari menutup pintu rapat membuat gadis yang tengah tertidur tadi beranjak dari ranjangnya lalu mendekat pada Gio membuat pemuda itu mengerjap kaget. "Itu seriusan guru baru ?" Gio mengangguk dengan wajah polosnya, "Dia udah nikah belum ?" Gio kembali menggeleng membuat gadis mungil itu menggeram gemas. "Jangan cuma geleng sama ngangguk doang dong dasbor, bilang iya atau tidak kek." Cerocosnya membuat Gio yang tengah berbaring jadi beranjak dan termundur karena suara cemprengnya. "Ini hari pertama bapak ganteng tadi ngajar, kan ?" "Iya," "Lo tahu ID linenya gak ?" "Tidak," "Ya Allah gusti, kudu sabar menghadapi manusia ini." Ucapnya sembari menggeleng heran pada pemuda itu. Gio sendiri hanya tersenyum bodoh sembari sesekali mencuri pandang pada wajah imut di depannya kini. *** Di dalam kelas berbeda seperti biasa selalu berisik dan disibukan dengan aktifitas masing-masing. Kalau jam istrahat begini mereka pasti sedang mengadakan konser dadakan, yang disponsori oleh Bento. "Eh si Sabun mana ?" Tanya Mark sembari melirik meja kosong di belakang mereka, yang lain mengedikan bahu tidak tahu. "Sabun-sabun mata lo kotak, namanya Sabin gobs." Ralat Bento tak santai, "Yah namanya juga aneh masa sabin ? Gak sekalian sabyan biar gue hmhmhm nih ?" Ujarnya membuat yang lain terbahak dengan keras. "Gue pertama kali ketemu tuh anak, gue kira dia bisu abis cuma ngangguk sama geleng-geleng aja." Ujar Haechan sembari membolak-balikan komiknya. "Gue sih bukan apa-apa, gue cuma kasihan sama lehernya yang terlalu memaksakan diri untuk gerak-gerak. Takutnya pas dia geleng, copot mungkin," celetuk Johny tak bermutu, membuat yang lain mengumpat kasar. "Eh kulkas sini dulu," teriak mark memanggil salah satu temannya yang baru pulang dari kantin. "Kulkas-kulkas, nama gue Lucas anjiir," kesalnya sembari mendudukan diri bersama yang lain. "Beda tipis elah, sensi amat lo kayak cewek lagi gak pake no drop," yang lain menganga, "Bocor maksudnya," lanjut Mark dengan celetukan recehnya. "Lo tahu kemana si sabin gak ?" Lucas menggeleng sembari menggigit roti yang ia bawa. "Ngapain nanyain Sabin ? Lo udah belok sekarang ?" Tuduhnya dengan memainkan alisnya naik turun menggoda cowok mungil itu. "Jangan bikin gue bilang anjing bisa gak ?" Kesal Mark membuat Bento terkekeh pelan. "Lo udah bilang gobs," kata Hanung Kai yang sedang sibuk bersama slimenya. "Lo kek anak-anak main begituan, lengket elah. Jijik gue lihatnya," Hanung mendelik sembari kembali memain-mainkan slime berwarna-warni itu. Azzam yang melangkah masuk ke kelasnya membuat mereka mendadak bungkam sembari menjatuhkan pandangannya pada guru di hadapannya kini. "Ada yang mau bapak sampaikan sama kalian," ujar Azzam sembari mengedarkan pandangannya pada seisi kelas. "Minggu depan kan kalian ada test, bapak dikasih tantangan sama kepaka sekolah agar kalian bisa lulus tanpa mengulang," murid-muridnya hanya menganga kecil, mendengar itu seperti dunia mereka ditimpa bencana. "Kepala sekolah bilang kalau sampai kalian mengulang terpaksa kalian harus dikeluarkan dari sekolah, atau tidak kalian harus test melawan anak unggulan." Mereka kompak menganga sembari melebarkan mata kaget, bagaimana bisa mereka melawan anak unggulan yang notabennya dikenal cerdas dan IQ mereka bukan main-main. Ini kepala sekolah belum pernah ngerasain makan slime apa yah ? Seenak jidatnya mengatakan itu. "Tapi bapak punya rencana biar kalian lulus tanpa mengulang," "Rencana apa pak ," Azzam hanya tersenyum misterius membuat muridnya saling melirik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD