Rahasia

1113 Words
"Dia menjadi tertutup, karena ada luka yang ia sembunyikan" *** Pemuda jangkung itu hanya menipiskan bibir saat tidak ada lagi yang memperhatikan dirinya di depan. Azzam perlahan berdiri dan mengetuk papan dengan spidol, lagi-lagi yang tertidur kembali terbangun dengan berdecak lirih. "Karena ini hari pertama saya. Saya ingin mengenal kalian semua, silahkan perkenalkan nama kalian masing-masing di mulai dari kamu," tunjuknya pada murid berambut belah tengah itu, pemuda itu pun tersenyum lebar lalu bangkit dari tempat duduknya sembari melambai pada anak sekelas membuat yang lain mendelik jijik kearahnya. "Hai fans, nama gue Dwi Harun biasa dipanggil Daehwi. Gue terlahir dari hasil pembuahan orang tua gue, jujur gue gak tahu kenapa mereka melakukan itu padahal gue gak ridha sama sekali." Azzam menipiskan bibir mendengar itu sedangkan murid-murid sudah mengumpat kasar. "Gue ju--" "Diem goblog, malah curhat. Curhat tuh di mama dede," celetuk salah satu temannya yang masih sibuk membolak-balikan komiknya. Dwi mendengkus kasar lalu mendudukan diri. "Giliran kamu," tunjuk Azzam pada muridnya yang baru saja mengumpat itu, pemuda dengan gaya slengean itu pun berdiri sembari memeluk komiknya erat. "Saya Hendrik Candra, biasa dipanggil Haechan." Ujarnya lalu mendudukan diri. "Saya Mark, anak mak bapak saya pak," lanjut pemuda di sebelahnya. "Elah si markonah pake di bagus-bagusin namanya, eh wajik nama lo tuh mamang Rakaputra sok-sokan bilang mark. Sok iye lo," Mark mendengkus kasar sembari melotot tajam pada Haechan yang hanya mengedikan bahu pelan. "Namaku bento ! bento taronto. Sekali bayar bikin ambyar, orang-orang bilang bento itu mahal, mahal segalanya ASIKKKK ..." seketika kelas mendadak heboh dengan nyanyian pemuda bernama Ben Tornado, jadi di panggil bento. Azzam hanya menganga kecil sembari mengusap tengkuknya yang tak gatal, "Si goblog pake nyanyi segala," celetuk teman sebangkunya. "Bisa diam dulu sebentar," ujar Azzam membuat mereka mendasak bungkam seketika. "Coba kamu," tunjuknya pada salah satu pemuda yang terbilang jangkung disana, "Saya pak ?" Tunjuknya pada dirinya sendiri, Azzam hanya mengangguk dengan tersenyum tipis. Pemuda itu terlihat berdehem pelan sembari menghela nafas, "Pergi ke pasar lihat seruni," ujarnya berpantun. "CAKEEEEPPP" "Seruninya berubah jadi pawang !" "CAKEEEPPP" "Perkenalkan nama saya jhony, anaknya juragan bawang." "Eak, bisa ae kaleng minyak." "Pantesan nafas lo mau bawang," "Mohon tenang ini ujian, mohon bersabar." Azzam menghela kasar merasa penat seketika. Azzam menjatuhkan pandangannya pada pemuda yang sama sekali tidak terganggu dengan keributan teman-temannya sedari tadi. Pemuda itu hanya menatap keluar jendela dengan mata menyayu. "Sekarang kamu yang paling pojok," ucapan Azzam membuat seisi kelas menoleh pada pemuda itu. Karena tidak ada respon, Bento berdecak lirih sembari bersiul memanggil pemuda itu. "Heh sabun bolong, di suruh perkenalkan diri." Ujarnya sembari menunjuk Azzam dengan dagunya, pemuda yang tengah duduk tenang itu berdiri sejenak sembari menghela nafas. "Giorgino Sabin," ucapnya singkat, padat dan jelas, Azzam mengangguk pelan sembari menyuruhnya untuk kembali duduk. "Sesi perkenalannya selesai yah, mungkin akan kita lanjutkan besok. Ada yang ingin ditanyakan ?" Ujar pemuda beriris mata cokelat itu sembari mengedarkan pandangannya. "Pak, saya mau bertanya," Daehwi terlihat mengangkat tangan sembari memikir. "Silahkan," ujar Azzam membuat yang lain melirik kearahnya, "Mana yang duluan pak, telur apa ayam ?" "Goblog," umpat Haechan "Berita lama," cibir Bento sembari menggeleng. "Tanyakan pada manusia bertelur, yah silahkan markonah." Ujar Johny membuat Mark mengumpat kasar. "Soalnya saya bingung pak, saya hampir tidak bisa tidur dua hari dua malam pak," ujar Daehwi dengan tampang serius. "Gara-gara mikirin telor apa ayam ?" Ujar Haechan tidak percaya, "Bukan, itu karena saya punya insomnia." Balasnya membuat yang lain mengumpat. "Oke, semuanya diam dulu. Bapak akan menjawab pertanyaan dari teman kalian yah," "Mana yang duluan ada. Ayam atau telur?” ujar Azzam mengulang ucapannya membuat semuanya menyimak dengan tenang. "Mungkin pertanyaan tersebut hanyalah untuk main-main saja. Kalau jawab: ayam, nanti dibilang: akan ayam dari telur. Kalau jawab telur, nanti dibilang yang bertelur kan ayam." Tambahnya sembari tersenyum samar. "Akan tetapi jawaban yang benar sesuai aqidah umat islam adalah ayam dahulu yang diciptakan. Ini jelas karena Allah berfirman telah menciptakan makhluk hidup termasuk hewan berpasang-pasangan. Jadi yang diciptakan adalah ayam dahulu baru telur. Allah Ta’ala berfirman, Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (Az Dzariyat 49)." Seisi kelas menganga lebar, tidak menyangka pertanyaan konyol dijawab selengkap itu. "Keyakinan telur dahulu baru ayam atau pertanyaan seputar ini sebenarnya tidak bermanfaat dan memang awalnya dari ahli filsafat yang banyak merenungi hakikat kehidupan dengan menggunakan akal dan logika saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, Ini adalah perselisihan yang panjang sebagaimana perselisihan tentang “mana yang dahulu ayam atau telur”. Tidak ada manfaat berdebat tentang ini. Mereka mengatakan, sebagaian ahli filsafat membahas tentang ini. Di antara mereka ada perdebatan dan permusuhan yang sengit di berbagai negara. Pertanyaan ini bisa muncul dari ahli filsafat yang memakai akal logika saja dalam berpikir. Mereka mengira dunia ini bisa terjadi secara kebetulan saja. Sehingga perlu diselidiki mana yang lebih dahulu, ayam atau telur. Syaikh Abdullah Al-m**i’ berkata Penemuan (pernyataan telur dahulu dari ayam) adalah dukungan untuk teori Darwin mengenai penciptaan dan evolusi. Teori ini bersandar pada teori “pengingkaran terhadap Tuhan”. Mereka mengira ini terjadi secara kebetulan." Daehwi sudah mengerjap cepat sembari mengusal air liurnya yang menetes karena terlalu lama menganga. "Baru-baru ini Discovery Science menemukan fakta ilmiah bahwa ayam dahulu yang diciptakan karena untuk adanya telur perlu protein tertentu yang hanya ada ayam." Jelas Azzam panjang lebar membuat Haechan mimisan seketika. Bento sudah menganga sembari memeluk gitarnya. Yang lain hanya menatap Azzam dengan tatapan tidak terbaca. "Permisi," ketukan pada pintu kelas membuat pemuda itu menoleh kecil, ia tersenyum tipis saat melihat pria berumur tengah berdiri menghadapnya. "Ada yang bisa saya bantu, pak ?" Ujarnya ramah sembari mendekat pada pria berjas hitam itu. "Saya mau ketemu sama Gio, saya ada urusan penting yang harus saya selesaikan. Saya papanya Gio," jelasnya membuat pemuda bernama Gio di pojok sana menelan salivanya kasar. "Gio, silahkan ikut papa kamu dulu. Setelah itu baru masuk ke kelas lagi," Gio meringis kecil sembari mengerjap dengan melangkah mendekat pada papanya. "Terima kasih yah pak," ujar pria itu lagi, Azzam melirik Gio yang seperti ketakutan. Setelah kepergian keduanya, Azzam jadi kepikiran ia pun izin keluar sebentar pada anak kelasnya. Pemuda jangkung itu menyusuri koridor sembari mencari keberadaan Gio dengan sang papa. Koridor tampak sepi, karena memang sekarang dalam proses belajar mengajar. Samar-samar ia mendengar pekikan sakit dari seseorang membuat ia melangkah mendekat pada ruangan yang terletak jauh dari bangunan lainnya. Ia memicingkan mata sembari melihat ke dalam, alangkah terkejutnya ia melihat Gio sedang dipukuli habis-habisan oleh papanya menggunakan tali pinggang. Pemuda di dalam sana itu hanya pasrah dengan nasibnya. Azzam tak tahan, lalu mendobrak pintu membuat keduanya melebarkan mata kaget. "Apa-apaan ini pak ?" ujar Azzam sembari mendekat pada muridnya itu, "Tolong saya pak, saya mohon," gumam Gio lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD