21.Voref with Blue Eyes

1048 Words
“Bagaimana kau tahu nama lengkapku?” “Oh! Aku selalu tahu,” jawab Carina dan kembali menatap sungai di depannya. “Tidakkah kau ingin duduk?” tanyanya kemudian. Julia masih tetap waspada. Namun tidak ada tanda-tanda bahaya dari Carina. Seperti yang dikatakan Regina, wanita tua itu memang sedikit aneh. Perlahan ia melangkah mendekati batu yang ada di samping Carina dan duduk disana. Ia memang tidak terlalu memperhatikan, tapi saat melihat Carina dari dekat, mata wanita tua itu berwarna biru cerah. Seperti miliknya. Menyadari bahwa dia terus menatapnya, Carina menoleh padanya dan tersenyum. “Kukira matamu berwarna kuning,” ujar Julia yang masih terkejut. “Oh, apa hanya karena aku Voref mataku harus berwarna kuning?” katanya dan kembali menatap ke depan. “Dulunya,” tambahnya. “Bagaimana kau tahu namaku? Apa kau tahu dari Rafael?” “Ah, Rafael. Bocah laki-laki itu sudah tumbuh dewasa sekarang,” ujarnya seraya menatap ke atas, kemudian menoleh pada Julia. “Bagaimana dia?” “Dia… baik-baik saja. Kukira kau dekat dengannya?” “Banyak hal terjadi, Nak,” jawabnya dan kembali menatap ke depan. Julia ikut menatap ke depan. Ia mengambil sebuah batu kecil yang ada di bawahnya dan melemparkannya ke sungai. “Bisa kau beritahu aku apa maksud perkataanmu kemarin malam?” tanyanya. “Kau telah melupakan satu peristiwa dalam hidupmu. Kau harus mengingatnya kembali untuk mengetahui apa arti perkataanku,” balasnya. Julia mengerutkan dahinya. “Aku tidak mengerti. Apa yang kulupakan?” Carina menatapnya. “Mengapa kau pergi ke rumah itu?” tanyanya balik. “A-aku hanya penasaran dengan yang ada di dalamnya. Kau tahu soal rumah itu?” Carina kembali menatap ke depan. “Apa yang kau temukan di dalamnya?” “Tidak ada. Semua yang ada di dalam sangat berantakan seolah-olah telah dihancurkan oleh monster. Banyak bekas cakaran disana,” jelasnya. “Ada gambar-gambar simbol juga di dindingnya yang biasa dipakai kawanan Arctic untuk berkomunikasi dengan orang luar.” Julia menatap Carina dan menelan ludah. “Apa… pernah ada seorang Arctic yang dibawa kemari sebelumnya?” Carina diam selama beberapa saat. “Ya,” jawabnya kemudian. Jawaban singkat itu seketika hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. “Apa yang terjadi pada orang itu?” “Dibunuh.” Julia menelan ludah. Ia bisa membayangkan bagaimana orang itu disiksa dan dibunuh di rumah itu. “S-siapa yang… membunuhnya?” suaranya hampir bergetar. Carina menoleh dan menatap matanya. “Aku. Untuk mengambil mata ini,” katanya dan menunjuk matanya sendiri. Seketika napas Julia seakan terhenti. Carina langsung bangkit berdiri dan berjalan menjauh. Julia masih terduduk disana, terlalu terkejut dengan perkataan Carina. Menyadari bahwa wanita itu sudah pergi dan semakin menjauh, Julia segera bangkit berdiri dan mengikutinya. Mereka pergi menuju ke sebuah rumah kabin yang letaknya cukup jauh dari rumah kawanan. Bentuk rumah itu sama seperti yang lainnya, dengan kursi dan meja yang ada di teras rumah tersebut. Carina masuk kesana. Ia tidak mengizinkan Julia untuk masuk ataupun melarangnya, jadi ia tetap mengikutinya masuk ke dalam. Penampakan di dalam rumah tersebut menurutnya sama seperti penampakan isi rumah orang-orang tua pada umumnya. Sebuah sofa usang, karpet usang, sebuah rak buku yang berisi beberapa hiasan aneh, dan lampu berwarna kuning yang menghiasi ruangan tersebut. Semuanya memang tampak biasa baginya, sampai ia melihat sebuah foto yang tergantung di dinding. Ia mendekati foto tersebut dan melihat foto seorang pria disana. Yang membuatnya heran adalah pria itu memiliki mata biru, sama sepertinya. Meskipun posisi foto pria itu tidak terlalu dekat, ia tahu bahwa pria itu adalah salah satu rasnya. Arctic. Mata mengatakan segalanya. “Siapa dia?” tanya Julia pada Carina yang sedang berada di dapur membuat sesuatu. “Orang yang kubunuh,” jawabnya. Kemudian mata Carina menatapnya. “Kenapa? Kau takut sekarang kalau aku akan membunuhmu juga?” Julia menelan ludahnya. “Kenapa kau membunuhnya dan mengambil matanya?” “Mereka bilang ras Arctic memiliki penglihatan ajaib,” katanya seraya mengaduk minuman yang baru saja dibuatnya. Setelah selesai ia mengangkat dua cangkir tersebut dan meletakkannya di meja di dekat Julia. “Jadi aku mengambil matanya untuk membuktikannya,” lanjutnya dan duduk di sofa. Ia mendongak menatapnya. “Duduklah. Aku sudah membuatkan minuman untukmu.” Julia masih ragu. Namun ia merasa tak enak jika harus pergi begitu saja. Ia merutuk dalam hati karena mengikuti Carina sampai ke rumahnya. Kalau saja ia tak mengikutinya tadi ia tak akan berada di situasi sekarang. Tapi ia masih belum mendapatkan informasi apapun darinya. “Kau masih belum menjawab semua pertanyaanku,” kata Julia seraya duduk perlahan. “Biasanya orang akan menjauh dariku setelah berada di dekatku,” kata Carina seraya mengambil cangkirnya. “Mengejutkan kau masih disini. Kau tidak takut aku akan membunuhmu?” dia meminum minumannya. “Kalau kau ingin membunuhku kau sudah melakukannya sejak pertama kita bertemu, atau sejak tadi. Lagipula ada Rafael.” “Hmm. Bagaimana kalau Rafael juga berkomplot denganku dan diam-diam ingin membunuhmu dan mengambil darahmu? Kau juga mencium bau Rafael di rumah itu, kan? Bagaimana kalau aku meracunimu lewat minuman itu?” katanya dan menunjuk cangkir yang hampir diminum oleh Julia. “Itu lebih baik karena dengan begitu darahku sudah tidak murni lagi karena sudah tercampur oleh racun. Aku tidak takut akan kematian,” balas Julia dan meminum minumannya. Carina menyeringai dan meletakkan cangkirnya. “Seperti dugaanku, ras Arctic memiliki nyali besar akan kematiannya sendiri. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Apa maksud perkataanmu kemarin malam?” tanyanya dan meletakkan cangkirnya. “Sudah kubilang padamu kau harus mengingat lagi kejadian di masa lalumu yang sudah hampir kau lupakan,” jawab Carina. “Bagaimana aku bisa tahu kejadian apa itu? Bagaimana kau tahu kalau aku melupakannya?” “Terlihat dengan jelas dari reaksimu setelah kau melihat rumah itu,” jawab Carina. “Ada apa dengan rumah itu? Bagaimana kau mengetahui semua tentang kawananku? Siapa kau?” tanya Julia semakin curiga. Carina menghela napas dan menyandarkan punggung serta kepalanya, kemudian memejamkan mata. “Kenapa kau tidak takut akan kematian, Julia?” Julia menatapnya sejenak. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” “Hanya bertanya,” jawabnya masih tetap pada posisinya dan mengedikkan bahu. “Arctic adalah satu-satunya Werewolf yang mempunyai hubungan dekat dengan Dewa. Apa karena itu kalian tidak takut akan kematian?” “Bukankah Voref juga sama? Mereka bertarung dengan buas tanpa mempedulikan bahaya atau tidak,” balasnya. “Kau salah,” jawab Carina dan membuka matanya. “Setiap manusia memiliki rasa takut. Voref juga memiliki rasa takut. Tapi bukan kematian.” Carina bangkit berdiri dan berjalan mendekati foto pria tersebut. Ia mengambilnya dan kembali duduk di tempatnya semula. Ia menatap foto pria itu selama beberapa saat. Tangannya menyentuh foto tersebut dan sebuah senyuman terukir di bibirnya yang tipis. Di mata yang sudah berkeriput itu, Julia bisa melihat ada rasa rindu dan kehilangan yang sangat dalam. Hampir seperti apa yang tersembunyi di dalam mata Rafael. Julia menjadi sangat penasaran siapa pria yang ada di dalam foto tersebut hingga membuat Carina memiliki ekspresi yang lembut saat menatapnya. “Mungkin kau berpikir kau adalah yang pertama yang memiliki mate dari ras lain,” ujar Carina masih menatap foto tersebut. “Sebenarnya, kau adalah yang ketiga,” lanjutnya. “Apa?” ucap Julia terkejut. Carina mengangkat kepalanya dan menatapnya. “Pria dalam foto yang kugenggam ini adalah seorang Arctic, yang dulunya adalah mate-ku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD