20.Secret Place

1275 Words
Pria itu berjalan mendekatinya. Tempat itu memang sangat gelap dan kalau saja ia hanya manusia biasa, ia tidak akan bisa melihat seluruh tempat tersebut. Ia beruntung masih memiliki penglihatan malam. “Kenapa kau ada disini?” tanya pria itu. “A-aku sedang menelusuri hutan dan menemukan tempat ini,” jawab Julia. Rafael melihat sekeliling tempat tersebut. Julia bisa melihat kekhawatiran yang terpancar di mata kuningnya, dan sebuah ketakutan yang belum pernah ia lihat. “Ayo,” ajak Rafael dan langsung menggandeng tangannya. Pria itu menggiringnya keluar dari tempat tersebut. Julia sangat ingin tahu apa yang pernah terjadi di tempat tersebut. Itu seperti sebuah rumah yang dihancurkan oleh monster dan membunuh siapapun yang ada di dalamnya. Ada bau Rafael disana yang samar-samar mulai menghilang karena sudah sangat lama. Tempat itu juga memancarkan aura kesedihan dan penderitaan yang luar biasa, yang ia sendiri bahkan hampir tidak sanggup untuk berdiri disana terlalu lama. Apa Rafael pernah dilukai oleh monster itu disana? Ia juga penasaran dengan gambar-gambar di dinding itu yang terasa familiar baginya. Ia menatap Rafael yang berjalan di depannya dan masih menggandeng tangannya. Pria itu terlihat tidak ingin membicarakan apapun tentang tempat itu, jadi Julia memutuskan untuk tidak menanyakan apapun. “Kau berhasil mendapatkan buruannya?” tanya Julia untuk mengisi keheningan diantara mereka. “Begitulah,” jawab Rafael. “Aku bertemu seorang wanita tua,” ceritanya. “Aku berusaha mengejarnya tadi tapi sesuatu lebih menarik perhatianku. Dia mengatakan sesuatu padaku.” “Apa yang dikatakannya?” “Sesuatu tentang terlahir kembali dan benang mitos… entahlah,” jelasnya. “Siapa dia, Rafael?” Rafael tidak menjawabnya selama beberapa detik. “Carina.” “Kenapa aku baru melihatnya?” “Carina bukan orang yang suka berbaur dengan yang lain,” katanya. Terlalu banyak rahasia yang disimpan di kawanan itu, atau lebih tepatnya Rafael. Dan itu membuat Julia semakin penasaran. Ia tahu ia akan mengetahui semua rahasia itu suatu hari nanti. Dia hanya berpikir kapan mate-nya akan membuka hatinya dan menceritakan tentang masa lalunya? Ia mengerti tidak semua rahasia harus diungkapkan, tapi dia hanya ingin tahu apa yang pernah dilalui oleh pria itu hingga membuatnya berubah menjadi pria tanpa ekspresi. “Apa kau tidak mempercayaiku, Rafael?” tanya Julia tiba-tiba. Langkah Rafael terhenti dan ia menoleh ke belakang menatap Julia. “Apa maksudmu?” Julia merapatkan bibirnya lalu menatap ke bawah, menghindari tatapan Rafael. “Tidak apa-apa,” jawabnya menggeleng. “Aku hanya asal bertanya.” Ia mendengar Rafael menghela napas. “Apa Ibu mengatakan sesuatu padamu?” Julia diam beberapa saat. “Tidak. Sudah kubilang padamu aku hanya asal bertanya,” jawabnya yang masih menundukkan pandangannya. “Angkat kepalamu dan tatap mataku, Julia,” perintah Rafael. Meskipun nada perintahnya itu tidak membentak, Julia tetap bisa merasakan ketakutan dalam suaranya. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap Rafael. Pria itu bisa melihat ketakutan yang terpancar dalam mata biru cerah itu. Ia langsung menyentuh wajah Julia. “Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu takut,” ucapnya dan langsung mendekap Julia. “Maafkan aku,” ucapnya sekali lagi. “Tidak apa-apa,” jawab Julia. “Aku hanya sangat ingin tahu apa yang pernah terjadi padamu.” Untuk beberapa saat Rafael tidak mengatakan apapun. “Aku belum siap untuk menceritakannya,” katanya. Julia tidak membalas apapun dan hanya memeluk Rafael. Dia bisa menunggu. Lagipula itu pasti bukan sesuatu yang mudah diungkapkan begitu saja, apalagi jika hal buruk itu membuatmu berubah menjadi seperti sekarang. “Aku ingin pulang,” kata Julia yang hanya dibalas anggukan oleh Rafael.   ***   Keesokan harinya Julia terbangun di samping bantal yang kosong. Ia berpikir Rafael mungkin pergi ke hotel bersama kakak pertamanya pagi-pagi sekali, atau dia sedang ada urusan lain di luar. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia segera mengenakan pakaian dan berjalan keluar rumah. Sebenarnya ia bisa saja membuat sarapan sendiri di dalam rumah tersebut. Tapi Regina menyuruhnya untuk selalu makan di rumah utama karena ia tidak perlu lagi menyembunyikan diri di rumah Rafael. Lagipula bahan-bahan makanan yang disimpan Regina di rumah tersebut saat itu sudah habis. Jadi tidak ada pilihan lain baginya untuk makan bersama kawanan yang lain di rumah utama. Tapi ketika jam makan tiba, tidak semua kawanan akan ikut makan di rumah utama karena banyak dari mereka yang lebih memilih berburu di hutan, termasuk Rafael dan Rolando. Sebelum ia menuju rumah utama, ia ingin melihat bekas rumah itu lagi. Ia cukup ingat jalan yang dilaluinya semalam karena rumah tersebut tidak terlalu jauh dari rumah milik Rafael. Setelah ia berjalan selama beberapa menit, sampailah ia di bekas rumah tersebut. Pemandangan dari depan memang tampak biasa; seperti bekas rumah pada umumnya yang dipenuhi tumbuhan. Tapi ketika masuk ke dalamnya, semua akan merasakan kengerian pada sesuatu yang pernah terjadi di dalam rumah tersebut. Julia perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam bekas rumah tersebut. Jantungnya berdetak cepat. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas bagaimana penampakan di dalamnya. Benar-benar seperti telah dihancurkan oleh monster mengerikan. Bekas cakaran ada dimana-mana. Monster itu sepertinya marah sehingga ia menghancurkan segala yang ada di dalam rumah tersebut. Ia kembali mendekati dinding yang terdapat gambar-gambar itu. Hampir semua simbol yang digambar di dinding-dinding tersebut sama. Ia jelas mengenali simbol tersebut meskipun gambar itu hampir menghilang. Itu bahasa gambar yang pernah digunakan kawanannya untuk berkomunikasi dengan orang luar sebelum mereka belajar tentang huruf. Kekhawatiran mulai merasukinya. Ia mulai berpikir bahwa pernah ada ras Arctic yang dibawa ke rumah tersebut. Ia juga membayangkan bahwa orang itu dikurung di rumah itu sebelum akhirnya dibunuh. Oleh Rafael. Tapi ia tidak melihat simbol bahaya dalam gambar-gambar tersebut. Semua simbol itu menunjukkan satu makna. Pertemanan. Apa yang sebenarnya pernah terjadi disini? Menyadari bahwa ia sudah terlalu lama berada di tempat tersebut, ia segera berjalan keluar. Saat sudah diluar, ia melihat wanita tua itu lagi, Carina, yang berdiri tidak terlalu jauh dari tempatnya. Wanita tua itu hanya diam menatapnya sebelum ia berbalik dan berjalan menjauh. Julia ingin mengejarnya, tapi mengurungkan niatnya karena ia merasa ia akan bertemu dengannya lagi saat ia kembali kemari setelah selesai sarapan. Baginya yang terpenting sekarang adalah pergi ke rumah utama. Setelah ia berjalan selama beberapa menit, ia sampai di rumah utama. Ia melihat balkon rumah utama sangat sepi dan hanya ada tiga wanita disana, termasuk Regina yang baru saja selesai sarapan. Ia menolehkan kepalanya dan menatap Julia yang baru saja tiba. “Oh Julia! Kemarilah. Kau harus segera sarapan. Aku akan mengambilkannya untukmu,” katanya. Julia duduk di salah satu bangku dan menunggu Regina. Setelah beberapa detik, Regina keluar dari dalam rumah dan membawakan sebuah sup untuknya. “Apa kau baru saja kembali dari rumah itu?” tanya Regina pelan saat ia meletakkan sup itu di depannya dan duduk di sampingnya. Julia terkejut dan tidak menyangka bahwa seseorang akan melihatnya memasuki rumah itu. “Maaf,” ucapnya dan menunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya sempat pergi ke tempatmu tapi tidak menemukanmu. Aku hanya berasumsi kau sudah menemukannya dan pergi ke bekas rumah itu,” kata Regina dan tersenyum. “Apa kau menanyakan tempat itu pada Rafael?” “Tidak,” jawab Julia menggeleng. “Baguslah. Sebaiknya jangan tanyakan,” balasnya. “Apa Ibu tahu soal wanita tua bernama Carina itu?” tanya Julia di tengah sarapannya. “Kau sudah bertemu dengannya?” “Semalam saat aku pertama kali menemukan rumah itu. Tadi aku juga melihatnya sebelum datang kemari,” jelas Julia. “Siapa dia?” “Yang kutahu dia hanya wanita tua yang suka berbicara sesuatu yang aneh. Aku tidak bermaksud menghinanya tapi memang itulah yang kulihat selama ini darinya,” kata Regina. “Kalau kau ingin tahu lebih banyak tentangnya, tanyakan pada Rafael. Dia cukup dekat dengannya dulu. Aku tidak mengerti bagaimana putraku bisa memiliki hubungan sedekat itu dengannya,” jelasnya seraya mengangkat kedua tangan ke udara tanda menyerah. Setelah selesai sarapan, Julia kembali menuju bekas rumah tersebut. Regina tidak melarangnya untuk pergi kesana lagi setelah memergokinya, jadi ia tidak perlu meminta izin padanya. Saat sampai di rumah tersebut ia tidak masuk ke dalamnya, ia pergi ke arah ia melihat Carina. Ia terus berjalan sampai ia melihat sebuah sungai di kejauhan. Sungai itu terhubung dengan yang ada di samping rumah utama, dan samar-samar ia juga mencium bau asing di dekat sungai tersebut. Ia berjalan semakin mendekat menuju sungai tersebut hingga ia melihat seorang wanita dengan rambut putih yang sudah hampir memenuhi seluruh kepalanya duduk diatas sebuah batu besar. “Sudah kuduga kau akan datang mencariku,” ucapnya tiba-tiba dan menoleh ke belakang, menatapnya. “Julia Adan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD