Jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ada ikatan yang sangat kuat antara dirinya dan Rafael. Ikatan itu seolah-olah telah terbentuk sebelumnya. Sebelum ia dan Rafael bertemu untuk pertama kalinya di kastil Oleas. Tetuanya memang pernah menceritakan bahwa semua orang yang hidup di bumi terhubung dengan sebuah benang tak kasat mata. Ikatan benang tersebut bisa menguat maupun melemah karena tidak semua orang yang pernah kita temui akan kembali lagi ke kehidupan kita. Namun Tetuanya juga mengatakan tentang mitos sebuah benang emas, sebuah ikatan yang lebih kuat dari apapun. Sebuah ikatan yang diberkati oleh para Dewa. Benang yang terhubung dengan masa lalu.
“Julia?”
Panggilan Rafael menyadarkannya. Ia mengedipkan mata beberapa kali dan kembali menatap Rafael. “Ya?” jawab Julia.
“Kau baik-baik saja? Kau tidak menjawab panggilanku dari tadi.”
“A-aku… ya! Aku baik-baik saja. Maaf aku sedikit melamun,” jawab Julia.
“Kau yakin, Julia?” tanya Regina sedikit memutar tubuhnya agar ia menatapnya. “Tidak ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
Julia menggeleng dan tersenyum. “Tidak ny. Regina. Aku baik-baik saja,” jawabnya.
“Oh ayolah!” ucap Regina dengan mengibaskan tangannya. “Panggil saja aku Ibu, seperti mate anak-anakku yang lain.”
Rafael ikut duduk bersama mereka di samping Julia. Ia mengambil camilan yang ada di depan mereka dan memakannya.
“Aku hampir tidak percaya anak ketigaku ikut duduk bersantai bersama yang lain,” ungkap Regina.
“Maksudnya?” tanya Julia.
“Rafael itu selalu menyendiri. Dia jarang berbicara dan jarang berinteraksi dengan yang lain,” sahut Leya.
Julia menoleh menatap Rafael, tapi pria itu tidak bereaksi apapun dan hanya menatapnya. Detik berikutnya Raquel menggerutu, meminta Leya untuk membuatkannya makanan kesukannya mengingat sebentar lagi jam makan malam akan tiba. Saat Leya dan Raquel berjalan masuk ke dalam rumah utama, disaat bersamaan Rolando keluar dari sana dan menghampiri mereka bertiga.
“Ruff Tuff!” panggil Rolando. “Ayo kita lomba berburu di hutan. Sudah lama kita tidak melakukannya.”
“Kau memanggilku dengan nama itu lagi, kupastikan kepalamu akan tergantung di depan pintu kabinku,” balas Rafael yang hanya dibalas dengan tawa keras oleh Rolando. “Tapi ayo,” katanya kemudian.
Rafael mencium pipi Julia sejenak sebelum bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Rolando. Kakak keduanya itu langsung memeluk bahu adiknya dan mereka berjalan menuju hutan.
“Rafael dan Rolando terlihat cukup dekat. Sikapnya juga jadi sedikit berbeda,” ujar Julia.
“Rafael memang lebih sering bermain bersama Rolando saat kecil. Mate-mu itu anak yang ceria dulunya,” kata Regina.
Julia mengerutkan dahi. “Seperti apa sifat ketiga bersaudara itu saat kecil?”
“Seperti sekarang,” kata Regina menghela napas seraya menyandarkan pipinya pada lengannya yang menyiku di atas meja. “Rey ramah dan ceria, Rolando berisik dan ceria, Rafael pendiam dan ceria,” jelasnya.
“Kenapa Rafael berubah sekarang?”
Regina merapatkan bibirnya dan menatap ke bawah. Untuk sesaat dia tidak mengatakan apapun, dan Julia berpikir ia salah telah mengajukan pertanyaan itu karena sepertinya itu bukan sesuatu yang mudah untuk dibicarakan.
“Sesuatu pernah terjadi padanya.”
Hanya itu yang dikatakan Regina. Seperti Rolando waktu itu, saat ia dan Rafael baru saja kembali mengambil barang-barang miliknya di apartemen lamanya. Sesuatu pernah terjadi pada Rafael, namun mereka terlihat enggan untuk mengatakannya sekalipun itu pada mate-nya sendiri.
“Apa itu ada hubungannya dengan kebiasaannya terbangun dari tidur dan pergi di tengah malam?” tanya Julia.
“Kau sudah menyadari itu?” tanya balik Regina, terlihat sedikit terkejut.
“Ya. Aku sudah menyadarinya sejak pertama kali tinggal bersamanya.”
“Bagaimana dengan sekarang? Apa dia masih melakukannya?”
“Entahlah. Tapi aku pernah terbangun di tengah malam sekitar seminggu yang lalu. Aku melihatnya yang masih tetap terlelap di sampingku,” jelas Julia.
Regina terlihat menghela napas lega. “Oh syukurlah,” ucapnya pelan, namun masih bisa didengar oleh Julia.
“Apa yang pernah menimpanya sangat buruk?” tanya Julia.
Regina merapatkan bibirnya dan ekspresinya terlihat ragu. “Maaf Julia, tapi aku tidak bisa memberitahumu. Jika Rafael benar-benar sudah membuka hatinya dan membiarkanmu tahu tentang masa lalunya, maka aku bisa memberitahumu sisanya,” kata Regina dan tersenyum sedih.
Julia bisa mengerti itu. Memang semenjak ia mengetahui bahwa Rafael menyembunyikan sesuatu, ia merasa itu bukan sesuatu yang bisa pria itu mudah bicarakan padanya. Ada rasa sakit, kesepian, penderitaan, dan yang pasti, ada rasa kehilangan yang begitu besar. Entah apa yang pernah pria itu lalui hingga ia harus merasakan semua itu. Tapi yang jelas, pria itu telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya.
“Rafael dan Rolando akan makan malam dengan hasil buruan mereka di hutan. Kau bisa makan malam disini, Julia,” kata Regina seraya beranjak dari duduknya. “Aku akan membuat makan malam.”
“Aku akan ikut membantu,” sahut Julia seraya bangkit berdiri dan mengikuti Regina.
“Baiklah.”
***
Julia kembali dari rumah utama menuju kabin milik Rafael pukul sepuluh malam. Ia tak bisa memperkirakan waktunya. Berada di tengah hutan liar yang jauh dari kesibukan membuatnya lupa akan waktu, sama seperti kehidupannya saat kecil, saat ia masih bersama kawanan lamanya di daerah kutub. Ia tidak pernah tahu tentang waktu pada sebuah jam. Yang ia tahu hanyalah waktu dari matahari yang menunjukkan suasana pagi, sore, dan malam. Kalaupun ia dan kawanannya tahu tentang sebuah waktu, mereka akan tetap sama dan tidak melakukan banyak hal karena mereka adalah Werewolf yang tidak hidup di lingkungan manusia.
Berbeda setelah ia pindah ke tempatnya sekarang, dimana pulau ini dipenuhi dengan manusia, bangunan-bangunan persegi yang memanjang seolah-olah berusaha menyentuh langit, dan sebuah benda besi berwarna-warni yang memenuhi jalanan. Ia akan selalu menatap waktu untuk tahu kapan ia harus bekerja, makan, dan beristirahat. Ia merasa berada di lingkungan Voref membuatnya merasakan kehidupan lamanya.
Rafael dan Rolando bahkan belum kembali dari hutan setelah ia selesai makan malam bersama yang lain di rumah utama. Ia berpikir bahwa mereka sangat bersenang-senang dalam lomba berburu itu hingga tak mempedulikan waktu. Dia juga ingin menjelajahi hutan di malam hari sesaat sebelum Rafael kembali. Ia menuju kabin milik Rafael dan melepas semua pakaiannya sebelum berubah menjadi serigala. Sekarang ia tak lagi merasa khawatir dilihat oleh anggota kawanan yang lain. Mereka semua sudah tahu tentangnya dan menerima keberadaannya. Kini ia bisa keluar dengan bebas.
Saat tengah berjalan menelusuri hutan, samar-samar ia bisa mencium bau Rafael dan juga bau asing yang sedikit mirip dengan Rafael. Itu bau Rolando, pikirnya. Tapi bau itu cukup jauh dari hutan tempatnya berada. Bau mereka juga sedikit tertutupi oleh bau darah hewan. Sepertinya mereka sama-sama berhasil mendapatkan mangsa!
Julia mendongak dan menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Ia melihat bulan yang hampir membentuk lingkaran sempurna. Sebentar lagi bulan purnama. Ia bisa menyanyikan lolongan itu lagi setelah sekian lama. Terlalu lama menatap langit di atasnya hingga ia tak menyadari ada seseorang yang menghampirinya.
“Oh! Sebuah kehormatan bisa bertemu Werewolf Arctic!”
Sambutan mendadak itu membuat Julia terkejut dan menggeram, menunjukkan deretan giginya. Dia melihat seorang wanita tua berdiri dan tersenyum padanya.
“Tenanglah. Aku bukan ancaman,” katanya.
Julia berhenti menggeram dan mencium udara. Memang dia tidak mencium aroma mencurigakan dari wanita tua itu. Tapi ini pertama kalinya dia melihat wanita itu. Apa dia penyelundup?
“Aku bagian dari kawanan ini, seorang Werewolf Voref. Dan aku bukan penyelundup,” katanya tersenyum seolah membaca pikirannya.
Julia menundukkan pandangannya karena malu telah berpikir seperti itu. Dia menatap wanita itu yang sedang menatap langit malam. “Sepertinya aku bisa mendengar nyanyian lolongan di malam bulan purnama itu lagi sebentar lagi,” ujarnya dan menunduk menatap Julia.
Julia terkejut. Bagaimana wanita tua itu tahu tentang tradisi yang dilakukan kawanannya? Ia ingat bahwa tidak pernah ada orang luar yang tahu tentang tradisi itu. Siapa dia?
“Dua serigala pertama terlahir kembali. Benang yang dianggap mitos kini telah muncul dan terhubung kembali setelah sekian lama,” ujarnya.
Ia tidak mengerti apa yang dimaksud wanita tua itu. Tapi ia bisa merasakan kata-kata yang diucapkannya mengandung sesuatu yang sangat penting. Saat ia berusaha menanyakannya, wanita itu sudah pergi. Ia berusaha mengejarnya namun sesuatu menarik perhatiannya; sebuah bekas rumah kabin. Yang menarik perhatiannya adalah, ada bau Rafael disana yang tercium begitu samar seolah-olah sudah sangat lama. Ia mendekati bekas rumah tersebut dan melihat isi di dalamnya. Apa yang ada di dalam rumah tersebut membuat napasnya tercekat.
Sangat berantakan. Sebuah cakaran ada dimana-mana, baik di dinding maupun di lantai. Bekas darah berceceran dimana-mana. Rasanya seperti pernah ada monster yang menghancurkan tempat tersebut. Ada juga sebuah rantai yang tergeletak disana, seolah-olah rantai tersebut digunakan untuk mengikat monster itu sebelumnya. Ada gambar-gambar simbol juga di dinding tersebut namun sudah separuh menghilang dan tertutupi oleh bekas cakaran. Ia merasa familiar dengan gambar-gambar tersebut. Saat ia mendekatinya dan akan menyentuh gambar-gambar tersebut, panggilan seseorang mengejutkannya.
“Julia!”
Ia menoleh dan melihat Rafael yang berdiri telanjang di ambang pintu. “Apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyanya.