Sudah dua minggu semenjak Julia tinggal bersama kawanan Voref. Ia belajar banyak hal dari mereka, terutama bagaimana cara bertarung dan melindungi diri. Sebagai serigala penuntun orang-orang lemah, ia tidak pernah belajar untuk bertarung maupun bertahan hidup di lingkungan asalnya. Ia hidup di tempat tersembunyi dengan suhu yang sangat dingin, yang hampir tidak pernah didatangi manusia. Hidup berbagi dan saling tolong menolong adalah tujuan hidupnya sebagai serigala Arctic. Bertarung dan membunuh adalah sesuatu yang sangat tidak disukai oleh Dewanya, kecuali jika itu untuk berburu makanan.
“Bagaimana bentuk tempat tinggalmu di tempat asalmu, Julia?” tanya Leya. Mereka sedang bersantai di balkon di rumah utama sambil menikmati secangkir teh. “Aku tidak pernah mendatangi daerah kutub. Apa bentuknya seperti kubah dan dari balok es seperti yang kulihat dalam film-film itu?” tambahnya.
Julia tertawa. “Tidak,” jawabnya. “Kau tidak akan menemukan rumah seperti itu disana. Kami tinggal di dalam goa.”
“Kalian semua? Di dalam satu goa itu?” tanya Leya terkejut. Julia mengangguk. “Wow! Dimana kalian tidur? Maaf kalau aku menanyakan ini, karena aku sungguh sangat penasaran.”
“Kami menggunakan kulit rusa kutub untuk dijadikan sebuah alas. Tapi kami lebih sering tidur dalam wujud serigala,” jelas Julia.
“Wow! Tidakkah cara hidup kalian sangat primitif? Apa kau juga menggunakan kulit rusa itu sebagai pakaian?”
“Tidak juga,” jawab Julia menggeleng. “Kami memang punya persediaan pakaian, bahkan dari kain pun ada. Tapi kami lebih sering tidak mengenakan pakaian apapun.”
Leya membuka mulutnya karena begitu terkejut. “Oke. Cara hidup kalian benar-benar sangat primitif, lebih primitif dari kami,” ucapnya.
“Tapi itulah yang membuat mereka sangat istimewa,” kata suara tiba-tiba.
Mereka berdua menolehkan kepalanya dan melihat Regina berjalan menghampiri mereka, dan duduk di samping Julia. Seorang gadis kecil juga datang menghampiri mereka tidak lama kemudian, dan duduk di samping Leya. Itu adalah Raquel, putri Leya dan Rey yang berumur sepuluh tahun.
“Halo Julia!” sapa Raquel senang.
“Halo juga, Raquel,” sapa balik Julia.
Saat pertama kali mereka bertemu, mereka sudah mengenal satu sama lain. Saat masih bekerja di rumah sakit lamanya, ia pernah merawat seorang gadis manusia yang tidak lain adalah teman Raquel. Gadis itu sering mendatangi rumah sakit untuk menemani temannya itu sehingga ia dan Raquel cukup sering mengobrol. Ia tidak pernah tahu bahwa Raquel adalah serigala Voref karena ia mengenakan lensa kontak untuk menutupi warna matanya. Cukup membahayakan memang untuk gadis sekecil itu yang sudah mengenakan lensa kontak. Tapi dia terlihat tidak mempermasalahkan hal itu. Ada beberapa sekolah yang dibangun khusus bagi para Werewolf muda untuk mendapatkan pendidikan. Ia berasumsi bahwa Raquel bersekolah di sekolah umum milik manusia karena ia menggunakan lensa kontak dan terlihat begitu dekat dengan teman manusianya itu.
“Selain menyembuhkan orang-orang, apa saja yang biasanya kalian lakukan dalam keseharian?” tanya Leya.
“Kami berburu dan belajar.”
“Belajar?” tanya Regina.
Julia mengangguk. “Manusia-manusia yang pernah kawananku selamatkan sering memberi kami barang-barang yang mereka bawa sebagai tanda terima kasih. Beberapa dari mereka mengajari kami cara membaca,” jelasnya.
“Tunggu! Bahasa apa yang kalian gunakan sebelumnya?” tanya Leya.
“Kami sering menggunakan bahasa gambar pada orang-orang asing. Untuk sesama kawanan kami menggunakan bahasa kami sendiri, yang tidak akan kalian temukan dalam internet sekalipun.”
“Bisa kau tunjukkan pada kami? Kau masih ingat, kan? Apa bahasanya untuk cinta?” tanya Leya.
“Ammo,” jawab Julia.
“Apa sebutan untuk ayah dan ibu?” kali ini Raquel yang bertanya.
“Paro dan maro,” kata Julia tersenyum padanya.
“Bahasa apa yang kau pelajari dari manusia-manusia itu, Julia?” tanya Regina.
“Mereka mengajari kami bahasa yang kupakai sekarang. Karena itu aku tidak terlalu kesulitan mempelajari bahasa-bahasa baru saat Lucinda membawaku kemari. Ada juga yang memberikan buku tentang tempat-tempat bersejarah di dunia. Aku ingat buku itu menjadi rebutan anak-anak dalam kawanan karena mereka sangat ingin tahu tentang dunia luar,” ceritanya dan tertawa mengingat hal tersebut.
“Tunggu. Kalau manusia-manusia itu pernah ada disana cukup lama untuk mengajari kalian banyak hal, tidakkah ada kemungkinan mereka akan kembali lagi? Maksudku mereka bisa saja kembali dengan membawa lebih banyak orang,” kata Regina.
Julia tahu apa maksud Regina. Pelaku utama dalam tragedi yang menimpa kawanannya delapan belas tahun lalu bisa saja dari manusia. Matteo juga bilang cukup sulit mencari pria berambut pirang itu selama dua minggu ini dia menyelidiki, karena dirinya sendiri juga tidak tahu apakah pria itu Werewolf atau bukan. Saat itu dia sedang melarikan diri ke hutan dan tidak tahu apakah pria itu termasuk dalam kawanan serigala itu, atau dia yang menggiring kawanan itu ke tempatnya.
“Tidak,” jawab Julia menggeleng. “Aku ingat karena manusia-manusia yang pernah kami tolong tidak pernah kembali lagi. Mereka yang mengajari kami hanya menginap paling lama dua hari, tapi setelah itu mereka tidak pernah kembali lagi. Sekalipun jika mereka ingin, mungkin tidak akan bisa.”
“Apa maksudmu tidak bisa?” tanya Leya.
“Kami tinggal di tempat yang paling dingin di bumi dan jauh dari kehidupan. Lagipula siapa yang ingin kesana?” tanya Julia tertawa singkat. “Kalaupun beberapa dari mereka ingin kembali lagi, seolah-olah Dewa telah menutupi jalan untuk menuju tempat kami sehingga mereka tidak akan pernah menemukannya lagi,” tambahnya. “Sebenarnya itu hanya asumsi, tapi apa yang kami lihat selama ini memang seperti itu.”
“Kalau begitu…,” ucap Regina. “Apa kau juga ingat pernah ada selain manusia yang pernah kau tolong? Werewolf misalnya?”
“Ya. Lucinda bercerita padaku kalau dia juga pernah diselamatkan oleh kawananku.”
“Jadi Lucinda juga. Kau ingat yang lainnya?” tanya Regina.
Julia mengerutkan dahi. Cukup banyak orang-orang yang pernah diselamatkan kawanannya, tapi sebagian besar dari mereka adalah manusia. Dia memang bisa mencium siapa saja dari mereka yang Werewolf, tapi saat itu dia masih kecil dan penciumannya tidak cukup tajam. Tapi dia ingat satu kejadian dimana ia bertemu bocah laki-laki dengan warna mata menawan.
“Aku… entahlah,” jawab Julia tidak yakin. Dia ingat mata itu seperti mata serigala, begitu tajam dan menawan. Dia menatap Regina, Leya, dan Raquel. Dia memang tidak bisa mengingat dengan jelas wajah orang-orang yang pernah disembuhkan oleh kawanannya, tapi dia ingat mata itu seperti mata mereka bertiga; berwarna kuning. Apa dia Voref? Coba ingat-ingat, wajahnya tidak terlalu asing.
Dan disaat itu juga, Rafael datang menghampirinya. Dia menoleh ke belakang dan menatap Rafael yang juga sedang menatapnya. Dia menatap pria itu dalam-dalam.
Apa aku dan Rafael pernah bertemu sebelumnya?