13.the Silent Prince's Secret

1373 Words
Setelah sampai di kabin, Julia segera naik ke kamar dan melepas pakaiannya. Ia terbiasa tinggal di daerah dingin dan semenjak pindah ke negara tempatnya sekarang, ia sering merasa kelelahan karena rasa panas. Karena itu ia selalu menjaga suhu ruangan di tempat tinggal lamanya selalu dingin. Ia ingat Lucinda pernah mengatakan bahwa ruangannya terlalu dingin saat wanita itu berkunjung ke tempatnya. Meskipun Lucinda Werewolf dan memiliki suhu tubuh lebih hangat dibanding manusia, ia masih bisa merasakan rasa dingin seperti manusia. Ia bersyukur rumah kawanan Voref terletak di tengah gunung karena suhunya sedikit lebih dingin dibanding tempat tinggal lamanya. Rafael membantu Julia menurunkan ristleting belakangnya setelah ia melihatnya kesulitan untuk meraihnya. “Aku akan mengambil makan siang di rumah utama,” katanya. Julia meraih tangan Rafael ketika ia bermaksud untuk pergi. “Bisakah kau disini sebentar?” “Kau terlihat lelah. Kau harus segera makan.” “Tidak, aku belum terlalu lapar…,” jawab Julia. Ia menggigit bibir bawahnya karena terlalu ragu untuk mengatakan keinginannya yang sebenarnya. Tentu ia ingin Rafael bersamanya sejenak. Mereka bilang ikatan mate sangat kuat sehingga saat mate-mu sedikit saja jauh darimu, kau tidak akan tahan. Julia berpikir bahwa ia berada di fase itu sekarang. Setelah bertemu dengan wanita berambut merah di hotel tadi, ia merasa begitu cemburu. Ia jadi ingin tahu seberapa sering wanita itu mendatangi hotel tersebut untuk mencari Rafael, dan seberapa dekat ia dengan Rafael sebelum dirinya menjadi mate pria itu. Tanpa mengatakan apapun, Rafael langsung berbalik dan mencium bibir penuh Julia. Ia melepas pakaian di tubuh wanita itu dan menjatuhkannya ke lantai, lalu mendorong tubuhnya ke tempat tidur. Julia melingkarkan lengannya ke leher Rafael sementara tangan pria itu melepas sisa pakaian yang masih menempel di tubuhnya, sebelum ia melepas pakaiannya sendiri. Kebutuhannya akan wanita itu semakin meningkat. Ia menyadari itu sepenuhnya, dan khawatir jika wanita itu merasa takut akan sisi buasnya ketika mereka bercinta. Ia ingat saat ia mengambil kepolosan wanita itu, ia berusaha dengan keras untuk menahan sisi liarnya dan bergerak dengan sangat hati-hati. Julia begitu rapuh, bagaikan sebuah permata langka yang mudah pecah.   Rafael menarik diri dan menatap Julia. “Kenapa…” gumam Julia, menyadari bahwa pria itu berhenti menciumnya. “Aku takut melukaimu.” Julia mengerutkan dahinya, tidak mengerti apa maksud pria itu. “Kau sama sekali tidak melukaiku. Apa yang kau takutkan?” Jawaban itu sudah cukup memberi kejelasan padanya bahwa wanita itu tidak takut padanya. Rafael menyentuh pipi Julia dan menatap mata biru cerah wanita itu. Warna mata yang sama yang pernah ia temui delapan belas tahun yang lalu. Setiap kali ia menatap mata itu, ada rasa ketenangan dan juga kerinduan yang merasuk dalam dirinya. Ia tahu hanya Julia yang bisa melakukan ini. Rafael kembali mencondongkan tubuhnya dan mencium Julia dengan lembut. Tangannya merayap ke bawah dan mengelus paha Julia, membuat wanita itu mengerang merasakan gairahnya mulai membuncah. Ciuman Rafael turun ke lehernya, diikuti milik pria itu yang mulai masuk ke dalam dirinya, dan bergerak dengan lembut. Meskipun ia sepenuhnya tahu bahwa Rafael tak akan pernah berpaling darinya, ia ingin pria itu hanya miliknya. Aku ingin dia sepenuhnya, hanya untukku. Julia tak tahu bagaimana ia bisa bersikap seperti itu setelah bertemu Rafael. Kawanannya yang lama selalu mengajarkan bahwa ia tidak boleh memiliki sifat serakah. Tapi serakah karena ingin mate-nya sendiri, ia rasa itu tidak masalah. Dia hanya ingin mate-nya hanya menatapnya, memberinya perhatian dan kasih sayang. Rafael bergerak cepat, membuat desahan kenikmatannya memenuhi seluruh ruangan tersebut. Rafael tidak bisa lagi membedakan antara kebutuhan hewaninya, atau manusianya. Wanita itu semakin membuatnya menggila, menghancurkan dinding pembatas yang menghalangi semua emosinya dan membuatnya menginginkan wanita itu, lebih dan lebih. Ketika ia sudah berada di puncak, ia memeluk Julia dengan erat dan memenuhi mate-nya dengan miliknya. Puas. Hanya satu kata itu yang terbesit di benaknya ketika Rafael telah memenuhinya. Namun ia tahu bahwa kepuasan itu hanya sesaat dan ia akan selalu menginginkan pria itu, setiap detiknya. Rafael menatapnya, lalu mencium lembut bibirnya. “Aku akan mengambil makan siang,” ujarnya. Ia bangkit berdiri dan mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan menuruni tangga. Julia berguling dan pikirannya kembali ke kenangan dengan kawanan lamanya. Memang benar kata Imelda bahwa Voref dan Arctic tidaklah berbeda. Jika dikatakan hidup liar, ia rasa Arctic hidup lebih liar. Arctic bertahan hidup dengan berburu. Mereka tidak mengenal kehidupan kota maupun teknologi. Meskipun mereka membunuh hewan lain untuk bertahan hidup, setelah mendapatkan hewan tersebut kawanan Arctic akan berterima kasih kepada Dewa karena telah memberi mereka makanan, dan agar jiwa binatang yang telah mereka bunuh untuk dimakan akan pergi dengan tenang ke sisi Dewa. Apapun yang kawanannya lakukan, mereka tidak pernah melupakan Dewa. Mendapatkan makanan atau tidak, mereka tetap berterima kasih karena mereka masih diberikan kesempatan untuk hidup. Setiap detik, menit, dan kapanpun, adalah karunia Dewa. Ia ingat ketika bulan purnama tiba, kawanannya memiliki tradisi yaitu bernyanyi di bawah rembulan. Itu bukanlah sebuah nyanyian dalam kata-kata, melainkan sebuah lolongan merdu yang dilakukan oleh kawanannya dalam wujud serigala. Tetuanya mengatakan tradisi itu dilakukan karena malam bulan purnama adalah saat diciptakannya serigala untuk yang pertama kalinya di bumi. Dan dua pasang serigala itu berwarna hitam dan putih. Seperti dirinya dan Rafael. Mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali, menandakan bahwa Rafael baru saja pergi. Rafael hanya mengenakan celana jins, dan ia melangkahkan kakinya menuju rumah utama yang tidak jauh dari kabin miliknya. Setelah ia sampai disana, ia melihat beberapa anggota kawanan sedang duduk bercengkerama di bangku panjang yang ada di balkon. Ketika ia melewati mereka, hidung mereka terangkat ke atas dan menyadari bahwa bau Rafael bercampur dengan orang lain. Mereka menyadari itu bau mate-nya, namun yang tidak mereka sadari adalah mate-nya bukan dari ras mereka. Rafael membuka pintu kaca dan masuk ke dalam rumah utama. Ia berjalan menuju dapur yang berada tepat di bawah tangga. Saat ia akan mengambil makanan, seorang wanita menghampirinya. “Rafael, kukira kau belum pulang. Rey menanyakan kabarmu di hotel.” Wanita itu adalah Leya, mate dari kakak pertamanya, Rey. Dia berhenti sesaat dan mencium udara di sekitarnya. “Rey bilang kau sudah menemukan mate-mu.” “Dimana dia?” tanya Rafael. “Di atas dengan Raquel.” Ia menatap tangan Rafael yang membawa sepiring makanan. “Kau membawakan makanan untuk mate-mu?” tanyanya penasaran. “Iya,” jawabnya. Ia mulai melangkah pergi. “Katakan padanya aku sudah menyelesaikan urusan di hotel dengan lancar.” “Segera perkenalkan mate-mu pada kami,” katanya. Rafael tidak mengatakan apapun dan berlalu begitu saja hingga ia keluar dari rumah tersebut. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju rumahnya, tempat dimana mate-nya menunggunya. Saat ia masuk ke dalam, bau mereka berdua menguar di udara memenuhi seluruh rumah karena aktivitas bercinta yang baru saja mereka lakukan. Kamar di rumah tersebut tidak ada pembatas apapun, karena itu bau tubuh mereka begitu kuat dan memenuhi seluruh ruangan. Toh rumah tersebut miliknya, dan tidak ada yang mau memasukinya selain dia. Tidak ada yang berani macam-macam dengan Rafael. “Kau tidak ikut makan?” tanya Julia saat Rafael meletakkan sepiring makanan tersebut ke nakas. “Aku terbiasa berburu.” “Apa? Jangan seperti itu. Kau juga harus makan makanan lain selain binatang-binatang itu.” “Julia…” Wanita itu langsung menarik lengannya hingga ia duduk di kasur. “Tidak. Kau tetap disini,” katanya tegas. “Aku juga ingin menanyakan sesuatu. Aku merasa setiap malam kau tidak bisa tidur dan memutuskan untuk pergi keluar,” kata Julia. Ia menatap mata Rafael, dan menyadari pria itu sedikit terkejut dengan perkataannya, namun tidak mengatakan apapun. Ia melanjutkan. “Meskipun aku tinggal bersamamu masih beberapa hari, aku menyadari itu selama dua malam. Aku merasakan kegelisahanmu di tengah malam, lalu kau pergi keluar. Kupikir kau hanya ingin mencari angin, tapi kau melakukan hal yang sama di malam kedua. Ada apa denganmu, Rafael?” “Julia, bisa kita hentikan pembicaraan ini?” Julia sadar bahwa pembicaraan tersebut ada kaitannya dengan hal itu. Sesuatu yang ada di balik mata kuning tajamnya. Rahasianya. Pria itu mengalihkan tatapannya darinya, menyadari bahwa wanitanya telah mengetahui bahwa ia menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin membahasnya lebih jauh. Julia merasakan bahwa rahasia yang dimiliki Rafael begitu kelam, dan bukan sesuatu yang bisa dikatakan begitu saja. Ia tahu bahwa ia belum bisa melewati batas tersebut. “Kau tidak membenciku, kan?” tanya Julia. Rafael langsung menatapnya. “Apa? Tidak. Kenapa aku harus membencimu?” “Aku takut suatu hari nanti kau juga akan meninggalkanku, sendirian,” ujar Julia. “Sama seperti kawanan lamaku.” Rafael mengulurkan tangannya dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. “Julia, aku tidak akan meninggalkanmu.” Julia mendekati Rafael dan memeluk lengan pria itu. Pria itu langsung mendekapnya erat. “Ditinggalkan oleh orang-orang yang kau sayangi dan harus bertahan hidup sendirian, rasanya menakutkan,” ujarnya. Rafael mengelus kepalanya. Ada keheningan sesaat diantara mereka, dan Julia merasakan bahwa Rafael sedang memikirkan sesuatu, yang mungkin berhubungan dengan masa lalu kelamnya. “Aku tahu. Aku tahu perasaan itu,” jawabnya kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD