14.Someone Important

1256 Words
Tidak ada yang lebih membahagiakan di hari itu dari mendengar kabar dari Imelda soal kondisi Alisa yang semakin ada kemajuan. Darahnya berhasil menyembuhkannya. Artinya Dewa masih memberikan kesempatan untuk hidup pada Alisa. Setelah mendapat kabar tersebut, cepat-cepat Julia memberitahu Rafael agar ia segera mengantarnya ke rumah sakit untuk melihat kondisi Alisa dengan mata kepalanya sendiri. “Bisakah kau juga mengantarku ke apartemenku setelah dari rumah sakit?” tanya Julia. “Aku perlu mengambil beberapa barang yang masih tersisa disana. Lu hanya membawakan pakaianku.” “Jika banyak, aku akan meminta Rolando untuk membantu membawakan barangmu.” Julia mengerutkan dahinya. “Kukira kau tidak menyukai kakak keduamu?” “Dia menyebalkan. Tapi dia masih kakakku, dan masih bisa sedikit diandalkan,” jelasnya. “Aku bersyukur kau tidak benar-benar membencinya. Rasanya menyenangkan memiliki saudara meskipun mereka sering membuatmu kesal,” kata Julia dan akan turun dari tempat tidur. Namun Rafael menahannya dengan melingkarkan lengannya di tubuh Julia. “Kenapa kau berbicara seperti itu?” tanya Rafael. Ia menyadari bahwa ada sesuatu dalam suara wanita itu, seperti sebuah kesedihan. “Ah! Umm… tidak apa-apa,” jawab Julia. “Aku hanya pernah memiliki saudara.” “Apa?” Julia tersenyum. “Seorang adik laki-laki. Namanya Joel.” “Berapa umurnya?” “Enam tahun. Kalau dia masih hidup, umurnya dua puluh empat tahun sekarang.” Merasakan kesedihannya, Rafael bangkit dan mendekap Julia dari belakang. Ia mencium pundak wanita itu, lalu mengeratkan lengan yang melingkari tubuhnya. “Maaf,” ucapnya. “Tidak apa-apa,” jawab Julia. “Aku hanya selalu berpikir kalau saja aku bisa menyelamatkannya saat itu.” Dia diam sesaat. Pikirannya melayang ke kejadian delapan belas tahun lalu, dimana ia kehilangan semuanya. “Pemandangan di hari itu masih menghantui pikiranku. Mereka sering menjadi mimpi buruk dalam tidurku hingga membuatku terbangun. Rasanya aku diliputi rasa bersalah selama delapan belas tahun ini karena mereka semua mati sedangkan hanya aku sendiri yang berhasil hidup. Aku selalu membayangkan kalau saja aku tidak lari ke hutan saat itu dan mengikuti ibuku, aku akan―” “Jangan,” potong Rafael. “Jangan pernah katakan itu.” Julia membalikkan badan dan menatap Rafael. “Aku hanya berpikir mungkin itu lebih baik ketimbang hanya satu yang hidup, tetapi dapat menimbulkan kekacauan.” “Lalu bagaimana denganku?” Julia mengerutkan dahinya. Tentu Rafael akan bertemu mate-nya yang berasal dari rasnya sendiri, batinnya. Tapi ia merasa ada kemarahan dalam suara itu. Apa yang membuatnya marah? “Rafael?” panggil Julia seraya mencoba menyentuh wajah Rafael. Namun sebelum tangan itu menyentuh wajah pria itu, Rafael segera menggenggamnya dan menjauhkannya. “Kita akan segera pergi. Aku akan mandi terlebih dulu,” katanya. Pria itu bangkit berdiri dan meninggalkan Julia yang masih duduk di tempat tidur dengan ekspresi bingung, sama sekali tidak tahu apa yang membuat mate-nya marah.   ***   Keheningan itu benar-benar membuatnya frustasi. Rafael mengabaikannya dan tidak berbicara sepatah katapun dalam perjalanan selain hanya menanyakan alamat apartemennya. Ia tahu ini kesalahannya, tapi ia bahkan tak tahu apa yang membuat pria itu kesal. Ia ingin menanyakannya, namun terlalu takut akan reaksi yang akan ditunjukkan Rafael. Di rumah sakit, semua berjalan lancar. Alisa mulai menunjukkan perubahan kondisi yang mulai membaik. Wajahnya kembali cerah, seperti sebuah kehidupan kembali menghampirinya. Senyumnya terlihat begitu bahagia dan tanpa beban, menyadari bahwa kondisinya semakin membaik dan mungkin rasa sakit yang dirasakannya berkurang. Rambut belum tumbuh di kepalanya. Akan butuh beberapa waktu, namun Julia tahu darahnya akan terus bekerja di dalam tubuh Alisa untuk membuat gadis itu sembuh. Imelda memintanya untuk datang besok dan mempelajari darahnya. Ia tahu semua orang pasti akan bereaksi seperti itu ketika melihat hal ajaib yang dilakukan darahnya pada tubuh orang lain. Sekarang mereka berada di apartemennya. Hal bagus karena Rafael membantunya mengemasi barang-barangnya tanpa ia memintanya. Tapi ia tersiksa karena Rafael sama sekali tidak berbicara dengannya. Ia melihat Rafael, dan melihat sesekali pria itu berdiam diri untuk menatap beberapa barang yang dimiliknya. Tidak ada yang spesial dari barang-barang yang dimilikinya. Ia bukan orang yang menyimpan begitu banyak kenangan, bahkan untuk sebuah foto bersama teman-temannya. Julia memiliki pemikiran bahwa tidak baik untuk terlalu dekat dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia sulit untuk mempercayai siapapun. Meskipun dia tahu bahwa teman-temannya itu manusia yang baik dan tidak akan memanfaatkannya, tapi dia takut jika suatu hari nanti dia akan membahayakan teman-temannya itu karena siapa dirinya. Mereka hanya belum tahu siapa aku. Rafael kini berdiri di depan rak buku dan melihat koleksi buku yang dimilikinya. Ada banyak koleksi buku disana, dari novel hingga buku-buku tentang kehidupan. Ada buku tentang tanaman, binatang, sejarah tempat di seluruh dunia, dan tata surya. Cukup mengejutkan wanita itu hampir memiliki semua koleksi buku tentang kehidupan yang ada di bumi. Tapi sekali lagi Rafael tidak terkejut karena tahu siapa Julia, dan wanita itu hanya penasaran dengan kehidupan di luar. Dari sudut matanya, ia melihat Julia berjalan mendekatinya. Ia menoleh dan melihat Julia yang menundukkan pandangannya. “Umm,” gumamnya. Dia menyatukan kedua tangannya dan memainkan jemarinya. “Aku tahu aku melakukan kesalahan. Tapi aku tidak tahu itu apa.” Matanya lalu melirik ke atas sejenak untuk menatap Rafael. Pria itu tidak mengatakan apapun dan tidak menunjukkan reaksi apapun. Hanya mendengarkan. “Tolong katakan padaku apa kesalahanku hingga membuatmu marah padaku.” Ia tidak terbiasa dengan ini. Ia wanita mandiri. Ia tidak terbiasa dengan seseorang mengabaikannya atau marah padanya. Dia memang pernah dimarahi oleh orangtuanya saat kecil, tapi itu hal lain. Ini Rafael, mate-nya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bergantung pada siapapun, bahkan Lucinda. Ia tidak ingin seseorang terlalu memperhatikannya hingga menjadi sebuah beban. Tapi dengan Rafael, semua itu seolah tidak ada artinya. Entah bagaimana ia sangat haus akan perhatian pria tersebut. Ia tahu sebagian dari ini adalah karena ikatan mate, tapi ia merasa ada sesuatu yang lain selain itu. Sesuatu yang lebih dari sekedar ikatan mate, sesuatu yang lebih kuat, seperti sebuah takdir. “Maaf.” Ucapan Rafael langsung membuatnya mendongakkan kepala dan menatap pria itu dengan terkejut. Ia tidak berpikir bahwa pria itu akan meminta maaf. Tapi sekali lagi, ia belum tahu apa kesalahan yang telah diperbuatnya. Rafael memejamkan mata dan menekan batang hidung diantara kedua matanya. “Aku tidak tahu harus bagaimana, sungguh. Aku tidak terbiasa dengan ini. Aku tidak pernah sangat menginginkan sesuatu.” Ia membuka matanya kembali dan menatap Julia. “Kau… tidak marah padaku?” “Tidak, Julia,” jawabnya. Ia melangkah lebih dekat dan memeluk pinggang wanita itu, dan tangannya yang lain menyentuh wajahnya. “Mendengarmu berkata jika kau tidak ada membuatku kesal. Aku sangat menginginkanmu. Aku kesal pada diriku sendiri karena tidak tahu harus bersikap seperti apa padamu. Aku takut kau marah padaku.” “Aku tidak marah padamu, Rafael. Maaf kalau aku mengatakan sesuatu yang membuatmu kesal,” kata Julia. “Kau hanya tidak tahu seberapa besar keberadaanmu memberikan pengaruh padaku,” ucap Rafael seraya ibu jarinya mengusap lembut wajahnya. Lalu sentuhan itu berpindah ke bibir bawahnya yang berwarna kemerahan. Melihat bibirnya yang begitu menggoda itu membuat Rafael ingin melahapnya. Dan Rafael melakukannya. Ciuman itu begitu lembut, dan memabukkan. Julia langsung melingkarkan lengannya ke leher Rafael, dan Rafael memeluk pinggang Julia, menarik wanita itu mendekat sampai tubuh mereka menempel satu sama lain. Perlahan ciuman itu semakin dalam, diikuti Rafael yang semakin mendorong Julia hingga punggungnya menempel pada rak buku yang ada di dekat mereka. Ia mengangkat kedua kaki wanita itu dan melingkarkannya di pinggangnya. Lidahnya bermain di bibir bawahnya, meminta izin untuk masuk ke dalam mulut wanita itu. Julia membuka mulutnya, memberi akses lidah pria itu untuk masuk dan menjelajah ke dalamnya. Tubuh mereka memanas. Rafael merasa bahwa miliknya sudah mengeras dan butuh untuk dibebaskan di balik kain jins itu. Ketika ia akan mengangkat Julia dan membawanya ke tempat tidur, suara bel terdengar di pintu depan. Mereka menghentikan ciuman itu dan menatap keluar, lalu Rafael menatap Julia dengan tatapan tanda tanya. Julia merapatkan bibirnya dan segera menurunkan kedua kakinya. Ia tak tahu siapa yang datang mengunjunginya. Dia jarang kedatangan tamu saat masih tinggal di apartemennya. Dia berpikir bahwa mungkin itu Lucinda.  Ia merapikan penampilannya sejenak sebelum berjalan menuju pintu. Ketika ia membuka pintu tersebut, seorang pria berambut coklat gelap berdiri di depan sana dan tersenyum padanya. Itu kakak dari gadis yang pernah dirawatnya. Pria yang menyukainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD