15.Jealousy

1023 Words
“Hai! Umm, temanku tinggal di apartemen ini. Dia memberitahuku kalau dia melihatmu pulang setelah tiga hari kau tidak ada di apartemenmu.” Julia tidak tahu apakah ia harus membiarkan pria itu masuk atau tidak. Tidak sopan kalau membiarkan tamu terus berada di luar. Rafael ada di dalam. Mate-nya belum tahu soal pria ini, dan pria di hadapannya juga belum tahu kalau ia datang bersama seorang pria. Entah ini sebuah bencana atau ketidakberuntungan. Meskipun Rafael sangat pendiam, ia menjadi sangat protektif dan agresif kalau sudah menyangkut soal dirinya. Ia takut jika Rafael akan berbuat sesuatu pada pria tidak bersalah itu. “Ah! T-tentu. Masuklah,” kata Julia mempersilahkan. Tidak ada pilihan lain baginya. Pria itu tetaplah tamu yang sudah repot-repot datang menemuinya. Ia mempersilahkan pria itu masuk dan duduk di sofa. Rafael berada di kamar, sudah pasti ia bisa mendengar suara pria itu dengan jelas dengan pendengaran serigalanya. Namun yang membuat Julia heran adalah pria itu tak segera keluar dari kamarnya. Ia berpikir setelah mendengar suara Carlos, Rafael akan segera keluar dan berhadapan dengan Carlos. Julia berjalan ke dapur dan mempersiapkan minuman untuk tamunya. Ia kembali dengan membawa minuman tersebut dan mendapati pria itu yang sedang memperhatikan sekelilingnya. “Sepertinya kau akan pindah?” tanyanya. “Umm, iya. Tiga hari ini aku menginap di rumah seseorang dan aku kembali untuk mengemasi barang-barangku.” “Oh, begitu,” ucapnya. Carlos lalu mengeluarkan sebuah tas karton yang sedari tadi dibawanya. “Aku ingin berterima kasih sekali lagi padamu karena sudah menyembuhkan adikku. Keluargaku sudah membawanya ke banyak rumah sakit tapi mereka hanya bisa menyembuhkannya sesaat. Jujur saja, kami masih terpukau karena kau benar-benar bisa menyembuhkan adikku. Dia bilang kau seperti malaikat yang datang dari langit untuk menyembuhkannya,” katanya dan tertawa. Ia lalu menyodorkan tas tersebut. “Hanya ini yang bisa kuberikan untukmu. Ini juga rekomendasi dari adikku.” “Sudah tugasku sebagai dokter untuk menyembuhkannya. Kau tidak perlu repot-repot datang kemari hanya untuk berterima kasih,” kata Julia. “Tidak. Kau sudah berusaha menyembuhkannya, disaat dokter lain tidak bisa.” Sebenarnya Julia menggunakan darahnya untuk menyembuhkan adik Carlos, dan ia bersyukur darah itu bekerja pada tubuhnya. Itulah keajaiban yang bisa dilakukan oleh darahnya. Disaat para dokter dengan teknologi canggihnya belum bisa menyembuhkan seorang pasien, hanya setetes darahnya dapat menyembuhkan pasien tersebut. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan secara logika. “Umm, boleh aku tahu kemana kau akan pindah?” tanya Carlos. Julia tidak tahu harus menjawab apa. Lokasi kawasan Werewolf Voref tentu menjadi rahasia, apalagi Carlos hanya seorang manusia biasa, tentu ia tak berhak tahu tentang dunia Werewolf. “Umm…itu―” “Julia…” Panggilan Rafael membuat mereka berdua menoleh. Rafael keluar dari kamarnya dan berdiri di ambang pintu. “Aku sudah mengemasi beberapa barangmu.” Mata Rafael lalu beralih ke Carlos. “Halo,” sapanya. “Oh! H-halo,” sapa balik Carlos. Entah kemunculan Rafael yang tiba-tiba atau karena mata kuning Rafael yang menjadi fokus utama, Carlos terus menatap Rafael. Matanya lalu beralih ke Julia. Jarinya menunjuk Rafael. “Apa…” Julia tersenyum sedih. “Aku akan pindah ke tempatnya.” “O-oh… begitu,” ucap Carlos tersenyum. Sebenarnya Julia tidak tega harus menyakiti hati Carlos. Dia memang pernah menerima ajakannya berkencan sekali. Dia mengajaknya ke sebuah restoran yang tidak terlalu mewah, tapi interior di dalamnya sangat menakjubkan. Itu hanya sebuah makan malam biasa, seperti bersama seorang teman dekat. Mungkin karena Julia tidak terlihat begitu tertarik padanya, akhirnya Carlos tidak pernah mengajaknya berkencan lagi. Meskipun Julia sudah berusaha menunjukkan secara tidak langsung bahwa ia menolak perasaan Carlos, pria itu masih berusaha untuk bisa dekat dengannya dan mengenalnya lebih jauh. Bagaimanapun, dia harus melakukan ini agar Carlos tahu dan menghilangkan perasaannya padanya. “Baiklah,” ucapnya menghela napas seraya bangkit berdiri. “Urusanku disini sudah selesai. Maaf sudah mengganggu kegiatan beres-beresmu.” Dia tersenyum, seperti senyuman untuk menguatkan diri. “Tidak, tidak apa-apa. Aku yang harus meminta maaf karena kau sudah jauh-jauh datang kemari. Terima kasih untuk pemberiannya,” kata Julia ikut bangkit berdiri. “Sama-sama,” balasnya. “Dah!” pamitnya. Matanya beralih ke Rafael sejenak dan tersenyum padanya. Rafael balas mengangkat tangannya sebelum Carlos berbalik dan keluar dari apartemen tersebut. Julia menutup pintunya dan menghela napas dengan panjang. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Rafael yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Detik kemudian pria itu masuk kembali ke kamarnya. Julia cepat-cepat mengikutinya. Dilihatnya pria itu sedang menata barang-barang yang ada di kardus. Entah karena Rafael tidak mengatakan apapun atau karena pria itu terlihat tidak peduli pada Carlos, Julia semakin khawatir. Rafael orang yang pendiam dan tidak pernah menunjukkan ekspresi, itu sebabnya dia tidak akan pernah tahu kapan pria itu marah. “Rafael…,” panggilnya pelan seraya berjalan mendekatinya. Rafael hanya menoleh tanpa mengatakan apapun. Julia menggigit bibir bawahnya dan memainkan jemarinya. Kekhawatirannya semakin meningkat. Ia yakin Rafael bisa merasakannya, namun pria itu memilih tidak mengatakan apapun dan hanya menatapnya untuk menunggu pertanyaan darinya. Ia merutuk dalam hati karena hubungan mereka menjadi renggang kembali setelah sebelumnya membaik hanya karena kedatangan Carlos. Kumohon Dewa, kuharap dia tidak marah. “Apa kalian dekat?” Pertanyaan Rafael yang tiba-tiba membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Pria itu masih tidak menunjukkan ekspresi apapun. “Umm… tidak juga. Dia hanya pernah mengajakku berkencan sekali,” jelas Julia. Rafael lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk disana. Dia melipat kedua lengannya di d**a dan tak pernah mengalihkan pandangannya dari Julia sedari tadi. Jujur saja, baginya, sikap Rafael yang seperti itulah yang membuatnya semakin khawatir dan takut. Aura kemarahan akan terasa di sekeliling dan mata pria itu, meskipun tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. “Kemarilah,” kata Rafael. Seperti sebuah robot yang mendengarkan perintah majikannya, dalam sedetik, Julia langsung berjalan mendekati Rafael dan kini berdiri tepat di hadapannya. Pria itu mendongak menatapnya, memeluk kedua sisi pinggangnya. “Jangan pernah menerima ajakan berkencan dari pria lain lagi.” Hanya itu yang dikatakannya. Tentu Julia tahu akan hal itu. Saat itu dia belum memiliki mate dan belum bertemu Rafael. Sekarang dia bersamanya, apalagi yang dibutuhkannya? “Aku sudah memilikimu, mana mungkin aku berpaling ke pria lain?” ucap Julia. Rafael mengulurkan tangannya dan menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Pria itu lalu tersenyum padanya, senyuman yang membuat napasnya tercekat. Ia tahu bahwa Rafael memiliki senyuman yang memukau. Hanya saja pria itu tidak pernah menunjukkannya. Detik kemudian ia merasa tubuhnya terangkat, lalu mendarat di sebuah benda empuk. Bibir mereka lalu saling bertaut sebelum ia bisa menyadari bahwa tangan Rafael kini sudah berada di balik pakaiannya. Ciuman itu begitu dalam dan sedikit agresif. Ia bisa merasakan bahwa tangan Rafael kini melepas kancing pakaiannya. Ia bisa merasakannya. Pria itu cemburu. Rafael bukan orang yang menggunakan kata-kata dan ekspresi, dia menunjukkannya lewat sikap dan tindakan. Seperti sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD