Bagaimana mungkin aku membenci
Kamu orang yang kucintai
Kamu orang yang kusayangi
Meski pada akhirnya
Hadirmu membuatku patah hati
(Reina Sekartaji)
Reina pov
Saat fajar mulai menyingsing aku meninggalkan Dewa. Dia sudah membuka matanya namun kesadarannya belum kembali normal, masih ada efek sisa obat bius.
Nampaknya Dewa masih syok dengan kecelakaan yang dialaminya, juga karena kedatanganku. Mungkin dengan membiarkannya sendiri akan membuatnya lebih bisa mengontrol emosinya.
Meskipun agak ngantuk, tapi aku harus tetap bekerja. Hari ini ada deadline yang tidak bisa aku tinggalkan.
Aku menitipkan Dewa pada seorang suster jaga, aku memberinya nomor teleponku. Hanya untuk berjaga-jaga apabila Dewa membutuhkan sesuatu.
***
"Selamat sore." Aku membuka ganggang pintu tempat Dewa dirawat. Setelah selesai bekerja aku pulang ke rumahku, membersihkan diri dan langsung menuju rumah sakit.
"Hmm," gumaman Dewa lirih tapi masih bisa ku dengar. Dewa nampak menonton siaran televisi.
Aku mengambil kursi dan duduk di sebelah Dewa.
"Gimana mas, ada yang sakit? Tadi sudah diperiksa dokter?"
"Udah mendingan, tadi jam sepuluh diperiksa dokter."
"Oiya mas, ponsel mas sepertinya rusak, mas kalau ingin menghubungi istri mas bisa pakai ponselku." Ku sodorkan ponsel ku kepada Dewa yang memang terlihat ada retakan pada bagian atas ponsel, tapi masih bisa dinyalakan.
"Tidak perlu," tolaknya.
"Nanti kalau dia khawatir gimana?"
"Nggak mungkin lah re, istri saja tidak punya," ucapnya parau.
"Mas lagi marahan ya," tebakku. "Yaudah nanti kalau butuh bilang aku aja." Kumasukkan ponselku ke dalam tas kembali.
Aku tidak ingin membahas topik ini. Dewa terlihat tidak nyaman ketika aku membahas perihal istrinya. Aku juga tidak mau dianggap mencampuri masalah rumah tangga orang. Memikirkan hidupku saja sudah cukup membuat stress, apalagi mikirin masalah orang.
***
"Selamat sore." Seorang dokter beserta seorang perawat wanita memasuki kamar rawat Dewa.
"Sore dokter," jawabku.
"Gimana keadaannya pak Dewa? ada yang dikeluhkan?"
Seorang suster nampak melihat infus Dewa, mencatat segala hal tentang kondisi vital Dewa dalam lembaran kertas beralaskan papan kayu.
"Kira-kira kapan saya bisa pulang dok?" tanya Dewa.
"Wah wah pak Dewa ini, baru juga kemarin kecelakaan, sekarang sudah minta pulang," kata dokter disertai candaan, gelak tawa hadir diantara kami.
"Sudah tidak betah di kasur ini dok, bau antiseptik rasanya mengganggu hidung saya," jawab Dewa.
"Sabar dulu ya pak, mungkin dua sampai tiga hari kedepan bapak baru bisa meninggalkan rumah sakit ini." Dokter menjelaskan.
"Tangannya bisa perlahan digerakkan, biar tidak kaku, pelan pelan saja, tapi kalau sakit jangan dipaksakan. Yang penting setiap hari dilatih bergerak," lanjut dokter itu.
"Boleh makan dari luar dok?" tanya ku.
"Boleh, saya sarankan banyak makan daging-dagingan atau telur."
"Baik dok," ucapku.
"Semua normal, kalau tidak ada yang ditanyakan lagi saya permisi, semoga lekas sembuh pak dewa." Dokter dan perawat itu meninggalkan ruangan.
***
"Re."
"Iya, kamu butuh sesuatu?"
"Kamu gimana bisa ada di sini?"
"Oh, kemarin aku lewat pas ada kecelakaan, aku lihat kamu jadi salah satu korban kecelakaan itu."
"Kamu gimana bisa ada di kota ini?" tanya Dewa menyelidik.
"Aku kerja di sini."
"Sejak kapan?"
"Sejak hampir tiga tahun yang lalu."
"Terus kenapa kamu nungguin aku di sini?"
"Biar kamu ada temennya, kalau ada istri kamu, aku bisa pergi."
"Makasih."
"Iya sama sama."
***
"Mas kamu laper nggak?" Ku lirik nampan makanan dari rumah sakit yang masih rapi tak tersentuh. Ku pikir Dewa tidak suka rasa makanan dini.
Tidak ada jawaban dari Dewa.
"Aku mau beli makan dulu, mungkin kamu mau nitip?" Efek tadi siang belom makan jadi perut agak keroncongan.
Tatapan Dewa yang tadi fokus melihat siaran berita kini beralih kepadaku. "Boleh minta lalapan nggak?___ tapi yang deket perlintasan kereta," ucapannya agak ragu.
"Boleh, mau apalagi? biar sekalian aku jalannya."
"Sama buah apa gitu, nggak enak kalo makan nggak ada buahnya."
"Oke."
"Tolong ambilin tas aku re!" Dia menunjuk tas yang ada di atas nakas.
"Yang ini?" Tas hitam besar yang kemarin dibawa Dewa saat kecelakaan ku berikan kepadanya.
"Iya," jawabnya singkat. Dewa membuka resletingnya. Tangannya dimasukkan ke dalam dan mengambil dompet. Di dalam dompet itu, Dewa nampak menarik sesuatu.
"Ini uangnya." Ada dua lembar uang seratus ribuan diberikan kepadaku.
"Nggak usah, aku masih ada. Aku pamit dulu ya." Ku ambil tas ku dan langsung pergi.
***
Dewa pov
Nafsu makan ku hilang, makanan rumah sakit rasanya hambar. Tapi aku harus minum obat. Anjuran dari dokter, obat baru bisa diminum setelah memakan makanan.
Untung saja Reina menawari untuk membeli makanan di luar. Pikiranku langsung melayang pada lalapan langgananku ketika habis dinas.
Reina. Masih seperti dulu. Dia sangat sabar mengurusku. Rasa rasanya dia masih istriku padahal tidak.
Beberapa menit setelah Reina pergi.
Tring
Sebuah ponsel berbunyi. Sangat lirih tapi aku bisa mendengarnya. Mataku mengedarkan pandangannya mencari sumber suara itu.
Ku pelankan suara televisi agar suara itu makin jelas terdengar.
Tring
Ponsel itu berbunyi lagi. Ternyata ponsel itu berada di atas sofa tunggu pasien. Ku ambil infusku dengan tangan kanan, lalu mencoba berjalan berlahan. Masih terasa sakit, tapi ku paksakan.
Ku ambil ponselnya, tapi panggilan sudah berakhir.
Lalu ku taruh benda itu di nakas sebelah tempat tidurku.
Tring
Sesaat setelah ku merebahkan diri di kasur, ponsel itu berbunyi lagi.
Ku lihat layar, ternyata sebuah panggilan masuk dari orang bernama Lugas.
Inginku geser tombol hijau, tapi ini bukan ponselku. Bagaimanapun benda ini privasi Reina, aku tidak punya hak untuk mengangkat. Disisi lain, panggilan ini tak kunjung berhenti, mungkin penting.
"Hal___" ucapku terpotong.
"Hallo Reina, akhirnya diangkat juga, kamu lagi sibuk apa gimana?" ucapan seseorang di seberang telepon.
"Hey Reina, kamu masih di situ kan?" tukasnya lagi.
"Maaf, ponsel Reina ketinggalan, dia tidak ada di sini."
"Ini siapa?" tanyanya.
"Nanti saya kasih tau ke Reina."
Tut
Ponsel ku matikan.
***
"Ini lalapannya, rame banget jadi lama, maaf ya." Reina datang dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
"Sini, aku udah laper." Sebuah kantong plastik putih diberikan kepada dewa, isinya dua buah lalapan lengkap dengan nasinya.
Reina menaruh kantong yang lain ke dalam kulkas.
"Tadi ponsel mu bunyi," ucap Dewa selesai makan.
"Ponsel?" ucap Reina bingung. Seingatnya dia tidak mendengar suara dering ponselnya, dia beranjak dari tempat duduk dan mencari ponselnya di dalam tas.
"Ini, ponselmu tadi ketinggalan." Dewa mengambil ponsel di atas nakas dan memberikan kepada Reina.
"Aku lupa, makasih ya."
"Tadi ada panggilan___ beberapa kali. Ku pikir penting jadi kuangkat."
"Oh, dari siapa?"
"Lugas"