CHAPTER 4

1062 Words
"Lugas" tukas Dewa. "Dia bilang apa?" "Nggak ada," ucap Dewa datar dengan pandangan tidak lepas dari layar televisinya. *** "Kamu nginep sini?" "Iya. Aku kalau lagi sakit pengennya ditemenin, mungkin siapa tahu kamu juga begitu." Reina merebahkan diri di sofa. Ditaruhnya bantal untuk sandaran tidurnya. Sebelum itu, dia mengganti lampu menjadi lampu tidur. Sebetulnya Reina ingin pulang, tapi bagaimana lagi, perasaannya tidak tega melihat Dewa sendirian dalam kondisi sakit begitu. "Itu kan kamu, bukan aku," ucap Dewa sarkas. Televisi mati, malam sudah semakin larut. Dewa tidak bisa tidur, dia memikirkan kejadian sore tadi. "Re." "Hmm," jawab Reina dengan tingkat kesadaran rendah, matanya masih menutup sempurna. "Kamu udah tidur" "Hmm, kamu butuh sesuatu?" Reina mencoba membuka matanya perlahan untuk melihat Dewa. "Enggak." "Yaudah tidur, udah malem." Beberapa saat kemudian "Re." "Hmm." "Siapa Lugas?" Dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya. Perasaan cemas menyelimuti dirinya. "Temen." "Bukan kekasih kamu?" "Bukan." Dewa merasa lega. Entah kenapa dia bahagia mendapati jawaban Reina bahwa lelaki yang menghubunginya tadi bukan kekasihnya. Pertanyaannya sudah terjawab, kini dia sudah bisa mulai tidur. *** Fajar menyingsing, sang surya mulai menampakkan sinarnya. Reina nampak sudah bangun, namun Dewa masih terlelap. "Mas, mas, bangun." Diusap usapnya lengan kanan Dewa, bermaksud untuk membangunkan Dewa. "Jam berapa?" Dewa mengerjabkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya temaram lampu kamar rawatnya. Mengusap-ngusap mata dengan tangan kanannya. "Lima tiga puluh." Reina berlalu menuju jendela ruangan. Dibukanya korden penutup jendela sehingga cahaya matahari pagi bisa masuk. "Kamu mau aku bersihin badan kamu?" Reina peka, dia tau Dewa pasti merasa lengket dengan badannya, secara dari kemarin lusa dia tidak mandi. "Boleh." Dengan sabar Reina membantu membuka bagian atas badan Dewa, memberikan Dewa handuk kecil basah untuk mengusap ke badannya. Reina merasa tidak nyaman jika menyentuh langsung dengan kulit tangannya. Beberapa kali mengganti air. Setelah selesai, Reina memberi lotion kepada Dewa dan diusapkannya ke permukaan kulit tangan dan kaki. Urusan Dewa sudah selesai, kini gilirannya untuk mandi dan bersiap ke kantor. "Kamu mau ke kantor?" "Iya, aku tinggal dulu, kalo ada apa apa hubungi aku. Misalnya ponsel kamu tidak bisa digunakan, pinjem ponsel perawat aja." Reina memberikan sebuah kartu nama miliknya kepada Dewa. "Aku berangkat." "Hati-hati di jalan re," jawab Dewa lirih sambil memandang kertas kecil berukuran enam kali delapan centi bertulis nama Reina Sekartaji itu. *** Setelah tiga hari di rumah sakit, akhirnya dokter mengizinkan Dewa pulang. Saat ini Dewa sedang menunggu Reina menjemputnya. "Maaf maaf, tadi ada meeting dadakan, ini beneran udah boleh pulang?" Dewa mengangguk mantap, ekspresinya terlihat bahagia. "Yaudah aku urus administrasinya dulu, mas tunggu di sini!" Reina bergerak menuju ruang administrasi "Tunggu!" suara Dewa menghentikan langkah Reina. "Kenapa?" Reina membalik badannya untuk melihat Dewa. "Ini untuk bayar." Dewa menyerahkan sebuah kartu kredit miliknya. "Kodenya ulangtahunku___ masih ingatkan?" tanya Dewa. Kali ini Reina tidak menolak. Dia mengambil kartu kredit itu dan melanjutkan langkahnya. *** "Ayo, udah beres, mas bisa pulang." Reina membawa tas hitam Dewa sedangkan Dewa duduk di atas kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Sebuah taksi yang di pesan Reina sudah menunggu di depan rumah sakit. Pelan-pelan Reina membawa dewa masuk ke bangku penumpang taksi itu. "Ini kartumu." Reina mengembalikan kartu yang tadi diberikan oleh Dewa. Dan tangan kanan Dewa pun menerimanya. "Ini dokumen dokumen kesehatan kamu, aku taruh dalam tas aja ya?" Dewa mengangguk memberi persetujuan. Diraihnya tas hitam untuk memudahkan Reina memasukkan dokumen itu. "Aku masukin dalam satu map, biar enak ngambilnya. Nanti pas mau kontrol harus dibawa dokumen ini" sembari tangannya memasukkan dokumen ke tas, mulut Reina nampak menjelaskan kepada Dewa. *** "Ini apartemen kamu?" Reina nampak takjub dengan bangunan di depannya. Sebuah kawasan apartemen elit di kota pahlawan. "Iya." "Sewa?" "Enggak, aku beli." Jangan lupakan bahwa Dewa adalah seorang pilot pesawat komersil. Selain itu memang Dewa diberkahi orangtua yang mampu dari lahir. Orangtuanya itu bisa dibilang tuan tanah, ada beberapa lahan sawah, kontrakan lima puluh pintu, beratus hektar kelapa sawit di Sumatera dan kalimantan, minimarket yang dulu sempat dikelola Reina. Ada juga pabrik beton dan peternakan peninggalan kakeknya yang dulu dikelola mendiang orangtuanya. Dewa anak tunggal, dia tidak memiliki saudara, jadi otomatis semua harta orangtuanya menjadi miliknya. Tidak heran jika Dewa mampu membeli apartemen di kawasan elit yang terkenal memiliki harga milyaran. "Ayo masuk!" ucapan Dewa membuyarkan lamunan Reina . Mereka berhenti pada di lantai tujuh belas. Di lantai unit apartemen Dewa berada. Pemandangan kota pahlawan terlihat indah dari ketinggian ini. Nampak juga ruwetnya jalan yang dipenuhi kendaraan bermotor. Apartemen Dewa memiliki dua kamar. Menurut penuturan Dewa, dia hanya tinggal sendirian di sini. Reina mulai membersihkan tempat tinggal dewa. Beberapa hari tidak ditempati, pastilah ada debu dan kotoran menempel di berbagai sudut apartemen ini. Dewa duduk di atas sofa ruang keluarganya dengan ditemani siaran televisi. Sambil menunggu Reina selesai membersihkan apartemennya. "Sudah selesai," ucap Reina berteriak. "Kamu bisa istirahat di kamar sekarang," lanjutnya. Dewa mematikan televisinya dan menuju kamarnya untuk merebahkan diri. "Aku pamit mas, aku juga mau istirahat di rumah," ucap Reina pada Dewa yang tidur di atas kasur. "Bawalah mobilku, kamu tidak membawa motor bukan?" tawar Dewa. "Tidak usah, aku bisa naik taksi." "Baiklah, hati-hati dijalan, terimakasih re." Senyum Dewa mengembang. "Sama-sama." *** Reina berkemas. Sesuai permintaan orangtuanya, weekend ini dia akan pulang. Beberapa potong baju sudah dia siapkan dan telah dimasukkan dalam tas. Biasanya dia akan pulang sore hari setelah bekerja. Berhubung hari ini reina pulang malam setelah menemani dewa keluar rumah sakit, akhirnya dia memutuskan untuk pulang keesokan hari. Bis antar kota ada dua puluh empat jam, hanya saja reina takut pulang malam malam, pikirannya membayangkan aksi begal dan pencopetan akhir akhir ini yang marak terjadi. Sebelumnya dia telah mencuci seluruh pakaian kotornya. Biarlah urusan setrika bisa dia kerjakan setelah pulang nanti. Juga menyapu rumah, hal yang tidak dia kerjakan beberapa hari ini karena waktu luangnya habis untuk menemani Dewa. Semua sudah beres, sekarang waktunya untuk tidur. Lampu rumah sudah seluruhnya dimatikan, hanya tersisa lampu kuning tidak terlalu terang di kamar. Dibiarkannya lampu itu, reina tidak bisa tidur jika keadaan gelap gulita. Tring Tengah malam ponsel Reina berbunyi. Sebuah nomor tidak di kenal. Diambil ponsel itu dan diangkatnya "Halo," ucap Reina membuka pembicaraan. Tubuhnya masih rebahan di atas kasur denga mata yang masih menutup "Re tolong!" Deg Suara itu, suara orang yang dikenalnya. Mata Reina langsung membuka lebar. Tubuhnya bangun dari tidur, mendengarkan seksama suara dari seberang telepon. "Mas Dewa," ucap Reina refleks dengan lantangnya. "Tolong re!" Suara itu tercekat, semakin lirih, sulit terdengar oleh Reina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD