CHAPTER 5

1080 Words
"Mas Dewa," ucap Reina refleks dengan lantangnya. "Tolong re!" suara itu tercekat, semakin lirih, sulit terdengar oleh Reina. "Kamu kenapa?" Reina menunggu jawaban, namun tidak ada jawaban. Diambilnya kunci motor dan jaket, dengan perasaan khawatir dia mulai membelah jalanan malam kota pahlawan. Dingin. Habis hujan lebat beberapa saat yang lalu. Untungnya kota pahlawan adalah salah satu kota metropolitan, kota yang tidak mengenal waktu, siang malam sama sama banyak keramaian. *** Butuh waktu lima belas menit dengan kecepatan ngebut untuk sampai di apartemen Dewa. Ting Ting Ting Dibunyikannya bel tempat apartemen Dewa, berkali kali namun tidak ada jawaban. Apartemen ini menggunakan kode, dan Reina tidak tau apa kodenya. Menghubungi Dewa juga rasanya percuma, dia tidak mengangkat panggilan Reina. Beberapa kali nekat mencoba memasukkan kode. Mulai dari tanggal lahirnya, tanggal lahir mertuanya, kode ponsel dulu sewaktu masih menikah, kode pin atm dulu juga telah dicoba. Percobaan terakhir, tanggal kematian mendiang ibu mertuanya. Ting Berhasil, pintu otomatis terbuka. Langsung Reina mencari cari keberadaan Dewa. Kamar adalah tujuan utamanya saat ini. "Argh." Di sana Dewa di atas tempat tidur, nampak Dewa merintih kesakitan. Tubuh Dewa tergulung dalam balutan selimut abu-abu miliknya. "Mas, kamu kenapa?" Reina mendekat. Tubuhnya didudukkan di ujung tempat tidur Dewa. "Re, tolong!" Dewa memegang tangan kirinya yang kemarin dioperasi. Nampak sangat kesakitan. "Sakit? ke rumah sakit ayo!" ajak Reina, dia bingung harus memberi solusi seperti apa. Dewa memang kaya tapi dia tidak memiliki dokter pribadi yang stay kapan pun dibutuhkannya. Reina memegang tangan Dewa, mengajaknya segera berdiri. "Dingin," keluhnya. Dewa enggan keluar dari selimutnya. Segera Reina mencari lemari tempat penyimpanan jaket. Diambilnya salah satu jaket yang terlihat paling tebal diantara yang lainnya. Lalu dipakaikannya perlahan ke tubuh Dewa. Dewa meringis beberapa kali saat tanpa sengaja reina menyenggol lukanya. "Masih dingin?" Dewa mengangguk. "Yaudah selimutnya dibawa aja, ayo!" tangan Reina membantu membawa selimut Dewa. "Kunci mobil di atas nakas sebelah tv," ucap Dewa. Reina mengangguk dan mengambil kunci itu. *** Di parkiran Reina membunyikan alarm mobil, lalu mengedarkan pandangnya mencari mobil itu. Sedangkan Dewa, Reina menyuruhnya menunggu di loby apartemen. Langkahnya berhenti pada mobil Jazz warna lemon yang mengedipkan lampunya karna terhubung dengan alarm pada kunci yang dipegang Reina. Deg Reina melamun. Ini adalah mobilnya dulu. Hadiah pernikahan dari Dewa. Kendaraan yang menemani kemanapun Reina pergi. Bahkan saat bercerai, Dewa dengan sukarela memberikannya, namun ia menolak. Pikirannya kembali, dia harus segera membawa Dewa ke rumah sakit. Dewa menunggu dengan duduk di kursi loby. Kepalanya ia senderkan pada sandaran kursi. Beberapa pasang mata memperhatikan Dewa. Mungkin heran melihat orang yang menggulung diri di selimut duduk di kursi loby. "Ayo!" Reina menggandeng tubuh Dewa, membawanya untuk duduk di kursi penumpang sebelah kemudi. Dewa menurut, dia tidak memiliki tenaga untuk sekedar mengendalikan tubuhnya sendiri. *** Jazz lemon berhenti di depan ruang bertulis igd. "Suster tolong!" Reina berteriak dan beberapa suster berhamburan keluar. Ada diantara mereka yang membawa ranjang pasien. Tubuh Dewa direbahkan di atas ranjang itu. Tak lama seorang dokter datang untuk memeriksa. Membawa stetoskop dan menaruhnya dalam d**a Dewa, memeriksa kondisi vitalnya. "Ada yang dikeluhkan?" tanya dokter membuka suara. "Ngilu dok," jawab Dewa sambil meraba luka operasinya. "Habis operasi?" Dewa mengangguk. "Kapan?" "Tiga hari yang lalu, di rumah sakit ini juga dok," ucapku lancar. Dokter meminta suster untuk memeriksa dokumen riwayat pasien melalui komputer. Dokter melihat layar komputer yang ditunjukkan suster itu. Memperhatikan dengan seksama. Dengan cemas Reina menunggu penanganan lebih lanjut dokter itu. Tidak tega dengan kondisi Dewa. Dokter itu kembali ke samping ranjang Dewa. "Apakah bapak tidur menggunakan kipas angin atau ac?" "AC dok." Dewa menjawabnya. "Ada beberapa pen yang terpasang di lengan bapak. Efek yang ditimbulkan adalah adanya nyeri tulang bila terkena udara dingin yang berlebihan. Saat ini, setelah hujan lebat sore tadi, udara kota cukup dingin ditambah AC yang bapak gunakan, itulah yang membuat ngilu." Dengan sabar sang dokter menjelaskan. "Ini tidak berarti operasinya gagal kan dok?" tanya Reina yang terlalu khawatir. "Tidak, ini hanya masalah suhu saja." "Terus bagaimana meredakan nyerinya dok?" Kali ini Dewa yang berbicara. "Saya akan memberi suntikan agar nyerinya berkurang." "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini biasa terjadi pascaoperasi tulang" lanjut dokter yang berusaha menenangkan rasa khawatir yang terlihat jelas dari wajah reina. Syukurlah. Suster memberikan suntikan pada dokter, dan dokter menyuntikkannya pada lengan Dewa. "Setelah nyerinya agak reda, bapak bisa pulang." *** Hampir dua jam di igd, akhirnya nyeri Dewa sudah menghilang. Reina membawa Dewa kembali ke apartemennya. Reina membaringkan diri di sofa ruang keluarga. Dia cukup mengantuk untuk melanjutkan perjalanan pulang. Benar saja, tidak butuh waktu lama Reina sudah lelap dalam tidurnya. *** Dewa pov Aku mengerjabkan mataku, menggeliat. Beberapa jam terakhir tidurku sangat nyenyak. Mungkin juga efek dari suntikan yang diberikan dokter semalam. Tubuhku terasa lebih ringan dari sebelumnya. Maklumlah di rumah sakit aku kesulitan untuk tidur. Hidungku mencium aroma aroma masakan. Sudah lama rasanya tidak merasakan aroma seperti ini. Perlahan ku turun dari ranjang dan menuju sumber aroma itu. Dapur. Apa yang ku lihat? Reina sedang asiknya bersenandung ria sambil tangannya sibuk memotong beberapa sayur. Dia yang memasak rupanya. Tanpa terasa, ku sunggingkan senyumku. Reina memang dari dulu suka memasak. Ah, kangen rasa masakannya. Aku tidak berniat untuk menganggu aktivitasnya. Entah kenapa hatiku terasa hangat melihat itu. Reina lihai memainkan pisau dapurku. Eh tunggu, darimana dia mendapatkan sayur?? seingatku aku tidak pernah membeli sayur Aku saja selalu makan di luar. Kalau lagi males keluar ya delivery order. Lebih simpel daripada harus memasak. Tidak sehat sebenarnya, tapi beginilah hidup sendirian. Reina mulai melihat kehadiranku. Dia tersenyum, menarik kursi di bar kecil dekat pantry. Tangannya menepuk kursi itu, menyuruhku duduk di sana. Aku mengikuti perintah Reina. "Selesai, ayo kita makan!" sorak Reina antusias. Dengan cekatan dia menata makanan di atas piring dan ditaruhnya di depanku. Sebuah mangkuk diletakkan di depanku. Dia memberi sedikit nasi di dalamnya. Rupanya dia memasak sup dengan potongan daging sapi di dalamnya. Aromanya menusuk inderaku, seakan mengatakan untuk segera mencobanya. "Silakan dimakan," serunya mempersilakanku untuk memulai makan. "Enak?" tanya Reina. Dari wajahnya terlihat dia cemas menunggu jawabanku. Semacam takut kalau makanan yang disajikannya tidak terasa enak. Tangannya mengepal ringan di atas meja. Biarlah aku buat lama menjawabnya, sengaja untuk membuat Reina menunggu. "Lumayan." "Kalau misalnya tidak suka, biar aku buatkan lagi, mas mau makan apa?" tanyanya. "Enak re, malah terlalu enak, rasanya sudah sangat lama tidak menikmati makanan rumah." Ku sunggingkan senyumku. Aku tidak berbohong, masakan Reina memang enak. Dulu saat masih menjadi istriku, aku jarang makan diluar. Reina selalu memasakkan makanan untukku. Ku melihat senyum di bibir reina mendengar jawabanku, "emang istrimu tidak memasak?" celetuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD