Bab 5: Membeli Kucing Dalam Karung (1)

1062 Words
Baru kali ini aku merasa akan kehilangan sahabat.                “Serius, lu?” tanyaku kaget.                Ririn mengangguk.                “Iya lah, serius. Emang lu doang yang bisa kawin muda?” Lalu Ririn tertawa, mungkin menertawakan wajahku. Aku kaget bukan karena dia akan menikah juga, tetapi kalimat setelah pengakuannya itu.                “Lu beneran mau tinggal di Kanada?”                “Yap! Bulan depan resepsi pernikahannya. Sederhana sih kata si Josh, cuma di gereja trus paling garden party, itu pun di rumah nyokapnya,” jawab Ririn. Aku menepuk jidat. Bulan depan???                “Ya udah, selamat aja buat lu, mana bisa gue ke Kanada,” kataku setelah berpikir matang-matang. Benny memang kaya-raya, tetapi aku merasa belum layak meminta ini-itu. Apa kata Pamer-Mamer nanti? Memang ke Bogor, bawa uang seratus ribu udah cukup.                “Gimana lu ama laki lu?” tanya Ririn. Aku berusaha tersenyum. Sebenarnya ingin meumpahkan uneg-uneg di hati, tapi rasanya kurang pas. Ririn sahabatku sejak kelas 1 SMA, tapi segala masalah rumah tanggaku bukan untuk konsumsi publik, benar?                “Yahhh, gitu deh,” jawabku.                Ririn mendekatkan wajahnya, “Gimana rasanya nganu-nganu?”                Mungkin kalau pertanyaannya diajukan sebelum aku menikah, kami berdua sudah membuat keributan kecil di Kafe Gaul ini karena suara tawa yang pasti tidak terputus-putus.                Aku menarik napas panjang lalu berusaha tersenyum.                “Want to know, ajjah!” elakku.                Ririn mencubit lenganku. Kami akhirnya tertawa pendek.                Dua jam lamanya kami ngobrol, kebanyakan sih gosip dan masa lalu.                “Lu nggak perlu antar gue ke bandara, nanti malah jadi sedih, “ kata Ririn, saat kami berpisah. Aku mengangguk dan memberinya pelukan erat.                Aku baru masuk ke dalam mobil saat Ririn sudah menaiki motornya. Aku menyuruh supir Benny untuk langsung pulang ke rumah.                 Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Berarti sudah satu tahun rumah tangga aku dan Benny berjalan. Hubunganku dengan Benny semakin akrab, tidak ada yang kami sembunyikan diam-diam. Kami berusaha terbuka—berkomunikasi dan berinteraksi—setiap kali bertemu. Aku punya teori indikator sendiri untuk melihat apakah suatu hubungan sudah dibilang dekat atau belum antara sepasang cowok-cewek yang sedang berhubungan, yaitu ngentut. Iya ngentut, dengan huruf U, bukan huruf vokal yang lain. Kalau seorang cewek di dekat cowoknya masih berusaha menahan kentutnya saat perutnya kembung, beugah, penuh udara, itu artinya hubungannya masih baru, masih jaim—jaga image. Nah, kedekatan hubunganku dengan Benny sudah tidak ada batasan. Kalau aku atau dia mau ngentut, ya ngentut aja, tidak perlu menahan diri sampai muka kebiruan. Benny yang kelihatannya agak pendiam, ternyata memiliki sense of humor yang tinggi juga. Tanpa perlu kalimat yang panjang, kami mampu menertawakan sesuatu bersama-sama. Perbedaan umur tidak menjadi masalah besar saat ini. Komunikasi kami memang di segala bidang, kecuali satu hal: hubungan ranjang. Setiap kali aku mengarahkan pembicaraan ke arah sana, Benny selalu berkelit dan membelokkan pembicaraan kami. Sampai saat ini Benny hanya sekadar memeluk, meraba, dan mencium saja. Tidak pernah lebih. Tapi kan sebuah pernikahan tidak melulu soal seks? Positive thinking. Jadi??? Benar, aku masih perawan tulen. Setiap kali bertemu Mama atau bertemu keluarga yang lain, pertanyaan pertama yang terlontar dari mereka adalah: kamu sudah hamil belum? Membuatku merasa tidak nyaman. Ketika mereka melanjutkan pertanyaan, kenapa? Aku benar-benar bingung menjawabnya. Kalau Benny mendengar pertanyaan itu, dia akan menjawab: belum dikasi sama Yang Di Atas. Sudah. Titik. Hari Minggu ini aku memutuskan untuk membuka percakapan tentang hubungan seks kami yang selalu jalan di tempat. Aku hanya merasa bahwa, hal ini akan menjadi masalah. Dan masalah harus diselesaikan, harus dicari akar permasalahannya—bukan didiamkan saja atau dilupakan begitu saja, atau bersikap seakan-akan tidak ada masalah. Ini yang pernah diajari oleh Mama. Kami sedang bermalas-malasan di kamar. Aku meletakkan kepalaku di pangkuan Benny. Benny terlihat serius browsing artikel fashion di tabletku. Lagu-lagu Keith Urban mengalun pelan dari tablet yang dipegang Benny, menghibur pagi hariku, membuat mood-ku bagus. “Ben … ngobrol yukkk….” Aku menarik tangannya. Benny meletakkan tablet di meja kecil di sampingnya dan tersenyum padaku. Tangannya mengelus rambut panjangku yang terurai di sepanjang pahanya. “Ben … aku … ng … boleh terus terang nggak?” Aku ragu. “Tentu saja boleh, Li, kamu kan istriku.” “Tentang kita.” Benny terdiam, wajahnya membeku. “Tentang rencana bulan depan, kan anniversary kita … ng … eh, tapi nggak jadi dulu, Ben. Mmmm, minggu depan aja ngerencanainnya, sekarang lagi mau santai…” Aku mengubah topik tiba-tiba, begitu kurasakan hatiku mencelos melihat wajah segarnya menjadi sedingin es batu. Terbersit di otakku untuk membekali diri pengetahuan tentang hubungan suami istri, tentang rumah tangga, tentang laki-laki. ***                Minggu lalu perayaan hari jadi pernikahan kami yang pertama. Kami merayakannya berdua saja. Benny mengajakku ke sebuah restoran di hotel besar, yang selama ini hanya ada dalam angan-anganku. Benny memintaku memakai gaun ungu tua yang dia belikan. Gaun seksi yang memperlihatkan punggung terbuka sampai ke tulang ekor. Rambutku digelung kecil sederhana dihiasi tiga butir kristal semburat ungu berbentuk teratai. Sepatu high heel warna serasi dengan gaun, membuat kakiku tampak seksi. Dan tas mungil warna pink kalem menambah manis penampilanku. Make up minimalis hasil kreasi salon langganan keluarga Setiawan mampu mengeluarkan aura kecantikanku. Dan rasa bangga, malu, tersanjung, berhasil membuat semburat kemerahan alami di pipiku. Benny menyelipkan tanganku di lengannya, menggandengku dengan d**a membusung bangga. Entah sudah berapa kali Benny memuji penampilanku malam itu. Benny sendiri memakai setelan jas hitam sederhana, dengan dasi berwarna ungu senada dengan gaunku. Meja untuk candle light dinner sudah disiapkan oleh pihak restoran. Benny sudah mem-booking tempat ini sejak dua bulan yang lalu. Hadiah dari dia membuatku terperangah, sebuah kalung mewah! Liontinnya batu amethys dengan semburat ungu di tengahnya, batu berbentuk teardrop dikelilingi belasan berlian sebagai rantainya, diikat oleh emas putih. Ohh, Ben … suamiku…. Lututku seakan tak bertulang karena kejutan yang tiada putusnya selama ini. Aku tersanjung ketika beberapa mata di restoran itu menatapku iri saat Benny mengalungkan kalung itu di leher putihku. Benny tampak tidak perduli bahwa kami berada di sebuah restoran yang sedang penuh oleh pengunjung. Dan aku yakin para wanita akan menggerutu kepada pasangan masing-masing ketika pulang, saat melihat Benny menciumku dengan mesra. Ciuman di bibir, di depan umum. Aku sering berpikir, adegan romantis di film-film hanya rekayasa belaka dan tidak mungkin ada dalam kehidupan nyata. Ternyata … suamiku mematahkan semua teori skeptisku itu. Benny adalah suami yang hampir sempurna. Kata hampir itu pasti aku hapus, kalau keromantisan itu berlanjut di kamar kami. Positive thinking, lagi-lagi. Mungkin ... save the best for last. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD