Untuk membenahi apa pun yang menjadi kendala suamiku, aku harus menjadi motor penggerak dan pemicu reformasi ini! Buang rasa malu! Buang rasa malas! Buang rasa gengsi! Semangat!
Suhu Google menjadi tempat aku berguru. Puluhan artikel aku baca, termasuk website resminya Mak Erot. Wuiihhh! aku pahami dalam-dalam, mencermati beberapa gambar, mengambil penggaris dan membayangkan tentang ukuran-ukuran dalam senti, dan beberapa hal harus aku praktikkan terlebih dulu untuk menjamin ketepatannya.
Setelah yakin aku sudah memiliki pengetahuan dasarnya, aku mulai menyusun rencana.
PERTAMA: APA MASALAHNYA?
AKU HARUS TAHU JAWABAN DARI BENNY, MENGAPA DIA TIDAK PERNAH BERHUBUBUNGAN SEKS DENGAN AKU, ISTRINYA.
CARANYA: MENANYAKAN LANGSUNG KE BENNY DAN MEMANCING ‘KELAKI-LAKIAN’ BENNY.
Bagian “memancing kelaki-lakian” ini sempat membuatku bingung. Ternyata intinya aku harus membuat suamiku b*******h.
Hari ini aku harus mulai.
“Ben….” Aku mengusap-ngusap lengannya dengan ujung jariku.
“Kenapa, Li?” Tangannya menarik kepalaku ke arah dadanya. Aku mengikuti perintah non-verbalnya.
Aku menengadah padanya. Memandang mata yang menyorot lembut.
“Jangan marah tapinya ya….” Aku pura-pura merengut.
Benny menggeleng, menyentuhkan dagunya ke ubun-ubunku.
“Ben … kenapa … ng … kita … ng … kita … mmmmm … ng … nggak pernah gituan?” tanyaku pelan.
Benny terdiam. Lama. Lalu menarik nafas panjang, dan mengembuskannya perlahan.
Dia menegakkan duduknya sembari menarik badanku untuk duduk di hadapannya.
Atmosfir di antara kami terasa padat, membuatku merasa sesak bahkan untuk bernapas.
Wajahnya seperti serdadu yang kalah perang.
Aku deg-degan, telapak tangan basah keringat walaupun dinginnya AC menguasai kamar kami.
“Apakah … apakah … karena perjodohan ini?” tanyaku pelan hampir berupa bisikan.
Benny merapikan rambutku, merapikan helai demi helai rambut yang jatuh di pipiku. Mengusap lagi pipi dan rahangku dengan punggung tangannya.
“Liana … kamu adalah hal terbaik yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. Aku nggak pernah sekali pun menyesali perjodohan ini.” Benny memandang mataku dengan sendu.
Oh, Ben … ada apakah?
Aku membatin, bulu kudukku meremang sendiri. Matanya menyimpan duka, kesedihan, luka, dan ketakutan.
“Apakah karena aku nggak cantik?” Aku mengejar Benny. Bagaimanapun aku sudah terlanjur memulai ini, aku harus menyelesaikannya.
Benny mendekatkan wajahnya, mengecup semua bagian wajahku, mencium bibirku dengan mesra.
“Hanya orang gila dan orang buta yang akan bilang kamu nggak cantik. Kamu cantik, seksi, aku jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu, Liana.”
Benny mengerutkan dahinya, seakan memendam rasa sakit.
Aku memegang tangan Benny, aku letakkan di bahuku yang hanya mengenakan atasan tanktop tanpa bra. Aku tuntun tangannya untuk menurunkan tali tanktop-ku.
Benny menuruti kemauanku.
Kubiarkan tanktop-ku meluncur turun, membuat d**a polosku terbuka begitu saja.
Mata kami bertemu. Mata Benny tak berkedip. Ada rasa sakit di dalam sana.
Aku mengarahkan tangannya ke dadaku, membiarkannya menyentuh tubuhku sebebas-bebasnya.
Benny menelan ludah.
Matanya masih terpaku pada mataku.
Tangannya yang berada di dadaku mulai bergerak sendiri tanpa tuntunanku.
Dalam hati aku bersorak girang.
Aku tuntun tangannya mengitari siluet perut, pinggang, dan pinggulku. Rasa malu merambat cepat ke wajahku, tapi aku berusaha menahan diri dan melempar jauh-jauh harga diriku demi suamiku.
Matanya bergerak-gerak gelisah berusaha tidak melepaskan fokusnya dari wajahku.
Aku menarik kedua ibu jarinya ke ban pinggang celana pendekku, mendorong kedua ibu jarinya, membuat gerakan menyentak ke bawah hingga celanaku turun meringkuk di kakiku. Aku sengaja tidak memakai apa-apa lagi di balik celanaku.
Aku berdiri telanjang tanpa sehelai benang pun di hadapannya.
Benny tiba-tiba memejamkan matanya, gelisah.
Aku menarik tangan dia untuk duduk di pinggir ranjang kami. Lalu aku duduk di pangkuannya, menghadapnya, menggoda sedemikian rupa seperti di film-film yang pernah aku tonton.
Benny membuka matanya, membisik lirih dengan bibir bergetar. Matanya tampak pasrah. ”Maafkan aku, Liana, aku nggak bisa….”
Aku tersenyum, tidak mudeng dengan arti kalimatnya itu sebenarnya.
Benny mengangkat badannya dan badanku bersamaan, berdiri berhadapan, dia membuka seluruh bajunya sendiri perlahan.
Jantungku semakin cepat berpacu. Memandang ke arah matanya tanpa kedip.
Benny membalas memandang mataku dalam. Meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya, membiarkan tanganku bergerak, meraba, membelai seluruh tubuh telanjangnya yang baru aku lihat sekarang.
Aku semakin merapatkan badanku ke arahnya, membelai punggung belakangnya, pinggangnya, pinggulnya, dan kedua bukit pantatnya. Aku menggigit dadanya gemas, menghirup wangi maskulin tubuhnya yang hangat.
Aku mencintai pria ini.
Benny masih menatapku, jakunnya naik turun.
Benny mengambil tangan kananku dan menuntun tanganku semakin ke bawah, dan ke bawah, kemudian berhenti di … pangkal pahanya.
Oh ... Aku menutup mataku. Wajahku terasa terbakar, panas.
Aku menelan ludah … merasakan miliknya di dalam genggamanku. Aku merasakan sesuatu yang bulat, empuk, kenyal, hangat, panjang, lembek. Tunggu!
LEMBEK???
Mataku langsung membuka dan melihat ke kejantanan Benny.
Aku mengingat-ngingat ciri-ciri ereksi seorang pria yang aku baca di internet. Harusnya panjang, tegang, dan keras. Tidak bisa ditekuk dan harus sesuai gambar.
Aku membayangkan gambar BEFORE dan AFTER yang terpampang jelas di artikel itu.
Punya Benny sih BEFORE-nya.
Lho, kok masih BEFORE???
Gantian aku yang menelan ludah sekarang, tapi aku berusaha tidak menunjukkan apa pun di wajahku, poker face.
Aku mengerti sekarang.
Aku memeluk suamiku yang sekarang seperti prajurit kalah telak di medan perang. Seperti bunga yang kelupaan disiram seminggu. Seperti baju belum disetrika.
Kata Suhu Google, aku harus memeluknya kalau berada dalam kondisi seperti ini, memberitahu bahwa dengan kondisinya itu Nothing Gonna Change My Love for You.
Aku peluk Benny-ku, dia memelukku juga, menciumi rambutku.
Kami ke ranjang berdua, meringkuk telanjang bulat dalam selimut tanpa berbicara apa-apa, tanpa melakukan apa-apa.
Positive thinking
...
Positive thinking
…
Positive thinking
…
Yang mana yang bisa di-positive thinking-kan?
***