Bab 7: Dokter Boyke Dadakan (1)

1310 Words
Kenyataan bahwa diagnosanya adalah suamiku impoten, iya IMPOTEN, bukan important. Impoten—disfungsi ereksi nama kerennya—membuatku bingung. Di luar perkiraan. Di luar skenario. Perlu beberapa hari bagiku untuk mencerna lagi kejadian ini. Suatu kerumitan bagi seorang gadis tidak berpengalaman sepertiku. “Ben … kalau boleh tahu, apakah kamu pernah ke dokter?” Aku bertanya hati-hati, masalah ini adalah kiamat kecil bagi seorang laki-laki, yang menjadi kiamat besar bagi pasangan wanitanya. “Pernah, tapi nggak berhasil. Semua obat juga pernah aku pakai….” Benny menjawab lemah. “Aku sudah putus asa Liana … maafkan aku….” Aku memeluk Benny-ku erat, merasakan kerentanannya, kegalauannya.           “Nggak ada yang perlu dimaafkan, Ben. Aku mengerti, kita coba untuk mencari solusinya nanti.” Aku menghibur matahariku yang redup. “Mama Lisa dan Papa tahu masalah ini, Ben?” tanyaku lagi. “Nggak, aku terlalu pengecut untuk memberitahu mereka. Makanya aku memanipulasi darah perawan kamu, Liana. Pakai darah dari jempol tangan yang aku tusuk pakai jarum.” Benny menyingkap teka-teki kecil setahun yang lalu. “Jangan khawatir, Ben, kita pasti bisa melalui ini.” Aku tersenyum memberi semangat. “Makasih, Liana, aku sekarang merasa lega sudah berterus terang sama kamu. Aku terlalu takut kamu akan pergi dari sisiku karena ketidakmampuanku ini.” Benny memelukku. ”Maafkan aku, Sayang….” Benny berbisik di telingaku. Kami berpelukan lama sekali, tapi otakku terus berputar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Positive thinking.              Jadi setiap kali aku punya waktu setelah bersosialisasi dengan Mamer, aku cepat-cepat masuk kamar, menjelajah dunia maya yang berisi informasi tidak terbatas. Kuketik kata kunci di jendela Google: impotensi pada pria. Buka artikel – baca – bikin catatan. Buka artikel lain – baca – bikin catatan. Buka artikel lainnya lagi – baca – bikin catatan. Siap membuat rencana berikutnya. Hm…. KEDUA: APA PENYEBABNYA? AKU HARUS TAHU SEJAK KAPAN DIA MENYADARI MASALAH INI DAN MENCARI TAHU PENYEBABNYA. CARANYA: MENANYAKAN LANGSUNG KE BENNY Sip. Aku mulai merangkum daftar pertanyaan buat Benny. Sebersit pertanyaan terlintas, akankah Benny marah padaku? *** Aku menunggu Benny pulang dari kantor, siap-siap dengan beberapa pertanyaan yang telah kususun. Setelah melakukan ritual penyambutan seorang istri untuk suaminya yang baru pulang kerja, aku mulai memijat bahunya setelah menyodorkan segelas air putih. Benny tersenyum, memelukku. “Aku bangga punya istri seperti kamu, Liana. Kamu sangat tahu bagaimana melayani suami.” Aku balik memeluk Benny. “Kita coba mengatasi masalah kamu sama-sama ya, Ben … aku juga nggak mau kamu tersiksa terus.” Ini kata artikel yang k****a, ketidakmampuan seorang cowok itu ereksi bisa membuat mereka tersiksa dan minder. Benny hanya mengangguk. Aku lanjutkan memijat pundaknya, sesekali meremas-remas rambutnya. Dia memejamkan mata, mungkin menikmati pijatanku. “Sejak kapan kamu mulai merasa Mister Pi kamu pingsan terus?” Aku mulai memasukkan pertanyaanku dalam percakapan kami. Mister Pi, aku menyebutnya seperti itu, mau menyebutkan nama aslinya aku merasa terlalu kasar. “Sejak puber, kelas 1 SMP. Teman aku yang lain heboh menceritakan punya mereka yang selalu tegak berdiri setiap kali melihat cewek bohay atau gambar porno. Tapi aku nggak pernah merasa punyaku seperti yang mereka ceritakan. Di leher, Li, tekan lebih keras, kaku banget rasanya.” Benny bercerita sambil memberikan instruksi pijatan. Aku memindahkan tanganku ke lehernya. “Tapi kamu merasa terangsang nggak, Ben?” Aku tekan saraf utama Benny di leher, aku urut sampai ke pangkal kepalanya. Benny terlihat menikmatinya. “Iya sedikit, nggak sedahsyat waktu lihat kamu telanjang waktu itu, Li. Aku sangat bernafsu waktu itu, tapi entah kenapa lemas lagi.” Aku tersenyum di belakang Benny, kuciumi leher belakangnya dengan gemas. Benny menoleh, mengejar bibirku. Aku pura-pura menghindar, tapi langsung mengulum bibirnya yang terasa semanis buah lengkeng. Aku lanjutkan memijat lehernya, sambil mengingat-ingat apa saja yang aku harus tanyakan. Tentang rokok, hmmm, suamiku bukan perokok. “Kamu pernah cek gula darah kamu, Ben?” “Pernah, normal,” jawab Benny. Bukan diabetes. “Kalau di keluarga kamu ada bakat penyakit berat seperti kolestrol atau ginjal, sakit jantung, parkinson, hipertensi, stroke, kanker, de el el gitu, Ben?” “Kamu tuh kayak agen asuransi aja nanyanya. Papa hipertensi, tapi sekarang dah normal. Mama ada sedikit kolestrol. Kalau aku, hm … panu stadium 4, Li!” Aku gigit bahu Benny mendengar dia menggodaku. Aku tarik kepalanya hingga terlentang di pangkuanku. Aku mulai memijat, merelaksasi wajah mulusnya seperti yang selalu dilakukan karyawan salon langganan Mamer. Benny memejamkan matanya, menikmati setiap pijatan jariku di seluruh wajahnya. “Kamu pernah dioperasi, nggak? Prostat kek, atau di kandung kemih, di usus besar atau di pembuluh darah utama?” tanyaku lagi. “Nggak pernah,” jawab Benny. Kata salah satu artikel, kegagalan ereksi kejantanan karena pembuluh darah yang ke arah kejantanan tidak lancar. Salah satu hal yang bisa melancarkan pembuluh darah adalah olahraga. Benny selalu main bulutangkis tiap Selasa malam dan berenang tiap Jumat malam. Seharusnya lancar dong. Aku menarik-narik rambut di kepalanya secara tidak beraturan. Pengalaman pribadi mengatakan, hal ini akan membuat kepala terasa lebih “ringan”.                 Benny terlihat sangat rileks. Pijatanku berpindah ke tangannya. Jarinya aku tarik satu persatu hingga mengeluarkan bunyi di sendi-sendinya. “Lagi banyak kerjaan di kantor ya, Ben?” “Heeh.” Benny mengangguk. “Stres ya, Ben?” Benny menggeleng, “Nggak juga … udah terbiasa…” jawabnya singkat. Aku yang mulai stres. Aku tercenung, sebenarnya mengharapkan ada salah satu pertanyaanku yang akhirnya mengarah ke penyebab impotensinya, kalau semua baik-baik saja, apa dong penyebabnya? Kerasukan?? Tidak pernah kudengar sebuah kejantanan kerasukan setan yang doyan tidur. Aku mengingat-ingat lagi, hal yang mungkin menyebabkan impotensi ini, hmmm, alkohol dan ganja. Tapi aku yakin Benny tidak pernah mengkonsumsi barang ini, tidak ada indikasi sedikit pun suamiku seorang pecandu. Oke, satu pembuktian lagi! Aku mengambil bantal dan menyelipkannya di bawah kepala Benny, menggantikan pahaku. Aku bergeser, mendekati pangkal pahanya. Benny terkejut ketika aku tiba-tba menarik lepas celana pendeknya. “Ssst… diam… lagi pengin ngobrol sama Mister Pi,” aku berkata serius. “Pejamkan mata kamu, Ben, bayangkan sesuatu yang erotis… nikmati, Ben….” Aku membuka baju atasanku dan mulai memancing-mancing kejantanannya dengan segala cara. Sebagai panduan, otakku mengingat-ingat jenis indeks ereksi: loyo seperti peuyeum singkong Bandung kematengan, agak keras seperti pisang mateng, lebih keras seperti sosis bockwurst, lalu keras banget seperti timun Jepang. Mister Pi Benny sekarang ada di indeks. .. agak keras seperti pisang mateng … eh bukan … lho … lho … lho … kok jadi loyo Benny masih memejamkan matanya, telapak tangannya mengepal kencang sampai terlihat buku-buku jarinya memutih. Aku menaiki badannya, mencium lehernya, memeluknya erat. “Bersambung ya, Sayang…” bisikku mencoba mencairkan es yang meliputi wajahnya. Butuh satu tes lagi. Besok pagi harus aku kerjakan. Kupakaikan selimut untuk kami berdua, masing-masing terdiam, terpaku. ***                Pagi subuh ini sengaja aku nyalakan beker setengah jam lebih awal dari jam biasa aku bangun. Setelah mandi, dandan, aku baca artikel lagi. Yak! Aku mendekati Benny yang masih tidur telentang dengan pulas. Perlahan aku duduk di dekat pahanya. Dengan sangat perlahan aku tarik karet celana piyamanya, aku harus melihat Mister Pi-nya bangun atau tidak. Kata Google, Mister Pi laki-laki normal akan bangun tegak menantang langit, bukan karena keinginannya untuk buang air kecil sebenarnya, tetapi berhubungan dengan lancarnya peredaran darah ke arah mister Pi selama tidur yang pulas. Aku tahan karet celana piyamanya dengan tangan kiri, sekarang tinggal menarik karet celana dalamnya saja. Aku berusaha tidak menyentuh apa pun. Berhasil! Aku sudah mengangkat cd-nya. Aku menunduk, mengintip … ternyata … Mister Pi-nya … tidur sama pulasnya seperti Benny. Aku kembalikan posisi celananya ke semula. Lalu berpikir keras.           Oke. Kesimpulannya: impoten yang diderita Benny sudah absolut. Artikel mengatakan, DE yang berlangsung lebih dari enam bulan, itu sudah pertanda bahaya, Benny duapuluh tahun … Armagedon!! Sekarang aku harus mengumpulkan informasi apa saja yang bisa dilakukan untuk menghentikan gencatan “senjata” yang tidak perlu ini. Beberapa kali aku mengajak Benny ke dokter lagi atau mencoba minum obat atau ramuan, tapi Benny selalu menolak. Harus memakai cara lain. Ke dukun? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD