Bab 16. Kecewanya Duo M

1575 Words
Miranda mengangguk ragu, melangkah mengikuti mereka dari belakang menuju ruang makan. Ya walaupun dirinya merasa tidak nafsu makan karena perlakuan Michael, tapi tetap ikut duduk demi menghormati mereka dan mengambil hati kedua cicit dan cucunya itu. Bi Dar mulai mengisi piring satu persatu, mereka makan dalam diam. Mira memang membiasakan mereka untuk tidak bicara saat di depan makanan, semua itu dilakukan karena menghormati makanan yang sudah tersaji. Dan, kedua bocah itu selalu melakukan kebaikan yang diajarkan oleh Mira. Miranda memperhatikan mereka satu persatu, memang terlihat jelas kalau Michael ini benar-benar dominan Mira. Yakin sekali, kalau mereka pasti sering berdebat karena Mira seperti melihat dirinya sendiri di dalam diri Michael. Sedangkan, Matthew tetap terlihat tenang dan damai, walaupun wajah tegasnya juga tercetak jelas, gambaran Mira. Sejak tadi, Mira tidak melihat sosok yang membuatnya penasaran. Bahkan, sejak keluar dari lift juga Almira belum menjawab pertanyaan Miranda, wanita tua itu baru menyadarinya. Menatap sekeliling, memastikan kalau memang tidak ada lelaki lain disana selain kedua bocah itu. “Mir–” “Jangan bicara saat di depan makanan! Tidak sopan!” sindir Michael tegas. Miranda bungkam saat disindir secara terang-terangan seperti itu. Menutup mulutnya rapat-rapat, agar tidak lagi mengeluarkan kata-kata yang dapat membuat bocah itu kesal dan pandangannya terhadap Miranda berbeda. Sebenarnya, wanita tua itu sejak tadi sudah menahan rasa kesal, tapi juga tidak bisa melakukan apapun. Tidak mungkin menjawab setiap kata yang dilontarkan oleh Michael, bocah itu akan dengan mudah menjawabnya. Almira sejak tadi menahan diri untuk tidak tertawa, melirik sekilas Miranda yang langsung menundukkan kepalanya dan fokus pada makanan. Almira tahu betul, Omahnya sedang menahan marah dan sudah tidak ada lagi selera untuk makan, tetapi memaksakan diri untuk tetap berada di kursinya dan memakan makanan yang sudah tersaji. Padahal, biasanya jika wanita itu sedang marah atau kesal, maka tidak peduli lagi dengan keadaan. Sekalipun sedang makan bersama, ia akan tetap meninggalkan makanan dan memilih untuk kembali ke kamar sampai ada yang membujuknya untuk makan. Luar biasa sekali bukan kekuasaan yang dimiliki oleh Miranda, namun kali ini berhasil dipatahkan oleh sikap Michael. Makan siang pun selesai, karena kedua bocah itu tidak ingin terlalu akrab dengan Miranda, mereka lebih memilih masuk ke dalam kamarnya. Membaca buku yang baru saja dibeli dan mempelajarinya lebih dalam lagi. Mira duduk santai di depan televisi dan disusul oleh Miranda. “Almira,” panggil Miranda. “Kenapa, Omah?” “Memangnya, kedua anakmu itu sikap dan sifatnya seperti itu?” Mira langsung menoleh, mengerutkan dahi, menatap bingung wanita tua itu. “Maksudnya bagaimana, Omah?” Mira bukan tidak tahu maksud dari pertanyaan wanita tua itu, ia hanya ingin tahu lebih dalam lagi maksudnya seperti apa dan bagaimana. Mira sudah menduga, kalau Miranda merasa sudah dipermainkan oleh dirinya. Padahal, memang sikap anak-anak yang seperti itu. “Maksudnya, memang keseharian mereka tuh seperti itu? Cuek dan tidak peduli dengan sekitar?” “Jadi, dengan kata lain, omah secara tidak langsung menuduh aku meracuni mereka akan bersikap tidak baik pada Omah, begitu?” tanya Mira menatap tajam wanita tua yang ada disampingnya. “Ti-tidak, bukan seperti itu, Sayang. Omah–” “Sikap mereka memang seperti itu, apalagi saja orang baru dan tidak mengenalnya dulu sebelum ini. Aku tidak pernah meracuni apapun pada mereka, lagian mana sempat melakukan hal itu? Aku saja sejak datang dari mall, sudah dicegah oleh Omah dan bicara dengan Omah bukan?” “Iya, Sayang. Iya Omah tahu. Mungkin, Bibi yang meracuni pikiran anak-anak sampai tidak bisa memperlakukan aku dengan baik,” tuding Omah membuat Mira kesal, karena selalu saja seperti itu. Membawa nama orang lain dalam setiap masalah yang sedang dihadapi atau terjadi. Tapi, tidak pernah sadar diri kalau yang terjadi saat ini adalah karena sikapnya juga yang suka semena-mena pada orang lain. Kesalnya bukan main kalau semua keluarga besar sudah bersikap keterlaluan. “Jangan pernah menuduh sembarangan orang-orang yang ada disini ya, Omah. Aku tidak suka! Kedua bocah itu, memang sejak lahir memang sikapnya begitu. Aku pun berkali-kali mengingatkan pada Omah, sikap mereka seperti apa dan bagaimana. Tapi, Omah sendiri yang masih mau maju dan mencobanya, bukan? Lalu, kenapa sekarang justru menuduh Bi Dar yang bukan-bukan?” “Maaf, Omah. Tapi Bi Dar bukan orang yang seperti omah tuduhkan!” tegas Mira kesal. “Wanita itu yang selama ini menjagaku, dalam suka dan duka, pahit dan manis, tangis dan tawa. Dia adalah saksi hidup perjalanan hidupku selama kurang lebih hampir enam tahun ini. Tolong, jangan pernah menuduhnya dengan pikiran busuk Omah.” “Bi Dar, selalu melakukan yang terbaik disini. Mengajarkan anak-anak dengan hal yang baik, jika tidak maka kedua bocah itu akan menolak kedatangan Omah yang secara tiba-tiba dan mungkin saja di usir. Jadi, jangan suka menuduh orang lain, Omah. Lebih baik, introspeksi diri, bukan? Aku tidak suka, jika orang-orang disekitarku justru dituduh yang macam-macam!” tegasnya menatap tajam Miranda yang langsung bungkam. Berubah, ya itu yang ada dipikiran Miranda saat ini. Semuanya sudah berubah, tidak ada lagi Almira yang lembut, manja dan selalu merengek meminta sesuatu. Saat ini, Miranda melihat justru ada sosok lain di dalam diri Almira. Merasa, kalau cucunya itu menjadi dua pribadi yang berbeda, tapi tetap memiliki tempat untuk itu. Namun, Miranda sendiri merasa tidak percaya jika Almira dapat berubah sampai seperti ini. Pikirannya, Almira masih tetap wanita muda yang mudah diatur dan lainnya, tapi keadaan ternyata membuatnya bisa hidup lebih baik dari semua kejadian yang sudah menimpa hidupnya. Merasa tidak ada lagi tempat di hati Mira, wanita tua itu bangkit dan pamit untuk pulang. Bukan untuk menyerah, tapi kembali ke rumah untuk memikirkan cara yang tepat agar mereka bisa menerima Miranda, terutama Almira. Kalau saja, wanita itu sudah bisa menerima lagi kehadiran Miranda, maka kedua bocahnya akan lebih mudah didekati, karena sudah pasti Mira akan memberikan pengertian secara perlahan pada mereka. Miranda sendiri, merasa ingin sekali membawa mereka langsung ke rumahnya, kalau memang Mira menolak diajak ke rumah orang tuanya. Tapi, Miranda mengurungkan niatnya itu, tidak ingin jika cucu dan cicitnya akan semakin membenci karena terus dipaksa oleh sebuah kehendak yang tidak mereka sukai. Miranda memang harus mendekati mereka secara perlahan, memasuki hatinya tanpa menyakiti siapapun disekitarnya. Jika sudah melakukan hal itu, dapat dipastikan kalau Mira dan kedua anaknya pasti bisa menerimanya. * Sepulangnya Miranda, Almira sendiri menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memejamkan mata. Menekan dadanya kuat-kuat agar tidak kembali merasakan sakit yang luar biasa karena sikap keluarga besarnya itu. Mira sejak tadi selalu berusaha untuk tetap tenang dan tidak melawan, tapi diakhir pertemuan terpaksa melawan karena menurutnya sudah sangat keterlaluan. “Minum dulu, Nyonya.” Bi Dar datang, membawakan satu gelas air putih agar bisa menenangkan hati Mira. Wanita itu membuka mata dan meneguk hingga tandas air putih yang diberikan, lalu kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Sabar, Nyonya.” “Lelah banget ya, Bi. Kembali ke Indonesia bukannya menjadi lebih baik, kok malah semakin menjadi-jadi gitu loh. Aku pikir, mereka sudah mulai pada berubah, eh lah kok masih sama saja. Tidak ada perubahan diantara mereka, justru malah semakin menjadi menuduh orang lain seperti tadi. Aku gak suka, Bi.” “Wajar, Nyonya. Karena Nyonya sepuh melihat tanya kita berdua yang dekat dengan si kembar. Jadi, ya tidak bisa juga melarangnya untuk berpikiran yang macam-macam, sebab pikiran buruk kayak gt sudah pasti ada saja.” “Hah … tahu begitu, aku tidak akan kembali ke Indonesia dan menyebarkan data pribadi. Biarkan saja, perusahaan itu bangkrut tanpa ada yang mengetahui bahwa Johan memiliki penerus. Kalau seperti ini, aku juga yang nantinya akan terus menerus kesal, Bi.” “Tidak boleh seperti itu, Nyonya. Kalau sampai perusahaan bangkrut, bagaimana nanti nasib Tuan Johan dan Nyonya Renata? Apa Nyonya tidak memikirkan hal itu?” “Sebenarnya, untuk apa juga sih aku memikirkan mereka, Bi? Lah, mereka saja tidak pernah memikirkan aku. Menyesal juga kalau aku terus memikirkan mereka yang tidak pernah memikirkan keadaan aku ini, mereka itu semuanya egois, Bi,” keluhnya entah sudah yang keberapa ratus kali, karena memang terus sering mengeluh pada Bi Dar. “Bibi tahu sendiri, aku pergi dari Jakarta dan memilih Singapura untuk kehidupan yang lebih baik. Eh, ini malah diminta kembali dengan sebuah tipu daya yang bikin muak!” geram Mira ketika mengingat apa yang dilakukan oleh Papa dan mamanya, agar bisa memaksa Mira pulang. “Sabar, mungkin itu juga karena mereka rindu, Nyonya. Mereka juga ingin mengenal anak-anak, wajar saja menurut Bibi.” “Wajar, kalau tidak keterlaluan. Untuk apa juga pura-pura sakit parah, agar aku pulang? Kok bisa sampai terpikirkan hal yang seperti ini, gitu loh, Bi.” Bi Dar tersenyum, tidak lagi menjawab semua kata yang keluar dari bibir majikannya. Wanita tua itu lebih memilih untuk mendengarkan tanpa memotong pembicaraan yang sedang berlangsung, memberikan kesempatan pada Mira untuk meluapkan kekesalannya yang kesekian kalinya. Mereka tidak menyadari satu hal, sejak tadi si kembar berada di balik pintu kamar dan menguping semua pembicaraan yang ada. Suara Mira dan Bi Dar memang cukup lantang, apalagi posisi mereka ngobrol itu tepat di depan kamar si kembar, jadi wajar saja mereka mendengar. Mungkin, kedua wanita itu mengira kalau si kembar sudah tidur siang, padahal belum. “Jadi, wanita tua tadi memang keluarga kita, Mich.” “Ya, memang benar. Tapi, entah mengapa aku merasa enggan untuk mengakuinya keluarga. Mami pasti sangat menderita selama ini,” sendu Michael untuk yang pertama kali. “Rupanya, semua keluarga Mami sangat jahat. Aku tidak menyangka kalau kita masih memiliki keluarga, makanya tidak pernah bertanya. Tapi, ketika tahu memiliki keluarga dan seperti itu sikapnya, malah berpikir memang lebih baik tidak punya keluarga. Ya kan, Matthew?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD