Satu Minggu berlalu, selama satu Minggu ini semua anak buah Johan diperintahkan mencari tahu tentang Almira dan kedua anaknya. Tetapi, sampai saat ini belum juga mendapatkan kabar. Johan sudah frustasi karena tidak juga menemukan Mira, padahal rencananya ia ingin segera mengenalkan Mira dan kedua anaknya ke publik, tapi sampai saat ini masih tertunda karena wanita muda itu begitu pandai sekali menyembunyikan dirinya.
Selama satu Minggu ini, Johan sering uring-uringan dan membuat Renata pusing. Sebab, ia juga ingin segera bertemu dengan anak dan kedua cucunya, tetapi suaminya itu belum juga bisa melacak. Entah, apa yang dilakukan wanita muda itu, sampai-sampai belum juga bisa diketahui keberadaannya.
Seperti pagi ini, Johan kembali marah dan ngamuk karena merasa semua pengawalnya itu tidak ada yang pintar. Memaki mereka karena terlalu bodoh, menemukan tiga orang saja tidak bisa.
“Argh!” teriak Johan dengan suara yang keras, gerakan tangannya begitu cepat menyapu meja kerja hingga semua berserakan di bawah. “Bodoh! Kalian semua memang bodoh! Mencari tiga orang saja, dalam satu Minggu ini belum juga menemukannya. Sebenarnya, apa kerja kalian sampai-sampai belum bisa menemukannya!”
Johan terus berteriak tidak jelas, Renata berlari memasuki ruang kerja suaminya itu. Matanya melebar sempurna melihat pemandangan layaknya kapal pecah itu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah suaminya yang semakin menjadi.
Johan memang seperti itu, jika apa yang diinginkannya belum bisa terjadi, maka ia akan melampiaskan amarahnya, tanpa peduli dengan siapa berhadapan. Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, Renata tetap berada di ambang pintu dan tidak berani masuk ke dalam, ia membiarkan lebih dulu suaminya meluapkan semua emosi sampai benar-benar tenang, baru setelah itu akan masuk dan menenangkannya.
“Ada apa?” tanya Renata begitu melihat suaminya sudah menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk itu.
Johan mengangkat kepalanya, menatap nanar ke arah Renata. “Aku capek. Kenapa, susah sekali mencari tahu tentang Almira?”
“Dulu, saat di Singapura, aku bahkan sangat mudah mencari tahu tentangnya. Bukan hanya tentang dirinya, tapi anak-anak dan juga semua aktivitasnya. Foto, alamat bahkan hal-hal penting lainnya, mudah bukan? Itu di negara orang, ini kok bisa di Negara sendiri malah susah banget,” keluhnya.
Renata melangkah masuk, mendekati suaminya dan ikut duduk disofa. Mengusap lembut punggung suaminya, memberikan ketenangan agar tidak lagi meluapkan emosi yang mengerikan itu.
“Sabar, Sayang. Saat ini, Almira sudah lebih banyak belajar dari pengalaman, aku yakin itu. Tidak mungkin juga kalau selama ini di Singapura, ia tidak mengetahui bahwa kita terus mencari tahu. Makanya, ia merasa tenang tapi juga kecewa karena hanya orang lain yang mencari tahu, sedangkan kita yang jelas-jelas sudah tahu keadaan dan kondisinya, memilih tetap diam tanpa meluangkan waktu untuk menemuinya.”
“Aku bisa melihat luka itu masih sangat dalam dari sorot matanya. Aku tahu, kecewa dan luka dia pasti sangat dalam. Ia sudah berusaha, tapi memang kondisinya masih belum memungkinkan untuk dirinya muncul ke publik.”
“Tapi sampai kapan, Renata? Ini sudah hampir enam tahun loh, mau sampai kapan bersembunyi terus-menerus seperti ini?”
“Sampai kapan,” lirihnya bingung. “Aku pun tidak tahu, mungkin sampai Almira benar-benar bisa menerima semuanya dengan hati yang tenang.”
“Hah ….” Johan membuang nafas kasar. “Lelah juga rupanya ya, bermain-main dengan Almira. Kupikir, dia masih gadis polos yang dengan mudah kita setir. Ternyata, Almira berubah menjadi sosok yang baru,” keluh Johan.
“Mungkin, ini semua juga karena kesalahan kita, Sayang. Terlalu menekan dia dan menginginkan dirinya untuk selalu menuruti apa yang kita inginkan. Jadi, ya begini, kita harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada.”
“Tapi, menurut kamu … Almira masih benar-benar ada disini atau justru sudah pindah ke Singapura, atau mungkin ke tempat lain?”
“Segala macam kemungkinan, bisa saja terjadi, Johan. Jadi, daripada menduga-duga, lebih baik kita memberikan sedikit waktu lagi pada Mira.”
Berbeda dengan Miranda yang selama satu Minggu ini selalu datang ke apartemen miliki Almira. Sesuai dengan apa yang dijanjikan olehnya, ia juga menerima tantangan dari cucunya bahwa sanggup untuk mengambil hati kedua cicitnya. Tidak ingin menyerah begitu saja karena Miranda adalah wanita pantang menyerah.
Namun, dalam satu Minggu ini banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya itu. Salah satunya adalah mengenai suami dari cucunya, sampai detik ini dirinya masih belum juga melihat atau menemui lelaki yang berhasil mengobati luka Mira dan memberikan keturunan yang luar biasa tampan juga hebat.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ingin sekali bertanya mengenai hal tersebut, tapi Mira selalu mengalihkan pembicaraan. Pernah juga, beberapa kali bertanya akan hal yang sama, tetapi wanita muda itu justru langsung pergi begitu saja meninggalkan Miranda yang masih ingin bertanya.
Miranda mulai menduga, kalau memang ada yang tidak beres dengan rumah tangga cucunya. Memutar otak untuk mencari tahu hal itu, mudah saja baginya untuk mencari tahu melalui para detektif, tapi itu pasti akan dengan gampang diketahui oleh Almira. Apalagi, wanita muda itu saat ini sudah tidak lagi polos seperti dulu.
Rencananya, Miranda ingin mempertanyakan hal tersebut pada Bi Dar, tapi berpikir akan percuma karena memang wanita tua itu tidak akan mungkin buka mulut. Karena, bekerja pada Almira, bukan pada Miranda seperti Bi Mar. Jadi, Miranda memang harus dengan sabar dan tenang untuk mencari tahu semuanya itu.
“Omah, kita mau main musik,” ucap Matthew tiba-tiba muncul di hadapan Miranda yang langsung tersadar dari lamunannya.
Ya selama satu Minggu ini, setiap sore Almira dan Miranda selalu melihat permainan keren dari kedua bocah itu. Mereka juga perlahan namun pasti, sudah mulai menerima keberadaan Miranda yang selalu saja datang setiap hari.
Awalnya, banyak sekali penolakan apalagi dari Michael. Namun, tiga hari setelah melihat bagaimana cara dan pengorbanan Miranda mendekati si kembar, Almira merasa bahwa wanita tua itu bersungguh-sungguh ingin mengenal kedua bocah itu. Dan, sedikit yakin kalau tidak akan ada paksaan yang dilayangkan oleh wanita tua itu.
Akhirnya, perlahan-lahan Mira mulai menjelaskan pada kedua anak kembarnya, siapa Miranda dan sedikit kehidupan mereka di masa lalu. Mira menceritakan hal-hal yang lebih mudah dipahami saja oleh mereka, jika terlalu berat khawatir banyak bertanya dan nantinya justru dia sendiri yang bingung untuk menjawab.
Jadi, ya seperti sekarang ini keadaannya, Miranda mulai diterima oleh si kembar, walaupun belum seratus persen, apalagi Michael. Wah, bocah satu itu masih jelas-jelas menutup diri walaupun sudah dirayu oleh Matthew. Tapi, Miranda juga tidak memaksakan hal itu, karena Michael adalah Mira versi mini, jadi wanita tua itu tahu betul bagaimana sikap dan sifatnya. Semakin dipaksa, maka akan semakin jauh nantinya, jadi memberikan waktu pada Michael untuk menerima dirinya, mungkin itu adalah jalan yang paling terbaik.
Bocah kembar mulai memainkan alat musik yang dibelikan oleh Miranda beberapa hari yang lalu. Miranda dan Almira duduk manis untuk menyaksikan permainan memukau mereka berdua. Senyuman manis terpancar dari wajah tampan mereka berdua saat menatap Mira, berbeda ketika menatap Miranda, masih ada kecanggungan di dalamnya.
Biasanya, Miranda akan ikut bernyanyi dan mereka berdua mengiringi musiknya. Tapi, khusus untuk sore hari ini, Miranda hanya ingin melihat dan mendengar lantunan melodi indah yang mereka mainkan tanpa harus direcoki oleh suaranya. Walaupun, Matthew memuji bahwa suara Omah Buyutnya itu bagus, tapi tetap saja wanita tua itu merasa malu jika terus ikut bermain dalam permainan musik mereka.
Miranda, Almira dan Bi Dar berdiri lalu bertepuk tangan sangat meriah ketika kedua bocah itu selesai memainkan alat musiknya. Mereka memberikan salam hormat lalu bersorak-sorai karena puas memberikan sajian musik yang memukau pada orang-orang tersayangnya.
Selesai bermain musik, mereka kembali ke kamar dan Bi Dar pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Di ruang tamu, hanya tinggal tersisa Miranda dan Almira yang sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Mira.”
Mira menoleh ketika namanya disebut, mengerutkan dahinya karena mendapatkan tatapan yang tidak ia pahami.
“Kenapa Omah?”
“Boleh omah bertanya satu hal padamu?”
“Silahkan, selama aku bisa menjawabnya maka aku akan menjawab. Tapi, jika tidak bisa ya maaf, mungkin nanti waktu yang akan menjawab semuanya,” tegas Mira.
Miranda sendiri mulai bingung harus bertanya darimana, apalagi sudah mendapatkan ultimatum dari Almira seperti itu. Merasa, kalau cucunya tidak akan menjawab dan pasti waktu yang nantinya menjawab semua rasa penasaran yang hinggap di dalam pikirannya.
“Kok diam? Katanya Omah ingin bertanya, ini malah diam saja.”
“Mira, Omah sudah berhasil masuk ke dalam hati mereka. Sudah bisa juga mengenal mereka lebih dekat lagi, sudah bisa juga menjadi sahabat mereka.”
“Iya, lalu?”
“Apakah Omah boleh bertemu dan berkenalan dengan suami kamu?”
“Untuk apa?”
“Omah ingin berterima kasih padanya, karena sudah berhasil membuat kamu keluar dari rasa trauma terhadap lelaki. Omah jugs ingin berterima kasih, karena sudah memberikan bibit yang luar biasa hingga mendapatkan cicit yang luar biasa sempurna. Ya memang, kamu pun mempunyai bibit yang bagus, tapi terlihat sangat sempurna ketika bercampur dengan bibit suamimu itu.”
“Omah tidak tahu, kapan kalian meresmikan pernikahan kalian. Rasanya, kurang lengkap kalau kita juga tidak meresmikannya disini–”
“Tidak usah banyak bicara omong kosong seperti itu, Omah. Aku tidak perlu merayakan apapun karena memang tidak harus. Untuk apa juga merayakannya? Aku tidak butuh pengakuan, mereka ada bersama denganku saja itu sudah lebih dari cukup. Tidak usah yang lain, nantinya akan berlebihan dan aku tidak mau jika ada masalah di suatu hari nanti, lalu membuat keadaan menjadi sulit.”
“Tapi Mira–”
“Apa Omah masih juga tidak paham dengan Almira Niana Johan yang saat ini? Almira yang sekarang bukan Almira yang dulu, Omah. Jadi, berhenti memaksakan sesuatu padaku, karena aku tidak suka.”
“Dan mengenai suamiku, dia ada. Nanti jika sudah waktunya, aku akan mempertemukan kalian semua dengannya. Tapi, itu nanti saat aku benar-benar merasa bahwa keadaan sudah baik-baik saja. Jadi, sudah cukup untuk hari ini dan semua omong kosongnya, silahkan Omah keluar dari apartemen aku!”