Miranda melebarkan matanya ketika diusir secara halus oleh Mira. Selama hidupnya, Miranda tidak pernah diperlakukan seperti ini tapi Almira dengan lantang mengusirnya tanpa peduli siapa yang sedang dihadapi. Almira memang tidak pernah takut pada siapapun sekarang, ia akan berusaha melawan, jika tidak sesuai dengan perasaannya, jadi mengusir Miranda secara halus pun tidak menjadi masalah untuknya.
“Kenapa diam, Omah? Tidak tahu pintu keluarnya? Itu, masih sama kok,” tunjuk Almira. “Pintu masuk di depan itu sekaligus pintu keluar, jadi mudah sekali, bukan? Tidak perlu diantarkan, ya? Dekat loh.”
“Kamu mengusir Omah, Almira?”
“Iya, kenapa? Apa ada masalah? Tidak mengusir sebenarnya, tapi meminta omah kembali ke rumahnya sendiri. Lagian, ini sudah hampir malam, jadi lebih baik Omah pulang.”
“Berani sekali kau mengusirku, Mira!” sentak Miranda.
Almira menatap sinis Miranda yang mulai terpancing emosinya. Tersenyum menyeringai, menatap lekat wajah tua itu.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh mengusir orang dari rumahku sendiri? Ini rumahku loh, aku yang lebih punya hak berada disini!” tegasnya. “Omah disini, hanyalah tamu! Bukan pemilik rumah, jadi bersikap layaknya tamu itu lebih baik, agar tidak seenaknya!”
Miranda menghentakkan nafas kasar, menyadari bahwa memang saat ini sudah tidak bisa lagi membuat wanita muda itu tunduk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan olehnya, daripada Miranda terus merasa kesal dan berujung penyesalan nantinya, lebih baik ia yang mengalah.
Melihat wajah Almira yang sudah sangat tidak bersahabat, wanita tua itu ragu kalau tetap berada disana, jadi memilih bangkit dan keluar dari unit tanpa mengatakan apapun. Bahkan, pamit pada si kembar pun tidak, ia merasa khawatir jika Almira melarang akan hal itu.
Almira kembali duduk dan memijat pelipisnya yang terasa pening, berhadapan dengan satu orang anggota keluarganya saja sudah bikin pusing kepala. Apalagi nanti ditambah Johan, Renata dan beberapa anggota keluarga lainnya lagi. Mungkin, kepala akan terasa semakin sakit dan tak sanggup lagi menopang.
Merasa percuma duduk di ruang tamu, Almira bangkit dan kembali ke kamarnya untuk memejamkan mata sejenak sambil menenangkan hati dan pikirannya yang sudah mulai agak kacau karena keadaan. Padahal, awalnya ia sudah mulai berdamai dengan keadaan dan berniat untuk menemui kedua orang tuanya dan memperkenalkan anak-anak pada semua orang. Tapi, kejadian ini membuatnya kembali berpikir ulang, ia takut ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam waktu dekat.
*
Miranda keluar dari apartemen mewah itu dengan penuh emosi, namun ia sama sekali tidak bisa melampiaskannya. Kali ini, ia kalah. Ya kalah pada keadaan dan juga sikap Mira yang semakin tegas. Miranda sampai bingung, bagaimana lagi menghadapi wanita muda itu agar kembali menurut dan patuh seperti dulu. Miranda lupa, kalau saat ini Almira sudah bukan lagi anak-anak dan bisa menentukan hidupnya sendiri.
Masuk ke dalam mobil dan membanting pintu lalu menyandarkan tubuhnya di jok pengemudi. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediamannya yang mewah. Sesampainya di rumah, tidak ada wajah bersahabat yang dipancarkan, semua pelayan menundukkan kepalanya karena merasa takut.
Tumben, beberapa hari ini padahal keadaan hari Miranda sangat baik dan bagus, ya itu karena kedua cicitnya. Tapi, hari ini semua seakan kembali lagi pada beberapa waktu yang lalu, sebelum pertemuannya dengan kedua bocah tampan itu.
Setibanya di kamar, Miranda melempar tubuhnya keatas ranjang dan menatap ke atas. Memandang atap kamar yang tidak ada indahnya, tetapi pikirannya melalang buana.
“Argh! Aku tidak boleh seperti ini, seharusnya bisa lebih tenang dalam menghadapi wanita itu. Sekarang, Almira sudah berubah, jadi tidak akan pernah bisa mempan jika aku mengancamnya.”
“Lagi pula, sekalipun aku mengancam, sepertinya tidak akan takut. Aku yakin, kekuasaannya saat ini melebihi aku dan Johan. Salah sedikit saja, maka aku dan Johan yang akan dihancurkan.”
“Ah … kenapa wanita itu sekarang sangat pandai sekali? Sampai tidak bisa dikecoh, padahal aku tidak punya niat jahat. Aku hanya ingin bertemu dengan lelaki yang sudah berhasil membuatnya bangkit dan berterima kasih, itu saja. Bonusnya merayakan pesta mereka dengan mengundang banyak kolega, tapi kenapa Mira ini sangat susah sekali diajak bicara bisnis.”
“Oh ayolah, Miranda. Tenang. Jangan gegabah, nanti semua rencana baik akan gagal karena sikapmu yang gegabah ini.”
Miranda menghela nafas berkali-kali agar hatinya kembali tenang. “Ya aku harus tenang, aku tidak boleh membuat kesalahan sehingga membuat wanita itu justru marah dan melarangku ketemu bocah-bocah tampan itu.”
“Aku punya hak untuk bertemu dengan mereka. Aku pun mulai merasa nyaman dan bahagia berada di dekat mereka berdua. Rasanya, sehari saja tidak bertemu ini menjadi candu yang tidak ada ujungnya.”
“Besok pagi, aku akan kembali kesana. Tidak peduli dengan larangan dari Almira, yang aku tuju adalah kedua bocah itu. Lagi pula, aku sudah bisa mengambil hati dan perhatian dari mereka. Jadi, sepertinya mereka adalah jembatan yang akan memuluskan jalan terjal.”
Miranda tersenyum penuh arti, beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri dan makan malam, setelah itu kembali ke kamar dan beristirahat.
*
Pagi pun tiba, Miranda sudah bangun lebih pagi dari biasanya. Hari ini, ia akan menjalankan misi yang kesekian, ia akan tetap datang ke apartemen Mira untuk mendekati kedua cicitnya sampai mereka berdua bisa merayu wanita muda itu menemui kedua orang tuanya.
Miranda sudah bersiap dan rapih, keluar dari rumah dengan wajah yang ceria. Ia lebih dulu mampir ke toko buah dan kue untuk membawakan pesanan kedua bocah kecil itu seperti biasanya. Ketika mereka sudah menjadi teman bahkan sahabat, kedua bocah itu selalu meminta dibelikan.
Setelah membeli banyak sekali buah dan kue sampai dua plastik, ia pun masuk ke dalam mobil dan meminta supir untuk segera melajukan mobilnya ke apartemen Mira. Sesampainya di pelataran parkir, ia bergegas turun dan masuk ke dalam lift diiringi senyum yang merekah.
Mengetuk pintu unit, namun tertahan karena Bi Dar yang membukanya.
“Maaf, Nyonya. Ada apa?”
“Ada apa? Apa maksudmu bicara seperti itu? Aku datang kemari ya untuk menemui kedua cicitku. Ada masalah?”
“Maaf, Nyonya sepuh. Tapi, Nyonya Almira melarang Nyonya sepuh untuk datang lagi kemari. Katanya, apartemen ini haram hukumnya diinjakkan kaki oleh Nyonya,” jelas Bi Dar dengan perasan takut.
Bi Dar disini hanya menjalankan tugas saja, dirinya bekerja dengan Almira. Jadi sudah seharusnya, mengikuti aturan yang dibuat oleh wanita muda itu. Tidak peduli saat ini sedang berhadapan dengan siapa, baginya Almira lebih penting. Dan, larangan-nya adalah sebuah perintah.
“Hei, jangan lancang ya kamu!” teriak Omah menunjuk Bi Dar. “Berani sekali kamu melarangku seperti ini. Memangnya kamu itu siapa? Hah? Kamu hanya pembantu! Jangan belagu! Aku tidak akan segan-segan memecat, jika kau keterlaluan.”
“Bibi bekerja pada Nyonya muda. Jadi, tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya sepuh. Karena, perintah Nyonya muda yang paling Bibi dengarkan. Silahkan saja, Nyonya sepuh marah-marah, Bibi tidak peduli karena yang berhak memecat adalah Nyonya Mira, bukan Nyonya Miranda,” tegasnya penuh penekanan.
Mata Miranda melebar sempurna, lupa kalau memang Bi Dar bekerja untuk Almira, bukan dirinya. Jadi, mau diberikan ancaman seperti apapun, wanita tua itu tidak akan pernah takut.
“Sudahlah, minggir! Aku tidak peduli dengan larangan yang dibuat Almira! Aku ini buyut mereka, jadi punya hak yang sama untuk datang kesini,” tegasnya.
Miranda mendorong tubuh Bi Dar kesamping, wanita tua itu tidak siap dengan serangan tiba-tiba yang diberikan, hingga membuat tubuhnya yang mulai renta pun menabrak pintu hingga terjatuh. Miranda tersenyum sinis, tidak peduli dengan apa yang terjadi pada wanita tua itu.
Miranda nyelonong masuk, tutup telinga dengan panggilan atau teriakan yang dilayangkan oleh BI Dar. Standby di ruang tamu, lalu menghempaskan tubuhnya seperti biasa disana, menunggu kedua bocah tampan itu keluar dari kamarnya.
“Nyonya, maaf lebih baik sekarang segera pergi!” teriak Bi Dar yang masih berusaha agar wanita tua itu menyingkir dari sana. “Keluar dari sini, sebelum Nyonya Mira bangun!”