Bab 19. Almira Lawan Miranda

1424 Words
Kembar keluar kamar setelah mendengar keributan, bahkan ia mendengar teriakan dari Bi Dar juga. Penasaran, apakah ada maling atau bagaimana. “Omah buyut!” pekik Matthew terkejut langsung berhamburan memeluk Miranda, berbeda dengan Michael yang selalu menyambutnya dengan datar. Walaupun, wanita itu selalu merentangkan kedua tangannya agar bocah kembar satunya itu mendekat, tapi tetap saja tidak ada niat untuk memeluk Miranda. “Michael, sini,” titah Miranda masih merentangkan kedua tangannya. Michael menatap datar Miranda, tidak peduli apa yang diperintahkan oleh wanita tua itu. Matanya liar dan celingukan, mencari dimana Bi Dar berada, ia sempat mendengar teriakan wanita tua yang selama ini sudah sangat baik padanya. Tetapi ia tidak juga menemukannya. “Mik, mau kemana!” panggil Miranda sedikit berteriak, padahal hatinya merasa was-was. Takut, jika nantinya Michael semakin tidak bisa menerima dirinya, ketika melihat Bi Dar tersungkur. Miranda bangkit dan berniat menyusul Michael, lalu sedikit memberi paksaan agar kembali duduk bersama dengannya. Tetapi, Matthew lebih dulu meminta wanita tua itu mengeluarkan semua yang sudah dibawa olehnya, tanpa sedikitpun memberikan waktu untuk mengejar Michael. Michael terkejut melihat Bi Dar yang tersungkur di pintu masuk dan sedang berusaha untuk bangun. “Bi Dar!” pekiknya terkejut. “Bi, kok bisa jatuh. Sini, Mich bantu.” Bi Dar bangkit dibantu oleh Michael dengan susah payah, karena memang bobot wanita itu lumayan berisi sedangkan yang membantunya berdiri itu anak kecil. “Ada apa, Bi? Kok bisa terjatuh?” tanya Michael menyelidik. “Tidak apa-apa, Den. Bibi tadi nabrak pintu,” jawabnya dengan alasan tidak masuk akal. “Bohong! Apa yang sudah dilakukan oleh wanita tua pada Bibi? Kok bisa sampai Bi Dar terjatuh,” tuding bocah cilik itu. “Tidak, Den–” Michael menarik tangan Bi Dar dengan sedikit memaksa setelah pintu tertutup rapat. Ia menarik pengasuhnya sampai di ruang tamu dan menatap nyalang pada Miranda. “Apa yang kau lakukan pada Bi Dar!” teriak Michael membuat Miranda dan Matthew terkejut, bukan hanya mereka tetapi Almira yang masih terlelap pun terkejut dengan teriakan anaknya yang menggelegar. “Kamu itu siapa? Hah? Berani sekali melukai, Bi Dar!” teriaknya lagi menunjuk wanita tua yang ada di sebelahnya. Matthew bangkit, melihat ada sedikit luka kecil di pelipis mata Bi Dar. Ia memicingkan matanya, mencari kebohongan di dalam wajah Bi Dar, lalu menoleh cepat pada Miranda. “Apa yang kau lakukan, Omah Buyut?” “Tidak ada. Omah hanya tidak sengaja menabraknya saja, anak-anak,” jawabnya mencoba tetap tenang walaupun hati rasanya sudah tidak karuan. “Bohong!” teriak mereka berdua lantang, Mira kembali mendengar teriakan dari dalam kamarnya. Merasa yakin, yang didengar olehnya itu nyata, bukan mimpi atau semacamnya. “Jika aku disuruh milih, maka akan lebih milih Bi Dar sebagai omah, karena selalu ada untuk kami. Daripada kamu, datang tanpa diundang dan ingin dianggap keluarga,” sindir Michael. “Den,” tegur Bi Dar. “Tidak boleh seperti itu bicaranya.” “Dar, kamu jangan sok baik ya! Kamu sudah racuni mereka untuk membenci aku, bukan? Lihat sekarang kamu berhasil! Kamu melarang aku untuk masuk ke dalam, padahal tujuannya bertemu mereka. Kamu itu, harusnya sadar diri, hanya pembantu tapi gayanya seperti Nyonya,” sindir Miranda. “Kalau saja, kamu tidak melarangku masuk. Maka, kamu tidak akan terluka bukan,” ejek Miranda menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “Oh, jadi memang kamu pelakunya? Kamu yang melukai Bi Dar!” bentak Michael. “Berani sekali!” “Sayang, Omah hanya ingin bertemu dengan kalian. Tapi, wanita tidak tahu diri ini melarangnya. Padahal, setiap hari omah datang untuk ketemu dengan kalian, bukan? Sepertinya, wanita tidak tahu diri ini merasa iri karena kedekatan kita, jadi berusaha untuk memisahkan kita,” ucap Miranda bicara omong kosong. “Bohong, Den. Bibi tidak mungkin melakukan hal serendah itu, kalian lebih tahu bagaimana karakter Bibi bukan? Apa mungkin Bibi iri dan melarang? Padahal, selama satu Minggu ini setiap kali Nyonya sepuh datang, Bibi selalu meminta kalian untuk bersikap baik bukan?” Keduanya mengangguk membenarkan. “Bibi melarangnya masuk bukan tanpa alasan, tapi memang karena perintah dari Mami.” “Kalian juga tahu, Bi Dar tidak akan mungkin ambil sikap kalau tak ada perintah. Ya kan? Kalian tahu sendiri, bagaimana Mami Almira jika sudah memberikan perintah.” “Bohong, Sayang! Itu pasti akal-akalannya saja, Mami tidak mungkin memberikan perintah seperti itu–” “Ada apa ini?” tanya Mira datar, muncul dari balik pintu kamarnya. “Sayang!” pekik Omah mendekati Mira. “Lihat, pembantu kamu yang tidak tahu diri ini bisa-bisanya mengusir Omah dan tidak memperbolehkan masuk. Lalu, meracuni pikiran Michael untuk membenci Omah. Lebih baik kamu pecat saja wanita tua tidak tahu diri ini!” hardik Omah penuh emosi. Mira melepas tangan Omah yang bergelayut di tangannya, lalu melangkah mendekati Bi Dar yang terlihat takut dan tidak berani mengangkat kepalanya. Miranda merasa besar kepala, karena sebentar lagi pasti Bi Dar akan dimarahi habis-habisan oleh Mira. “Siapa tadi yang disebut pembantu?” tanya Mira berbalik arah menatap tajam Miranda. “Ya ini, wanita tua ini. Wanita tidak tahu diri.” “Memangnya, kata siapa wanita ini pembantu?” tanya Mira datar. “Bi Dar, bukan pembantu. Wanita yang dianggap pembantu ini memang pengasuh kedua anakku, tapi aku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Bahkan, aku menganggapnya seperti nenek ku sendiri.” “A-apa? Jangan gila, Mira! Bisa-bisanya kamu menganggap wanita miskin ini Nenek? Aku yang jelas-jelas Nenekmu! Kaya raya, punya segalanya, kekuasaan–” “Tapi, tidak punya hati dan pikiran. Betul begitu, bukan?” ejek Mira membungkam mulut Miranda. “Mi, kenapa kasar sekali bicaranya? Tidak boleh seperti itu, Mi–” “Diam, Matthew! Jangan ikut campur karena kamu masih kecil dan tidak tahu apapun yang sudah terjadi. Jadi, lebih baik tutup mulutmu karena Mami sedang tidak bicara padamu!” Awalnya, Miranda merasa lega dan besar kepala karena Matthew membelanya, ia juga berharap jika bocah itu dapat menolongnya. Tapi, harapan tinggallah sebuah harapan, Matthew sudah jelas tidak akan bisa berbuat apa-apa. “Mira, seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu pada Matthew. Wajar dong, kalau dia membela buyutnya sendiri daripada membela orang lain,” tegas Miranda berani. Almira terkekeh mendengar jawaban dari Miranda. “Memangnya, Matthew disini punya hak bicara apa? Lihat, dia masih kecil bahkan sangat kecil, usianya masih lima tahun, aku ingatkan sekali lagi kalau memang Nyonya Miranda yang terhormat ini lupa,” tegasnya nyalang. “Dan satu lagi, jangan pernah ikut campur dengan cara aku mendidik mereka. Setidaknya, aku mendidik mereka berdua lebih baik daripada kalian mendidik aku dulu, Nyonya Miranda yang terhormat.” “Lalu, ada keperluan apa datang kemari sepagi ini dan membuat keributan?” “Sayang, kamu kok bicaranya seperti itu. Omah tidak bermaksud ikut campur dengan cara mendidik kepada mereka, hanya mengingatkan saja–” “Jadi, apa tujuanmu kemari, Nyonya?” Miranda menghela nafas, tidak bisa jika berhadapan dengan wanita muda itu dengan kepala panas dan penuh emosi. Sekarang, berhadapan dengan Mira itu harus dengan hati yang tenang dan nyaman. Jika dilawan dengan api, maka wanita muda itu akan semakin menjadi api yang membara. “Datang seperti biasa, bertemu dan bermain dengan mereka sampai sore. Tapi, dihalangi oleh wanita tidak tahu diri ini. Masa, omah tidak diperbolehkan masuk dan bertemu dengan kalian. Wanita tua ini, pasti sudah meracuni otakmu dan anak-anak,” tuding Miranda menatap nyalang Bi Dar. “Tidak. Wanita yang kau tuduh terus-menerus sejak tadi, tidak pernah mengajarkan hal yang tidak baik padaku atau anak-anak. Ia selalu mengajarkan kebaikan, tidak seperti kalian. Bahkan, wanita tua ini juga yang sudah berhasil merayu aku untuk bisa menerima Nyonya Miranda masuk ke dalam unit dan mendekatkan diri pada anak-anak.” “Aku memang yang meminta Bi Dar untuk melakukan hal ini. Melarang Nyonya Mirand masuk ketika datang dan diperbolehkan mengusir dengan cara apapun, sekalipun itu dengan cara kekerasan.” “Aku tidak sudi, unit apartemen yang ditinggali penuh dengan kebahagiaan ini harus rusak karena sikap aroganmu, Nyonya Miranda!” “Sudah sering aku katakan, jangan mempertanyakan hal yang tidak seharusnya dipertanyakan. Karena aku gak suka! Jika kau meragukan aku bisa bangkit karena seorang suami, itu sama dengan artinya kau meragukan keberadaan kedua bocah ini.” “Nanti, jika sudah waktunya pun, aku akan menjelaskan semuanya. Bukan hanya pada kalian, tapi juga publik. Kau, selalu mempertanyakan sosok pria yang membuatku sembuh. Dan itu, aku gak suka!” teriaknya penuh emosi. “Setiap waktu, setiap saat bahkan setiap ada kesempatan, kau selalu mempertanyakan hal yang sama. Dan aku merasa muak!” “Jadi, berhenti mencari tahu apapun itu. Jika terus memaksakan, maka akan aku pastikan, kalian tidak akan pernah bisa lagi bertemu denganku dan anak-anak!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD