Bab 21. Matthew Dipaksa Ikut

1500 Words
Mata Miranda melebar mendengar ancaman yang baru saja dilayangkan oleh Almira. Wanita tua itu menatap sang cucu dengan tatapan sendu, sungguh hatinya terluka karena ancaman Mira, tetapi ia sendiri tidak bisa sadar kalau ancaman tersebut pun karena ulahnya sendiri. Miranda mendekati Mira, meraih tangannya dengan lembut lalu menggenggam erat. “Tidak. Jangan lakukan itu, Sayang. Oma mohon,” lirihnya. “Tolong, jangan pernah pergi lagi. Jangan tinggalkan kami semua lebih jauh dari sebelumnya, Mira.” Mata Miranda mulai berkaca-kaca, berusaha untuk tetap tenang walaupun bulir kristal sejak tadi sudah menumpuk tepat di pelupuk matanya. Ini bukan tipu daya, tapi memang Miranda benar-benar takut untuk kehilangan Almira dan kedua anaknya lagi. “Maafkan, Oma. Maaf karena Oma masih belum bisa mengendalikan diri, maaf karena Oma masih terus memaksakan diri. Maafkan Oma, Sayang.” Mira masih tetap diam, berdiri layaknya patung. Menatap datar Miranda yang terus memohon, hatinya telah mati karena urusan pribadinya itu diacak-acak. Ia tidak akan semarah ini, jika Omanya bisa mengendalikan diri. Sudah sering diperingatkan, bahkan berkali-kali tapi tetap saja tidak mendengarkan. Hal itu yang membuat Mira marah dan kesal. “Sudahlah, Oma. Jangan terlalu banyak drama,” cetus Mira mendelik tajam. “Aku sudah muak dengan drama kalian, satu keluarga hobi sekali memainkan drama. Bisa gak sih, hidup tanpa drama begitu? Susah ya?” “Tidak. Oma sedang tidak memainkan drama, Mira. Oma benar-benar tidak ingin kalian pergi dari hidup Oma. Sudah cukup, lima tahun ini tidak ada komunikasi, sekarang tidak boleh terjadi lagi. Oma janji, tidak akan lagi mempertanyakan hal yang tidak sepatutnya dipertanyakan.” “Oma sudah sangat keterlaluan sekali dan aku tidak suka dengan sikap Oma yang seperti itu. Oma, seakan tidak bisa menghargai privasi aku sendiri, maunya ikut campur terus, cari tahu terus. Dan aku, tidak suka!” “Maaf, Mira. Oma tidak akan melakukan hal itu lagi, Oma janji. Tapi tolong, jangan pernah pergi lagi dari sini, sudah cukup, Nak. Sudah cukup!” “Sekarang, lebih baik Oma pulang. Aku dan anak-anak mau istirahat tanpa adanya gangguan atau keributan lagi,” tegas Mira. Miranda kembali terkejut dengan permintaan cucunya itu, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun. Ingin sekali membuka mulutnya lagi dan menjawab, tapi Mira sudah melepaskan tangannya lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya lagi. “Mi, jangan begitu sama Oma Buyut!” protes Matthew, menghentikan langkah kaki Mira dan langsung berbalik arah menatap bocah itu tajam. “Jadi, kau lebih memihak pada wanita tua itu, Matt? Kalau begitu, silahkan saja. Kamu boleh ikut pergi bersama dengannya, tapi ingat sekali kamu melangkahkan kaki pergi dari rumah ini, maka jangan pernah kembali lagi. Mami pastikan, kamu tidak akan pernah punya tempat lagi di hati mami!” tegas Mira, Matthew tertegun dengan ancaman yang diberikan oleh Maminya. “Diam, tidak usah banyak bicara dan tetap menurut saja. Itu lebih baik, daripada kamu membuat Mami marah, Matt.” “Mi–” Mira mengangkat tangannya, enggan untuk mendengarkan protes Matthew lagi. Melangkah maju masuk ke dalam kamar, namun belum juga menutup pintu, ia mendengar percakapan yang menjengkelkan. “Ayo, Matthew. Lebih baik kamu ikut dengan Oma Buyut. Oma akan menjamin semua kau yang butuhkan dan perlukan. Oma tidak akan membuatmu sengsara, Sayang. Kamu mau–” “Silahkan, Matthew. Ada yang ingin menjamin hidupmu itu, Mami persilahkan jika memang ingin pergi. Tapi, jangan pernah mencari lagi dimana Mami dan Michael berada nantinya.” Matthew menggelengkan kepala, sikap anak-anaknya mulai muncul. Ia merasa takut ditinggal oleh Mami dan kembarannya itu. Menatap Mira yang juga sedang menatap ke arahnya dengan tatapan datar, itu semakin membuat Matthew takut jika Maminya benar-benar enggan untuk mencegahnya. “Matthew, ayo sayang. Ikut Oma saja,” rayu Miranda lagi. Miranda berpikir, tidak masalah jika memang Almira mengusir Matthew karena membela dirinya. Miranda sendiri merasa sedikit menghangat, jika Matthew benar-benar ingin ikut bersama dengannya. Miranda berjanji pada diri sendiri, jika memang Matthew mau ikut bersama dengannya. Maka, ia akan menjaga dan merawatnya dengan baik, melebihi Almira yang merawat dan menjaganya. Tidak akan sedikitpun membuatnya susah ataupun terluka. “Sama, Matthew. Tunggu apalagi? Pergi sana!” usir Michael. Kembarannya itu langsung menoleh dan menatap sendu, takut jika memang benar-benar tidak ada lagi tempat buat Matthew di hati mereka. “Tuh, Oma Buyut kesayangan kamu sudah menunggu. Aku yakin, setelah ini aksesmu untuk bertemu atau komunikasi dengan kami putus. Bukan hanya wanita tua ini saja yang nantinya akan memutuskan komunikasi kita. Tapi juga, Mami yang sudah terlanjur kecewa dan sakit hati denganmu. Kamu ternyata lebih membela wanita tua itu dibandingkan orang tua sendiri. Aku juga kecewa, karena kamu tidak bisa tegas, Matt.” Michael bicara dengan wajah datarnya, lalu melangkah mendekati Maminya. Ia akan ikut bersama Mira masuk ke dalam kamar. Berjanji tidak akan pernah meninggalkan wanita itu sendirian, apalagi kalau memang Matthew benar-benar mengambil keputusan untuk ikut bersama dengan Oma Buyut. Michael akan memastikan, tidak boleh ada lagi yang menyakiti hati Almira, siapapun itu, tanpa terkecuali. “Ayo mi, kita masuk saja,” ajak Michael meraih tangan Mira untuk masuk ke dalam kamar. “Bi Dar, nanti kalau kedua orang tua itu sudah pergi. Tolong, tutup pintunya rapat-rapat dan pastikan, tidak ada yang bisa masuk lagi kesini,” tegas Michael. “Mik, kamu itu masih kecil, kok bisa-bisanya bicara seperti itu–” “Diam! Aku sedang tidak bicara denganmu!” bentak Michael. “Sana, bawa Matthew, itu memang rencana kamu kan? Keinginan kamu kan, wanita tua? Satu persatu anak Mami ikut denganmu dan kamu akan merusak semuanya!” “Benar-benar seperti Almira. Suka tidak ada remnya jika bicara, padahal sedang bicara dengan orang tua,” keluh Miranda menggelengkan kepalanya. “Ayo Matthew, kita pergi,” ajak Miranda meraih tangan bocah kecil itu dan menariknya agak sedikit kasar agar ikut bersama dengannya. Miranda juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, mumpung secara tidak langsung mendapatkan izin dari Mira untuk membawa salah satu anaknya pergi. “Tidak, Oma! Berhenti!” sentak Matthew melepaskan tangannya dengan kasar lalu berlari ke arah Mira yang tersenyum sinis karena melihat amarah dari wajah Miranda. “Kalau mau pergi, silahkan Oma saja yang pergi dari sini dan jangan pernah kembali. Aku tidak mau ikut, sejak awal aku hidup hanya bersama dengan Mami, Michael dan Bi Dar. Aku tidak mengenal Oma, karena kita baru saja bertemu. Aku juga tidak bisa mempercayai Oma begitu saja, karena selama ini tidak pernah ada untuk Mami, itu sudah cukup menjelaskan bahwa Oma ini orangnya seperti apa dan bagaimana.” “Jadi, silahkan Oma pergi dari sini dan jangan pernah kembali!” tegas Matthew. “Matthew, kenapa kamu berubah pikiran? Oma tidak akan pernah menyakiti kamu, Nak. Oma memiliki banyak hal untuk kamu. Kamu juga tidak akan pernah kekurangan apapun, Nak.” “Tidak! Aku tidak butuh apapun, aku hanya butuh Mami dan Michael saja. Cepat Oma pergi sana! Aku gak mau nanti dibenci Mami, hanya gara-gara Oma tetap berada disini dan memaksaku terus untuk ikut. Aku tidak mau ikut!” “Matthew–” Tidak mau lagi mendengar semua ucapan dari Miranda, Matthew langsung membuka pintu kamar dan mengajak Mami juga Michael segera masuk ke dalam. Matthew tidak ingin jika wanita tua itu terus-menerus meracuni pikiran dan hatinya. Sudah cukup membuat keributan antara dirinya dan orang tua juga kembarannya, tidak boleh lagi dikasih celah untuk membuat keributan. “Bi Dar, usir saja wanita tua itu. Jangan sampai terus-menerus membuat keributan disini,” tegas Michael masuk ke dalam kamar dan menutup pintu keras. Hati Miranda mencelos melihat cucu dan kedua cicitnya masuk. Mereka benar-benar enggan untuk kembali menoleh atau sekedar menenangkannya. “Nyonya, mendapatkan hati mereka itu mudah tapi Nyonya selalu saja salah langkah,” celetuk Bi Dar. “Diam kamu wanita kampung! Ini semua juga gara-gara kamu! Kalau saja, kamu tidak membuatku marah, tidak akan seperti ini kejadiannya.” “Nyonya yang menerobos masuk, kalau saja mengikuti apa yang Bibi katakan. Bibi jamin, Nyonya akan diterima kembali disini. Padahal, tadi Bibi ingin menjelaskan bagaimana cara untuk bisa tetap baik di mata mereka, tapi Nyonya justru bersikap kasar pada Bibi.” “Halah, diam saja deh orang miskin. Kamu memang pengacau segalanya!” Miranda melangkah meninggalkan Bi Dar yang tetap mengikuti dari belakang. “Jika Nyonya, tetap bersikap seenaknya dan tidak bisa baik pada semua orang. Maka, Bibi pastikan semakin susah untuk diterima oleh mereka bertiga. Nyonya memang memiliki segalanya, tapi tidak dengan ketulusan.” “Nyonya mengandalkan kekuasaan, kekuatan dan kekayaan. Tapi, mereka tidak membutuhkan semua itu, Nyonya. Berubah menjadi lebih baik lagi, tidak ada salahnya. Hargai semua orang, tanpa pernah melihat apa statusnya, maka mereka akan bisa menerima.” “Apalagi, Tuan pun bukan dari kalangan orang berada.” Miranda yang sudah berada diluar langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah saat mendapatkan sedikit informasi dari Bi Dar. Wanita itu akan melangkah maju, tapi Bi Dar lebih dulu menutup pintu dengan keras. Baginya, sudah cukup memberikan sedikit informasi itu, tidak lagi yang lain. Wanita tua itu juga takut jika nantinya Miranda akan memaksa banyak informasi mengenai ayah kedua bocah kembar itu. “Sialan! Buka, Dar! Aku yakin, dari awal kau memang tahu sesuatu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD