“Kalau kamu setuju, sekarang juga aku akan memberikanmu satu milyar sebagai kompensasi. Gimana menurutmu?”
“Tapi bukankah di negara ini memberikan donor benih tanpa pernikahan sah dilarang pemerintah?” tanya Rafa bingung.
“Itu sebabnya aku akan melakukan proses ini di luar negeri. Jadi gimana, kamu mau kan bantuin aku?”
Mira tersenyum lembut, "Aku butuh solusi untuk masalah aku, dan aku yakin kamu bisa membantuku. Aku juga hampir putus asa ketika dituntut harus menikah sedangkan aku tidak suka melakukan kegiatan suami istri, aku merasa jijik dan sangat kotor. Ah lupakan hal ini, jadi, kamu mau kan menolongku? Kamu tidak perlu memikirkan hal lainnya, cukup bilang ‘ya’ maka masalahmu juga akan sirna,” jelas Almira yang merasa yakin mereka akan bekerja sama. Sama-sama keluar dari masalah mereka.
Rafa mempertimbangkan dengan hati-hati, melihat kesempatan baru di hadapannya. Almira dan Rafa sepakat untuk memulai perjanjian ini, membuka lembaran baru dalam hidup mereka yang sarat dengan tantangan.
“Ya. Aku akan membantumu. Demi biaya pengobatan ibuku,” jawab Rafa yakin.
“Sekarang, berikan nomor rekeningmu. Aku akan memberikan sebagian uang dari kesepakatan kita. Agar kamu tidak mengundurkan diri jika proses ini belum berhasil.”
Rafa memberikan nomor rekeningnya dengan wajah polosnya. Dan tidak lama terdengar sebuah notifikasi di ponsel lamanya.
Matanya membulat sempurna ketika melihat angka lima dengan banyak nol di belakangnya.
“I, ini seriusan? Kamu gak bercanda?” tanya Rafa yang tidak percaya ada uang sebanyak itu di dalam rekeningnya.
“Serius. Minggu depan kita mulai prosesnya. Kita ke rumah sakit di Singapura dan melakukan proses inseminasi di sana,” papar Mira lalu pergi ke kamarnya.
“Lalu bagaimana dengan ibuku?”
“Bilang saja kamu sudah dapat kerjaan. Tapi dalam beberapa minggu harus training dulu. Kalau berhasil, kamu sudah boleh pulang ke Indonesia,” jawab Mira santai.
“Hoam.” Mira menguap. Ia lalu memutuskan untuk pergi ke kamar.
Tapi sebelum itu ia sempat berkata,” Aku sangat lelah dan stres akhir-akhir ini, jadi aku sangat butuh tidur sekarang. Kamu kalau mau pulang, pulang saja. Kalau kamu tidak ada tempat tinggal kamu boleh tidur di apartemen ini. Dan kalau kamu lapar kamu boleh makan sesukamu. Lakukan sesukamu. Anggap saja rumah sendiri. Dah ya, aku ngantuk banget.”
Mira tidak merasa pemuda yang ia temukan di pinggir jalan itu berbahaya, jadi ia tidak merasa perlu waspada padanya. Ia bahkan mempersilahkan Rafa untuk tinggal di sana tanpa merasa takut sama sekali padahal dia wanita yang tinggal seorang diri di sana.
Ia sengaja berkata seperti itu, karena tadi Rafa sempat bercerita kalau ia sudah diusir dari kontrakan dan sekarang sedang bingung mau tinggal di mana? Ia hanya bisa membawa beberapa barang saja karena sisanya untuk membayar tunggakan.
Pagi buta, usai mandi Almira mencium bau makanan yang sepertinya sangat lezat. Ia belum pernah mencium bau masakan seenak itu. Mira lantas bergegas keluar kamar dan menuju ke dapur.
Ternyata Rafa, dengan kaos oblongnya sedang memasak di dapur milik Almira. Rambutnya masih basah dan ia bertelanjang kaki. Hanya mengenakan kaos murah saja, Rafa terlihat sangat menawan. Apalagi melihat kulitnya yang sangat putih seperti s**u. Kulit Almira saja kalah putihnya. Ia baru sadar karena semalam pemuda itu memakai kemeja panjang.
Pemuda itu terlihat sangat lihai menggunakan alat-alat dapur yang tidak pernah ia gunakan sama sekali.
“Sedang apa?” tanya Almira ketika sudah sampai di dapur.
“Masak. Hanya ada ini, jadi makan seadanya aja. Kamu gak terlalu suka masak ya?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Kelihatan dari tangan dan alat mak di dapur kamu,” jawab pemuda itu polos-polos minta dijitak.
“Sialan.”
“For your information, aku lebih tua sepuluh tahun dari kamu, jadi jaga sikapmu,” ucap Almira.
“Iya, Mbak.”
Almira melotot tajam ke arah Rafa. “Sialan,” ucapnya lalu mencomot sedikit masakan Rafa yang sudah dituangkan ke atas piring.
“Panas, panas,” aduh Mira ketika seperti ada bara masuk ke dalam mulutnya.
Tiba hari di mana Almira dan Rafa berangkat ke Singapura. Beberapa hari yang lalu, Rafa sudah berpamitan dengan ibunya jadi ia bisa pergi keluar negeri dengan tenang selama beberapa minggu.
Rafa dan Mira menjalani proses inseminasi buatan dengan tekad dan harapan. Selama beberapa hari Rafa melakukan serangkaian proses pemeriksaan.
Karena sebelum menjadi pendonor s****a, seseorang harus melalui serangkaian proses evaluasi yang ketat. Proses ini melibatkan langkah-langkah untuk memastikan bahwa pendonor memenuhi kriteria kesehatan dan keselamatan yang ditetapkan oleh lembaga kesehatan atau bank s****a.
Calon pendonor akan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan pribadi dan keluarga. Ini melibatkan penilaian terhadap penyakit menular seksual, penyakit genetik, dan kondisi kesehatan lainnya.
Pendonor s****a juga diuji untuk penyakit menular seksual seperti HIV, sifilis, dan hepatitis. Ini adalah langkah kritis untuk memastikan keamanan penerima dan integritas s****a yang disumbangkan.
Beberapa bank s****a melakukan uji genetik untuk menyingkirkan risiko penyakit genetik yang dapat diturunkan kepada keturunan.
Setelah melewati semua langkah ini dan memenuhi kriteria yang ditetapkan, seseorang dapat dianggap sebagai pendonor s****a yang sudah menjalani serangkaian proses pemeriksaan dan Rafa sudah melakukan itu semua.
Esok hari Rafa akan mendonorkan benih untuk diberikan kepada Almira. Ia merasa sedikit tegang meski proses pembuahan tidak terjadi secara konvensional.
“Mbak, kalau proses ini berhasil dan Mbak hamil tanpa sebuah pernikahan, apa keluarga Mbak gak apa-apa?” tanya Rafa suatu malam ketika makan malam bersama Almira di apartemen mereka di Singapura.
Almira meletakkan sendoknya lalu menatap Rafa malas.
“Keluarga aku gak ada yang peduli sama trauma aku. Kalau mereka peduli, mereka gak akan maksa aku punya anak sedangkan aku jijik melakukan hubungan itu. Jadi buat apa aku peduli sama nama baik keluarga? Toh aku hamil pake donor benih, bukan hamil karena seks bebas,” jawab Mira membela diri.
“Terus, kenapa Mbak milih aku buat donor? Mbak gak takut aku jahatin Mbak?”
“Aku percaya kamu orang baik. Keliatan soalnya,” jawab Mira asal.
“Dari?”
“Bunuh diri. Orang jahat gak mungkin bunuh diri. Yang ada mereka yang bunuhin orang,” jawab Mira asal lalu ketawa terbahak. Sampai-sampai ia tersedak ludahnya sendiri.
Rafa memutar bola matanya melihat kelakuan Almira. Sudah berumur tapi sering sekali cerobohnya.
“Mbak udah selesai pemeriksaan juga?” tanya Rafa sambil mengangkat piring kotor miliknya dan juga Mira. Ia membawanya ke wastafel untuk dicuci.
“Udah, tinggal nunggu benih dari kamu aja,” jawab Mira acuh tak acuh.
Tiba-tiba pemuda polos itu tersedak air putih yang sedang ia minum.
“Kenapa?”
“Kalimatnya jangan bikin orang mikir yang aneh-aneh, Mbak,” jawab Rafa sedikit kesal karena ulah wanita itu.