Bab 3. Almira Menyadari Satu Hal Penting

1185 Words
“Walau gimana, aku ini laki-laki normal, Mbak,” ucap Rafa yang seketika membuat Almira tersadarkan fakta. "Bener juga. Rafa ini kan cowok normal. Tapi kok aku gak mikir kesana ya?" batin Almira sambil menatap pemuda yang sedang mengusap bibirnya yang basah karena tersedak minuman. * Almira tidak bisa tidur. Ia bingung kenapa selama beberapa hari ini tinggal sama Rafa tapi ia baru sadar kalau Rafa itu laki-laki normal. Ia tahu pemuda itu punya benih yang ia inginkan tapi ia tidak merasa terancam dengan kehadirannya seperti kalau ia bertemu klien yang berbeda jenis kelamin. “Iya, ya. Kok aku baru sadar kalo Rafa itu laki-laki normal? Bisa-bisanya?” Tanpa menunggu lagi, Almira segera mengambil ponselnya dan menghubungi Aluna, dokter kandungannya. Pada deringan kelima, baru sambungan itu tersambung. “Gila kamu ya. Jam segini telpon orang? Gak liat jam kamu? Atau gak punya jam?” gerutu Aluna ketika melihat nama Almira yang sedang memanggil. “Aku kok baru sadar ya, selama beberapa hari tinggal sama laki-laki, penyakit PTSD ku gak kambuh? Aku juga gak OCD setelah beberapa kali bersentuhan tapi gak sengaja. Itu kira-kira kenapa ya?” “Gila lo ya? Saking stresnya sampe-sampe tinggal sama laki-laki yang bukan suaminya?” “Ah aku lupa bilang, aku udah nemu donor benihnya. Jadi kamu gak perlu cariin lagi. Tapi jawab dulu pertanyaan aku, Lun. Aku kenapa?” “For your information kalau kamu lupa, aku itu dokter kandungan, bukan dokter psikiater, Almira Naina Johan Sunjoyo,” jelas Aluna gemas akan tingkah sang sahabatnya. “Kira-kira kenapa ya?” tanya Mira yang sukses bikin Aluna merasa diabaikan. “Kamu gak mungkin suka sama tu cowok kan? Lagian kamu nemu di mana laki-laki itu? Kalau dia orang jahat gimana? Kalau dia ambil kesempatan pas kamu tidur gimana? Kalau dia rampok gimana?” cecar dokter yang sudah memiliki dua anak tersebut. “Tapi aku merasa dia bukan orang jahat. Dia cukup sopan dan menawan, eh,” ucap Almira keceplosan. “Kamu suka ma dia? Gas aja kalau kamu suka. Biar sakitmu sembuh dan gak kambuh-kambuh lagi,” jawab Aluna acuh tak acuh. “Dokter sesat,” maki Almira lalu menutup panggilan teleponnya. * Setelah sukses melakukan proses inseminasi buatan, Almira dinyatakan hamil. Mereka berdua pulang ke Indonesia dengan perasaan campur aduk. Karena sesampainya di negara asal, mereka akan berpisah seperti orang asing yang tidak pernah kenal. Almira kembali beraktifitas di kantor tanpa memberitahu orang tuanya kalau dirinya sedang berbadan dua. Ia masih kesal karena dipaksa memiliki anak di tengah penyakitnya. Sedangkan Rafa, ia langsung membeli sebuah rumah sederhana di pinggiran kota dan sedang berusaha mencari kerja. Maklum dia hanya lulus SMA dan tidak melanjutkan hingga ke jenjang selanjutnya. Beberapa minggu kemudian, Almira mulai merasa kesepian dan tidak nyaman tidur tanpa kehadiran Rafa. Meskipun mereka memiliki rumah sendiri, perasaan kebersamaan yang telah terbentuk selama proses inseminasi buatan tetap menjadi bagian penting dari hidupnya. Kehidupan yang terpisah membuatnya merindukan hubungan akrab yang mereka bangun bersama selama perjalanan mereka. Keinginan itu semakin kuat ketika usia kehamilan memasuki minggu kedelapan. Ia semakin sering mual-mual dan lemah. Di pikirannya hanya ada pemuda lugu itu saja. Seperti kebiasaan Almira, ia akan menghubungi Aluna, sang sahabat yang juga menjadi dokter kandungannya. “Apalagi? Malem-malem ganggu orang terus? Gak ada kerjaan kamu?” protes Aluna dengan suara serak. Terlihat ia baru saja bangun. “Kok aku mual-mual terus ya, Lun? Terus aku pengen satu rumah terus sama yang donorin benihnya ke aku? Aku kek keinget-inget terus sama aroma dia kalo lagi masak bareng atau cuci piring bareng,” curhat Almira sangat ingin tahu. “Itu mungkin kamu ngidam, Mir. Biasanya kalo udah diturutin baru ngidam itu ilang,” jawab Aluna seperti pengalamannya ketika dua kali hamil dulu. “Gitu ya? Ok deh,” jawab Almira lalu memutus panggilannya secara sepihak. * Sementara itu Rafa juga merasakan kekosongan dalam hidupnya tanpa kehadiran sosok Almira. Wanita yang lebih tua sepuluh tahun itu sering ceroboh walau ia akui cara berpikirnya cepat. Ia sedang menyiapkan makan malam ketika ibunya keluar dari kamar. “Kamu mikirin apa, Raf? Kok sampe melamun?” tanya Ibu Murni sambil berjalan ke arah meja makan. “Eh Ibu. Gak, Bu. Aku gak ngelamunin apa-apa kok,” sanggah Rafa kemudian melanjutkan pekerjaannya. “Kalau kamu ada yang dikangenin, bilang aja ke orangnya langsung. Jangan cuma melamun saja,” ucap Ibu Murni sambil tersenyum lembut. “Gak ada, Bu. Aku gak kangen siapa-siapa kok. Aku cuma senang kita bisa punya tempat tinggal tanpa bingung bayar kontrakan,” ucap Rafa tenang. “Oh ya, kata kamu, kamu beberapa minggu yang lalu magang, lalu sudah berhasil diterima belum? Atau belum ada kabar?” tanya ibu yang ingat dengan perkataan sang putra ketika ia hendak pergi beberapa minggu. “Ehm itu, aku masih nunggu kabar, Bu,” jawab Rafa berbohong. * Mira hendak ke rumah Rafa hari itu. tapi ketika membuka pintu mobil, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. “Non, Papa Non Almira minta Non pulang hari ini dan ini penting,” ucap Bi Mar, pelayan di rumah papanya. “Soal apa lagi, Bi?” tanya Mira malas. “Ehm, soal itu, Non. Soal anak. Papanya Non udah gak bisa nunggu lagi. Beliau ingin Nona pulang ke rumah hari ini juga,” jelas Bi Mar takut-takut. Takut kalau Almira akan meledak marahnya. “Pria tua itu,” maki Almira lalu menutup sambungan. Ia sudah tidak tahan lagi mendengar rengekan orang tuanya yang terus-terusan meminta cucu. Dikira punya cucu gampang apa? Rencana Mira hari itu batal. Akhirnya ia lebih memilih ke rumah papanya dan menghentikan segala rengekan sang papa yang terus meminta cucu kepadanya. Ia melajukan mobil kesayangannya menuju kediaman papa Johan yang berjarak sekitar satu jam dari apartemennya. Sampai di rumah papanya, Almira berjalan dengan langkah yang penuh dengan marah. Tidak ada pelayan yang berani menegur sapa pada dirinya. Mereka takut kalau anak majikannya itu sedang marah. Sampai di ruang kerja papa Johan, Mira melihat orang tua itu sedang bersama sang istri, Renata yang merupakan ibu sambungnya. “Bagus kamu pulang, Nak. Sekarang duduklah. Papa ada yang mau dibicarakan sama kamu,” ucap Johan dengan wajah tenangnya. Mira dengan menahan marah, duduk diam di hadapan mereka berdua. “Papa sudah memutuskan untuk menyerahkan perusahaan ke adik Papa, jadi kamu tidak perlu memberikan cucu sama Papa. Papa tahu kamu pasti tersiksa dengan permintaan Papa. Tapi percayalah, Papa lebih tersiksa,” ucap Johan masih dengan wajah yang tenang. “Sejujurnya berat untuk memberikan perusahaan yang sudah Papa bangun dari nol sampai sebesar ini. Tapi mau bagaimana lagi, keluarga kita terancam bangkrut kalau tidak segera memiliki penerus. Tapi sekali lagi, Papa gak bisa memaksa kamu, Sayang. Walau bagaimanapun Papa sayang sama kamu,” ucap Johan yang mendapat usapan halus di tangannya dari Renata. Mira dengan menahan kesal, mengambil foto usg dan hasil pemeriksaan kandungannya di atas meja. Ia meletakkan kedua lembar bukti itu dengan sedikit kasar. “Terserah mau Papa apakan perusahaan itu. Yang jelas, Mira sudah nurutin kemauan Papa. Setelah ini, Mira mau balik ke Singapura. Mira akan mengurus cabang perusahaan di sana sambil membesarkan anak ini. Tapi satu hal yang Mira minta, jangan temui Mira kalau Mira tidak mengizinkan kalian untuk datang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD