Bab 4. Kembali Ke Tanah Air

1221 Words
Lima tahun berlalu. Ya, sudah lima tahun ini Mira pergi dari Indonesia dan menyibukkan dirinya di Singapura. Itu semua dilakukan demi untuk ketenangan hati dan pikirannya. Wanita single itu juga sudah melahirkan bayi kembar yang sekarang sudah berusia empat tahun. Ia hidup bersama kedua anak kembarnya dan juga Shela, salah sahabat yang tinggal di negara Singapura. Selama kurang lebih lima tahun ini, Mira benar-benar menutup semua komunikasi dengan papa dan mamanya. Ia tidak ingin hidupnya yang baru dicampur tangan oleh kedua orang tuanya, maka dari itu memilih untuk pergi jauh dan tidak kembali. Mira merasa hidupnya sudah cukup lebih baik dan bahagia bersama dengan kedua anak kembarnya. Ia merasa, kedua anaknya itu tidak perlu mengenal siapa keluarga besarnya karena pastinya nanti akan membuat Mira kembali mengingat luka yang telah lalu. Sebenarnya, ada rasa rindu ingin kembali tapi amarah yang selalu bersemayam di dalam hatinya itu belum cukup untuk mendamaikan hidupnya. Apalagi ketika mengingat, Papa begitu keras berusaha untuk minta Mira menikah. Padahal, tahu betul ada luka dan trauma yang tidak bisa sembuh begitu saja, tetapi mereka sama sekali tidak memahami hal itu. Setidaknya Mira tahu jika perusahaan yang papanya jaga tidak bangkrut usai sang papa menyiarkan kabar tentang kehamilan sang putri tunggal. Malah setelah itu nilai saham melonjak karena sang pewaris perusahaan akan segera hadir di tengah-tengah keluarga besar. Sekarang, setelah semua hidupnya bahagia, kenapa harus mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan? Sejak pagi, Bi Mar sudah mengirimkan banyak pesan, meminta Mira kembali ke Indonesia karena papanya sakit dan kritis. Ya, memang dari semua keluarganya hanya Bi Mar yang tidak ditutup aksesnya oleh Mira, karena merasa wanita tua itu tidak sepatutnya ikut dibenci karena terlalu baik untuk Mira. Mira menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menatap ponsel yang sejak tadi tidak berhenti berdering. Ya, sejak pagi Bi Mar selalu berusaha untuk menghubungi Mira. Entah sebenarnya separah apa kondisi papanya. Telepon pun berhenti berdering, akhirnya Mira bisa bernafas lega. Ia kembali membuka semua pesan berderet yang dikirimkan oleh Bi Mar. “Non, pulang ya, Non, ke Indonesia. Papanya Non Mira sakit.” “Non Mira, pulang ke Indonesia sebentar saja ya, Non. Ketemu sama Papa Non Almira sebelum terlambat.” “Non Almira, keadaan Papa kritis.” “Non Almira, setidaknya pulang demi Mamanya Non Almira. Kasihan, sudah tiga hari ini nangis dan tidak mau makan. Beliau begitu takut kehilangan Papa Non Almira.” “Non, pulang sebelum terlambat.” Bi Mar juga mengirimkan beberapa foto, di dalam foto itu memang terlihat Johan yang sedang terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Infus yang menancap di tangannya dan banyak sekali selang di dadanya. Mira kembali menghela nafas membaca semua pesan yang berderet itu. Memijat keningnya, merasakan sensasi pusing yang luar biasa di kepalanya. Apa mungkin ini sudah waktunya aku kembali ke Indonesia? Kembali ke kota yang penuh dengan kenangan indah sekaligus buruk, gumam Almira menatap ponselnya. Mira menghentakkan nafas kasar dan menghubungi Shela, asisten sekaligus sahabatnya itu. “Shela, pesankan tiket pesawat paling cepat karena aku dan anak-anak akan kembali ke Indonesia sekarang juga," titahnya. Tanpa menunggu jawaban, Almira langsung mematikan telepon secara sepihak. Shela langsung mengerjakan tugas yang mendadak itu dan berlalu pergi ke dalam ruangan Almira. "Masuk!" suruh Almira ketika mendengar suara pintu kamar diketuk dari luar. "Kau yakin akan pergi ke Indonesia, sekarang?" tanya Shela tanpa berbasa-basi. Almira sendiri sudah sibuk membereskan semua barang-barangnya yang akan ditinggal dan dibawa pergi. "Sepertinya sudah waktunya aku pulang, Shela." "Apa terjadi sesuatu?" tanya Shela ingin tahu. "Papa sakit," lirihnya menatap sendu Shela. Shela melangkah maju, mendekati Almira yang sudah terduduk kembali di atas kursi kebesarannya itu. Sedangkan Shela, menarik kursi yang lain untuk duduk disamping Almira. "Kau sedang tidak bercanda, 'kan?" "Tidak. Untuk apa aku bercanda mengenai hal yang sangat urgent seperti ini, Shela!” sentak Almira tidak terima dengan kata-kata yang barusan keluar dari bibir Shela. "Bukan begitu, maksudnya. Okay, aku minta maaf kalau salah bicara. Maksudnya, Papamu sedang tidak memainkan drama seperti sebelum-sebelumnya, bukan?" tanyanya hati-hati. "Begini, kita berdua tahu betul bagaimana Papa Johan, bukan? Ia selalu melakukan segala cara agar kau kembali. Ya, kuharap ini hanya drama saja dan Papa Johan baik-baik saja." "Awalnya, aku pun berpikir demikian. Tapi, Bi Mar mengirimkan foto ini." Almira memberikan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Shela, membuat gadis disampingnya itu langsung menatap sendu Almira. "Tapi, bagaimana dengan mamamu? Apa tidak ada kabar darinya?" "Kamu tahu betul bagaimana Mama Renata, bukan? Wanita paruh baya itu akan selalu tunduk pada papa, apapun yang terjadi. Lagipula, aku sudah menutup semua akses mereka, jadi mungkin Mama Renata pun lelah karena terus menghubungi tetapi tidak ada jawaban dariku," keluh Almira jengah. "Baik. Kita pulang sekarang, aku temani kalian bertiga," putus Shela berdiri dan akan beranjak. "Tidak. Kau disini saja, handel semua pekerjaan disini. Aku akan kembali bersama anak-anak dan pengasuhnya ke Indonesia, Shela." "Tidak, Al. Aku akan menemanimu disana, kau tidak bisa sendirian. Apalagi, dengan kondisi Papa Johan yang sedang seperti itu. Aku tidak ingin, kamu melakukan hal-hal buruk lagi seperti dulu," keluhnya khawatir. "Cukup, Shela! Aku tidak suka dibantah. Tetap berada di sini dan handle semua pekerjaan.” “Tapi, aku juga bisa sekalian pulang ke Indonesia, Mir.” “Nanti, kau akan memiliki waktu sendiri untuk pulang ke Indonesia,” tegas Mira berlalu pergi dari hadapan Shela dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Semua karyawan yang melihat raut wajah tidak bersahabat itu, menundukkan kepalanya. Merasa takut jika nantinya akan kena marah tanpa sebab. * Almira melangkah kaki jenjangnya masuk ke dalam sebuah apartemen mewah. Ia sudah menghubungi pengasuh kedua anak kembarnya untuk bersiap. Mereka akan kembali ke Indonesia saat itu juga. Tidak tahu nantinya akan seperti apa respon Michael dan Matthew, ketika kembali ke Indonesia dan bertemu keluarga besar Maminya – Almira Niana Johan. Mira masuk ke dalam apartemen pribadinya, melihat kedua anak kembarnya sudah rapih. Michael dan Matthew berlari mendekati Mira lalu memeluknya, memang mereka itu terlihat cuek tapi sebenarnya penuh kasih sayang. “Kalian sudah siap?” “Sudah, Mami,” jawab keduanya serempak. Mira mengalihkan pandangan pada Bi Dar yang baru saja keluar dari kamar kedua anaknya sembari membawa koper. “Sudah siap, Bi?” “Sudah, Nyonya. Ini koper Tuan Michael dan Tuan Mattew.” “Baik anak-anak. Sekarang, ambil koper kalian dan bawa sendiri. Mami tidak pernah mengajarkan kalian untuk menyusahkan orang lain, bukan? Sekalipun itu Bi Dar.” Tanpa membantah, kedua anak jenius itu melangkah pasti mendekati Bi Dar dan langsung mengambil koper dari tangan wanita tua renta itu. “Koper aku dan Bi Dar juga sudah?” “Sudah, Nyonya. Sebentar, Bibi ambilkan dulu.” Mira mengangguk dan mengajak kedua anaknya lebih dulu menunggu di sofa. Mira akan sedikit memberi pengertian pada Michael dan Matthew selama di Jakarta nantinya. Mira menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh mereka, bahkan mereka pun dilarang keluar tanpa Mira, sekalipun itu bersama dengan Bi Dar. Mira meminta kedua anaknya itu tidak menyusahkan selama di Jakarta nantinya. Dan, meminta mereka untuk tetap nyaman di apartemen, jika Mira ada keperluan yang mendadak. "Ayo, supir sudah menunggu di bawah!" Mira mengajak kedua anak kembarnya dan juga Bi Dar. Shela baru saja menghubungi bahwa supir pribadi kantor sudah datang dan menunggu di bawah. Sedangkan, wanita itu sudah lebih dulu ke bandara untuk mengurus tiket yang diperlukan oleh Mira. “Mi, memangnya kita akan kemana?” “Pulang ke Indonesia, bertemu dengan Grandpa dan Grandma.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD