Bab 5. Kembar Jenius

1373 Words
Keadaan di dalam mobil cukup hening, tidak ada obrolan di antara si kembar dan maminya seperti biasa. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, Mira sendiri memikirkan bagaimana kondisi papanya. Apa mungkin benar-benar kritis, atau hanya tipu daya saja? Tapi, jika memang tipu daya, kali ini untuk apalagi? Kalau memang semua adalah tipu daya, apa tega Bi Mar membohongi Mira sampai seperti ini. Ah … segala macam kemungkinan menari-nari di dalam pikiran Mira. Ia sendiri merasa tidak tahu apakah saat ini kembali sedang dipermainkan atau tidak, tapi selalu berharap tidak ada lagi permainan di dalamnya dan tidak juga ada yang sakit di dalamnya. Ia ingin, keluarganya tetap sehat dan kepulangannya kali ini, hanya karena permintaan yang tidak bisa lagi menahan rindu, semoga saja. Kedua anaknya yang jenius itu pun ikut berpikir, mereka memang anak yang pemikir. Karena saking jeniusnya sampai-sampai memiliki banyak praduga mengenai kepulangan yang pertama kali ini. Tidak menyangka juga, jika selama ini mereka masih memiliki keluarga lain. Selama ini, Maminya tidak pernah mengatakan hal apapun tentang keluarga. Mereka hanya tahu memiliki Mami, Bi Dar dan Auty Shela. Mereka pikir, kedua wanita itu adalah keluarganya dan tidak ada yang lain. Tapi, siapa sangka jika keduanya ternyata masih memiliki keluarga yang lain. “Mi,” panggil Michael. Hening. Tidak ada sahutan dari Mira, wanita itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai lupa kalau saat ini ada kedua anaknya yang bergantian memanggil. “Mami!” sentak Mattew. Namun, masih tetap sama. Tidak ada jawaban dari wanita itu. Bi Dar yang melihat ada sesuatu tidak beres disini pun langsung ikut memanggil majikannya. “Nyonya Almira,” panggil Bi Dar dengan sedikit penekanan. “Ah iya, Bi. Ada apa? Aku sepertinya melamun ya,” jawabnya tersenyum manis. “Den Michael dan Den Mattew sejak tadi memanggil, Nyonya.” “Oh iya, kenapa boys?” “Kenapa Mami melamun? Apa ada yang mengganggu pikiran, Mami? Ceritakan saja pada Mattew kalau memang ada yang dirasakan Mami,” ujar Mattew yang memang lebih terlihat penyayang. “Ah tidak, Sayang. Mami hanya sedikit lelah saja.” “Apa kita batalkan saja pergi ke Indonesia, Mi?” tanya Michael. Anaknya yang satu ini tidak jauh beda sikapnya dengan Almira. “Tidak. Kita harus tetap pergi.” “Tapi, keadaan Mami tidak baik-baik saja. Aku tidak mau ya, kalau nanti di sana ada yang semakin mengganggu pikiran, Mami,” tegas Michael. Mira menghela nafas, menatapnya datar. Tatapannya itu entahlah tatapan apa, Michael benar-benar fotokopian dirinya. Sedangkan Mattew, lebih ke Rafa. “Michael, bisakah bicaramu pada Mami itu lebih sedikit seperti anak-anak? Kenapa kau terlalu terlihat dewasa dibandingkan dengan usiamu, sih,” keluh Mira. “Mami yang menciptakan aku,” jawab Michael datar berhasil membungkam Mira. Mira tercengang mendengar jawaban dari Michael, memang benar juga apa yang dikatakan bocil itu, Michael dan Mattew itu Mira dan Rafa yang menciptakan, tapi tidak menyangka juga kalau mereka benar-benar peniru. Sesampainya di bandara, mereka semua segera masuk ke lobby. Disana sudah ada Shela yang mencetak tiket, setelah itu mereka saling berpamitan dan boarding pass. Sebab, sebentar lagi pesawat akan take off. “Michael dan Mattew, jaga Mami kalian disana ya. Jangan membuat masalah,” tekan Shela memperingatkan kedua bocah lelaki yang aktifnya bukan main itu. Keduanya hanya memutar bola mata, tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Shela. Aunty nya itu memang tahu sekali, kalau kedua bocah itu selalu membuat masalah. Setelah berpamitan, mereka pun pergi masuk ke dalam pesawat dan siap berangkat. Duduk yang manis di kursinya masing-masing. “Kupikir, kita sudah tidak punya Grandpa dan grandma.” * Tiga jam berlalu, akhirnya mereka sampai juga di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Mira segera menghubungi supir yang selalu bisa diandalkan setiap kali berada di Jakarta. Memintanya untuk membawa mereka ke apartemen pribadi Mira. Ya, apartemen yang selalu digunakan olehnya selama ini, bahkan apartemen yang menjadi saksi dimana perjanjian antara dirinya dan Rafael pun terjalin. Mira menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, berharap tidak ada hal yang membuatnya marah atau apapun selama di Jakarta. “Apa kita ke rumah Grandpa dan Grandma, Mami?” tanya Mattew. “No, Sayang. Kita akan pulang ke apartemen pribadi milik Mami.” “Kenapa tidak pulang ke rumah Grandpa dan Grandma, Mi?” “Nanti jika sudah waktunya, Michael. Dan, Mami ingatkan pada kalian, jangan bertanya apapun yang bisa membuat Mami marah.” “Contohnya?” tanya keduanya serempak. “Menanyakan Grandma dan Grandpa.” “Mami ini kok aneh, kita pulang ke Indonesia bukannya untuk bertemu mereka? Tapi kenapa–” “Michael, berhenti bicara omong kosong!” sentak Mira yang tidak ingin mendengarkan segala macam protes dari kedua anaknya. Sikap otoriter Mira pun akan terbawa pada kedua anaknya, jika mereka tidak bisa menurut atau terlalu banyak protes dan bertanya seperti ini. Michael bungkam, jika Maminya sudah menaikkan suara satu oktaf lebih tinggi, itu artinya memang sudah marah dan tidak bisa diajak lagi bernegosiasi. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di apartemen pribadi Mira. Melangkah masuk dan naik lift agar segera sampai di tempat yang paling nyaman. Mira sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk membelikan segala macam keperluan mereka selama di Indonesia. Karena, saat ini Mira masih belum sempat untuk mengajak mereka pergi, sampai urusannya benar-benar selesai. Saat mereka masuk ke dalam apartemen, tepat juga orang kepercayaannya Mira datang dan membawakan semua yang diminta oleh wanita itu. Setelah semua urusan beres, ia pun memanggil Bi Dar karena akan kembali pergi untuk menemui kedua orang tuanya di rumah sakit. “Bi Dar, kemari!” panggilnya. Bi Dar berlari terpogoh-pogoh menghampiri Mira yang sejak tadi sudah melirik ke arah arlojinya terus. “Iya, Nyonya.” “Bi, aku akan pergi. Jaga anak-anak selama aku pergi ya, jangan biarkan mereka keluar dari sini tanpa pengawasan dariku.” “Baik, Nyonya. Tapi, maaf jika mereka bertanya, Bibi harus jawab apa?” “Bilang saja, aku ada keperluan yang mendadak dan sangat penting.” Bi Dar mengangguk, Mira pun berlalu pergi dari hadapannya dan melangkah dengan cepat untuk masuk ke dalam lift. Pembicaraan mereka pun didengar oleh Michael, bocah lelaki itu menatap heran karena Maminya begitu banyak sekali menutupi sesuatu. Michael penasaran, tetapi juga tidak tahu harus melakukan apa, karena di sini ia belum mengenal siapapun. * Seorang wanita terlihat memasuki lobi rumah sakit. Wanita itu lebih dulu membereskan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan agar kembali rapih. Ia berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba untuk tetap tenang dan mengendalikan diri seperti apa yang dipesankan oleh Shela tadi. Ketika dirinya sudah mulai tenang, ia kembali menghembuskan nafas kasar lalu melangkah pasti dengan wajah yang dibuat secantik mungkin agar tidak ada yang menyadari bahwa wanita cantik itu memiliki luka dan trauma yang cukup dalam. Cahaya matahari menyoroti rambut panjangnya, memberikan kilauan yang tak tertahankan. Tubuhnya ramping dan proporsional, mengenakan setelan blouse berwarna putih, celana highwaist hitam dipadu dengan heels yang senada. Terlihat simpel tapi juga anggun di waktu yang sama. Di beberapa tempat, terlihat lekuk-lekuk tubuh yang menggoda. Setiap langkah kakinya menyiratkan keanggunan, kepercayaan diri yang tidak terbantahkan. Wanita high class itu memiliki wajah yang tidak bisa dilupakan. Matanya besar dikelilingi oleh bulu mata lentik yang membingkai dengan indah dan sempurna. Bibirnya merah muda seperti sehelai mawar yang memesona. Ekspresi wajahnya begitu memikat seolah mengundang siapapun yang melihatnya untuk mendekat. Ah tidak, bahkan membuat para mata yang memandang enggan untuk berpaling. Sungguh perpaduan yang sempurna antara kecantikan, keanggunan dan kepercayaan diri. Wanita itu tiba di kamar sang papa yang berada di kamar VIP salah satu rumah sakit terbesar di kota itu. Ia membuka pintu secara perlahan dan matanya langsung tertuju pada sosok wanita paruh baya yang sedang menjaga sang papa. Wanita paruh baya itu adalah ibu sambungnya – Mama Renata. Saat ini, Mama Renata tengah menatap lekat sosok lelaki yang sedang berada di atas brankar. Pandangannya teralihkan saat mendengar pintu kamar terbuka dan suara langkah kaki yang mendekat. Ia langsung menoleh dan tersenyum bahagia menatap putri sambungnya yang sudah datang tepat waktu. "Almira, kamu sudah sampai, Sayang," sambut Renata penuh bahagia. Wanita paruh baya itu pun berdiri, merentangkan kedua tangannya. Berharap, Almira segera mendekat dan memeluknya erat karena memang Renata begitu sangat merindukannya. Almira paham dengan sambutan yang penuh cinta itu, ia pun segera mendekat dan memeluk erat tubuh ramping sang mama. Tidak lupa, mereka saling mencium pipi bergantian. "Mama sungguh sangat merindukanmu, Nak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD