Renata yang tengah bersantai sambil memainkan ponsel, melihat-lihat berita apa saja yang ada di luaran saja, mendadak memicingkan matanya saat melihat sebuah siaran langsung. Ia terpana melihat permainan keren yang dimainkan oleh dua bocah kecil itu. Tidak menyangka, anak sekecil mereka tapi sudah bisa memainkan alat musik yang notabenenya itu susah untuk digunakan.
Matanya berbinar-binar, kedua bocah yang masih kecil itu ternyata mampu memainkannya dengan indah dan menghasilkan suara yang merdu. Mata Renata semakin memicing ketika melihat ada sosok yang dikenal olehnya. Jelas, sangat amat mengenalnya karena sudah hampir tiga puluh lima tahun bersama dan itu cukup membuatnya paham dan hafal bagaimana postur tubuh anaknya sendiri.
Ya, dia melihat Mira berada di tengah-tengah kerumunan. Walaupun saat ini, Mira dalam keadaan serba tertutup, memakai kacamata dan masker tapi Renata bisa mengenalinya. Terlihat, Mira yang langsung meninggalkan area, diikuti kedua bocah itu dari belakang bersama dengan satu orang wanita paruh baya.
“Mira!” pekiknya. “Aku yakin sekali, ini Mira. Aku sangat hafal dengan postur tubuhnya. Kalau memang Mira, itu artinya kedua bocah tadi adalah anak kembarnya. Mira masih ada di Jakarta dan aku semakin yakin, semua info yang beredar itu memang ada campur tangannya.”
“Aku harus memberitahu, Johan. Aku ingin bertemu Mira dan kedua cucuku, ya harus,” tegasnya bangkit dan keluar dari kamar.
Berteriak memanggil nama Johan yang tidak juga terlihat batang hidungnya. Ternyata, lelaki paruh baya itu sedang berada di ruang kerjanya. Renata langsung masuk begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu, hal itu membuat Johan terlonjak kaget.
“Renata, ada apa? Kenapa kau masuk ke dalam ruanganku tidak permisi dulu?”
“Johan, Mira masih ada di Jakarta!” serunya dengan sorot mata penuh harapan.
Johan melirik Renata dan kembali fokus pada pekerjaan, sungguh sama sekali tidak tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Renata. Karena, ia merasa tahu betul kalau anaknya itu sudah tidak ada di Jakarta.
“Jangan bicara omong kosong, Renata. Aku sudah menyewa banyak orang untuk mencari Mira. Dan, kamu juga tahu akan hal itu. Tapi lihat, semua tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya, bukan? Jadi, cukup bicara omong kosongnya–”
“Aku tidak bicara omong kosong!” sentaknya. “Mira memang benar-benar ada di Jakarta, bersama dengan anak kembarnya.”
Johan yang sejak tadi sibuk dengan pulpennya pun langsung menghentikan gerakan tangannya, ia mengangkat wajah menatap istrinya penuh selidik. Merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya. Tetapi, tidak mungkin juga jika Renata berbohong. Apalagi, Renata begitu menyayangi dan mencintai Almira, terlebih saat ini memang dirinya benar-benar ingin bertemu anak dan cucunya.
“Kau bicara apa?”
“Mira dan kedua anaknya ada disini, cucu kita.”
Johan menghela nafas, menatap datar Renata yang masih menatapnya penuh dengan sorot mata harapan. “Apakah kau begitu sangat merindukan mereka sampai-sampai berhalusinasi seperti itu, Rena?”
“Ya Tuhan, aku bicara yang sebenarnya, Johan! Lihat ini!” bentak Renata kesal karena sejak tadi suaminya benar-benar tidak percaya padanya.
Renata melangkah maju, memberikan ponsel yang sudah selesai siaran langsungnya namun masih bisa dilihat kembali. Johan menonton semuanya dari awal hingga terlihat sosok Mira yang tertangkap kamera. Jelas, Johan mengenalnya karena ia adalah Papanya. Tapi, merasa masih tidak yakin dengan apa yang dilihat olehnya.
Johan melempar pandangan pada Renata yang menyambutnya dengan senyuman. “Ini benar-benar, Mira?” tanyanya masih tidak yakin.
“Ya, mereka berada di mall utama. Coba saja, sejak tadi kamu mau menemaniku berbelanja, mungkin secara tidak sengaja kita bisa bertemu dengan mereka.”
Johan tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu, ia mengambil ponsel dan menghubungi beberapa orang untuk mencari tahu dimana keberadaan anak dan cucunya. Johan meminta orang-orang kepercayaannya yang tersebar itu mencari dari sekitar mall, pokoknya harus ketemu saat ini juga.
Renata tersenyum bahagia, karena suaminya percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. Itu artinya, jika keberadaan Mira sudah diketahui, mereka akan segera bertemu. Rasanya, sungguh sangat tidak sabar sekali bertemu dengan Mira dan kedua cucunya.
*
Mira merasa kesal bukan kepalang akibat insiden tadi, kedua bocahnya itu mencari simpati dari banyak orang. Tidak, bukan mencari simpati sebenarnya tapi mereka memang pandai membuat banyak orang itu terpukau dan terpesona, namun dibalik semua itu Mira merasa tidak suka dengan sikap mereka yang terlalu ramah. Ah, memang membingungkan sifat ibu dua anak itu, mungkin karena penyakitnya yang masih sering kambuh, jadi suka tantrum.
“Lain kali, jangan bermain musik sembarangan di tempat umum seperti tadi, Michael, Matthew. Ini Jakarta, bukan Singapura. Banyak sekali orang yang ingin mencari muka dengan membuat konten dan segala macam. Mami sungguh tidak menyukai hal itu, tidak suka jika mereka menjadikan kalian bahan konten.”
“Apalagi tadi, berani sekali menyentuh bahkan menyeret kalian agar tidak menyusul, Mami. Kurang ajar!” makinya kesal memukul-mukul setir mobil.
Mira bukannya marah pada kedua bocah itu, ia hanya memiliki rasa khawatir yang terlalu berlebihan. Apalagi, tadi banyak sekali orang yang berkerumun, Mira takut jika salah satu di antara mereka adalah anak buah keluarganya. Tidak, Mira tidak ingin keberadaannya diketahui secepat ini, ia masih ingin menikmati ketenangannya tanpa harus mendapatkan paksaan lagi dari mereka.
Kedua bocah itu hanya diam tanpa berani menjawab, mereka memberikan waktu pada Mira untuk melampiaskan semua rasa kesal dan amarahnya. Sebab, mereka sendiri masih belum tahu, apa faktor utama yang membuat wanita itu begitu sangat marah sampai tidak terkendali.
Mereka berdua sudah merasa cukup puas karena diperbolehkan keluar untuk jalan-jalan dan bermain musik. Jadi, jika sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, Mira terus marah-marah tidak jelas, kedua anaknya itu merasa tidak peduli. Mereka memilih asik dengan dunianya sendiri tanpa menghiraukan Mira.
Michael merasa jengah mendengar semua ocehan Maminya yang tiada henti dan jeda itu. Kok bisa, dari masuk mobil sampai membelah jalanan dengan penuh kemacetan dan mobil mendadak berhenti karena macet panjang pun masih mengoceh.
“Mi!” seru Michael menghentikan ocehan Mira.
“Apaan?”
“Mami tuh ya, gak capek apa dari tadi, ngoceh terus! Nih ya, telinga aku sakit rasanya. Sudahlah, tidak usah terus mengoceh. Sudah satu jam Mami marah-marah seperti itu, heran!”
“Michael, kamu itu kenapa sih? Tinggal dengarkan saja Mami bicara, banyak sekali protes jadi anak!”
“Kamu itu masih kecil, kok ya gak bisa nurut sama orang tua.”
“Sudah tahu masih kecil, tapi seringkali diminta untuk mengerti Mami yang sudah dewasa jauh dari kita. Mana bisa anak kecil mengerti semua apa yang Mami pikiran,” balasnya tak kalah sengit.
Mira semakin kesal namun menahannya, tidak mau bertengkar kembali dengan anak itu karena mereka bertiga baru saja berbaikan. Tetapi, mendengar apa yang dikatakan oleh Michael barusan, membuat hatinya panas dan semakin kesal. Mira tidak menyadari, apa yang sebenarnya dikatakan oleh Michael itu benar.
Terkadang, wanita itu memang lebih sering ingin dimengerti tanpa bisa mengerti, bahwa anak-anaknya itu, masih kecil. Mira hanya menatap tajam bocah kecil itu dari spion tengah, sedangkan yang di tatap hanya mengedikkan bahu sambil memasang earphone. Tidak ingin mendengarkan kembali semua ocehan dari Maminya. Begitu juga dengan Matthew yang mengikuti kembarannya, memasang earphone demi ketenangan hati dan pikirannya.
Matthew bukan tidak ingin protes, tapi hatinya merasa tidak tega jika bertengkar dengan Maminya. Hatinya begitu lembut sampai-sampai terkadang membuat Mira sendiri merasa kesal, karena Matthew tidak sepintar Michael. Matthew lebih menggunakan hati daripada akal, berbeda dengan kembarannya, Michael.
Melihat tingkah kedua bocahnya yang benar-benar terlihat jengah karena ulahnya sendiri, Mira menghentakkan nafas kasarnya. Dan kembali fokus ke depan, menyetir kembali karena kemacetan sudah mulai berkurang. Sedangkan, Bi Dar hanya menggelengkan kepala saja melihat ketiga majikannya yang ajaib itu.
Ini bukan yang pertama kali tapi sudah seringkali kejadian seperti ini. Saling berdebat dan berujung marahan, tingkah mereka itu seperti anak-anak. Terlebih Mira yang seringkali tantrum karena tingkah kedua anaknya. Seharusnya, Michael dan Matthew yang tantrum, eh ini malah sebaliknya.
Bi Dar bukan tidak paham, wanita tua itu bahkan sangat paham sekali kondisi Mira seperti apa dan bagaimana. Terkadang, ia juga merasa kasihan dengan majikannya itu, melihatnya terpuruk sampai benar-benar tidak mampu mengendalikan diri di saat penyakitnya kambuh bersamaan. Tapi, hebatnya wanita itu selalu punya cara untuk bisa mengendalikan semuanya walaupun sedikit terlambat.
Bi Dar juga memang merasa, kadang kedua bocah itu keterlaluan tapi ya bagaimana lagi, mereka masih anak-anak. Bukan bermaksud memaklumi sebuah kesalahan, tapi memang mereka masih anak-anak, bukan?
“Sabar, Nyonya. Badai pasti akan berlalu, fokus nyetir saja. Sampai rumah, kembali istirahat.”
“Terima kasih karena sudah mengerti aku, Bi. Entahlah, aku saat ini emang merasa tidak ada orang yang mengerti diri ini. Tapi ternyata salah, masih ada Bi Dar yang mengerti.
Mobil masuk ke dalam basement, ibu, dua bocah dan satu pengasuh itu keluar dari dalam mobil. Sebelumnya mereka sudah lebih dulu mampir untuk membeli makan dan akan makan siang di rumah besar. Melangkah dengan pasti, melepaskan beban yang ada.
Mira melebarkan matanya saat melihat sosok yang sepertinya memang sedang menunggu dirinya. Sengaja menunggu di lobby agar bisa segera bertemu dan melihat apakah Mira benar-benar ada disana atau tidak. Langkah kakinya terhenti, wanita paruh baya di hadapannya pun bangkit. Matanya berbinar-binar melihat Mira sedekat ini, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Wanita tua itu mengalihkan pandangannya pada kedua bocah yang ada disamping kanan kiri, Mira. Keduanya ikut menghentikan langkah, penasaran kenapa gerangan Maminya itu berhenti dan saling menatap dengan wanita tua.
“Mi, ada apa? Ayo kita jalan. Aku sudah lelah,” ajak Matthew menarik lembut tangan Mira, wanita itu tetap berada di tempatnya.
Tidak ada pergerakan sedikitpun dari wanita itu, Mira merasa cukup terkejut dengan kehadiran wanita tua itu. Bi Dar memperhatikan dengan seksama, merasa tidak asing dengan sosok wanita yang saat ini saling melemparkan pandangannya dengan Mira.
“Oma!”