Bab 12.

1402 Words
Mira yang memang belum terlalu jauh melangkah pun tersenyum bahagia mendengar kata cinta dari kedua bocah itu. Sederhana memang, tapi mampu membuat hatinya menghangat dan bergetar. Mereka memang anaknya manis walaupun terkadang menyebalkan dan terlalu membuat Mira pusing kepala. Kedua bocah itu bersorak ria, bergegas menghabiskan sarapan mereka lalu kembali ke kamar untuk bersiap, dibantu oleh BI Dar. Sedangkan, Mira sudah masuk kembali ke dalam kamar, menyiapkan keperluan si kembar dan Bi Dar terlebih dahulu agar tidak mudah diketahui oleh banyak orang. Bergegas mandi dan menyiapkan diri agar anak-anaknya tidak ada lagi yang marah pada Mira. Ya semua ini dilakukan olehnya juga demi mereka, walaupun mereka belum mengerti tapi yakin suatu saat nanti mereka akan butuh keadaan yang membuatnya harus seperti apa kedepannya. Kedua bocah sudah menunggu dengan senyum bahagia di sofa tepat di depan kamar Mira. Cukup terkejut juga Mira karena mereka berdua langsung menoleh ke arahnya dengan senyum yang mengembang, namun setelah itu Mira membalas senyuman indah itu. “Kalian sudah siap?” “Siap, Mami!” seru keduanya. Mira memperhatikan mereka dari atas hingga bawah, menatap kagum karena Bi Dar mendadani mereka dengan sangat keren sekali. Memang, tidak diragukan lagi, wanita tua itu ikut bersama dengan Mira sudah cukup lama dan bisa diandalkan. “Baik, kalau begitu sekarang pakai ini.” Mira menyerahkan dua kacamata dan masker pada si kembar, lalu memberikan masker pada Bi Dar. “Pakailah. Ini hanya untuk sementara saja, Mami harap kalian mengerti. Setelah semua hal buruk Mami bisa tangani, maka kalian bisa dengan bebas kemanapun tanpa kacamata dan masker itu.” Mereka hanya mengangguk saja, tidak peduli dengan apapun yang dipakai saat ini. Hal paling penting dan membuat bahagia adalah keluar dari apartemen dan melihat Kota Jakarta itu seperti apa dan bagaimana. Mereka berempat keluar dari apartemen dan masuk ke dalam lift menuju basement lalu siap untuk berjalan-jalan. Pertama, mereka akan menuju mall terlebih dahulu. Mira, mengajak mereka bermain ke salah satu mall terbesar di Jakarta, yang mana di dalam mall tersebut sudah ada toko buku dan musik. Jadi, tidak harus repot-repot keluar dari satu toko ke toko yang lainnya. Kedua bocah itu bersorak-sorai, menunjukkan kebahagiaannya saat akan menuju mall. Mata mereka berbinar memandang kemacetan di Jakarta namun lama-kelamaan merasa bosan karena menuju ke mall saja harus memakan waktu satu setengah jam. “Kenapa lama sekali, Mi? Membosankan sekali ternyata Jakarta, dimana saja selalu macet. Aku gak kuat kalau terus hidup di Jakarta,” celoteh Michael. “Sabar dong, Mich. Kamu ini selalu saja tidak bisa sabar! Beginilah Jakarta, dimana-mana macet, makanya kenapa Mami selalu bilang sabar ketika kalian mau pergi,” gerutu Mira ikut kesal karena lelah menyetir, ditambah anaknya protes. “Mich, sudahlah. Jangan banyak protes, Mami juga pasti lelah menyetir, sabar saja. Sebentar lagi pasti sampai kan, Mami?” “Iya, Sayang. Lampu merah depan, belok kiri nah sudah sampai kita nanti,” jelas Mira lembut. Terlihat sekali perbedaannya bukan? Saat bicara dengan Michael dan Matthew, ya itu karena mereka adalah dua kepribadian yang berbeda. Mira pun menyadari hal itu, jika bersama dengan Michael maka dirinya akan berubah menjadi singa, tapi ketika bersama dengan Matthew dirinya akan berubah menjadi ibu peri. * Sampai di mall, mereka bergegas masuk ke dalam. Michael dan Matthew melangkah dengan cepat menuju tempat buku terlebih dahulu. Mira dan Bi Dar sampai kewalahan karena mereka berdua berlarian seakan berlomba. “Michael! Matthew! Berhenti berlari atau Mami akan seret kalian pulang!” tegas Mira penuh penekanan. Seketika langkah mereka terhenti, menatap sendu ke arah Mira dan Bi Dar yang ngos-ngosan. “Maaf, Mami.” “Kalian itu, berhenti bersikap seperti anak-anak! Ini mall bukan taman bermain, nanti kalau menabrak orang lain, bagaimana? Hah? Lihat, itu Bi Dar saja sampai kelelahan mengejar kalian. Gak kasihan?” Mereka menatap sendu Mira dan Bi Dar, “Maaf.” “Tidak apa-apa, Den. Tapi jangan berlarian ya, ini tempat umum.” Bi Dar memperingatkan. Mira menghela nafas, mau kesal tapi mereka begitu ya karena keturunannya. Tidak ada cemburu pada Bi Dar, tapi kenapa ketika Bi Dar yang bicara, mereka justru sangat patuh sekali. Berbeda dengan dirinya yang bicara, sebisa mungkin pasti ada saja yang dibantah apalagi, Michael. Masuk ke toko buku, mereka berjalan menuju lorong buku-buku bahasa asing. Namun, tiba-tiba Michael memisahkan diri menuju lorong buku pengetahuan tentang saham. Mira terus memperhatikan kedua anaknya itu, mengikuti Michael diam-diam dan ingin tahu apa yang dilakukan olehnya. Michael mengambil satu buku tentang pengetahuan saham, Mira mengerutkan dahinya. Merasa aneh, karena anaknya itu lebih memilih untuk membaca buku tentang saham, apa mungkin Michael mulai mencari tahu tentang apa pekerjaan Mira. Michael ini memang Mira versi saset dan sepertinya memang bocah itu mulai tertarik dengan dunia bisnis. Mira merasa kalau sebentar lagi, Michael akan diminta ajarkan mengenai saham. Ya, harus sudah siap pusing dengan permintaannya itu. Berbeda dengan Matthew yang lebih fokus pada bahasa asingnya, ia mengambil beberapa buku baru yang mana didalamnya terdapat lebih banyak bahasa asing yang bisa dipelajari. Ia akan minta pada Mira untuk membelikannya. Selesai dengan bukunya masing-masing, mereka bertemu di kasir. Matthew melirik beberapa buku yang dibawa oleh Michael. Mengerutkan dahinya lalu menatap dalam saudara kembarnya itu. “Kamu mau belajar bisnis seperti Mami?” “Ah tidak juga. Aku hanya iseng saja, bosan dengan buku-buku lama. Mau mempelajari hal baru saja, kenapa emangnya?” Michael menatapnya tajam. “Oh, kupikir ingin mempelajari bisnis seperti Mami. Aku takut kehilangan teman bermain musik,” ucap Matthew jujur. Mira tertegun mendengar kekhawatiran dari Matthew, bisa-bisanya bocah kecil bicara seperti. Ya mereka hanya dua bersaudara, jadi wajar saja jika nantinya merasa kehilangan satu sama lain karena kesibukan. “Sudah. Ayo kita lanjut ke toko musik,” ajak Mira. Keduanya berbinar mendengar kata musik, mereka pun membawa belanjaan yang sudah siap dan menggandeng lembut tangan Mira agar bisa segera sampai di toko musik. Rasanya, sudah sangat tidak sabar sekali untuk melihat berbagai macam alat musik klasik dan memainkannya. Biasanya, para pengunjung diperbolehkan untuk memainkan alat musik sebelum membelinya. Sampai di depan toko musik, kedua bocah itu langsung masuk ke dalam dan meninggalkan Mira juga Bi Dar yang masih berada di luar. Kedua wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja, bisa-bisanya lupa kalau sudah bertemu dengan alat musik. Keduanya menyentuh perlahan setiap alat musik yang dilewati, meraba dan meresapi setiap melodi yang nantinya bisa dipetik dengan kelembutan tangan mereka. Keduanya berjalan menuju lorong berisi piano dan biola, matanya semakin berbinar melihat semua itu. Rasanya, tidak sabar untuk mencoba permainan di toko tersebut. Michael langsung duduk di posisi, tangan sudah menyentuh piano dan Matthew pun sudah di tempatnya. Mereka memetik satu nada dan membuat semua orang menoleh. Perlahan, mulai permainan yang mengagumkan, beberapa pengunjung bahkan pegawai toko pun sudah mulai berkumpul dan mengerumuni keduanya. Permainan Michael dan Matthew saling bersahutan, beberapa orang mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam permainan indah namun enak sekali didengar. Lantunan musik yang dimainkan sungguh benar-benar membuat mereka semua terpukau. Beberapa pengunjung melakukan siaran langsung, banyak sekali diantara mereka yang menonton siaran langsung itu menebak bahwa kedua bocah itu adalah Michael dan Matthew yang memang sedang menjadi menjadi perbincangan mereka semua. Namun, ada juga yang beranggapan bahwa bukan mereka, banyak sekali pro dan kontra. Permainan keduanya semakin membuat mereka terkejut dan terkagum-kagum, bahkan mereka sudah mulai berdesak-desakan untuk melihat permainan yang indah namun tetap syahdu. Mira melihatnya bangga sekaligus khawatir, ia meneliti setiap sudut ternyata sudah banyak sekali yang menonton dan berdesak-desakan seperti ini. Mira tidak bisa tinggal diam, karena takut jika nanti keberadaannya dengan mudah diketahui. Walaupun, Mira menyadari bahwa sebentar lagi anak buah papa dan juga Omahnya sudah dapat dipastikan mencari tahu melalui sosial media. Tetapi, tetap saja Mira tidak ingin tertangkap basah oleh mereka dalam waktu dekat. Mira merapatkan tubuhnya ke arah Bi Dar, menyenggol bahunya yang masih fokus dan terpukau dengan permainan anak majikannya itu. “Bi Dar,” panggil Mira membuat wanita itu menoleh. “Setelah permainan kedua bocah itu selesai, tolong tarik dan kita tinggalkan mall ini.” “Baik, Nyonya.” Permainan berakhir, mereka mendapatkan banyak sekali tepuk tangan yang gemuruh. Kedua bocah itu memberikan senyuman sekaligus salam penghormatan. Lalu, Bi Dar menarik tangan keduanya untuk pergi dari sana. Mira berjalan di depan mereka dan sudah menghubungi pengawal yang disebar olehnya. Beberapa orang ada yang meninggalkan area, namun ada juga dari mereka yang mengikuti kedua bocah itu. Sayang, terhalang oleh para pengawal yang lau bersedia untuk menutup akses mereka mencari tahu. “Cepat, kalian ini bukan hanya bikin kagum tapi juga nantinya bikin masalah,” gerutu Mira kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD