Mendengar apa yang dikatakan oleh Miranda membuat Johan mengulum senyum dan tertawa terbahak-bahak. Miranda menatap tidak suka, karena saat ini dirinya sedang tidak bercanda.
“Johan, kenapa kau tertawa seperti itu? Aku sedang tidak bercanda!” sentaknya kesal.
“Ma, sebelum memintaku melakukan hal itu, maka aku sudah lebih dulu melakukannya. Dan hasilnya, semua detektif menyerah dan tidak bisa menemukan Mira.”
“Ini emang aneh, entah apa yang sebenarnya dilakukan oleh Mira sampai-sampai semua orang kepercayaannyaku tidak bisa menemukannya. Kemungkinan, Mira sudah kembali ke Singapura dan berita-berita itu muncul karena orang suruhannya,” keluh Johan putus asa.
“Kalau begitu, kau harus mencari cara agar anakmu itu datang kesini dan menjelaskan semuanya pada kita semua, apa yang sebenarnya sudah terjadi.”
Miranda mengalihkan pandangannya pada Renata yang sejak tadi diam saja. Sebenarnya wanita itu tidak ingin ikut campur, karena khawatir jika nanti Mira akan membencinya. Jadi, lebih baik menyerahkan semuanya pada Johan dan Miranda saja.
“Renata, bukankah Mira sangat dekat dan patuh padamu?”
“Iya, Ma. Tapi untuk masalah yang satu ini, aku juga kalah dengannya. Mira sama sekali tidak memberikan kesempatan untukku bicara atau meminta padanya untuk kembali. Mungkin, lukanya masih sangat dalam.”
Miranda menghela nafas, lalu menatap tajam Johan. “Ini semua gara-gara kamu, Johan! Terlalu menganggap remeh trauma dan luka yang diderita oleh Mira. Sama sekali tidak bisa mengerti anaknya. Aku yakin, selama ini Mira sangat menderita dan berusaha untuk bangkit. Buktinya, Mira bisa menikah dan memiliki anak, itu artinya memang ia berusaha keras untuk sembuh, sendirian. Tanpa bantuan dari siapapun, termasuk kalian orang tuanya.”
*
Perang dingin pun terjadi di kediaman Mira, sudah hampir satu Minggu ini tidak ada kehangatan di antara wanita itu dan kedua anaknya. Entahlah, Mira sendiri seperti merasa tantrum ketika sedang bersama si kembar, ia justru tidak bisa mengendalikan dirinya. Selalu saja ada pertikaian di antara mereka, tidak peduli nantinya akan berakhir seperti apa. Bi Dar merasa seperti mengasuh tiga bocah sekaligus di dalam satu waktu, di antara mereka tidak ada yang mau mengalah, padahal seharusnya Mira bisa lebih mengalah dari anak-anaknya. Tetapi, ternyata sama saja.
Seperti pagi ini, biasanya meja makan terasa sangat hangat dengan sedikit candaan dan tanya jawab yang dilontarkan bocah kembar, lalu Mira akan menjawab dengan asal sehingga membuat keduanya kesal. Tetapi, pagi ini justru sangat berbeda sekali, Mira tidak ikut sarapan bersama dengan kedua anaknya dan memilih mengurung diri di dalam kamar.
Kedua bocah kembar itu pun sarapan pagi sangat tidak semangat, Bi Dar bingung sendiri menghadapi keadaan yang seperti ini. Berharap, keadaan ini akan segera berakhir.
Mira sebenarnya bukan bermaksud mengurung diri atau mendiamkan kedua anaknya. Ia hanya sedang memberikan ruang dan waktu pada kedua bocah itu dan juga dirinya sendiri untuk menenangkan diri, hati dan pikirannya. Tetapi, tetap saja tanggapan kedua bocah lima tahun itu sungguh berbeda, anggapan mereka ya ibunya sudah berbeda dan tidak lagi peduli.
“Kalau seperti ini jadinya, aku akan lebih memilih di Singapura bersama dengan Aunty Shela,” keluh Michael. “Di sini tidak ada gunanya, hanya berdiam diri di dalam ruangan kecil ini, tidak bisa bermain musik bersama teman-teman. Tidak bisa ke toko musik dan lainnya, Mami terlalu membosankan. Sibuk terus dengan pekerjaan.”
“Iya, kamu benar, Mich. Apa kita kembali saja ke Singapura ya, berdua?” usul Matthew tiba-tiba.
“Bisa-bisanya punya pikiran seperti itu, Matthew,” jawab Michael menggelengkan kepalanya. “Kalau nekat, yang ada nanti kita dimarahi habis-habisan. Kamu tahu sendiri, Mami kamu itu macam serigala.”
“Mami kamu juga, Michael.”
“Mami kalian berdua, Den.”
Keduanya menoleh dan tersenyum kaku saat melihat Bi Dar mendekat sambil menggelengkan kepala. Bisa-bisanya dua bocah itu menggosipkan ibunya sendiri, memang anak ajaib sekali. Bukannya saling mendukung ibunya, ini justru saling mengejek.
Sedangkan Mira yang masih ada di dalam kamarnya, sibuk bersembunyi di balik selimut. Cuaca pagi ini yang dingin membuatnya kembali menarik selimut yang sebelumnya sudah terlepas. Ya, pagi ini cuaca di Jakarta sedang sangat syahdu. Sejak pagi buta sudah di guyur hujan yang lumayan deras, membuat semua orang enggan beranjak dari ranjangnya.
Apalagi, ini adalah hari libur. Semakin menambah rasa malas mereka semua berkali-kali lipat pastinya. Ponsel Mira berdering, menandakan ada pesan masuk. Sejak kemarin, memang ponselnya cukup ramai tapi ada satu orang yang memiliki nada dering beda, itu sengaja dilakukan olehnya agar bisa mengetahui perkembangan yang terjadi.
Mira berguling ke arah kanan, meraih ponsel yang ada di atas nakas, membuka matanya lalu membaca setiap kata yang dikirimkan oleh BI Mar. Ternyata, yang mengirim pesan adalah Bi Mar, wanita itu masih dipercaya oleh Mira, sebab sikapnya kemarin itu ternyata ulah Renata yang mengambil secara paksa ponsel Bi Mar hingga bisa membuat Mira kembali ke Indonesia.
Di dalam pesan tersebut ada sebuah video, Mira lebih dulu mengunduhnya lalu menonton video yang durasinya tidak terlalu lama. Ternyata, Omahnya datang berkunjung untuk mempertanyakan dimana dirinya berada, Mira mengulum senyum. Dulu, Omah memang membelanya tapi tidak bisa berbuat apa-apa ketika Johan yang sudah angkat suara. Rasa kesal masih mendera di dalam hatinya, namun sekarang merasa puas melihat mereka semua kelimpungan mencari dimana dirinya berada.
Mira sekarang lebih cerdas dan licik, ia menghilangkan semua jejak yang ada saat kembali ke Indonesia. Tidak ingin diantara mereka semua mengetahui keberadaannya, ia sengaja melakukan hal itu agar bisa mengerjakan semua misinya selesai dengan tepat waktu. Jika saja, dirinya tidak melakukan sesuatu dengan kekuasaan dan juga pikiran licik, mereka pasti akan dengan mudah mengetahui dimana tempat tinggalnya saat ini.
Sayangnya, sejak dulu mereka memang tidak tahu apartemen pribadi Mira. Bukan tidak tahu sebenarnya, tetapi lebih tepatnya tidak mau tahu mengenai hal apapun yang terjadi pada Mira. Puas menonton drama keluarganya, ia pun beranjak keluar dari dalam kamarnya.
Mira melangkah menuju ruang makan untuk menemui kedua bocah jeniusnya yang kadang menyebalkan itu. Senyumnya merekah ketika melihat mereka sedang makan dengan tidak semangat.
“Kalian ingin keluar dari sini, bukan? Ingin jalan-jalan? Ke toko musik? Toko buku dan lainnya?”
Suara Mira membuat keduanya menoleh bersamaan, memandang datar wanita itu tanpa minat lalu kembali sibuk dengan sarapannya.
“Kenapa diam saja? Hei, Mami bertanya.”
“Sudahlah, Mi. Jangan terlalu banyak bicara omong kosong, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa diwujudkan. Aku dan Matthew sudah kenyang makan janji.”
“Kali ini, Mami tidak hanya berjanji tapi benar-benar akan mengajak kalian pergi dari apartemen. Jalan-jalan, tapi ada syaratnya.”
“Malas!” seru keduanya cepat.
“Segala sesuatu, selalu ada syaratnya. Mami ini aneh saja, kenapa harus selalu ada syaratnya sih?” protes Matthew.
“Iya, heran. Sama anak sendiri selalu ada syarat yang gak penting,” ucap Michael mengompori.
“Astaga, kalian ini kenapa sih? Belum juga mendengarkan syaratnya tapi sudah marah-marah seperti ini. Dengarkan dulu.”
“Hm,” dehem keduanya serempak.
“Kalau kalian mau keluar dari sini, syaratnya harus memakai masker dan kacamata. Gimana?”
“Hanya itu?” Michael memicingkan matanya tidak percaya dengan syarat yang begitu mudah itu.
“Iya, hanya itu saja. Sudah cepat habiskan sarapan kalian, lalu bersiap. Mami akan siapkan masker dan kacamata untuk kalian.”
“Bi Dar ikut tidak?” tanya Matthew karena tidak ingin meninggalkan wanita tua itu sendiri di apartemen.
Mira memutar bola matanya malas, ya wajar saja jika mereka begitu peduli dan sayang juga pada Bi Dar, sebab sejak berada di dalam kandungan, wanita tua itu yang selalu ada untuknya. Bi Dar bisa menjadi pengasuh keduanya juga karena Bi Mar, ya keduanya masih ada hubungan keluarga, kerabat jauh.
“Ikut. Tenang saja, wanita tua ini tidak akan ditinggalkan begitu saja di apartemen. Itu yang kalian inginkan, bukan?” sinis Mira berlalu pergi dari hadapan mereka bertiga.
“Ye, akhirnya bisa keluar dan jalan-jalan.”
“Iya, kita bisa ke toko musik, makan enak dan yang lainnya.”
“Bilang apa sama Mami?” Bi Dar mengingatkan keduanya.
“Terima kasih, Mami. Love you,” ungkap keduanya serempak.