Bab 10.

1373 Words
Mira benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya, ia berteriak hebat memanggil kedua nama anaknya secara bergantian. Melampiaskan semua rasa lelahnya pada mereka berdua, tanpa peduli dengan Bi Dar yang berusaha untuk menenangkan. Bagi Mira, saat ini yang paling penting adalah melampiaskan semua rasa lelah dan kesalnya, tidak peduli siapa yang menjadi bahan pelampiasannya. Ia cukup lelah dengan tekanan yang diberikan sana sini, ditambah lagi merasa jika kedua anaknya itu tidak bisa mengerti dirinya. Mira lupa, bahwa kedua anaknya itu adalah balita. Bukan anak dewasa yang mudah mengerti dirinya. Memang, keduanya itu cukup jenius, tapi tetap saja mereka itu masih balita adalah bayi lima tahun, yang mana tidak begitu paham dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Maminya. Mira seperti orang yang berbeda ketika penyakitnya kambuh. Entahlah, rasa lelah sepertinya seringkali menghampiri dan enggan untuk pergi, berharap satu persatu masalah selesai, ini justru sebaliknya. Masalah seakan datang secara bersamaan dan minta diselesaikan tidak ada antrian. Mira kembali terduduk, menyandarkan punggungnya pada kursi makan, memejamkan matanya sesaat, Bi Dar langsung mengambil air di dalam gelas dan menyodorkannya pada Mira. “Nyonya, minum dulu.” Mira membuka matanya, menatap Bi Dar dengan tatapan sendu. Wanita paruh baya itu adalah saksi hidup, bagaimana Mira berusaha untuk semaksimal mungkin tetap tenang di kala penyakitnya kambuh. Namun, tetap saja terkadang suka lepas kendali seperti tadi. Mira meneguk air hingga tandas dan kembali memejamkan matanya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan. “Bi, aku capek.” “Ya, Nyonya. Bi Dar tahu dan paham.” “Kenapa anak-anak tidak pernah bisa mengerti aku, Bi?” “Maaf, Nyonya. Bukan bermaksud lancang, tapi di sini yang seharusnya lebih mengerti itu, Nyonya,” jawabnya ragu dan takut. Mira langsung mengalihkan pandangannya, menatap tajam Bi Dar. Tidak terima dengan jawaban dari wanita tua itu. “Maksud Bi Dar apa? Jadi, Bi Dar juga beranggapan kalau aku lebih sibuk dengan pekerjaan, begitu?” “Nyonya, maaf. Maaf jika perkataan Bibi menyinggung, tapi satu hal yang harus Nyonya ingat, Den Michael dan Den Matthew itu masih kecil, Nyonya. Mereka masih balita, bayi lima tahun. Bi Dar ingatkan lagi, jika memang Nyonya lupa. Mereka, hanya butuh waktu dan juga perhatian dari Nyonya, mereka merasa bosan karena tidak ada interaksi dengan Nyonya. Maaf, sekali lagi maaf jika Bi Dar lancang.” Mira merasa tertampar dengan perkataan Bi Dar, ya dia memang benar-benar lupa kalau kedua anaknya itu masih kecil. Mana mungkin bisa mengerti dirinya, walaupun seringkali mereka ngobrol dari hati ke hati seperti orang dewasa, tapi tetap saja bukan? Mereka anak kecil yang masih suka bermain, ya walaupun mainnya alat musik, itu sudah cukup membahagiakan bagi mereka. “Mereka tidak minta hal yang sulit, Nyonya. Mereka hanya meminta waktu luang Nyonya, waktu yang masih sama seperti saat di Singapura. Jadi, tidak ada perbedaan antara di Jakarta dan di Singapura, mereka tidak ingin ada yang berbeda setelah kembali kesini.” Bi Dar berlalu pergi setelah memberikan sedikit pengertian pada Mira, entah bagaimana caranya wanita itu menyikapi setiap kata yang keluar dari Bi Dar. Tetapi, wanita tua itu benar-benar memberikan pengertian tanpa menyalahkan agar Mira juga tidak merasa terpojok. Memilih pergi dari hadapan Mira dan masuk ke dalam kamar anak-anak untuk melihat kondisi mereka. * Sudah tiga hari dari waktu yang diminta oleh Mira. Deni dan Wulan benar-benar bekerja dengan baik, selama tiga hari berturut-turut semua berita tentang Almira Niana Johan sedang trending. Bukan hanya berita tentang wanita cantik, bersahaja dan dikagumi oleh para lelaki saja yang muncul, tetapi juga berita tentang pernikahannya mulai mencuat ke berbagai media masa yang ada. Foto-foto pernikahan palsu yang sudah dibuat olehnya mulai beredar setiap harinya, foto-foto kehamilan dan juga melahirkan pun ikut serta muncul. Bahkan, tumbuh kembang anaknya yang tidak seperti anak-anak pada umumnya pun mulai santer dibicarakan. Saat ini, nama Almira sedang menjadi pusat perhatian. Dimana-mana, semua orang tengah membicarakan dirinya, suami juga anak-anaknya. Bahkan, mereka semua secara terang-terangan mengagumi permainan musik yang dimainkan oleh Michael dan Matthew saat keduanya sedang bermain bersama. Terpukau karena tidak pernah menyangka, anak kecil seperti mereka, bisa memiliki kecerdasan yang luar biasa. Apalagi, memainkan alat musik klasik itu sungguh tidak mudah, tapi keduanya sama sekali tidak merasa sulit dan sangat enjoy ketika bermain. Video permainan musik si kembar pun ikut disebarluaskan, agar semua investor yang meragukan Almira dan Johan pun bungkam karena sebuah bukti nyata. Di sosial media, bahkan sekarang banyak sekali akun fansnya Michael dan Matthew, mereka mencari tahu mengenai si kembar sampai ke akar-akarnya. Tidak terlewatkan juga selalu mencari permainan mereka saat sedang bermain musik, foto dan video perlombaan tingkat internasional pun tersebar luar. Para investor semakin yakin untuk tetap berada bersama dengan perusahaan Johan. Semua masyarakat semakin dikejutkan lagi dengan kecerdasan si kembar yang lainnya. Michael dan Matthew, terlihat ada satu video yang menunjukkan mereka berdua sedang berbicara bahasa asing. Bahkan, keduanya saling melemparkan pertanyaan namun dijawab dengan bahasa asing. Satu persatu keluarga besar Almira mulai membaca berita, akun gosip, surat kabar dan media masa lainnya. Mereka mulai membicarakan Mira dan mempertanyakan mengenai pernikahan wanita itu. Pro dan kontra pun mulai bermunculan, mereka merasa tidak dianggap oleh keluarga Johan karena mengadakan pernikahan secara sembunyi-sembunyi seperti itu. Padahal, Johan sendiri tidak mengetahui acara pernikahan tersebut karena memang Almira menyembunyikannya. Mira tersenyum bahagia karena semua misinya sebentar lagi berhasil, sekarang sudah mulai bisa membungkam semua mulut yang sempat mencemoohnya dulu. Mira, menunjukkan pada mereka bahwa dirinya sudah bisa bangkit dan melahirkan anak-anak hebat dan jenius. Mira yakin, setelah ini pasti keluarga yang dulu tidak mengakuinya, akan berbondong-bondong mengakuinya. * Sejak tadi pagi, ponsel Johan terus saja berdering. Kondisinya sedang tidak baik-baik saja, pria tua itu mulai merasa bahwa kondisinya semakin hari semakin melemah saja. Sudah satu Minggu ini, dirinya tidak masuk ke kantor dan menyerahkan semua pekerjaan pada orang kepercayaannya. Ia hanya terbaring di atas ranjang besar tanpa ada niat melakukan hal apapun. Renata pun tidak luput dari cercaan keluarga Johan, mereka berdua memang sedang fokus pada kesembuhan Johan sehingga tidak ada yang mempedulikan ponsel. Tapi hari ini cukup berbeda, kondisi Johan yang sudah lebih baik, membuat keduanya mulai mencari tahu apa yang terjadi. Namun, Miranda lebih dulu mengunjungi mereka berdua. “Johan! Renata!” teriaknya memanggil anak dan menantunya untuk segera turun ke bawah. Johan yang memang sedang dibantu Renata untuk bersantai di taman pun merasa terkejut dengan kedatangan Miranda secara tiba-tiba. “Ma, ada apa? Kok berteriak seperti itu?” “Johan, kenapa kamu tidak mengatakan pada Mama kalau saat ini Mira sudah kembali?” “Hah? Mama tahu darimana?” tanyanya terkejut. “Jawab dulu, apa Mira benar-benar sudah kembali?” “Iya, Ma. Dua minggu yang lalu, ia kembali dan menemui kami. Tapi, setelah itu pergi lagi, ada apa, Ma? Apakah terjadi sesuatu dengan Almira?” tanya Renata panik. “Kalian ini bodoh atau bagaimana? Memangnya selama satu Minggu ini tidak melihat berita, surat kabar dan lainnya?” “Tidak, Ma. Johan sedang sakit, aku fokus merawatnya dan ini sudah lebih baik. Ada apa sih, Ma? Katakan yang tenang, jangan buat khawatir seperti ini, dong,” cecar Renata. “Ma, duduk dulu, deh. Kita bicara dengan tenang,” titah Johan. Miranda menghempaskan bokongnya ke atas sofa empuk sambil menghela nafas, tidak menyangka jika anak dan menantunya itu benar-benar tidak tahu tentang berita kepulangan Mira. “Bi Mar, tolong ambilkan minum untuk Nyonya besar!” teriak Renata. “Jadi, ada apa, Ma?” Miranda mengeluarkan semua foto-foto yang sudah dicetak dari media masa, beberapa video kedua cucu dan cicit mereka juga tidak luput dari data yang sudah dikumpulkan oleh orang kepercayaannya. Miranda memberikan semua bukti itu pada Johan dan Renata, keduanya cukup terkejut dengan berita yang saat ini sedang trending. “Pa, kok begini jadinya? Kenapa Mira langsung bergerak sendiri seperti ini?” “Mungkin, ini yang dimaksud menjadi urusannya saat Papa menanyakan, bagaimana cara membuktikan pada para wartawan, investor dan juga rival bahwa kita sudah punya penerus.” “Kita harus bertemu dengan Mira, harus adakan konferensi pers, Johan. Jangan sampai, mereka merpertanyakan status pernikahan cucuku. Aku juga ingin bertemu dengan suaminya, segera.” “Bagaimana cara menghubungi, Ma? Tahu sendiri, kita semua di blokir olehnya,” keluh Johan putus asa. “Kenapa kamu itu bodoh sekali, Johan? Kita bisa minta bantuan detektif untuk mencari tahu dimana keberadaan Mira dan kedua anaknya saat ini. Aku yakin, mereka masih ada di Jakarta.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD