Bab 9. Sebuah Rencana

1700 Words
Hiruk pikuk kota besar memang tidak diragukan lagi, malam hari pun masih terasa ramai seakan tidak ada matinya. Semua orang masih berlalu-lalang di jalanan, ada yang akan kembali ke rumah, ada yang baru jalan keluar rumah dan masih banyak lagi lainnya. Satu Minggu sudah berlalu, selama satu Minggu ini Mira menyibukkan dirinya untuk mencari informasi. Apakah benar yang dikatakan oleh papa dan mamanya itu, ataukah semua ini kembali hanya untuk sebuah permainan. Jika memang untuk kembali karena sebuah permainan, maka dirinya tidak akan pernah memaafkan keduanya. Mira juga sudah menghubungi Shela untuk menghandle semua pekerjaan di Singapura. Mira sudah dapat dipastikan tidak akan bisa kembali dalam waktu dekat, entah setelahnya pun bisa kembali lagi kesana atau tidak. Ia fokus dulu pada semua isu yang mulai muncul di perusahaan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Papanya itu. Banyak sekali investor yang mulai ragu dengan perusahaan mereka, karena sampai sekarang tidak ada bukti bahwa penerus itu ada. Bahkan, Mira sendiri tidak pernah muncul di khalayak ramai, suami dan anak-anaknya dipertanyakan oleh semua orang. Menurut info yang didapat olehnya, ada beberapa perusahaan lawan yang mencoba untuk menggoyahkan hati para investor agar tidak lagi bekerja sama dengan perusahaan Johan. Jika sampai mereka terhasut, maka dalam seketika perusahaan akan hancur. Dan, itu tidak boleh terjadi. Mira tidak akan pernah, membiarkan siapapun untuk mengacak-acak perusahaan yang sudah dibangun dari nol. Ia tahu betul, bagaimana papanya berusaha untuk menjadikan perusahaan tersebut menjadi besar dan memiliki banyak cabang sampai ke luar negeri. Dan, Mira tidak akan sedikitpun memberikan celah bagi para rival untuk menghancurkannya. Mira mulai mengumpulkan semua data anak-anaknya. Beberapa foto yang diambil saat masa-masa kehamilan, melahirkan bahkan saat mereka mulai berjalan. Tidak hanya itu saja, Mira juga mengumpulkan data-data bahwa anaknya memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Saat usia mereka menginjak dua tahun, sudah pandai memainkan alat musik, satu persatu hingga usia mereka menginjak lima tahun, Michael dan Matthew pandai memainkan segala macam alat musik klasik. Mereka juga pandai sekali beberapa bahasa asing, terkadang Mira sendiri merasa pusing menghadapi mereka yang bertanya memakai bahasa asing, yang entah belajar dari mana. Mereka memang lebih pandai di musik, tetapi kepintarannya itu tidak dapat diragukan lagi. Namun, keduanya bisa lebih membuat banyak orang terpukau ketika memainkan piano dan biola. Keduanya memiliki kemampuan yang berbeda dalam bidang musik, tapi jika disatukan maka akan menjadi perpaduan yang sangat luar biasa. Mira juga sudah minta pada Shela mengirimkan foto Rafa, apabila suatu saat nanti dibutuhkan. Tapi, untuk saat ini Mira lebih akan fokus untuk menunjukkan jati diri kedua anaknya, karena yang mereka butuhkan adalah sosok penerus dari sebuah perusahaan besar bukan sosok siapa ayah dari penerus itu. Semua data sudah terkumpul rapi, beberapa orang kepercayaan Mira termasuk Shela juga ikut membantu dibelakangnya. Mira sudah membuat beberapa foto pernikahannya juga, ya walaupun semua itu hanyalah karangan belaka, tapi bukankah ia harus menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya sudah benar-benar menikah agar tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya muak. Tapi, Mira hanya menunjukkan foto dirinya saja yang bersanding dengan sosok Rafa, namun wajah Rafa dibuat blur agar tidak menunjukkan seperti apa wajahnya. Sengaja, karena ia belum ingin menunjukkan bahwa Rafa itu adalah ayah dari anak-anaknya. Mira khawatir jika nantinya justru akan semakin runyam sebelum semua urusannya beres. Semua sudah siap untuk diterbitkan dan juga di ekspos ke media. Mira meminta beberapa orang kepercayaannya di kantor untuk menemuinya di sebuah kafe klasik tidak jauh dari kantor pusat. Mira sudah menunggu lebih dulu dengan berkas yang menumpuk di atas meja. Ia memesan coklat hangat sebagai teman menunggu, karena hanya coklat hangat yang bisa menenangkan hati dan pikirannya itu. Dua orang yang sejak tadi ditunggu pun sudah terlihat batang hidungnya. Mereka berdua, jalan tergesa-gesa masuk ke dalam kafe untuk menghampiri Mira. Merasa tidak enak karena datang terlambat, apalagi wajah Mira yang tidak sedikitpun menunjukkan senyuman membuat mereka salah tingkah. “Selamat sore, Nona. Maaf kami datang terlambat,” sapa salah satunya. Mira hanya mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Mira lebih dulu meminta mereka untuk memesan minum, agar obrolan mereka tidak terlalu tegang. Karena, memang demi untuk menuntaskan rasa penasarannya, Mira akan bertanya beberapa hal pada mereka berdua. Minuman pun datang, mereka menyeruput terlebih dahulu minuman, sebelum Mira masuk ke obrolan. “Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar, perusahaan terambang bangkrut?” Mira sebenarnya sudah tahu semua hal, tetapi sengaja ingin tahu dari orang kepercayaannya di kantor. Agar memiliki alasan untuk memerintahkan mereka sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Deni pun menjelaskan semuanya, sama persis dengan info yang didapatkan oleh Mira. Bedanya, Mira sendiri sudah tahu siapa perusahaan rival tersebut, sedangkan orang kepercayaannya di kantornya itu tidak tahu. Mira tidak ambil pusing dengan perusahaan baru yang menjadi rivalnya itu, karena ya belum ada apa-apanya jika dibandingkan perusahaan besar milik mereka. Mira menyodorkan tumpukan berkas di depan mereka berdua. “Ini semua berkas lengkap, aku ingin kalian mengangkat berita ini secepatnya. Lihat dulu,” titahnya. Deni dan Wulan pun langsung membuka berkasnya, meneliti dan mempelajari semuanya. Mereka cukup paham dengan apa yang diinginkan oleh Mira. “Aku ingin, semua berita ini perlahan namun pasti dinaikkan secara berturut. Jangan langsung sekaligus, semua datanya lengkap, berikut juga dengan foto-fotonya. Tampilkan semuanya di televisi, akun gosip, surat kabar dan media apapun itu selama satu Minggu kedepan.” “Satu Minggu,” cicit mereka berdua bersamaan dan langsung menatap lekat Mira. “Iya, kenapa? Ada masalah?” “Ti-tidak, Nona,” jawab mereka serempak. “Pokoknya, aku serahkan semua ini pada kalian. Kalian bisa diandalkan bukan? Seperti biasanya, fee tambahan akan aku transfer ke rekening kalian.” “Ingat ya, satu Minggu! Tidak kurang dari satu Minggu. Aku ingin, orang-orang yang belum melihat berita, gosip, surat kabar dan media apapun, bisa melihatnya secara bergantian selama satu Minggu.” “Kalian paham,” tegasnya penuh penekanan. Mereka berdua mengangguk takut, tidak bisa protes juga, karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan. Lagi pula, bekerja di bawah tekanan Mira itu enak, karena bayarannya pun sebanding dengan apa yang dikerjakan. Jadi, Deni dan Wulan selalu mengerjakan semua pekerjaan itu dengan baik, maka dari itu Mira masih mempercayai mereka berdua. Mira membereskan berkas yang tidak dipakai, lalu bangkit. “Fee kalian, sudah aku transfer.” Mira berlalu pergi dari hadapan kedua orang kepercayaannya itu, tanpa menoleh kembali ke belakang. Ia merasa lelah sekali karena satu Minggu ini sibuk mengumpulkan banyak berkas yang memang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dikumpulkan. Apalagi, posisinya saat ini Mira ada di Indonesia dan semua berkas ada di Singapura. Ia hanya mengandalkan Shela dan beberapa orang kepercayaannya yang juga tidak bisa fokus dengan satu pekerjaan karena banyak sekali pekerjaan yang diberikan oleh Mira. Akhirnya, semua berkas sudah tinggal di naikkan pada media. Ia menunggu semua berita yang akan muncul dalam satu Minggu kedepan. Sengaja minta di siarkan dalam satu Minggu kedepan, ia juga ingin tahu bagaimana respon orang tua dan keluarga besarnya setelah ini. Mira yakin, mereka pasti akan semakin memaksa dirinya untuk segera muncul ke khalayak umum dan memperkenalkan kedua anaknya. * Sejak pulang dari kafe tadi siang, Mira masih belum juga keluar dari dalam kamar. Rasa lelah mendera tubuhnya sehingga membuat ia memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamar saja. Tidak peduli dengan sikap protes kedua anaknya itu, ini semua gara-gara Grandpa mereka yang terus memaksakan kehendaknya sendiri hingga membuat dirinya lelah. Selama satu Minggu ini, baik Michael maupun Matthew sudah melayangkan protes. Maminya terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai lupa bahwa di apartemen ada Michael dan Matthew yang juga membutuhkan kehadirannya. Keduanya protes karena memang sebelumnya Mira selalu memprioritaskan mereka, tapi karena ada masalah ini, jadi sebaliknya. Padahal, Michael dan Matthew tidak menginginkan hal yang macam-macam, mereka hanya ingin Mira memiliki waktu yang lebih, sama seperti saat ada di Singapura. Menghabiskan waktu bersama dengan mendengarkan permainan musik keduanya dengan tepuk tangan yang gemuruh, tapi jangankan untuk menghabiskan waktu bersama, untuk duduk makan bersama saja tidak pernah terjadi lagi. “Ternyata, enak di Singapura ya, Bi Dar,” celetuk Michael. “Kenapa emangnya, Den?” “Kalau disana, Mami banyak sekali meluangkan waktu untuk kami. Tapi di sini, sibuk sendiri dengan pekerjaan.” “Sabar, Den. Mungkin, memang pekerjaan Mami sedang numpuk. Jadi, belum ada waktu untuk bermain dengan kalian.” “Tapi, kami itu gak minta main, Bi Dar. Kami hanya ingin, Mami mendengarkan permainan musik kami seperti biasanya. Ini, sama sekali enggan,” keluh Matthew sedih. Bi Dar menghela nafas, bingung juga harus menjawab apa. Karena, memang belakangan ini, ia mengakui Nyonyanya sedang super duper sibuk sampai tidak ada waktu untuk kedua anaknya. Terdengar suara langkah kaki mendekat, Mira ikut bergabung dengan mereka di meja makan tanpa menyapa seperti biasanya. Ia langsung mencopot buah yang sudah disediakan oleh Bi Dar. “Mami capek?” “Iya, Matthew. Mami sangat amat capek sekali belakangan ini.” “Mami, kapan ada waktu untuk kita?” tanya Michael. Mira menghentikan aktivitas mengunyahnya, menatap lekat Michael dengan tatapan yang sulit sekali di artikan. “Nanti, untuk saat ini sedang sangat sibuk sekali. Mami sampai tidak bisa membagi waktu.” “Lalu kapan?” Matthew angkat suara, ia juga ingin protes dengan sikap Maminya. “Kalian ini kenapa? Biasanya mengerti keadaan Mami, tapi kenapa sekarang–” “Kita terus yang mengerti, lalu Mami kapan mengerti kami? Mami sibuk dengan segala macam pekerjaan sampai-sampai tidak ada sedikitpun waktu,” protes Michael. “Mi, kami hanya ingin aktivitas seperti dulu di Singapura. Menghabiskan waktu dengan bermain musik, mami mendengarkan dengan tepuk tangan yang gemuruh. Tapi sekarang apa? Gak ada aktivitas seperti itu, Mami berangkat tanpa pamit dan pulang tanpa menyapa,” keluh Matthew. “Kalian ini kenapa sih? Hah? Gak bisa sabar sedikit saja? Mami tahu, kalian bosan di apartemen terus, ‘kan? Tapi, Mami minta untuk sabar sebentar lagi–” “Sampai kapan? Sampai kapan harus sabar!” sentak Michael tidak bisa lagi menahan emosinya. “Satu Minggu lagi. Kasih Mami satu Minggu lagi–” “Halah! Bohong!” tuding Michael cepat. “Mami sekarang suka ingkar janji! Kami sudah tidak percaya lagi dengan apa yang Mami katakan!” teriak Michael penuh kekecewaan, begitu juga dengan Matthew yang memandang Maminya penuh kecewa. Keduanya bangkit dan berlalu dari hadapan Mira, masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu. “Michael! Matthew!” teriak Mira penuh emosi. “Argh! Kenapa kalian tidak pernah bisa mengerti Mami!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD