Sejak tadi, Mira sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan dirinya. Telinganya memerah menahan amarah yang sungguh tidak tertahankan. Ia juga tidak ingin menjadi seperti ini terus, ia sudah berusaha mengikis semuanya tapi memang tidak mudah. Siapa juga orangnya yang tidak kesal, ketika trauma justru harus dikalahkan oleh sebuah keegoisan? Sungguh tidak adil bukan?
"Sekarang, nasib semua perusahaan ada ditanganmu, Mira. Adik papa tidak mau menghandle semua itu sejak kamu pergi. Dan, sekarang papa sudah lelah menghandle semuanya. Papa serahkan padamu, karena papa yakin, kamu bisa menghandle semuanya tapi, tetap saja semua para investor pasti sedang mencari cara agar bisa mengambil alih perusahaan hanya karena papa tidak segera memperkenalkan pewaris di hadapan banyak media dan semua investor.”
“Ya memang saat ini, masih adem keadaannya. Tetapi, sudah banyak perusahaan lain yang menyerang dari belakang. Papa takut, perusahaan itu hancur dalam seketika, kamu tahu sendiri bagaimana perusahaan itu berdiri.”
"Jadi, tolong untuk kali ini benar-benar pertimbangan keinginan Papa, Nak. Papa tahu, tidak mudah dan pasti berat untuk kembali kesini, apalagi kebahagiaanmu ada di sana bersama anak-anak. Tapi, Papa mohon untuk bisa dipertimbangkan," lirihnya dengan wajah memelas.
Mira menghentakkan nafas kasar, memandang kedua orang tuanya penuh emosi. Akhirnya, ia mengambil keputusan yang baginya memang sangat berat, tapi tidak ada pilihan lain. Ia akan kembali ke Jakarta dan menetap di sana bersama kedua orang tuanya.
"Baiklah. Kalau itu adalah permintaan yang sangat Papa inginkan. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan apa yang Papa inginkan. Tapi, itu semua tidak gratis, Pa."
"Maksudnya bagaimana, Mira? Papa tidak paham."
"Aku punya syarat demi untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh Papa."
"Syarat?" cicit Johan mengulang ucapan Mira, ia mengalihkan pandangannya pada Renata yang tetap diam disaat anak dan ayah itu saling berdebat. "Syarat apa? Kenapa harus ada syarat segala?"
"Itu semua demi keamanan, ketenangan dan kenyamanan untukku dan anak-anak agar bisa memenuhi keinginan Papa."
"Baiklah, apa syaratnya?"
“Jika papa minta aku untuk menetap kembali di Jakarta. Jangan pernah memaksa aku untuk tinggal bersama satu atap dengan kalian. Dan jangan pernah memaksa aku untuk segera membawa anak-anak, bertemu dengan kalian.”
“Tapi, kalau syaratnya seperti ini, bagaimana bisa Papa memberitahu pada semua investor dan media kalau kalian sudah kembali?”
“Biarkan itu menjadi urusanku.”
Mira berlalu dari hadapan keduanya, Renata menatap sendu anaknya itu dan berlari mendekati. “Mira,” panggilnya menarik tangan anak sambungnya.
“Kenapa, Ma?” tanyanya datar.
“Kamu mau pergi kemana lagi? Bukankah baru saja datang? Apa tidak lebih baik, kita makan malam bersama dulu?”
“Tidak. Aku masih punya urusan lain. Nanti, aku akan datang makan malam di rumah bersama anak-anak.”
“Kau serius, Mira?”
*
Almira keluar dari ruangan sang papa dengan terburu-buru. Ia tidak memperdulikan seruan dari sang mama yang terus memanggil namanya. Mira enggan menghentikan langkahnya ataupun menoleh ke belakang. Ia terus melangkah sampai benar-benar jauh dari ruangan sang papa.
Emosinya masih membara, merasa sedih dan terluka karena dibohongi. Tapi, ia merasa sama sekali tidak bisa untuk menyampaikan semua rasanya melalui apapun, sekalipun lewat tangisan. Mungkin, hatinya terlalu mati dan terluka hingga tidak mampu lagi untuk sekedar menangis. Sebab, selama ini dirinya sudah lelah karena terus menangis di setiap malam, saat menghadapi masa kehamilan sendirian.
Mira masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu, ia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di apartemen. Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya, saat ini. Ia merasa terluka karena dibohongi, merasa sakit hati karena terus didesak tentang apapun itu. Mira merasa seperti tidak punya pilihan hidup sendiri.
"Argh!" teriak Mira memukul-mukul setir mobil dengan keras.
"Sialan! Kenapa keadaan ini masih tetap sama dan tidak berubah."
"Ya Tuhan, aku lelah! Aku ingin hidup normal, tapi kenapa rasanya sangat sulit sekali. Kenapa Papa selalu saja memaksakan kehendaknya sendiri?”
"Aku seperti anak durhaka yang tidak pernah tahu kondisi kedua orang tua, bahkan saat papa sekarat pun aku tidak ada. Aku juga seperti anak tidak tahu diri, hanya bisa menyusahkan mereka tanpa bisa memberikan kebahagiaan. Aku terus saja terkurung dalam sebuah rasa sakit, luka, kecewa dan trauma mendalam hingga berani melarang mereka untuk menemui selama berada di Singapura,” sesalnya tiada tara.
Mira sempat menangis tergugu di dalam mobil, tidak peduli lagi kondisinya yang sudah sangat berantakan dan makeup hancur. Ia hanya ingin menangis dan melampiaskan semuanya melalui tangisan. Sejak tadi, dirinya memang menahan diri untuk tidak menangis, tapi mengingat bayangan-bayangan masa lalu yang menyakitkan malah membuat pertahanannya itu bobol seketika.
Mira pun mengendarai mobil dengan tidak karuan, banyak sekali pengendara lain yang hampir saja ditabrak olehnya. Ia tidak peduli dengan lengkingan klakson yang terus dibunyikan agar menghentikan aksinya yang tidak jelas itu. Kecewa sudah pasti, bukan kecewa pada keluarganya tetapi pada diri sendiri karena masih saja belum berdamai dengan keadaan.
Sesampainya di apartemen, Mira melangkahkan kakinya dengan cepat dan sedikit berlari agar segera sampai di apartemen miliknya. Masuk ke dalam lift, dengan penampilan yang kacau. Banyak pasang mata yang menatapnya bingung, tapi Mira sama sekali tidak peduli. Mira berharap agar segera sampai di atas dan bertemu dengan kedua anaknya. Saat ini, hanya Michael dan Matthew yang mampu menenangkan hatinya yang kacau.
Tepat di depan pintu, Mira menggedor-gedornya dengan keras membuat Bi Dar yang berada di dalam terlonjak karena sedang membersihkan ruangan tepat di samping pintu masuk. Bi Dar bergegas membuka pintu dan matanya terbelalak melihat keadaan Mira.
Mira seakan tidak peduli dengan tatapan kebingungan dari Bi Dar, ia nyelonong masuk ke dalam dan langsung mendudukkan diri di atas sofa. Menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata, menahan semua gejolak yang ada.
Bi Dar melangkah perlahan, mengambil air mineral terlebih dahulu setelahnya mendekati Mira. Ia masih tetap diam, membiarkan majikannya itu menenangkan diri. Bi Dar tidak paham apa yang terjadi pada Mira, tetapi sepertinya untuk saat ini yang dibutuhkan Mira hanyalah sebuah waktu.
"Argh!" teriak Mira mengejutkan Bi Dar dan kedua bocah kembar yang langsung keluar dari kamarnya.
Mira menjambak rambutnya sendiri frustasi, benar-benar tertekan karena permintaan kedua orang tuanya. Ia masih belum bisa, ia masih belum sanggup untuk memiliki pasangan secara sah. Jangankan untuk menikah, mengenal lelaki bahkan dekat saja ia enggan. Bukan, bukan enggan namun lebih tepatnya hatinya selalu takut, waspada dan tidak bisa menerima kedatangan lelaki lain selain papanya.
Michael dan Matthew menatap Maminya tanpa berkedip. Keduanya merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, tidak berani untuk bertanya, apalagi dalam kondisi Maminya yang seperti itu.
"Nyonya, ini minumannya," ucap Bi Dar menyodorkan satu gelas air agar Mira lebih tenang.
Mira menerima dan langsung meminumnya hingga tandas. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, ia kembali menyandarkan punggungnya ke sofa. Menatap lurus ke depan tanpa kata, namun terlihat sekali sorot matanya penuh dengan luka.
"Mi, ada apa?” tanya Mattew penuh kelembutan.
Mira mengalihkan pandangan pada kedua bocah kembarnya, ia tertegun sesaat karena benar-benar lupa kalau saat ini sudah memiliki keduanya. Seharusnya, Mira bisa lebih tenang dan mengendalikan diri, tidak seperti ini. Berpenampilan acak-acakan di depan kedua lelakinya.
“Mami tidak apa-apa, Sayang.”
“Bohong!” tuding Michael. “Apa yang Mami sembunyikan? Mami tidak bisa membohongi kamu begitu, saja. Aku tahu, Mami sedang banyak masalah bukan?” imbuh Michael menebak-nebak apa yang terjadi pada Maminya.
“Tidak, Nak. Mami hanya lelah dengan pekerjaan kantor.”
Michael memicingkan matanya, tidak percaya begitu saja pada Sang Mami. Sebab, raut wajah Maminya itu ketara sekali banyak masalah bukan lelah dengan pekerjaan kantor.
“Mami sedang tidak membohongi kami, kan?”
“Tidak. Sudahlah, jangan terus berspekulasi dengan pikiranmu sendiri, Michael. Mami tidak suka,” potong Mira cepat mengalihkan semua pembicaraan.
“Tapi, apa yang dikatakan oleh Michael sepertinya ada benarnya juga. Mami … seperti menyembunyikan sesuatu,” ungkap Mattew.
“Cukup Mattew. Kamu jangan seperti Michael, yang selalu berspekulasi dengan pikiran sendiri.”
“Ah terserah, Mami!” seru Michael. “Padahal, aku ini adalah dirinya bentuk mini. Tapi, kok selalu tidak menyadari hal itu,” imbuh Michael berlalu pergi dari hadapan mereka semua.