Bab 7. Kebohongan Yang Terungkap

1173 Words
Mira menatap tajam kedua orang tuanya yang langsung bungkam itu. Ia benar-benar tidak suka drama yang membuatnya susah dan jengah. Tetapi, sepertinya kedua orang tuanya itu lebih suka bermain drama yang tidak ada ujungnya. Kedua orang tuanya masih bungkam, diantara mereka tidak ada yang berani untuk angkat suara karena khawatir jika Mira akan marah besar. "Jadi, apa yang kalian sembunyikan dariku, Ma, Pa?" tanyanya lagi datar dengan tatapan mengintimidasi. "Kenapa kalian hanya diam saja? Tidak ada yang bisa menjelaskan atau memang tidak ada yang mau menjelaskan?" tanya Mira lagi menatap mereka secara bergantian. Mira membuang nafas kasar, jengah menatap keduanya yang tetap bungkam tanpa kata. Tidak ada pilihan lain, dipaksa pun keduanya akan tetap diam tanpa kata. Mira memiliki kekuasaan dan ia akan menggunakannya sekarang. Mira selalu menggunakan kekuasaannya itu disaat-saat penting saja, tidak seenaknya. Ia akan mencari tahu sendiri apa yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya itu. Mira merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya lalu menghubungi seseorang. Ia menghubungi salah satu dokter magang yang berhasil direkomendasikan olehnya untuk bekerja di rumah sakit tersebut. Ya, Mira memang sangat berjasa untuk beberapa orang disekitarnya, apalagi pada teman-teman lama yang sudah selalu ada untuknya itu. "Ke kamar VVIP, sekarang!" perintahnya tanpa bisa diganggu gugat, ia langsung mematikan telepon secara sepihak dan menatap tajam kedua orang tuanya. Tidak lama setelah Mira memastikan sambungan telepon, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan tersebut. Pintu pun terbuka lebar dan masuk seorang lelaki berjas putih, salah satu dokter magang yang tidak bisa dicegah kedatangannya oleh orang tua Mira. Mereka seakan melupakan sesuatu, mereka sudah jelas memiliki kekuasaan tapi mereka lupa bahwa Mira pun memiliki hal yang sama. Bahkan, putrinya itu memiliki koneksi yang cukup cepat di dalam rumah sakit tersebut selain dokter kepercayaan yang biasa menangani keluarganya. Renata dan Johan saling memandang, mereka tidak akan bisa mengelak lagi sekarang. "Mira, kau bawa siapa?" tanya Papa Johan berusaha untuk tetap tenang. "Ah iya, kenalin Ma, Pa. Ini dokter yang akan menjelaskan semuanya padaku sekaligus membongkar semua rahasia yang tidak bisa kalian jelaskan padaku, tadi. Kenalkan, namanya adalah Dokter Devan," jelas Mira penuh percaya diri. Dokter Devan menatap Renata dan Johan secara bergantian, ia menundukkan kepalanya ragu karena merasa takut. Mengingat, kekuasaan mereka yang tidak terkalahkan pada jamannya. "Jadi, apa yang ingin Nona Mira dengar dari saya? Saya akan menjawab semuanya, mengenai kesehatan Tuan Johan dan Nyonya Renata," jawab Dokter Devan menunduk. Sejujurnya, ia masih merasa takut berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan itu. Ia khawatir jika nanti keluarganya dapat masalah karena ulahnya sendiri. Mungkin, Johan memang akan berbuat seenak hatinya tetapi sekarang semua kekuasaan sudah diambil alih oleh Mira. Jadi, ia sedikit lebih tenang untuk menceritakan semuanya walaupun harus tetap waspada. "Jelaskan, apa yang tidak pernah diketahui selama aku berada di luar negeri, Dok," pinta Mira kemudian duduk di sofa dengan kaki yang disilangkan. Devan lebih dulu menatap Johan dan Renata yang sudah menggelengkan kepalanya lemah, tetapi lelaki muda itu benar-benar tidak punya pilihan lain untuk menceritakan semuanya. Ia pun kembali menatap Mira dengan tatapan tegas dan yakin. Devan lebih dulu membenarkan posisi berdirinya dan juga suaranya agar tidak terdengar kaku atau mencurigakan. “Jadi begini, selama Nona di luar negeri, Tuan Johan melakukan beberapa kali operasi untuk mengobati kanker paru-paru stadium satu," jedanya lebih dulu ingin melihat bagaimana tanggapan dari Mira. Tetapi, wanita itu terlihat datar saja dan tidak ada sedikitpun rasa khawatir yang terpancar di wajahnya. "Lanjutkan!" titahnya. "Dalam dua tahun belakangan ini, beliau melakukan operasi sebanyak tiga kali, sampai dokter ahli menyatakan bahwa Tuan Johan benar-benar sudah sembuh total. Lalu di tahun ketiga, Tuan Johan diharuskan untuk fokus pada penyembuhan yang memang memakan waktu cukup lama." "Beliau pun bahkan diharuskan tinggal di tempat yang sejuk, tenang dan damai. Beliau memilih tinggal di puncak selama beberapa bulan full agar bisa fokus pada penyembuhannya. Beliau selalu dipantau oleh para ahli dan dipastikan tidak bisa kemana-mana agar bisa sehat seperti sedia kala,” jelas dokter muda itu membocorkan rahasia Johan. Mira mengalihkan pandangan pada Johan dan Renata yang sudah pasrah. Mereka tidak bisa mengelak lagi karena apa yang dikatakan oleh Devan adalah sebuah kebenaran yang memang sebenarnya-benarnya. Sebenarnya itu melanggar kode etik, hanya saja Devan tidak punya pilihan lain untuk menjelaskan semuanya. Itu semua pun karena Mira berhak mengetahui kebenaran tentang penyakit sang papa, jadi ya mau bagaimana lagi. Lebih baik dijelaskan daripada nantinya akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari atau Mira justru menyesal karena tidak sempat mengetahui apa yang dialami oleh sang papa. Mira menghela nafas panjang lalu kembali menatap lekat Dokter Devan yang masih menunggu kata selanjutnya keluar dari bibir indah Mira. "Baiklah, terima kasih atas semua informasi yang diberikan olehmu, Dok. Silahkan, kembali bekerja." Mira mempersilahkan Devan keluar dan kembali ke ruangannya. Kemudian, Mira berdiri dan melangkah menuju ranjang sang papa. Ia menatap kedua orang paruh baya itu dengan tatapan penuh kekecewaan. "Sungguh, kalian sangat menyebalkan dan jahat!" sentaknya. "Bisa-bisanya, aku tidak mengetahui semua ini? Aku ini sebenarnya masih dianggap anak atau tidak! Aku sama sekali tidak tahu kondisi papaku sendiri yang sedang melawan penyakitnya. Dan, kalian dengan tega menyembunyikan semuanya dariku. Maksud kalian itu apa? Hah?” imbuhnya. "Sayang, maafkan kami. Maaf," pinta Mama sendu. "Maaf, kami tidak berniat untuk menyembunyikan semuanya dari kamu. Kami, hanya ingin kamu fokus pada kesembuhan dan kehamilanmu terlebih dahulu. Jadi, kami tidak ingin menambah beban pikiranmu, Nak. Tolong mengerti ya," bujuk Mama lagi. "Tapi aku tidak suka kebohongan yang seperti ini!" tegasnya. "Kalian menyembunyikan hal yang besar, bagaimana kalau aku tidak sempat datang dan melihat papa? Pasti aku akan sangat menyesal nantinya." Mira mencoba untuk tetap tenang dengan menahan amarah yang sebenarnya sudah membara, ia tidak ingin amarahnya meledak di depan kedua orang tuanya. "Apa kau sangat menyayangi dan mencintai papa, Mir?" "Jelas!" sentaknya. "Kenapa harus memberikan pertanyaan konyol seperti itu, Pa?" "Kau tahu, bukan? Selama ini, Papa tidak pernah meminta apapun darimu. Papa juga memberikan semua yang kamu inginkan dan butuhkan tanpa pernah meminta balasan bukan? Papa tahu betul mengenai semua trauma yang kamu rasakan, Nak. Dan papa juga sudah tidak memaksa kamu bukan lima tahun yang lalu? Tapi mau sampai kapan kamu terus seperti ini? Pergi jauh dari kami, menutup semua komunikasi yang ada. Kami juga butuh kabar dari kamu dan anak-anakmu! Mereka bukan hanya anakmu, tapi juga cucu kami!” tegas Johan. "Nak, jika kamu begitu sangat menyayangi dan mencintai Papa, bolehkah pertimbangan permintaan yang satu ini? Papa memiliki satu saja keinginan darimu, Nak." "Papa tidak tahu, sampai kapan bisa bertahan. Umur pun tidak akan ada yang tahu bukan? Bisa saja papa setelah bicara seperti ini, langsung meninggal. Dokter memang mengatakan bahwa kanker yang diderita oleh Papa sudah sembuh total, tapi tetap tidak menutup kemungkinan kapan saja bisa kambuh lagi. Dan itu benar-benar menjadi ketakutan yang luar biasa untuk papa." "Bukan kematiannya yang papa takuti, jika kematian mungkin bisa papa hadapi. Tetapi sungguh, papa merasa takut meninggal sebelum bisa melihat cucu-cucu papa. Oleh karena itu, papa ingin kamu kembali ke Indonesia, tinggal dirumah bersama kami dan memiliki pasangan sebelum papa, meninggal." "Pa, cukup! Jangan terus bicara kematian! Aku tidak suka!" geram Almira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD