07. The Disturber (1)

1621 Words
Natella merupakan plot twist yang tidak diduga siapapun karena bisa berakhir dengan Arkasa, kecuali Reno. Makanya diantara banyaknya teman-teman Arka yang secara terang-terangan memberikan respon risih tiap kali Natella berada di sebelah Arka sambil memeluk lengan cowok itu posesif, Reno merupakan satu-satunya yang memberikan Natella ucapan 'welcome' dengan nada ramah. That's why she likes him a lot. Ya, meskipun kadang-kadang Reno tetap saja menyebalkan. "Lo ngasih Reno bunga? Emang Arka ga cemburu?" tanya Meira kaget mendapati temannya itu memangku sebuket mawar merah yang dirangkai cantik dan juga parsel kecil berisikan cokelat kisses hersheys. "Bunga titipan Dennisa yang masih ngarepin Reno kali, gue cuma kasih cokelat. Lebih mahal dan lebih berfaedah." Balas cewek itu congkak, sedangkan Dennisa yang duduk disebelahnya memberikan tampang masa bodoh. "Tapi kalaupun gue kasih bunga, Arka juga gabakal cemburu. Taulah itu makhluk kayak gimana." lanjutnya memberikan jawaban untuk Meira. "Kayak ga mencintai Nate sama sekali ya?" Sambung Jeana usil. Mereka lagi di kantin hijau, salah satu kantin fisip yang menjadi favorit keempat cewek cantik itu setelah atau sebelum kelas dimulai.  Dan jika mereka sudah duduk disana, mau seramai apapun keadaan, kantin itu tetap terasa milik mereka. Bisa ribut dan bergossip sepuasnya tak peduli di dengar orang. "Tai." Ketiga temannya tertawa terbahak, Natella memang paling bully-able diantara mereka berempat, meskipun kalau cewek itu sudah bete ataupun marah, tidak ada yang berani mengganggunya bahkan sekedar teguran sekalipun. "Semalem gue ketemu Arka, Nat." Cerita Meira kemudian. Satu alis Natella terangkat, menunggu lanjutan dengan tampang sinis, Natella ingat terakhir Meira bertemu dengan Arka, kejadian itu membuat hubungan Natella dengan Arka nyaris berakhir. "Tenang, dia ga sama cewek lain kok. Helah, takut amat lo." Natella hanya memberikan tampang datarnya untuk lanjutan ucapan Meira, menduga bahwa cewek ini akan menjelek-jelekan cowoknya itu lagi dan memintanya memutusi Arka secepatnya. Seperti biasa. "Dia sendirian sih, tapi belinya dua kotak nasi. Gatau satu lagi buat siapa." "Buat kasih makan gue lah." Dennisa menatap Natella pura-pura kaget, "tumben Arka peduli dengan peliharaannya yang ini." "Fak berisik lo." Sinisnya untuk Dennisa. Matanya kemudian beralih ke Meira yang memberikan raut serius, seperti hal yang ingin diberitahunya ini benar-benar penting, "Terus?" tanya Natella untik cewek yang duduk di sebrangnya itu. Namanya juga Natella, dia akan penasaran dengan apapun yang berbau cowoknya itu. "Gue baru sadar aja kalau badannya Arka bagus, meskipun ga sebagus Sugar daddy gue." "Sugar daddy lo buncit, Ra." Dennisa memotong sekaligus mengingatkan. "Jangan dipotong, benga. Gue jadi ga mood kan." "Udah sih lanjut aja." Sahut Dennisa kesal dengan drama yang teman-temannya ini buat. "Nah, ternyata bahunya Arka sandarable. Lo pernah nyandar disana ga, Nat?" "Ya, sianying. Gue pikir penting banget. " Natella kesal sendiri dengan kelanjutan ucapan Meira yang sangat tidak bermanfaat, pasti berujung untuk mengoloknya lagi. "Jangankan nyandar, nyentuh tangan Arka aja hukumnya haram buat Natella." balas Dennisa menambah olokan. "Kalian tuh taarufan atau gimana sih? Parah banget kalau sampe belum pernah ena-ena." "Ih, masih kecil tahu." "AH NYET, SERIUS LO GAPERNAH DIENAIN ARKA? anjeng satu setengah tahun ngapain aja lo berdua? Main barbie?" Natella sempat berpikir kalau Meira dan pertanyaannya kelewat lebay, tapi reaksi yang diberikan dua temannya yang lain sama blanknya dengan cewek ini. Mana Meira ngomongnya kekencangan lagi, buat malu saja. "Cowo lo homo tuh, Nat." Rio, cowok yang duduk di meja sebrang mereka menyahut. Sebenarnya kadang Natella juga pernah berpikir begitu. "Kalau lo butuh diena-in panggil gue aja." sarannya diikuti tawa menggelegar oleh sekelompok teman cowoknya. Netella memegang pelipisnya yang tidak sakit, tidak kuat dengan candaan temannya yang kelewat kotor. Lagian Arka kemana sih? Katanya mau jemput, tapi ini udah jam berapa coba? Baru saja Natella menggerutukan hal itu, dia melihat sosok Arka berjalan menuju kantin, "Kok nggak nelpon?" tanyanya kaget. Tumben-tumbenan Arka mau turun dan menjemputnya sampai ke kantin. Cowok itu sempat tersenyum simpul ke arah teman-teman Natella lalu langsung berdiri di sebelah cewek itu.  "Udah, but your number was unreachable." balas cowok itu santai. Natella buru-buru mengacak tasnya untuk mencari handphone berwarna silvernya. Benar, benda persegi panjang itu dalam keadaan mati. "Cabut sekarang, nih?" tanya Natella yang dijawab anggukan Arka. Natella berdiri, tidak repot-repot berucap pamit kepada teman-temannya itu, malah Arka yang mengucapkannya bak sedang mengobrol dengan temannya sendiri, matanya berhenti agak lama ke arah Meira, dibalas senyuman balik oleh teman-teman Natella. "Kalau bukan pacar temen gue, udah gue embat tuh si Arka." Meira berkata tiba-tiba ketika dilihatnya punggung Natella dan Arka sudah menjauh, mendekati parkiran kampus. "Sekarang gue paham kenapa Natella nggak bisa lepas dari dia." "Lah cun, tumben?" Tanya Denissa tidak percaya. Jelas-jelas Meira itu dari awal paling anti sama yang namanya Arka, malah mengutuk cowok itu mati-matian  dan merasa Natella kebagusan untuk laki-laki secuek dan sekalu Arka. "Arka itu ganteng, tau sih. Tapi dia good boy." Iya, Arka kurangnya cuma satu di mata mereka, he is a good boy and good boy is boring. Makanya meskipun suka mencemooh Natella, kadang mereka bangga dengan temannya yang satu itu, bisa setia berada dalam huhungan dengan cowok cuek bukan main seperti Arka. "Dia tuh gentle. Banget." Gumam Meira pelan, matanya seperti menerawang jauh. Dan perlahan, Jeana sadar kalau dibalik candaan Meira daritadi mengenai Arka, ada yang cewek itu sembunyikan dan belum siap untuk dibagikan ke siapapun. "Gue sebenarnya bingung." Dennisa bergumam tiba-tiba, "Arka tuh suka beneran atau terpaksa ya sama Natella? Dia kayak ga ada sayang-sayangnya sama sekali." "Cinta mati." Meira menjawab dengan gumaman. Ini cewek tiba-tiba jadi aneh, seperti bukan Meira yang selalu meremehkan hubungan Arka dan Natella yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan. "Arka itu cinta mati sama Natella." lanjutnya pelan. "Tau darimana lo?" Meira mengeluarkan cengiran bodohnya merespon pertanyaan heboh Dennisa, "itu sih maunya Natella." jawabnya kemudian. Sementara Dennisa dan Jeana hanya berdecak sebal, Meira memang paling suka mempermainkan mereka seperti ini. "yaialah maunya Natella." Balas Dennisa ketus. "Maunya Arka gimana?" Dan Meira hanya mengangka bahunya, tidak mau melanjutkan percakapan itu lebih lanjut. *** Wangi lembut vanila merupakan bau yang terhirup apabila memasuki mobil Arka. Tidak pernah ganti, dari mobilnya masih CRV sampai CX-5 seperti sekarang, selalu merek dan wangi fluffy vanila dari Febreze yang sebenarnya masih jarang beredar di Indonesia, kecuali toko online. Natella pernah mencari merek dan wangi yang persis, tapi tidak ketemu meskipun sudah menanyakan di setiap supermarket mall yang dia kunjungi. He addicted to everything about vanilla. Itu dugaan pertama Natella karena apapun yang Arka pesan biasanya ada vanilanya. Minuman vanilla frappe, roti rasa vanila, eskrim rasa vanila, s**u rasa vanila, pengharum mobil vanila, kamar juga bau vanila. Untung parfum baju atau badannya lebih jantan dari vanila. Tapi ada yang aneh dengan kecintaan Arka terhadap vanila. Natella sudah mengenal cowok itu hampir 3 tahun, dia menyukai Arka dan artinya dia selalu memperhatikan cowok itu secara detail, mulai dari yang disadari semua orang atau pelan-pelan hanya Natella yang sadar. Arka tidak habis tiap kali minum vanilla frappe atau s**u vanila, dia juga biasa saja tiap melihat roti vanila, bahkan dia tidak seperti orang yang menikmati bau vanila. Dulu-dulu, Natella sempat memakai parfum, body mist, sabun, dan lulur berbau vanila. Boro-boro Arka mau nempel terus, cowok itu malah tetap biasa saja. Padahal setahu Natella, ketika kita tergila-gila sama sesuatu, kita biasanya bakal berbinar tiap kali ada hal yang berhubungan dengan kesukaan kita itu. Misal Natella kepada Indomie dimana kecintaannya itu tidak pernah berubah. Jangankan memakannya, mendengar nama Indomie disebut saja sudah membuat Natella bahagia. Dan meskipun seluruh orang di rumah (kecuali Ferre, adiknya, yang bernasib sama) mencoba menjauhkan dia dengan Indomie, Natella pasti selalu mendapati cara untuk memakannya, walau tidak sering. Sedangkan Arka sama sekali tidak begitu. Arka seperti tergila-gila dengan kemanisan vanila, tapi disaat yang sama, dia seperti terpaksa menyukai vanila. Makanya Natella berpikir kalau cowoknya itu tidak sedang menjadi dirinya sendiri. "Sayang, aku bosen sama wangi parfum mobil kamu. Ganti dong?" tanya Natella iseng tiba-tiba, mereka tidak memiliki percakapan apapun setelah Arka meminjamkan powerbanknya untuk Natella dan mobil berjalan menuju gedung FH. Natella tidak serius, siapa sih yang gasuka dengan bau seenak ini? Natella bahkan betah berlama-lama menunggu ataupun tidur-tiduran di dalam sana karena mobil Arka rapi dan wangi. Arka yang sedang menyetir menengok ke sampingnya sebentar, ceweknya itu masih sibuk mencatok rambutnya dengan catokan portable yang sengaja ia tinggalkan di mobil Arka. Padahal Arka hanya meninggalkan satu flashdisk dengan ukuran tidak seberapa di mobil Natella yang biasanya lansung hilang keesokkan hari sedangkan Natella meninggalkan catokan, peralatan make up, sepatu, bahkan baju ganti di mobil Arka. "Gasuka, turun aja." "Kok jahat banget sih." "Bercanda." Iya, tahu, Arka tidak mungkin sekejam itu sampai menurunkan dia di jalan cuma gara-gara hal sesepele ini. Tapi, apakah itu sepele buat Arka? Siapa yang tahu kalau akhirnya Arka beneran mau nurunin Natella cuma gara-gara ini? "Kalau gitu aku ganti beneran ya?" "Yaudah, diturunin beneran." Jawabnya datar. "Turunin aja. Udah nyampe juga." Natella membalas gregetan. Mereka sudah tiba di parkiran dekanat FH, tinggal mencari tempat kosong untuk parkir. "Kamu tuh suka vanila karena Mentari suka sama vanila ya?" tembak cewek itu lagi, selalu mengungkapkan kecurigaannya dengan to-the-point. "Hah?" "Pura-pura gangerti. Tuh, parfumnya Mentari Vanilla Lace VS." balasnya. Gila, si Natella kok bisa tahu sedetail ini? Arka saja tidak pernah tahu menahu soal itu. "Kamu sok-sok suka vanila karena Mentari suka vanila, padahal kamu gasuka."tebaknya, anak ini suka sekali menyerukan isi imajinasinya seakan-akan itu sebuah kebenaran. "Ya, ngga lah." Jawab cowok itu kemudian, sudah menarik rem tangan dan mobil putih itu benar-benar terhenti. "Ngapain ngikutin orang?" "Aku ngikut-ngikut kamu suka vanila pas tau kamu suka vanila." lanjut cewek itu sinis. "What do you actually mean?" Tanya Arka lagi, karena mobil itu sudah terparkir, dia jadi bisa menatap ke mata Natella. "Salty mulu tiap ketemu." lanjutnya menunggu penjelasan. "PMS ga kelar-kelar, ya?" "Habis kamu mau nurunin aku di tengah jalan cuma gara-gara parfum vanila." "Kan cuma bercanda, Natella." Tekan Arka. "Bohong, kamu serius." Natella membalas, dia buang muka, tidak mau setatapan mata dengan Arka. Hening sebentar, cuma ada lagu Nirvana-Dumb dari tape mobil yang terdengar. Tidak lama dari itu, Natella menatap ke arah Arka, "Tapi yaudah sih, karena semalam kamu baik mau beliin aku makan meskipun nyampenya lama. Aku gaakan cari ribut dan langsung maafin kamu aja." Cewek itu memberikan senyum lebar kemudian. Membuat Arka melongo, kemudian ia menghembuskan napas berat. 'Ini kayaknya si Natella benar-benar butuh di bawa ke psikiater, deh.' ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD