06. The Princess

1525 Words
Sederhana tapi menarik, itu adalah kalimat singkat yang pas untuk mendeskripsikan Mentari Adrianni. Tidak seperti gadis seusianya yang begitu memusingkan soal trend fashion, make up, rambut atau laki-laki, Mentari lebih memilih fokus pada cita-citanya untuk menjadi dokter yang baik. Dokter yang punya attitude, skill and knowledge. Dia tidak hanya punya passion dan cerdas, wajahnya juga ayu dan sifatnya yang supel semakin memperkuat alasan kenapa banyak kaum adam berlomba-lomba untuk merebut hati seorang Mentari Adrianni sejak kali pertama memandangnya. "Adik kelas gue dulu tuh, juara umum terus. Kayak namanya, Mentari itu beneran Matahari. Bisa menerangkan kehidupan gue yang gelap gulita" "Bener-bener calon istri idaman." "Sayang... kapan gue dipanggil sayang sama dik Mentari?" "Cakep banget sih, bikin adem. Jadi ingin menghalalkan." "Kerjain ah, siapa tau dia jadi baper juga sama gue." "Ya anjing, kalau saingan gue Arka mending mundur." Itu adalah sepenggal percakapan sebagian cowok-cowok yang menjadi pengagum Mentari Adrianni waktu zaman ospek. Mereka sudah memperhatikn cewek itu sejak technical meeting ospek Fakultas. Tidak seperti mereka yang selalu melihat ke arah Mentari, Mentari malah melihat ke arah lain, Arka. Entah kebetulan, atau sengaja. Dimulai dari hal-hal tidak penting seperti banyaknya panitia yang berdiri disekitar tempat duduk Mentari dan teman-teman barunya, cewek itu malah memilih memanggil Arka yang berdiri cukup jauh, si kakak ganteng yang punya tampang sengak setengah mampus, untuk meminta penjelasan mengenai apa yang sedari tadi dia dan teman-temannya belum mengerti. Setelah sesi tanya jawab singkat Mentari ke Arka selesai, Lisa, cewek yang duduk disebelah Mentari langsung berbisik ke cewek itu, "Kok lo berani banget manggil dia, Tar? Yang kayak begitu pasti tatib songong yang suka marah-marah gajelas." "Kayaknya dia baik?" Mentari ikut berbicara dengan nada pelan. "Baik atau ganteng, Tar?" sambung Nadine menggodanya. "Baik doang kok." Mentari mengatakan dengan nada pelan, takut dimarahin senior yang merasa terganggu karena ketua panitia masih komat-kamit di depan. "Tapi ganteng banget juga, kan?" "Biasa aja." Nadine memberikan decakkan mengejeknya. Munafik banget kalau ada yang bilang cowok dengan tinggi 180 ke atas itu biasa saja ketika tampangnya bisa mengalahkan member boyband-boyband Korea yang semakin hits di kalangan anak muda zaman sekarang. Atau mungkin juga karena Mentari sudah terbiasa dikelilingi cowok ganteng, makanya yang kayak Arka hanya masuk dalam kategori biasa di matanya. "Biasa aja-biasa aja, ntar naksir baru tahu rasa lo." Mentari hanya senyum simpul mendengarkan sumpahan Nadine, pembicaraan kayak begini tidak akan ada usainya. Jadi, dia memutuskan untuk mendengar arahan dari kakak-kakak panitia mengenai ospek mereka dibanding membicarakan hal-hal tidak bermanfaat seperti barusan. * Arka itu gantengnya memang kadang tidak manusiawi, wajar kalau banyak Maba terutama yang suka cowok sudah memperhatikannya sejak TM yang diadakan sehari sebelum kegiatan ospek berlangsung. Kebanyakkan mereka percaya kalau Arka pasti mainnya di tata tertib, mengingat bagaimana sengak dan dinginnya tampang dia waktu TM dan juga hari ini, saat ospek berlangsung. Sayangnya, bukan bentakan-bentakan jahat yang bikin kuping dan hati sakit yang diberikan cowok itu ketika berada di lapangan dan mengelilingi barisan Maba, melainkan pertanyaan serta pernyataan khawatir seperti: "Ada yang merasa gaenak badan?" "Muka kamu pucat, masih kuat berdiri?" "Kalau ada yang sakit bilang sama saya, ya." Dan sebagainya yang bikin dedek-dedek jadi pengen mendadak sakit. Sial, udah tampang kayak malaikat, perannya juga benar-benar malaikat. Siapa coba yang nggak tiba-tiba pusing melihat cowok itu? Mentari merasa pusing, tapi tentu bukan karena senior yang diketahuinya dari Lisa bernama Arkasa itu terus berdiri disekitarnya dari tadi, perutnya juga mual, mungkin karena penyakit maaghnya kambuh dan dia serta kumpulan maba lain sedang dijemur dibawah terik sinar matahari untuk dihadiahi cacian-cacian tidak berfaedah yang katanya penguat mental dari panitia. "Mau ke belakang?" Arka menawarkan, mengajaknya untuk berteduh dan beristirahat. Ini adalah kesekian kali Mentari diberikan penawaran untuk melarikan diri dari siksaan ospek oleh Arka, sedangkan cewek itu terus menolak, berpikir kalau dia harus berjuang dengan teman-temannya yang lain. Benar saja, belum sampai 10 menit sejak pertanyaan terakhir Arka mengenai kondisinya yang tidak terlihat baik-baik saja, Mentari tiba-tiba terjatuh, untung Arka bergerak lebih cepat dan berhasil menangkap tubuh kurusnya sebelum mencapai ke tanah, membuat panitia-panitia lain dan juga Maba menjadi latah dan menggerumbungi mereka. Padahal, sebagai anak kesehatan, seharusnya sudah tertanam di benak mereka kalau orang pingsan itu jangan dikerembungi. Tapi ayolah, ini Mentari Adrianni yang pingsan. "Pingsan beneran atau pura-pura tuh?" Pertanyaan dari Dila langsung mendapat kecaman dari panitia-panitia cowok didekatnya. "Kayaknya udah demam daritadi." Arka berkata menjelaskan. "Bawa ke klinik aja, Ka." Pinta Wildo, koor tatib. Arka mengangguk menyetujui, dia menggendong tubuh Mentari yang terasa lebih berat karena pingsan. "Kuat lo gendong sendiri?" Arka mengangguk, dia membawa Mentari ke Klinik universitas yang terletak disekitar gedung FK, tidak terlalu jauh dari lapangan diikuti oleh 3 temannya yang juga jadi panitia kesehatan. Mentari bukan satu-satunya yang pingsan, tapi cewek ini yang paling bikin heboh. Maba-maba yang barisannya sudah tidak rapi itu memiliki pikiran sendiri-sendiri mengenai kejadian yang biasa terjadi di lapangan itu. Tapi beberapa perempuan tentu berpemikiran, "Kenapa ga gue aja sih yang pingsan dan digendong kak Arka?" "Seharusnya dari awal dikasih pita merah." Keluh Ridho melihat kondisi Mentari, takut-takut terjadi sesuatu sama adik kelasnya sejak SMA ini. "Nih anak bebal, Arka udah berkali-kali ngajakin dia ke belakang tapi gamau." Dian membalas, menunjukkan kekesalannya yang kentara ke Mentari yang baru saja diletakkan Arka ke tempat tidur klinik. "Ambis banget ini anak." Komentar Lia, tapi tidak dalam artian buruk. "Dia setia kawan, gara-gara banyak yang naksir dia gue jadi ikut merhatiin. Cakep banget ya? Kalau gue cowok, gue juga naksir kali." Lanjur cewek itu cerewet. Mbak Ayu, Dokter yang tengah berjaga di klinik menghampiri mereka, dia mengeluarkan stetoskopnya dan memeriksa bagian vital Mentari serta mengecek responnya. "Dia gapapa mbak?" tanya Arka setelah mbak Ayu selesai memeriksa. Sebenarnya kalau hanya pingsan biasa, siapapun juga bisa mengurus. "Khawatir banget sih. Calon pacarnya ya?" balas Mbak Ayu menggoda. Arka memutar bola matanya malas untuk merespon godaan mbak Ayu, si dokter umum yang umurnya masih muda dan dekat dengan mahasiswa, lebih suka dipanggil Mbak daripada dokter oleh mahasiswa yang dekat dengannya. "Cantik banget nih dia. Pingsan aja cantik. Cocok nih sama kamu yang ganteng-ganteng jomblo." "Dianya belum tentu single, mbak." Balas Arka bercanda. Meskipun semua bisa sepakat kalau Arka ini dingin dan tampangnya songong setengah mampus, dia tahu cara merespon keadaan dengan baik. "Kalau single gimana? Kamu mau?" Arka mengangkat kedua bahunya. "Dia juga belum tentu mau." Lia ikut menimbrung percakapan akrab antara Mbak Ayu dan Arka, "ga ada yang gamau sama elo, Ka. Ini si Ridho yang cowok aja mau." Ucap cewek itu bercanda, tapi setengah serius juga karena yang suka Arka biasanya gacuma cewek, cowok-pun suka, setidak-tidaknya kagum dan pengen menjadi Arka. "Jadi gimana mbak keadaan Mentari?" Arka bertanya lagi, menantikan keingintahuannya sejak tadi. "IP kamu kan 4, berani diagnosa dini ga?" tantang mbak Ayu untuk Arka. "Hipotensi dan maag?" tanyanya ga yakin. "Daritadi dia megangin perut terus." Mbak Ayu tertawa, dia kembali berniat mengusili Arka. "Ciyeeee katahuan merhatiin." *** "Gimana? nyenyak tidurnya?" Itu pertanyaan pertama yang didapati Mentari ketika dia membuka mata. Kepalanya tidak lagi pusing, badannya bahkan terasa segar. Satu-satunya manusia yang ditangkap matanya hanya cowok berkemeja biru donker dengan jas almamater yang terletak di pangkuannya. Arka yang tadinya memandang dingin kemudian memberikan tampang manisnya yang disertai tawa biar tidak awkward meskipun suasana antara dia dan Mentari sudah secanggung itu, "saya bercanda." ucapnya. "Tapi kamu beneran ketiduran setelah pingsan." "Maaf, kak." Mentari membalas tak enakkan. Dia melihat jam dinding klinik yang menunjukkan pukul 3 siang, masih ingat kalau mereka di jemur di lapangan dari jam 9 dan kemungkinan dia pingsan sekitar jam 11, itu artinya Arka sudah menunggu dia disini selama 4 jam lebih. "Seharusnya aku dibangunin aja kak." "Saya gapernah tega bangunin orang yang pengen tidur." Ucapnya, matanya masih memandang ke arah Mentari. "Makan dulu ya? Biar bisa minum obat. Ini obat maag kamu biasa diminum setelah makan, kan?" "Iya kak." Jawab Mentari lagi, masih merasa canggung dan tidak enakkan karena telah merepotkan seniornya ini. Lagian ngapin sih baik banget sampe nungguin maba yang bukan siapa-siapa ini ketiduran segala? Terus, kalau Mentari tidak salah ingat, wajah Arka adalah terakhir yang dilihatnya sebelum dia menutup mata. Itu artinya...kak Arka juga yang telah membawanya sampai kemari? Duh, gausah baper, Tar. Arka memberikan makan siang yang tadinya berbentuk nasi kotak, sudah dia pindahkan ke atas piring agar Mentari makannya lebih enak. "Gausah kak. aku..." "Saya ga naro racun apapun, kok." Potong cowok itu sebelum Mentari menolak sepenuhnya. Pada akhirnya cewek itu mengalah dan menurut. "Gimana perutnya, udah enakkan?" Pasti enakkan lah kalau dirawat sama yang bentuknya begini. "Iya, kak." "Tuh minum obatnya, nanti saya antar pulang. Maba gaboleh bawa kendaraan sendiri, kan?" "Gausah kak..." Mentari mencoba menolak lagi, merasa terlalu merepotkan seniornya ini. Dia bukan tipikal cewek canggung sebenarnya, tapi entah kenapa cowok ini berhasil membuatnya merasa canggung. Atau lebih tepatnya merasa bersalah karena terlalu membuat repot orang lain, apalagi ini baru kenal. "Saya udah banyak ngerepotin kakak." "Kalau kamu kenapa-kenapa, bisa makin repot." balas cowok itu telak, dia suka menggunakan kalimat ini apabila ditolak ketika berniat baik. Mentari menggigit bibir bawahnya, terpaksa mengalah sekali lagi karena Arka benar-benar berhasil membuatnya menurut dan berakhir berada di dalam mobil Arka yang dalamnya memiliki wangi Vanilla, wangi favoritnya. Kebetulan sekali, kan? "Kamu suka Vanilla?" tanya cowok itu tiba-tiba. Mentari mengangguk, sekaligus memberikan jawaban telak yang menyatakan tebakkan Arka benar. "Persis." gumamnya. Tapi ketika Mentari menanyakan maksud kalimat itu, Arka tidak memberikan penjelasan apapun. Dia diam dan kemudian mengganti topik. Itu merupakan awal kedekatan Arkasa dan Mentari Adrianni, si Pangeran dan Tuan Putri mereka memiliki banyak kesamaan dan kebiasaan, membuat teman-teman mereka diam-diam mengharapkan ada hubungan yang spesial diantara mereka. Maka dari itu, Natella juga memikirkan hal yang sama dan tidak mau merelakan Arkasa begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD