***
Katanya, lagu favorit sesesorang itu biasanya secara tidak langsung menggambarkan isi perasaan orang itu, entah yang terpendam atau ingin tunjukkan.
Natella pernah random suka sama lagu Dewa 19, Risalah Hati, yang dalam liriknya tertulis 'aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta.' Menurut dia, itu benar-benar menggambarkan perasaan dia untuk Arka. Tapi, Arka sangat tidak suka sama lagu itu karena kata dia, lagunya terdengar creepy dan terlalu obsesi. Kalau didengar-dengar lagi sih iya juga, makanya Natella berpikir ulang untuk memfavoritkan lagu itu. Dia gampang sekali terpengaruh Arka.
Ketika lagu itu terputar di radio mobilnya, Natella segera mengganti ke frekuensi lain.
Malam itu lagi hujan, Natella baru pulang dari apartemen Arka dan diantar oleh cowok itu. Iya, Arka yang mengantarnya pulang meskipun Natella tadinya membawa mobil sendiri. Padahal Natella sudah mengatakan kalau dia bisa dan berani pulang sendiri, tapi Arka tetap maksa untuk menjadi supirnya dan mengantar Natella sampai ke rumah.
"Terus kamu pulangnya gimana?" tanya Natella masih tidak yakin untuk menerima tawaran Arka. Dia seneng banget sebenarnya, dengan begini Arka jadi kelihatan peduli padanya. Meskipun Arka bakal menawarkan dan melakukan hal yang sama ke semua cewek yang dia kenal dekat.
Natella biasanya memang selalu dijemput dan diantar pulang Arka kalau main ke apartemen cowok itu pas hari libur. Tapi, kali ini dia lagi sok ide bawa mobil sendiri karena tidak mau minta jemput, niatnya juga tidak akan pulang kemalaman. Sayangnya main kartu dan board game sama Arka dan Reno membuatnya lupa waktu dan baru sadar kalau udah kemaleman pas Reno mandi untuk clubbing. Itu cowok bisa gila kalau sehari saja tidak keluar seharian.
"Bisa taksi atau ojek."
"Kan repot."
"Lebih repot kalo kamu sampe kenapa-kenapa, Nat."
"Memangnya kalau sama kamu gabakal kenapa-kenapa?" Tanya Natella polos. Kalau misal dijalan takdirnya kecelakaan, sendirian atau berdua sama Arka bakal tetep kecelakaan, Kan? Atau kalau misal ketemu begal dan takdirnya jadi korban bakal tetep jadi korban, kan?
Arka memutar bola matanya malas. Ceweknya ini memang terkadang tidak bisa membuatnya habis pikir. Dipeduliin atau tidak dipeduliin sama aja, bakal dibikin ribet.
"Aku bakal hati-hati." Jawabn cowok itu kemudian. "Ini udah malem, hujan deras, kaca mobil kamu gelap, dan kamu bawa mobil suka seenaknya."
Sampai sekarang, ketika mereka berada di jalan dan hujan masih turun dengan derasnya, Natella masih memikirkan gimana cara yang lebih baik pas Arka pulang.
"Ka, mending kamu nginep di rumah aku aja deh." Ucap Natella tiba-tiba. "Udah tengah malem gini, naik taksi serem tau."
"Yaelah, gausah. Ada taksi langganan"
"Minta jemput Reno aja," saran cewek itu lagi. "Kalau kamu diculik gimana?"
Pertanyaan Natella membuat Arka hanya bisa menghela napas frustasi, tidak berkemampuan menjawabnya karena logikanya tidak sampai situ.
"Aku aja mau nyulik kamu kalau bisa." Lanjut cewek itu bercanda. Tapi dalam hatinya yang paling dalam emang pernah berniat begitu.
Arka hanya merespon dengan decakkan malasnya. Sedangkan Natella memandang dan memperhatikan segala pergerakkan cowok yang sibuk menyetir itu. Mata tajamnya fokus ke jalanan yang mulai sepi, tapi kabur karena air hujan. Arka kelihatan serius sekali dan semua cowok yang kelihatan serius biasanya terlihat lebih ganteng. Entah teori itu betulan berlaku atau karena Natella sedang jatuh cinta pada Arka.
Katanya, semua orang itu biasa saja hingga kita jatuh cinta.
Dia terkadang mempertanyakan kenapa bisa selama ini bersama Arka ketika beberapa orang berpikir bahwa mereka tidak cocok, hubungan beracun dan hal-hal negatif lainnya.
Natella tidak sadar kalau lamunannya hanyut dalam ingatan tentang kejadian-kejadian masa lalu, waktu pertama kali ketemu Arka, waktu pertama kali ngobrol sama Arka, waktu pertama kali jalan sama Arka, waktu pertama kali curhat sama Arka, waktu pertama kali ciuman sama Arka, waktu pertama kali Arka mengakui Natella sebagai pacarnya dan waktu pertama kali Natella mutusin Arka.
"Ka, menurut kamu aku creepy nggak?" cewek itu mengeluarkan sebuah pertanyaan random, teringat dengan segala ketidakmasukakalan yang dia lakukan selama ini karena Arka. Dia creepy ngga? Terlalu obsesi nggak? Bukankah dia sudah melangkah terlalu jauh?
Natella setuju kalau awalnya dia lebih mirip cewek gila yang terobsesi untuk memiliki Arka. Dia tidak bisa membela diri apabila ada yang menuduhnya begitu karena kalau dipikirkan secara obyektif, Natella menyebalkan dan merugikan orang lain. Tapi makin kesini, dia yakin kalau dia betulan sayang sama Arka, bukan cuma sekedar obsesi yang selalu memberikan dampak buruk ke dirinya sendiri atau orang disekitarnya.
"Nggak, lah." Jawab cowok itu tanpa ragu.
"Kamu tau kan aku kayak gimana?"
Arka mengangguk, kebusukkan Natella yang mana yang Arka tidak tahu atau tidak diberitahu Natella?
Believe it or not, Natella bahkan lebih berani menceritakan apa yang ia alami atau masalahnya kepada Arka daripada teman-temannya.Bahkan masalah yang dia rasakan dengan Arka sendiri.
Cewek yang duduk manis disebelah Arka itu mengeluarkan senyum manisnya mengetahui itu, membuatnya semakin merasa bersalah tiap kali menginginkan Arka seperti yang dia mau ketika cowok itu tidak pernah memaksanya untuk berubah, meskipun dia juga punya banyak kekurangan.
Lagu di Radio mobil berganti dengan lagu yang sepertinya agak mustahil kalau tidak diputar sehari saja di radio. Lagunya Armada, Asal Kau bahagia.
Tangan Arka sontak mendekati tombol untuk mengganti ke frekuensi lain karena dia bosan setengah mati.
"Jangan diganti!" Natella lebih dulu mencegahnya melancarkan niat. "Ini lagu kebangsaan aku setelah Indonesia Raya, tahu."
"Flashdisk aku mana?" tanya Arka. Cowok itu sengaja meninggalkan flashdisk-nya di mobil Natella yang berisi lagu-lagu favoritnya.
"Dipinjam Jeana buat bikinin tugas," jawab Natella enteng. Well, bukan sekali dua kali barang Arka yang berada di mobil Natella selalu menghilang tanpa jejak.
Arka mengalah, lagi-lagi harus pasrah mendengarkan lagu ini sampai selesai karena Natella menjaga dengan baik tombol-tombol tape mobil.
Natella ikut menyanyikan lagunya, pake gaya sok-sokan menghayati. Enak juga kalau dia menyanyikannya dengan serius, bukan malah teriak-teriak tidak jelas disertai nada menyindir.
"Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia. Aku punya ragamu tapi tidak hatimu...WOOO" ucapnya kemudian di telinga Arka.
"Nat, berisik ah."
Natella tidak peduli, dia tetap menyanyikan lagu itu dengan teriak-teriak tak jelas, saat lagu ini terputar merupakan saat dimana Natella merasa benar-benar menang dari Arka yang kayaknya tidak pernah kalah melawannya. Natella tidak terlalu mengidolakan lagu ini sebenarnya, tapi liriknya benar-benar menggambarkan apa yang terjadi antara dia, Arka dan Mentari.
"Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya."
"..."
"Ku tetap tak rela kau dengannya meskipun kau bahagia."
Tapi lirik terakhir bagian chorusnya itu malah Natella ganti, membuat Arka tiba-tiba tertawa ngakak.
"Lah tumben sampe ngakak?" tanya Natella kaget, udah tidak peduli sama lagu kesayangan yang masih keputar itu. Dia lebih takut kalau cowoknya ini kerasukan penunggu jembatan yang baru saja mereka lewati barusan. Manusia dingin dan batu kayak Arka jarang banget tertawa yang bener-bener tertawa kayak sekarang apalagi karena Natella. Makanya Natella curiga.
"Soalnya lucu." Jawab cowok itu, masih ada sisa-sisa tawa.
"Apanya yang lucu coba?" tanyanya heran. "Itutuh ngasih tau kamu kalau aku gabakal iklas kamu sama cewek lain meskipun kamu seneng." Jelas cewek itu bercanda. "udah kayak pacar psikopat belum aku?"
Arka mengangguk, "lumayan."
"Tau ga? Yang suka sama kamu itu banyak. Tapi yang lebih baik dari aku ada ga?" tanya Natella asal, melanjutkan candaan ala posesifnya itu. "Pasti ada sih." Natella menjawab sendiri, dia benar-benar memikirkan jawabannya meskipun awalnya dia hanya bermaksud main-main. "Tapi yang sayang sama kamu melebih aku ada ga?" lanjutnya, dia juga memberikan jawabannya sendiri, "ga mungkin ada." Ucapnya lagi. Arka sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk buka mulut, atau memang cowok itu tidak akan buka mulut disaat Natella mengatakan hal-hal kayak begini.
"Makanya kamu jangan nakal deh."
Natella pikir, Arka tidak meladeni ucapan tak pentingnya itu sama sekali. "Gue gapernah nakal. Lo tuh yang selalu nakal." Ucap cowok itu menyerang balik Natella.
"Ih kapan?"
"Ngajak ribut terus padahal udah janji mau damai."
Natella melihat ke samping, mengamati cowoknya itu sebentar. Dia pikir Arka lagi bercanda, sama seperti dia. Tapi dari rautnya kelihatan kalau Arka sepertinya serius. Bukannya raut Arka memang kebanyakkan serius ya? Makanya kadang Natella tidak peka dan kurang bisa bedain kapan cowoknya ini serius dan lagi bercanda.
"Ka..." Natella memanggil, mereka sudah sampai di komplek perumahan Natella, tapi Natella merasa masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersma Arka, seperti seharian ini sama sekali tidak cukup, mungkin tidak akan pernah cukup. "Lebih terbuka lagi ya sama aku?" Pintanya pelan, mengatakan itu dengan begitu hati-hati. "Aku juga pengen tahu kamu dari sudut pandang kamu."
Arka tidak memberikannya jawaban. Itu bukanlah permintaan yang berat, bagi orang-orang kayak Natella memang tidak berat untuk memberitahu orang lain seperti apa mereka, bagaimana kisah mereka dan hal apa saja yang menyebabkan mereka menjadi seperti sekarang. Tapi, Arka sulit sekali, sesulit dia selalu menghentikan ceritanya tiap kali mau memulai.
"Ka, kamu percaya sama aku?"
Arka langsung mengangguk, melakukan gerakkan itu tanpa ragu. Mereka mengenal dan dekat sudah hampir 3 tahun. Senyum tipis Natella terukir.
'Tapi, kenapa selalu sesulit itu untuk terbuka sama aku?'
***