"Natella, you've crossed the line." Reno mengeluarkan suara beratnya lagi yang terdengar begitu serius. Suara serius ini tidak biasa cowok tinggi itu keluarkan untuk teman sepermainannya. Dia melirik Arka sekilas, cowok berkaos putih itu tengah menatap dingin ke arah Natella yang menjadi penyebab suasana menjadi sehorror sekarang. Reno mengenal Arka, jauh lebih dulu dan lebih baik daripada Natella, menurutnya.
"Cross the line-cross the line apaan sih. Ga ada garis polisi juga," ucap cewek itu garing untuk Reno. Dari suaranya juga kelihatan kalau dia tengah panik, sedangkan matanya sengaja menghindari kontak dengan Arka. "Aku nggak niat cari ribut kok, Ka. Cuma lagi bete dikit aja makanya sensi," lanjut Natella tidak lama kemudian beralasan untuk Arka, nada suaranya telah kembali tenang, sadar kalau dia tengah melakukan kesalahan, lagi.
Natella terus menyalahkan dirinya sendiri dalam hati dan merutuki kebodohannya. Baru saja damai, sudah ribut lagi. Mana mulutnya kali ini sangat tidak bisa dikontrol, lebih parah dari pertengkaran terakhir mereka pula, yang seharusnya menjadi pertengkaran paling hebat mereka selama pacaran. Salah siapa kalau dia tidak bisa menahan emosi apabila membawa-bawa Mentari? Well, meskipun Natella sendiri yang bawa-bawa lebih dulu.
"Aku cuma takut kehilangan kamu," katanya pelan, seperti berbisik.
Natella dapat mendengar Arka menghela napas berat, "yaudah, nggak apa-apa," jawab cowok itu kalem.
Natella agak terkejut. Tumben secepat ini dan Natella tidak perlu melakukan ritual minta maaf basa-basi yang ribet setengah mampus itu? Mood Arka sedang baik atau bagaimana?
Cewek itu mengangkat kepalanya dan sontak menatap ke mata Arka, "Beneran nggak apa-apa? Nggak dendam kan sama aku?"
Arka menggelengkan kepalanya, mematikan playstation yang dia mainkan kemudian berdiri. "aku mandi dulu." pamitnya datar. Cowok itu masuk ke kamarnya, namun tidak lama kemudian sempat balik lagi dengan membawa selimut tipis yang masih terlipat rapi, "nih untuk nutupin perut, biar nggak masuk angin." ucapnya untuk Natella.
Cewek itu tersenyum, mengambil yang Arka kasih, "makasih sayang." ucapnya, kembali dalam mode manisnya.
Setelah Arka berlalu, barulah Reno menatap tidak habis pikir ke arah Natella .
"Hobi banget sih cari ribut, bipolar ya lo?" tuduh Reno untuk Natella. Tidak serius sebenarnya, tapi cewek ini memang sering bertingkah di luar nalar orang waras. Reno bahkan syok sendiri mendengar perkataan-perkataan drama yang keluar dari bibir Natella.
"Dih gue masih waras tau." respon Natella balik. Melihat Arka yang sudah menghilang setelah pintu kamarnya ditutup rapat, Natella langsung mengelus dadanya lega, "Gue takut banget anjir."
"Ckck. cowo lo kalo ngamuk serem loh." Reno memberitahu.
"Bukan itu." Natella membalas. "Gue takut diputusin kali. Mau dia ngamuk juga bodo amat kok." lanjut cewek itu santai. Yaialah, orang selama ini dia nggak pernah lihat Arka marah-marah sampai membentaknya, kalau merajuk sih sering.
Untung Reno masih baik hati dan menahan niat untuk menoyor kepala Natella yang menurutnya kelebihan dopamin itu.
"Mentari salah apa deh sama lo?" Reno bertanya, membuka topik yang membuatnya penasaran. Dia jarang mengobrol hal serius dengan Natella, apalagi hanya berdua begini. Mungkin ini yang pertama kali karena Reno lebih sering di luar tiap kali Natella mengunjungi apartemen yang ditempati dua cowok ini. "Lo kadang keterlaluan kalau udah bawa-bawa Mentari. Sadar ngga?"
Natella diam sebentar, dia bingung mau menjawab apa sekaligus merasa sedang mengalami eksekusi hukuman mati atas pertanyaan penuh tekanan Reno. "Ngga ada sih, tapi gue takut aja." dia memberikan jawaban aman.
"Ngapain takut?"
Natella membasahi bibirnya yang terasa kering. "Ya, takut." Dalam hati, cewek itu melanjutkan. Takut Arka berakhir sama dia. Takut Arka direbut dia. Takut Arka ninggalin gue. "Soalnya lo nggak bakalan ngerti."
"Gimana gue bisa ngerti kalau lo kagak cerita?"
"Memangnya Arka nggak pernah cerita?" tanya Natella balik. Cowok itu memang jarang bercerita mengenai apapun. Tapi ini Moreno? Roomate sekaligus sahabatnya, masa Arka tidak pernah cerita satu hal penting-pun soal Mentari?
Satu alis Reno terangkat menanyakan maksud Natella.
"Tentang dia sama Mentari?" Reno terlihat berpikir, kemudian memberikan gelengan, "Seingat gue, nggak pernah sama sekali." "Lo lupa kali."
"Mungkin." Reno menjawab tidak yakin, cowok yang duduk di sofa sebelah Natella itu mengotak-atik remot untuk mengganti siaran TV. "Gue ingetnya Arka pernah cerita tentang lo."
"Apa?" tanya Natella panik, takut Arka menceritakan yang jelek-jelek tentangnya seperti tidak tahan lagi dan mau meninggalkan Natella, misal?
"Arka bilangnya dia sayang banget sama Natella." lanjut Reno lagi.
Hening sejenak. Lalu Natella mengeluarkan tawa senangnya yang tak bisa dia tutupi. "bohong lo" tuduhnya.
"Biar dek Natella senang."
Natella langsung memukul bahu lebar Reno "Emang senang ini. Meskipun bohong." Balasnya, masih ketawa-ketawa malu-malu. Tidak mengerti kenapa bisa sebahagia ini hanya karena kebohongan palsu yang diciptakan Reno tentang perasaan Arka kepadanya.
Sebenarnya, tanpa Arka mencintainya balik-pun Natella tetap merasa senang, selama Arka menjadi miliknya. She really looked like a psycho b***h in this state of mind.
***
"Sumpah si Arka mandinya kayak anak perawan." Natella berkomentar gusar sembari mengocok kartu remi edisi spesial starwars di tangannya. Dia sudah ditinggal berdua sama Reno selama 30 menit lebih. Natella bahkan sempat memasak indomie dan memakan makanan favoritnya itu sampai habis. "Gue aja kalau luluran kagak selama ini."
"Namanya juga cowok, Nat." Reno membalas santai, membuka satu persatu kartu yang diberikan Natella. "Lo sih ngga pernah kasih service. Jadi self service kan dia."
"Enggak pernah diminta juga." balas Natella polos.
Reno langsung menatap Natella tidak menyangka, "Arka sih b**o, punya cewek sebening lo ga dimanfaatin."
Natella tiba-tiba berteriak, "Sayang, cepetan dong mandinya. Aku takut nih diapa-apain sama fak boi kayak Reno."
Kali ini, Reno tidak segan menoyor kepala Natella, "mulut si anak anjing emang keterlaluan ya."
Natella tidak membalas, dia hanya mengerucutkan bibirnya kesal. "Lo kok tumben di rumah aja?"
"Mengurangi bala. Lusa gue sidang."
Natella membulatkan matanya kaget, "Udah sidang aja? Kok cepet banget?"
"Gue usah semester 10, bego."
"Oh iyaya. Lo sih, belagak jadi Presma. Makanya lama, kan."
"Daripada bacot mending doain lancar."
"Nggak akan lancar kalau para cewek barisan sakit hati karena lo PHP-in masih dendam sama lo." Natella mengingatkan. Sebagai informasi, Moreno ini salah satu cowok paling hits kampus, lebih tenar dari Arka karena mantan Presiden Mahasiswa dan juga tingkah lakunya yang supel dan gaul, bikin anak gadis cepat terbawa perasaan. "Salah satunya tuh temen gue, masih sakit hati sampai sekarang."
Reno menatap Natella sebentar. "Dennisa?"
"Iya." Natella mengangguk membenarkan. "Kurang apa sih dia sampe lo PHP-in gitu?" tanyanya dramatis, masih tidak terima temannya dipermainkan oleh cowok seperti Reno.
"Bukan tipe gue." jawab Reno santai.
Mereka mengobrol sembari bermain empat satu. Natella hanya butuh satu kartu love bernilai 10 lagi untuk menang.
"Kenapa lo deketin kalau gitu?"
"Siapa tau nyantol." balasnya cuek. "Tapi ternyata ngga." Reno menjeda sebentar, "soalnya ada yang gue suka."
"Siapa?" tanya Natella tertarik.
Reno tidak langsung menjawab, dia menatap Natella insten sembari tersenyum, "yang jelas bukan elo." jawab cowok itu judes, lalu mentertawakan Natella yang mukanya langsung masam.
"Awas lama-lama naksir gue." Natella menyumpahi.
"Ogah. Lo gila. Udah paling cocok sama Arka."
Natella tersenyum lebar lagi. Paling suka saat ada orang mengatakan kalau dia cocok sama Arka.
"Emang." ucapnya ceria. Kemudian dia menutup kartu sebagai tanda skakmat, sebagai pernyataan kalau permainan berakhir dan dia menang.
Tidak lama dari itu, Arka keluar dari kamarnya. Sudah ganti baju dan celana, rambut hitam pendeknya masih basah dan handuk putih terletak sembarangan di bahunya.
"Cakep banget sih pacar aku habis mandi." komentar Natella menggoda, persis ibu-ibu yang mengomentari balita laki-lakinya sehabis dimandikan.
Arka hanya memberikan tampang datarnya sembari berjalan ke arah balkon untuk menjemur handuk.
"Ka, ikut main kartu yuk. Mau ga?" Natella menawarkan.
"Arka mah udah puas main sabun di kamar mandi." Reno menjawab, membuat Natella memberikan pukulan pada pahanya.
"Jangan ganggu cowok gue deh." ancamnya untuk Reno.
"Dih, posesif amat." balas cowok tinggi itu sambil pura-pura kesakitan.
Arka duduk di sebelah Natella. Menyatakan secara tidak langsung kalau dia setuju untuk ikutan bermain kartu.
"Main cangkul aja." Ucap Arka kemudian. "Soalnya kalau 41, pasti curang." dia berkata begitu sembari melirik sekilas ke arah Natella, membuat Reno langsung tertawa terbahak-bahak sementara Natella memberikan tampang masamnya. "Main apa aja biasanya curang tapi paling parah 41." lanjut Arka lagi, mengingatkan Natella atas dosa-dosanya selama ini sampai Arka malas bertaruh ataupun bertanding apapun dengan Natella.
"Itu karena kamu gamau ngalah." balas Natella membela diri. "Masa aku kalah terus? Main PS kalah, main xbox kalah, main nitendo kalah, main monopoli kalah, main UNO kalah. Terus aku menangnya kapan?"
"Ajak Arka main ke kamar, Nat, lo pasti menang." sambung Reno tak penting. Mulut cowok ini memang tidak bisa diam di saat apapun.
"Ga pinter-pinter kamu kalo aku ngalah." Arka menjawab santai. Dia mengocok kartunya dan membagikan untuk mereka bertiga. Tapi sebelum mulai, dia sempat ngomong lagi ke Natella. "Sini lo janji dulu gaboleh curang."
Natella menyerahkn dan menautkan jari kelingkingnya ke tangan Arka dengan tampng tidak iklas.
"Iya, janji."
Apasih yang nggak buat Arka?
"Kok kalian berdua najis sih?" Tanya Reno pura-pura jijik. "Ini apart, bukan tempat pacaran." lanjut Reno lebay.
Natella langsung memberikan tatapan tajamnya untuk Reno. "Eh, lo kalau bawa cewek kesini lebih mengganggu ya. Cowok gue sampe nggak bisa belajar karena dengerin desahan berisik lo sama cewek lo yang sebelas dua belas sama bintang JAV."
Reno syok sebentar, begitu juga Arka yang bingung ceweknya tahu darimana kalau misal Reno sudah bawa perempuan ke kamarnya itu berisik setengah mati.
"Ya, padahal kalau COWOK LO mau, bisa gue ajak threesome ini." Reno membalas menggunakan nada bicara posesif ala Natella, membuat cewek yang sudah kesal itu jadi makin kesal karena olokan Reno menancap di hatinya.
Cewek cantik itu memicingkan matanya, menatap Reno seperti ingin memakan hidup-hidup cowok tengil itu. "Udah cukup cowok gue lo ajarin nonton bokep. Awas aja lo berani nyentuh dia beneran, gue anyutin di citarum!!!" ancam Natella sadis. Hanya dia dan Tuhan yang tahu itu betulan atau hanya bercanda.
Arka hanya bisa memutar bola matanya malas melihat kelakuan Natella dan Reno yang menurutnya terlalu kenakan-kanakan. "Ren, gausah dijawab lagi. Gabakal kelar."
"Ih, kok kamu malah belain Reno?" tanya Natella protes, mengambil ancang-ancang untuk mengajak ribut lagi.
"Ya Tuhan, Natella..." Ucap Arka capek sendiri melihat ulah absurd ceweknya ini yang kayak tiada hari tanpa drama.
***