“Gimana, Na. Kamu mau kan menikah sama Angga?”
Riana masih diam dan larut dalam pikirannya. Siang ini dia bertemu dengan Maya di salah satu restoran yang tidak jauh dari toko bunga miliknya.
Tadi Maya mengatakan ingin berbicara berdua dengan dia, Riana sama sekali tidak menaruh curiga karena selama ini mereka memang kerap kali berbincang berdua, termasuk dalam sambungan telepon atau bertemu seperti kali ini.
Tetapi kali ini, Riana sama sekali tidak menyangka Maya yang tidak lain adalah Ibu dari Vino mengatakan kepadanya untuk tetap menikah dengan anaknya, bukan dengan Vino karena bagaimana pun juga sekarang jasadnya sudah berada di dalam tanah.
Tetapi Riana harus menikah dengan adik Vino yang tak lain adalah Angga. Laki-laki yang bahkan baru saja dia temui tepat di hari pemakaman Vino waktu itu.
Riana ingin menolak karena dia merasa mereka sama sekali tidak saling mengenal. Mana mungkin mereka menikah secepat ini. Tetapi melihat bagaimana kedua mana wanita yang selama ini sudah dia anggap seperti Ibunya sendiri, Riana tidak tega kalau menolak apa yang di inginkan oleh Maya dan melihat kedua mata itu kecewa kepadanya.
“Ibu mau kamu tetap menjadi menantu Ibu, Na,” perkataan Maya kembali terdengar.
Riana menatap dalam kedua mata Maya. Kenapa wanita di hadapannya ini membuat dia begitu sulit untuk mengambil keputusan?
Riana tidak ingin membuat Maya kecewa tetapi dia juga tidak bisa menikah begitu saja dengan adik dari kekasihnya sendiri.
Menikah tanpa adanya cinta di antara mereka, Riana tidak mampu membayangkan bagaimana kehidupan mereka nanti.
Riana hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupnya dan jika dia menikah dengan Angga dengan cara seperti ini, Riana merasa ragu meski dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
Namun kembali dia merasa tidak mampu melihat kekecewaan dari Maya. Anggukan pelan membuat senyum di wajah Maya terukir, entah keputusan ini tepat atau tidak, Riana hanya berdoa apa pun keputusan yang dia ambil, dia berharap semua adalah yang terbaik yang juga sudah di gariskan oleh Tuhan kepada dirinya.
**
“Kalau Angga sendiri gimana, Bu? Riana nggak mau sampai memaksa.”
Setelah jawaban yang di berikan Riana membuat Maya tersenyum bahagia. Kali ini Riana teringat dengan laki-laki yang merupakan adik dari Vino.
Riana sudah mengambil keputusan tanpa bertanya bagaimana pendapat Angga tentang semua ini. Riana hampir saja melupakan keberadaan laki-laki itu.
“Angga udah setuju.”
Perkataan Maya membuat Riana terdiam. Laki-laki itu sudah setuju? Semudah itu?
“Ana nggak enak aja kalau ternyata Angga udah punya pacar, Bu,” ucapnya. Bukan tidak mungkin kan kalau laki-laki itu ternyata memiliki kekasih.
“Gak ada. Selama ini dia nggak pernah kenalin siapa pun sama Ibu sama Ayah. Kalau punya pacar juga pasti dia bakalan bilang.”
Entah kenapa hatinya merasa lega mendengar semua itu. Mungkin karena Riana tidak ingin akan menjadi masalah di kemudian hari kalau sampai Angga memiliki kekasih dan malah menikah dengan dirinya. Riana tidak ingin di cap sebagai perebut kekasih orang lain meski nantinya Angga resmi menjadi suaminya.
“Tapi nikahnya nggak besok kan, Bu?”
Pertanyaan Riana membuat Maya terkekeh. “Ya nggak dong, Na. Tapi kalau kamu maunya besok Ibu sih senang aja.”
Riana meringis, “Terlalu cepat, Bu.”
“Angga minta sama Ibu buat kalian dekat dulu, baru setelah itu siap-siap buat acara pernikahan nanti.”
Riana kembali mengangguk.
**
“Ayah masih tidak percaya.”
Entah ada angin apa, Ayahnya datang ke Kafe tempat dia bekerja. Mereka duduk saling berhadapan dengan suasana yang tidak memperlihatkan kehangatan antara anak dan Ayah. Justru keduanya menunjukkan tatapan yang sama-sama tajam dan dingin.
“Angga juga nggak suruh Ayah buat percaya sama Angga. Selama ini memangnya pernah Ayah mempercayai Angga.”
Perkataan itu membuat rahang Dewa mengeras.
“Ini yang Ayah tidak percaya dari kamu. Sikap kamu yang tidak menghargai dan tidak memiliki sopan santun kepada orang tua kamu sendiri. Bagaimana kamu bisa menghargai istri kamu nanti kalau kamu sudah menikah. Riana sudah Ayah anggap seperti anak perempuan Ayah sendiri, Ayah ingin yang terbaik untuk dia.”
“Jadi maksud Ayah, Angga bukan laki-laki baik untuk dia?”
“Bagus kalau kamu menyadarinya,” ucap Dewa santai.
“Tetapi Ayah tidak bisa membuat Ibu kecewa. Meski Ayah tidak setuju, Angga yakin pernikahan ini tetap terjadi,” tegas Angga.
“Yah, Ayah terlalu mencintai Ibu kamu. Meski berat melepaskan Riana kepada kamu, tetapi kalau ini yang terbaik dan membuat Ibu bahagia, Ayah akan lakukan itu. Dan lagi Ayah memang ingin Riana menjadi menantu di keluarga Helion. Tidak ada pilihan lain karena kamu satu-satunya anak Ayah dan Ibu sekarang kan.”
Ya sekali pun sang ayah tidak setuju dengan pernikahan dia dan Riana, pernikahan mereka akan tetap terjadi karena keinginan sang ibu.
Angga sudah sangat paham bagaimana cintanya sang ayah kepada Ibu. Apa pun akan Ayahnya lakukan untuk sang ibu kecuali saat dulu Angga memilih pergi dari rumah, Maya tidak bisa meluluhkan kekerasan hati seorang Dewa Helion.
**
Kali ini mereka berdua bertemu. Setelah tadi siang Riana bertemu dengan Maya, sorenya Angga ternyata berada di depan toko bunga berdiri bersandar pada mobil yang dia bawa.
Semula Riana pikir Angga sedang memiliki janji dengan seseorang di dekat toko bunga miliknya tetapi ketika laki-laki menghampirinya dan mengatakan ingin berbicara, Riana tahu bahwa Angga sengaja menunggunya.
Sudah lima belas menit berlalu. Keduanya masih larut dalam pikiran masing-masing. Jus alpukat yang tadi Riana pesan bahkan sudah hampir setengahnya dia habiskan, pun dengan secangkir mocca yang Angga pesan hanya tersisa sedikit lagi.
Tetapi keduanya masih belum terlibat pembicaraan. Lebih tepatnya Riana menunggu Angga untuk bicara kepadanya.
“Mbak udah tau dari Ibu kan?”
Setelah sekian lama terdiam. Suara Angga terdengar membuat Riana yang kala itu menatap jalanan lewat jendela yang berada tepat di sampingnya menoleh ke arah Angga yang tengah menatapnya begitu lekat.
Sorot mata itu hampir membuat Riana larut, mirip sekali dengan Vino namun laki-laki yang berada di hadapannya ini memiliki iris mata berwarna cokelat sementara Vino hitam pekat.
Riana mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kalau Mbak emang mau nolak, gue nanti bakalan bilang sama Ibu. Lagian gue juga tau nggak mudah buat kita menikah sementara masih belum saling mengenal satu sama lain.”
Terdengar aneh di telinganya, saat Angga dengan lo-gue-nya itu berbicara kepadanya. Mungkin karena selama ini Riana terbiasa dengan perkataan lembut yang keluar dari mulut sang kekasih, bukan seperti yang di lakukan oleh Angga sekarang.
Lalu kenapa Riana harus membandingkan keduanya? Jelas-jelas mereka berdua sangat berbeda meski mereka saudara kandung.
“Aku gak mau Ibu kecewa.”
Suara lembut Riana membuat hatinya berdesir.
Sejak tadi, saat perempuan di hadapannya ini tengah asyik memandang pejalan kaki yang berlalu lalang lewat jendela samping kursi mereka. Angga terus memperhatikan Riana dalam diam, rambutnya yang berwarna hitam, hidungnya yang mancung, bulu mata yang lentik dan sekarang suara yang begitu lembut.
Pantas saja mendiang kakaknya begitu jatuh cinta pada Riana, sekali melihat pun laki-laki di luar sana akan jatuh cinta kepada sosok Riana yang begitu cantik dan anggun. Tidak terkecuali dirinya, mungkin.
“Jadi Mbak setuju?”
Pertanyaan Angga kembali di jawab dengan anggukan kepala oleh Riana.
Setelah itu keduanya kembali diam. Baik Angga atau pun Riana, mereka berdua masih tidak menyangka akan di persatukan tak terduga seperti ini. Yang seharusnya menjadi adik dan kakak ipar, justru berubah menjadi calon suami-istri.
Meski masih dalam rencana namun keduanya sadar tidak akan bisa merubah apa yang menjadi kebahagiaan Maya. Mereka sama-sama menginginkan Maya bahagia meski dengan cara seperti ini.
“Kalau gitu mulai hari ini lo resmi jadi pacar gue, Mbak.”