Riana baru saja sampai di rumah. Hari ini toko lumayan ramai membuat dia sedikit pulang lebih lama dari biasanya.
Dia baru sampai bersama dengan Helen, karena seperti yang tadi pagi di rencanakan sahabatnya itu akan menginap di rumah menemani dia dan Gaisa.
“Badanku kayanya harus di siram air dingin, kok cuaca tadi panas banget padahal udah hampir magrib.”
“Iya bener, Len. Apalagi tadi siang, berasa di panggang kalau keluar toko.”
“Mandi dulu deh, aku ke kamar biasa ya, Na.”
Riana mengangguk.
Memang kalau sudah berada di rumah Riana, Helen selalu berada di kamar tamu sekedar untuk mandi di kamar mandi yang ada di dalam dan mengganti pakaiannya.
Kalau akan tidur nanti mereka biasanya membawa kasur lipat dan tidur di ruang tengah sambil menonton film.
Sepeninggalan Helen. Riana berjalan ke kamar adiknya yang ada di ruangan lain tidak jauh dari kamar tamu. Setibanya dia di kamar Gaisa, adiknya itu tampak sibuk dengan laptop di hadapannya. Bukan mengerjakan tugas kuliah tetapi malah asyik menonton drama korea.
“Kebiasaan,” tegur Riana membuat adiknya menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar.
Gaisa cengengesan, “Kirain belum pulang, Kak.”
“Skripsi kamu udah selesai? Kok malah asyik nonton?”
“Baru aku kirim yang udah di revisi, Kak. Tenang aku selalu utamakan tugasku sebagai mahasiswa. Ini hiburan aja tadi pusing abis revisian.”
“Syukur kalau gitu. Kakak takut kamu lupa aja kan sayang sebentar lagi selesai, kalau malas-malasan nanti malah lama lagi kamu selesainya.”
“Iya, Kak. Makasih selalu ingetin aku.”
Riana mengangguk, “Ada Kak Helen tu, nanti kita makan sama-sama.”
“Kak Helen nginep, Kak?”
“Iya, temani kita.”
“Asyik gak sepi!” Riana tersenyum melihat adiknya yang tampak antusias karena ada Helen.
Suasana rumahnya memang akan semakin hangat kalau ada Helen. Karena gadis itu tidak pernah berhenti bercerita, tentang apa pun itu membuat rumah tidak pernah sepi.
Berbeda kalau di rumah hanya berdua saja. Riana dan Gaisa memang terlibat obrolan tetapi hanya berdua tidak membuat suasana ramai.
Beruntung malam ini Helen akan menginap dan menemani mereka artinya rumah tidak begitu sepi.
**
Selesai berganti pakaian dan makan malam bersama. Riana, Gaisan dan Helen memilih untuk mengobrol di ruangan tengah sembari menikmati puding vanilla yang tadi sempat Riana buat sebelum menyiapkan makan malam bersama dengan Helen.
Kali ini Gaisa tengah bercerita tentang kuliahnya yang tengah sibuk dengan skripsi. Sudah masuk ke Bab tiga dan sedang dalam proses yang rumit karena di Bab ini merupakan Bab analisis data.
Tadi dia sudah mengirimkan hasil perbaikannya lewat mail kepada Dosen pembimbingnya. Gaisa harap tidak ada lagi kesalahan, kalau pun hanya semoga sedikit.
“Kalau udah masuk bab tiga, kamu juga bisa ambil kesimpulan dong buat bab terakhir. Jadi sekalian gitu kerjainnya.”
“Udah, Kak. Tadi sekalian juga sampe bab empat aku kirim ke Dosen.”
“Rencana sidang kapan, Sa?” kali ini Helen yang bertanya sebelum menyuapkan satu sendok puding ke dalam mulutnya.
“Bulan depan, kalau di jadwalnya sih kisaran akhir bulan.”
“Gak akan kerasa dong. Semoga nanti sidangnya lancar ya.”
“Aamiin. Deg-degan, nggak nyangka udah mau selesai aja kuliahnya.”
“Yang paling penting jangan lupa buat berdoa selain berusaha juga.”
Gaisa mengangguk mendengar nasihat Kakaknya.
Tidak terasa memang setelah empat tahun masa perkuliahan dengan segala macam kegiatan dan mata kuliah yang kerap kali membuat sakit kepala. Akhirnya sebentar lagi Gaisa menyelesaikan semuanya, tinggal satu bulan lagi menuju sidang skripsi.
Gaisa tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah Riana lakukan untuk menyekolahkan dia sampai setinggi ini. Kakaknya itu memang orang tua baginya setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia.
Selesai berbincang dan melanjutkan dengan menonton film bersama. Gaisa yang pertama kali terlelap. Mereka memang tidur di ruang tengah seperti biasa dengan membawa kasur lipat dan meletakkannya di tengah rumah.
Tak lama Helen yang mulai terlelap di samping kiri Gaisa. Sementara Riana yang berada di samping kanan adiknya masih belum bisa memejamkan kedua matanya.
Dia kembali teringat Vino.
Baru beberapa hari laki-laki itu meninggalkannya dan rasanya ada yang hilang dalam dirinya. Riana masih belum menerima semua yang terjadi, semua begitu cepat dan mendadak. Tidak ada firasat apa pun bahwa Vino akan meninggalkannya.
Kecuali pelukan Vino yang begitu erat ketika pergi ke Bali. Apa seharusnya Riana menyadari bahwa pelukan itu menjadi pelukan terakhir mereka?
Kepergian Vino seperti ini membuat dia hancur, pun dengan pernikahan impian mereka. Semua yang mereka persiapkan nyatanya tidak akan pernah terlaksana.
Kedua matanya kembali berkaca-kaca. Dalam keheningan malam, Riana kembali terisak, kerinduan yang begitu mendalam akan sosok kekasihnya kembali dia rasakan.
Tidak akan ada yang kuat saat di tinggalkan oleh orang yang begitu di cintai dan berarti dalam hidup ini, pun dengan Riana. Dia masih tetap rapuh dengan apa yang menimpanya saat ini.
“Kamu kenapa tega ninggalin aku, Mas.”
“Aku sekarang harus apa.”
**
Angga baru saja sampai di apartemen. Dia tetap pulang meski sang ibu memintanya untuk tinggal di rumah.
Lama tidak tinggal bersama dengan kedua orang tuanya membuat Angga terbiasa hidup sendiri, dan jika harus kembali ke rumah rasanya semua tampak kembali asing apalagi sekarang tidak ada Vino di sana.
Mengingat Vino. Angga kembali teringat dengan percakapan dia bersama dengan sang ibu tadi setelah dia kembali ke rumah selesai dari Kafe.
Sang ibu yang terus memintanya untuk pulang alhasil membuat dia harus pulang tanpa bantahan apa pun.
Sesampainya kembali di rumah, Ibunya juga kembali membicarakan tentang pernikahan dia dengan Riana, kekasih dari mendiang Kakaknya.
Sudah berulang kali Angga mengatakan pernikahan itu terlalu mendadak bagi mereka, tidak semudah itu untuk bisa melangsungkan sebuah pernikahan di saat Riana sendiri masih dalam suasana berduka seperti saat ini.
Angga tahu pasti bagaimana perasaan perempuan itu setelah di tinggal oleh sang kekasih. Tidak mudah untuk bisa kembali seperti sebelumnya dan Angga tidak ingin Riana terbebani karena harus melangsungkan pernikahan dengan dirinya, setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.
“Tapi kamu mau menikah sama Riana kan?”
Perkataan sang ibu membuat Angga lagi-lagi harus menghela napas. Tidak kah ada pertanyaan lain selain bertanya apakah dia ingin menikah dengan perempuan yang sama sekali belum dia kenali.
“Apa pun yang buat Ibu senang, Angga akan lakukan termasuk kalau Ibu mau Angga menikah sama Mbak Riana.”
Jawaban itu meluncur dengan begitu lancar dari mulutnya. Lagi pula jawaban apa lagi kecuali menyetujui apa yang di inginkan oleh sang ibu. Demi kebahagian Ibunya, dia akan melakukan apa pun termasuk menikah dengan kekasih dari mendiang Kakaknya sendiri. Meski tanpa cinta di antara mereka nanti.
“Kalau gitu, Ibu nanti ngomong sama Ana. Kamu udah setuju sama pernikahan kalian.”
Lagi.
Angga hanya mengangguk setuju dengan apa yang sang ibu katakan.
Angga mengembuskan napas pelan mengingat kembali percakapan dia dengan sang ibu tadi sore. Mau bagaimana pun pernikahan ini akan tetap terjadi karena Ibunya yang ingin sekali menjadikan Riana sebagai menantu di keluarga Helion.
Sementara Ayahnya sampai sekarang belum memberikan pendapat apa pun. Dan lagi sang ayah pastinya akan setuju dengan apa yang di inginkan oleh Ibunya.
“Gue masih muda banget gak sih buat nikah.”