TS 6 : Sebuah Pernikahan

1191 Words
Sebelum bertemu Ibunya ...  Angga berencana untuk pulang ke apartemen setelah mengantarkan Riana ke toko bunga tempat gadis itu bekerja sekaligus pemilik toko tersebut.  Ya anggap saja dia sedang menghindari Ibunya. Padahal tadi mengatakan akan kembali ke rumah setelah mengantar Riana.  Angga hanya belum ingin membahas kembali rencana yang sang ibu katakan waktu itu, tentang dia yang harus menikah dengan Riana, yangs seharusnya menjadi kakak iparnya kalau saja  Vino tidak pergi untuk selamanya. Angga hanya merasa ini terlalu cepat walau dia pun mengatakan untuk dekat dulu dan saling mengenal dengan Riana, tetapi dia juga ragu apakah semua yang mereka lakukan nanti akan berjalan dengan baik atau bahkan tidak cocok di tengah jalan. Pernikahan bukan hal yang sederhana. Bukan tentang hubungan di atas ranjang, tetapi tentang bagaimana menjalani kehidupan bersama dengan satu tujuan yang sama dalam kurun waktu selamanya hingga maut memisahkan. Pernikahan bukan sekedar main-main, seperti layaknya dua orang yang tengah berpacaran lalu di saat mendapatkan masalah bisa putus begitu saja.  Pernikahan juga bukan tentang aku atau kamu, tetapi tentang kita yang memiliki dua pemikiran berbeda namun di haruskan untuk sejalan. Angga tidak ingin mengambil keputusan yang terlalu terburu-buru. Semua harus dia pikirkan dengan matang apalagi dia dan Riana sama sekali belum saling mengenal.  Mereka benar-benar asing satu sama lain, bukan sepasang kekasih yang setidaknya tahu bagaimana sifat dan sikap pasangan lalu sekarang di saat memutuskan menikah berarti memang sudah yakin satu sama lainnya.  Mereka tidak seperti itu. Angga dan Riana hanya dua orang yang di pertemukan oleh sebuah takdir. Lalu membuat mereka seolah berada dalam sebuah permainan. Ketika yang lain telah kalah lalu mereka yang mulai setelahnya.  Angga mungkin merasakan perasaan aneh, hangat menjalar di hati lalu merasa ada sebuah keinginan untuk menjaga Riana.  Namun dia takut semua yang ada, yang di rasakannya sekarang hanya sebuah perasaan sesaat karena melihat Riana yang tampak kacau di tinggalkan oleh Vino.   ** “Jadi Ibu lo minta lo buat nikah sama cewek yang harusnya jadi kakak ipar lo?” Angga mengangguk dengan pertanyaan yang keluar dari mulut sahabatnya, Tyo.  Akhirnya tujuan Angga adalah ke sini, dia memilih untuk pergi ke Kafe miliknya.  Kafe yang selama ini dia rintis dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri. Memulai semua dari tabungan hasil manggung bersama dengan Band-nya, dari Kafe satu ke Kafe lain. Pun di tambah dengan tabungan dia selama kuliah dari bekerja part time. Dari saat masih kuliah Angga memang ingin memiliki sebuah Kafe yang  juga akan di gunakan sebagai tempat dia dan Band-nya untuk manggung.  Bisa di bilang sekali mendayung dua tiga pulau telampaui. Jadi mereka bisa setiap saat manggung di Kafe itu dan tentunya Angga juga memberikan honor kepada teman-teman satu Band-nya. Musik dan bisnis memang tidak lepas dari dirinya.  Dia menyukai dua hal itu. Karena keduanya juga yang membuat hubungan Angga dan sang ayah menjadi sedikit buruk.  Angga tidak ingin selalu menjadi boneka sang ayah. Cukup saat sekolah dia selalu di tekan untuk belajar dan belajar demi ambisi Ayahnya untuk sang anak masuk perguruan tinggi dengan jurusan kedokteran.  Namun Angga juga seorang anak yang memiliki mimpi dan semakin dewasa semakin dia ingin meraih apa yang menjadi kemauannya. Menentang apa yang menjadi sebuah perintah dari sang ayah adalah pilihan yang Angga ambil. Dia tidak lagi berada di rumah saat menjadi mahasiswa dan membuat hubungan dia dan sang ayah menjadi renggang.  Selama itu juga sang ibu terus memperhatikan Angga karena anak bungsunya itu masih anak mereka dan setiap bulan meski Angga menolak Ibunya tetap mengirimkan uang untuknya, pun dengan Kakaknya -Vino- yang terus mengawasinya meski jauh dari rumah. Sekarang setelah sang kakak meninggal, Angga kembali ke rumah dan entah apakah ini pilihan yang tepat atau tidak saat dia memutuskan untuk pulang yang kemudian berakhir dia harus menikah dengan perempuan yang tidak dia kenali sama sekali. Bahkan perempuan yang seharusnya menjadi kakak iparnya sendiri.  “Terus lo sendiri mau atau nggak? Ini nikah, Ga. Bukan pacaran.” Angga mengembuskan napas pelan, lalu menegakkan tubuhnya.  Mereka memang tinggal berdua saja, yang lainnya sudah pulang. Dari tiga orang temannya, Tyo adalah yang paling dekat dengan Angga. Karena mereka satu sekolah sementara dengan yang lain, baru mengenal saat berada di kampus yang sama dan organisasi yang sama.  Angga selalu menceritakan apa pun kepada Tyo. Pun dengan Tyo yang kerap kali bercerita kepada Angga tentang apa pun yang memenuhi pikirannya. “Ya gue terima,” jawab Angga. “Alasanya? Sorry, Ga. Bukan gue terlalu ikut campur, tapi gue kenal sama lo udah lama. Dan selama ini gak ada satu pun perempuan yang berhasil masuk ke dalam hati lo. Bahkan lo selalu bilang nggak ada yang menarik.” “Gue juga bingung. Pertama kali ketemu sama cewek itu ya di hari meninggalnya kakak gue. Dia rapuh banget dan hati gue kaya langsung ngomong kalau gue mau jagain dia.” “Lo jatuh cinta di pertemuan pertama kalian?” “Gue gak tau apa ini cinta atau malah perasaan simpati. Gue gak ngerti jatuh cinta itu kaya apa.” “Ck! Susah Ga. Jatuh cinta itu rasanya aneh kalau menurut gue sendiri ya, rasanya ingin terus melihat orang yang kita cinta, jantung ini kaya lari-lari tiap dekat sama dia.” “Terlalu lebay, Yo.” “Bukan lebay, Ga. Ah lo sih! Mangkanya buka hati lo. Lagian aneh banget gue sama lo, nggak ada gitu cewek yang bikin lo tertarik. Lo masih normal kan, Ga?” “Masih lah!” jawab Angga agak sewot. Dia laki-laki normal. Sangat normal.  “Ya terus kenapa lo gak pernah mau buat pacaran?” “Intinya satu, cewek itu ribet. Gue malas apalagi kalau udah ada masalah sepele kaya cemburan. Ah ribet pokoknya.” “Ya karena lo cuma lihat dari satu sisi aja.” Angga diam.  Entah, dia juga tidak mengerti kenapa sampai sekarang tidak pernah terlintas di pikirannya untuk memiliki hubungan seperti berpacaran dengan seorang perempuan yang dia sukai.  Dunianya hanya seputar Band, Kafe dan naik gunung. Dan lagi dia juga masih belum menemukan seseorang yang membuat dia tertarik untuk menjalani hubungan dengan lawan jenis.  Tidak seperti Vino yang jatuh cinta pada Riana dan menjalin hubungan sampai bertahun-tahun bahkan nyaris menikah. Kalau saja Vino masih ada. Mereka kembali membahas yang lainnya. Tyo sudah mengalihkan topik, dia hanya tidak ingin Angga merasa terus di korek-korek urusan pribadinya.  Kalau memang Angga bercerita dia akan mendengarkan dan kalau tidak, Tyo juga tidak akan memaksa. Tak lama Angga mendengar handphonenya berdering. Dia pun mengalihkan perhatian dan mulai melihat handphone miliknya. Ternyata nama sang ibu yang muncul di layar handphone. “Kenapa, Bu?” “Kamu di mana? Kenapa nggak pulang lagi?” “Di Kafe, Bu.” “Kamu menghindari Ibu?” “Nggak, Angga kerja urusin Kafe.” “Pulang sekarang! Ibu masih mau bicara sama kamu.” “Tapi—“ “Kamu udah gak sayang lagi sama Ibu, mau kamu pas pulang udah gak bisa lihat Ibu lagi,” sela sang ibu. “Astagfirullah, Bu. Omongannya, iya-iya Angga pulang sekarang.” Tut. Telepon terputus begitu saja. “Kenapa?” tanya Tyo melihat Angga yang tampak muram setelah mendapatkan telepon. “Biasa, Nyonya besar manggil.” “Jadi besok lo nikah?” “Di kira nikah tinggal ngedip!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD