"Gawat, bos kita ikutan viral. Coba buka aplikasi toktok," pinta Lilis menunjukkan ponselnya ke teman-teman kerjanya yang berada di gudang barang.
"Mana? Lihat di ponsel kamu aja." Bella tak sabar mendekati Lilis dan memfokuskan matanya ke layar ponsel.
Di dalam aplikasi yang lagi hits tersebut menunjukkan potongan video dengan menampilkan beberapa foto Aisyah dan Irwan dari mereka duduk SMA hingga berlanjut ke foto sampai Irwan wisuda. Semuanya adalah foto kebersamaan mereka dari waktu ke waktu, hingga terakhir foto yang menunjukkan pesta resepsi Irwan yang dihadiri Aisyah. Latar lagu yang mengiringi video ini mendukung setiap caption tulisan yang muncul.
"Aku yang berjuang untukmu, tapi malah orang lain yang kau nikahi," ucap Bella membaca tulisan yang muncul di foto yang menunjukkan resepsi Irwan.
"Nyesek," sambungnya kemudian.
"Lihat deh, foto-foto ini diambil dari akun medsosnya bos," tukas Wiwin dengan menunjuk beberapa foto yang muncul setelah video itu diputar lagi.
"Ini akun Bunga juga?" Bella mengernyit heran.
"Bunga siapa? Kamu kenal?" Dinar yang kembali melanjutkan pekerjaannya mengepak barang bertanya.
Bella menggeleng. "Kalian lihat video viral di GT kan?" Semua mengangguk serempak.
"Iya, kenapa?" Lilis menyahut.
"Aku tahu, akun Bunga juga yang ngepost tuh video ke sana, iya kan? Di toktok juga dia," jawab Dinar antusias.
"Nah, itu dia. Bunga itu siapa? Dugaanku itu akun fake. Dia tahu kisah Aisyah dan Irwan, pasti orang terdekat atau orang yang kenal Aisyah--bos kita," jawab Bella menjelaskan.
"Bukan kamu kan Bel?" tanya Wiwin menyelidik. Yang lain ikutan menatap Bella curiga.
"Lah, bukan. Jujur, aku nggak bohong. Kenapa kalian menatapku begitu?" elak Bella membantah tuduhan mereka.
"Apa jangan-jangan Bos sendiri," tebak Lilis dengan menatap teman kerjanya satu-satu secara bergantian.
"Benar, bisa jadi ini Bos. Dia pasti eneg dan sakit hati banget, makanya dibuatlah video tersebut. Cuma karena nggak mau ketahuan publik, Bos post dengan akun fake." Dinar mendukung pendapat Lilis dan menambahkan pendapatnya. Wiwin mengangguk lemah ikut mengiyakan, sedang Bella masih diam memikirkan kemungkinan yang disebutkan Lilis.
"Bos mana? Masih di kamar?" tanya Bella mengganti topik pembicaraan.
"Hu'um. Setelah ngecek kita di sini, kayaknya masuk kamar lagi," jawab Wiwin.
"Aisyah berubah sejak kemarin. Lebih banyak diam, walau tampak berusaha tegar, aku tahu pasti dia sangat terluka," ucap Bella.
Yang lain ikut mengangguk setuju.
"Kalau aku masih kesal sama kejadian kemarin. Kalau aku jadi Bos, sudah kukasih sambal pedas tuh mulut ibunya Irwan," lanjut Wiwin membuka topik baru dengan geram.
"Iya, tega banget. Kasihan. Aisyah hidup sebatang kara. Ia berjuang sendiri. Tinggal sendiri, yah … aku temenin sih, soalnya ditawarin, dan sekarang ia dikhianati kekasihnya, rasanya sesak," timpal Bella dengan mata nanar mengingat wajah sedih Aisyah--sahabatnya.
"Ekhem." Terdengar dehaman di depan pintu. Semua menoleh ke arah suara.
Aisyah berdiri dengan menatap lekat satu-satu pegawainya. Semua yang tidak menyadari kehadiran Aisyah jadi salah tingkah dan segera kembali sibuk ke pekerjaan masing-masing.
"Kenapa diam? Tadi kayaknya rame ceritanya." Aisyah menghampiri mereka. Ia mengumbar senyum tipis.
Hehehe … gapapa Bos. Maaf ya," ucap Bella meminta maaf diikuti dengan kekehan kecilnya.
"Maaf, Bos. Kita nggak ngomongin yang jelek tentang Bos," timpal Wiwin jujur mencoba menjelaskan.
"Lupakan." Aisyah mengibaskan tangannya. "Bel, aku keluar, ada yang mau kuurus. Kalau ada apa-apa atau masalah, hubungi aja. Nggak lama kok," terang Aisyah pada Bella.
"Keluar? Sekarang?" Bella bertanya.
"Dengan penampilan begini Bos?" Sambung Wiwin.
Aisyah mengerutkan keningnya lalu memperhatikan penampilannya sendiri. Heran, apa ada yang salah? Biasanya juga seperti ini.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Bos baiknya make topi, kacamata atau apalah biar nggak ada yang ngenalin." Lilis memberi saran.
"Iya benar, masalahnya bos, wajah Bos udah masuk aplikasi toktok, dan yang nonton udah lebih sejuta orang." Dinar menambahkan. "Eh." Dinar menutup mulutnya karena keceplosan.
"Hah? Siapa yang masukin ke situ? Kalian? Mana?" Aisyah kaget dan penasaran ingin tahu.
"Bukan!" jawab mereka serempak dengan menggelengkan kepala.
Lilis yang pertama membahas hal ini segera memperlihatkan video toktok tersebut dari ponselnya. Mau bagaimana lagi, ia rasa bosnya memang harus tahu.
"Ini akun Bunga lagi? Kok …, apa kalian ada yang tahu siapa dia?" tanya Aisyah heran pada mereka.
Semua menggeleng bersamaan tanda tak tahu.
"Bukan Bos dong kalau gitu," bisik Lilis ke Wiwin.
"Kenapa?" Aisyah bertanya karena sayup menangkap kata bos dari Lilis.
"Eh, itu Bos. Memang Bos mau kemana?" Wiwin mencoba mengalihkan perhatian Aisyah.
Aisyah terdiam sejenak. "Ada urusan. Ya sudah, aku mau ambil kacamata dulu."
***
"Bos kemana sih?" tanya Lilis penasaran setelah Aisyah berlalu pergi.
"Entah, dia tidak mau bilang," jawab Bella.
***
Sebenarnya Aisyah berniat pergi ke panti asuhan Bu Maya. Namun sebelumnya ia mampir sebentar ke supermarket untuk membeli banyak barang yang akan dibawanya ke sana. Kemarin Bu Maya juga ikutan menghubunginya menanyakan tentang kebenaran berita yang sedang viral tentang dia dan Irwan. Aisyah janji akan menceritakannya secara langsung bukan lewat sambungan telepon, karena itulah hari ini ia sudah siap dan berencana pergi ke sana.
"Mbak Aisyah kan?" Kasir perempuan di supermarket langganan Aisyah ternyata mengenalinya.
Aisyah diam tidak menyahut. Ia berpura tidak mendengar. Apalagi dibelakangnya ada tiga orang yang ikut mengantri. Ia tidak ingin menggubris pertanyaan Kasir perempuan dengan tag name Vivi tersebut. Namun perempuan berseragam merah itu masih mengamati Aisyah dengan lekat.
"Yang sabar ya Mbak. Semoga dibalas Allah dengan jodoh yang lebih baik, dasar lelaki tidak tahu diri, sudah disarjanakan malah melupakan jasa Mbak," ucapnya membuat Aisyah tidak nyaman. Ibu-ibu di belakangnya yang mendengar mulai ikut memindai Aisyah.
Topi makin diturunkan Aisyah lebih rendah dan ia juga membenarkan letak kacamata hitamnya.
"Eh, Mbak ini yang di toktok itu kan? Yang ditipu dan ditinggal nikah cowoknya." Seorang ibu dibelakang Aisyah mengenalinya.
"Iya benar, yang videonya viral nagih utang pacarnya. Coba topi dan kacamatanya dilepas, Mbak," sambung orang yang di belakangnya lagi.
"Terima kasih, beli ya," tukas Aisyah ke Mbak Kasir tersebut. Vivi menganggukkan kepala. Aisyah mengabaikan mereka. Dengan cepat ia mengambil barang belanjaannya yang penuh dua kantong besar dan melangkahkan kakinya keluar dari supermarket tersebut.
Sayup terdengar orang mulai membicarakannya. Aisyah hanya mampu mengembuskan napas kasar.
Aisyah menjalankan motor meticnya dengan kecepatan sedang. Air mata luluh dengan sendirinya bersamaan dengan terpaan angin kencang yang mengenai wajahnya. Ia memang cepat terbawa emosi.
Aisyah tergugu menangis di sela bunyi dengung mesin yang menenggelamkan suaranya. Perasaan sedih, malu, marah semua bercampur jadi satu mengaduk-aduk hatinya karena teringat lelaki b******k itu lagi.
Aisyah singgah terlebih dulu ke sebuah taman yang tampak sepi. Duduk di sana. Mencoba menenangkan perasaannya. Tidak mungkin ia datang ke panti dengan mata sembab. Bayangan kebersamaan ia bersama Irwan terlintas kembali. Semua janji yang pernah diucapkan lelaki tersebut terngiang di kepalanya.
Cukup lama Aisyah terdiam duduk sendiri di sana. Sampai beberapa anak dan orang dewasa mulai meramaikan taman tersebut, dengan didukung harinya yang cerah, tapi tidak panas.
Aisyah tersentak kaget saat ada orang yang mengulurkan sebungkus es krim ke arahnya.
"Mau? Rasa cokelat. Katanya makan cokelat bisa menentramkan hati dan mengubah perasaan lebih baik," ucap seorang lelaki mengenakan topi persis seperti yang dipakai Aisyah. Ia tersenyum menoleh ke arah Aisyah.
"Kamu?" tanya Aisyah. Dia ingat orang itu. Sudah dua kali ketemu tidak sengaja. Pertama waktu motornya mogok di jalan dan dibantu olehnya dan yang kedua saat di resepsi pernikahan Irwan. Orang itu ada di sana juga. Namun dia mengenakan seragam keluarga pernikahan mempelai, artinya ia bagian dari keluarga salah satunya.
Aisyah menggeleng cepat menolak pemberian lelaki tersebut. Lalu bangun dan berlalu meninggalkannya.
Lelaki tersebut diam, menatap kepergian Aisyah dengan tatapan lekat.
"Misterius, tapi aku suka," gumam lelaki tersebut.
Es krim yang ditolak Aisyah, ia berikan pada anak kecil yang melintas di depannya.
***
"Waalaikumsalam, ada apa Win." Aisyah menjawab salam dan bertanya apa gerangan Wiwin menghubunginya. Ia baru saja mau beranjak pulang dari panti asuhan. Hampir setengah hari dia berada di panti, menumpahkan keluh kesahnya pada Ibu Maya. Setelah dirasa cukup dan hatinya lebih tenang, ia memutuskan pulang.
"Bos, ini ada konsumer pesan hijab Aisyah seratus piece."
"Alhamdulillah. Terus kenapa? Apa stoknya kurang?"
"Sudah dikirim Bos. Uangnya juga udah dia transfer. Hanya saja konsumer ini minta ketemu sama Bos."
"Ketemu? Untuk apa katanya? Cewek atau cowok?"
"Cewek, Bos, aman. Tadi aku juga sempat teleponan. Bukan apa Bos, dia katanya pengen join bisnis sama Bos. Layaknya mita ambil saja."
"Oh begitu. Bilang , bisa. Kapan? Kamu jadwalkan saja."
"Dia mintanya sekarang."
"Sekarang?" Aisyah refleks melirik ke arah jam tangannya.
'sudah jam delapan malam," batin Aisyah berucap. Ia sedang menimbang-nimbang apakah bisa atau ditolak saja. Namun tidak enak karena konsumer itu sudah membeli dagangannya sebanyak itu.
"Harus sekarang ya?" tanya ulang Aisyah memastikan.
"ya, Bos. gitu katanya."
"Ya sudah, bisa. Kirim nomornya biar lebih gampang aku kontakkan sama dia."
"Siap bos!"
Aisyah mencoba menghubungi nomor konsumernya tersebut. Namun tidak diangkat. Tidak berapa lama ada balasan dari konsumer yang bernama Laras itu bahwa dia tidak bisa mengangkat telepon sekarang, mintanya chat aja. Aisyah menyetujui dan mereka berkirim pesan.
Dahi Aisyah mengernyit saat melihat alamat yang dikirim oleh konsumernya tersebut.
'Aku nggak pernah ke daerah tersebut. Dia minta bertemu di sebuah rumah makan bernama pelangi. Aku malah belum pernah dengar nama itu.' Aisyah berpikir keras. Hatinya ragu untuk ke sana.
[Bisa kan Mbak? Soalnya besok saya harus pergi ke Kalimantan. Ada kerjaan.]
Berpikir sejenak.
[Iya, bismillah. Saya otewe ke situ.] Balas Aisyah.
[Makasih mbak, saya tunggu.]
Dengan mengucapkan bismillah Aisyah melajukan motornya ke arah alamat yang dikirim. Ada perasaan tidak nyaman tapi ditepisnya. Aisyah pikir ini belum begitu malam, masih aman. Kendaraan juga masih banyak yang lalu lalang.