Misi yang Gagal

1067 Words
"Lebih tepatnya dipaksa Kak untuk menikahi Dina karena perempuan itu …." Aisyah menatap lekat Serli menunggu ia menyelesaikan perkataannya. Serli dan Bu Mina saling tatap sekilas, seolah sedang bertelepati menyatukan pikiran. "Apa?" Aisyah tak sabar. Sebenarnya ia malas menghadapi ibu dan anak yang sangat pandai bersilat lidah ini. "Perempuan itu hamil dan meminta pertanggung jawaban Bang Irwan," sahut serli pelan. Aisyah mencoba bersikap sedatar mungkin menutupi rasa terkejutnya mendengar kebenaran tentang Irwan. Ia tidak menyangka Irwan akan kebablasan. Dulu Irwan memang sering memaksanya untuk berhubungan badan, dengan mengimingi janji bakal menikahinya, tapi Aisyah kuat untuk menolak. Ia memegang teguh prinsipnya kalau hal itu hanya boleh dilakukan setelah menikah. Nasihat Bu Maya tentang hal tersebut juga tertanam kuat di hatinya. Mereka bahkan sering bertengkar karena hal tersebut. Namun Irwan sendiri yang balik kembali dan meminta maaf pada Aisyah. Alasannya klise menurut Aisyah, tidak kuat menahan hawa nafsu atau karena tidak sengaja sebelumnya baru menonton film biru. Apa karena itu dia mencari pelampiasan ke lain? Berhubungan dengan wanita lain di belakangnya? Itu artinya Irwan telah mengkhianatinya selama ini, pikir Aisyah. "Parah. Ya wajarlah kalau dia memaksa. Memang seharusnya begitu. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab," cecar Aisyah menjawab ketus. Ia geram mengetahui rahasia menjijikan dari Irwan–lelaki yang membersamainya selama lima tahun. "Bu-bukan gitu Kak. Masalahnya Bang Irwan dijebak. Itu bukan anaknya tapi Bang Irwan dipaksa untuk bertanggung jawab. Kalau tidak, Bang Irwan bakal dilaporkan ke polisi," bantah Serli. "Kenapa kalian atau ABANG kalian itu yakin itu bukan anaknya?" Aisyah bertanya penuh penekanan kata. Terutama di kata Abang. Ia malas menyebut nama lelaki tersebut. "Si Dina itu nggak bakalan memaksa kalau memang Abang kalian nggak pernah begituan sama dia. Beda ceritanya nggak pernah nyentuh dituduh gituan," timpal Aisyah menambahkan. Nadanya masih tinggi. "Itu … itu dia. Abang dijebak. Dia nggak pernah nyentuh Dina tapi malah dituduh dan dipaksa orang tuanya buat bertanggung jawab." "Benarkah? Kalau begitu, buktikan saja dengan tes DNA. Gampang kan? Ketahuan kok siapa ayah biologis anak tersebut." Serli terdiam. Ia menatap ibunya. Serli dan Bu Mina sekali lagi saling tatap sejenak. Mereka seperti kebingungan memberikan kejelasan pada Aisyah. "Kenapa? Soal biaya? Mau saya yang bayarin, gitu?" Aisyah tersenyum kecut seraya memutar bola matanya. Jengah. "Itu, iya. Eh, bukan. Maksud Serli, Abang memang akan mengajukan tes DNA. Soal biaya, Abang masih mampu kok. Kita cuma minta Kak Aisyah percaya sama Abang, sama kami. Rencananya setelah anak itu lahir, Abang akan menceraikan Dina," ucap Serli meyakinkan Aisyah. 'Hah? Cerai? Semudah itukah Irwan mempermainkan pernikahan? Semudah ia memainkan hatiku,' rutuk Aisyah dalam hati. "Maaf, nggak bisa. Saya tak tertarik kembali berhubungan dengan Abangmu itu, apalagi sampai menunggunya bercerai. Memangnya saya ini anggapnya apa?" "Aku tidak bisa memaafkan seorang pengkhianat. Pasti selama ini Abangmu itu bermain hati di belakangku. Pergilah. Pembicaraan ini telah selesai. Aku sibuk, banyak kerjaan," tambah Aisyah. Ia sudah mengganti kata saya menjadi aku saking geramnya. Aisyah sampai berdiri, bangun dari duduknya menatap ke arah depan dengan melipat tangannya di d**a, bersedekap. "Good, bagus Bos. Memang harus gitu. Me–" "Hussstttt! Jangan kencang-kencang bicaranya. Kamu mau nanti kita ketahuan ngintip oleh Bos," tegur Bella setengah berbisik pada Wiwin yang bersembunyi di balik jendela, mereka diam-diam mencuri dengar pembicaraan Aisyah dan dua orang dari keluarga Irwan. "Maaf," gumam Wiwin berbisik lirih dengan menangkupkan kedua tangannya. "Aisyah! Kamu nggak sopan! Ibu masih disini loh dari tadi diam saja karena masih menghargai kamu. Eh, malah kamunya menginjak-injak harga diri kami." Bu Mina yang sedari tadi diam angkat bicara dengan nada tinggi. Giginya terdengar gemeretak menatap tajam Aisyah dan ikut berdiri. "Sopan? Apa saya kurang sopan, Bu, masih memperbolehkan kalian duduk di sana? Kurang sopan apa saya masih memberikan kesempatan kalian untuk bicara. Apa tadi saya menyambut kalian dengan marah-marah? Langsung mengusir? Tidak kan?" Aisyah mulai terbawa emosi. "Kami segera datang ke sini dulu buat kamu, Syah. Merendahkan harga diri buat minta maaf, tapi lihat balasanmu." Bu Mina ngegas dengan berkacak pinggang. "Bu," panggil Serli dengan menarik Bu Mina, mencoba menahan emosi ibunya. "Ah, sudah. Malas Ibu harus berpura baik sama dia, Ser," sahut Bu Mina. "Dibaikin malah melunjak," lanjutnya menatap tajam Aisyah. Aisyah mengernyitkan dahinya. Ia heran. Seharusnya di sini yang marah itu dia, karena sudah ditipu habis-habisan oleh mereka, terutama Irwan. Namun Aisyah diam saja membiarkan Bu Mina menuntaskan emosinya. "Sudah? Selesai marahnya? Ada lagi yang mau dikeluarkan? Silakan," ucap Aisyah terlihat tenang. "Lihat Ser. Untung Irwan nggak nikah sama dia. Dasar anak nggak jelas, anak har–" "Bu! Sudah. Ingat misi kita," bisiknya dan masih bisa ditangkap oleh Aisyah. "Misi? Oh … jadi kesini karena menjalankan misi. Apaan? Misi membujukku kembali ke Irwan?" tanya Aisyah beruntun. Dikepalkannya kedua tangan dengan kuat hingga buku-bukunya memutih. Hatinya sakit saat menangkap ucapan terakhir Bu Mina yang ingin menyebutnya anak haram. Serli menggeleng. Walaupun kemarin dia berani memarahi orang di depan umum, tapi dia sangat segan dengan Aisyah. Sebenarnya ia sangat menginginkan Aisyah jadi kakaknya hanya saja karena ulah abangnya, semua itu musnah. "Bukan, Kak. Nggak kayak gitu," bantah Serli. Ia juga menahan ibunya yang ingin bicara lagi. " Ka-kami pergi Kak. Maaf ganggu. Bu, hayuk!" Ditariknya lengan Bu Mina memaksa keluar dari teras rumah Aisyah. Aisyah menatap kepergian mereka dengan mata merah dan melotot tajam. Kekesalan dalam hatinya belum reda. Wiwin dan Bella memilih masuk ke arah gudang barang demi menghindari Aisyah. Mereka tahu bosnya itu dalam mode marah. Takut nantinya mereka jadi sasaran pelampiasan Aisyah. Aisyah masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di pesan aplikasi berwarna hijau. [Bayar hutangmu secepatnya, batasnya cuma sebulan. Ingat, SE-BU-LAN. Kalau dalam batas waktu itu tidak dibayarkan. Maka tunggulah panggilan dari polisi. Aku tidak main-main!!!] Pesan, Aisyah kirim ke nomor Irwan. Ia rasa ini balasan setimpal atas kemarahannya yang diakibatkan oleh kedatangan ibunya Irwan dan Serli. Irwan terkejut saat mendapatkan pesan dari Aisyah. Ia tidak mengira Aisyah mengingatkan kembali akan utangnya. Bukan pesan ini yang ia nantikan. Ia mencoba menghubungi nomor Aisyah. Tersambung. "Syukurlah, Syah dengarkan aku. Kamu salah paham, aku–" Panggilannya terputus. Aisyah mematikan ponselnya. Dicobanya lagi menghubungi nomor Aisyah. Namun sampai nada terakhir, panggilannya tidak diangkat. Ia mulai kesal. Dicobanya lagi untuk ketiga kalinya, sayangnya nomor Aisyah tidak dapat dihubungi karena ponsel Aisyah telah dimatikan. "Aaaargh!" Irwan mengerang geram. Dilemparnya ponsel dengan keras ke atas tempat tidur. "Aisyah!" Seru Irwan setengah berteriak di dalam kamar, tanpa diketahui olehnya ada seseorang yang berdiri di depan pintu yang terbuka. Menatap tajam ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD